
Di dalam kamar yang tidak luas, Qonni duduk di atas ranjang. Kedua tangannya memeluk lutut yang di tekuk. Isak tangis berusaha ia redam agar tak terdengar adik-adik Ilyas yang berada di kamar masing-masing.
Pintu kamar terbuka, Ilyas masuk kemudian menutupnya kembali dan mendekati isterinya. Duduk di bibir ranjang, bersebelahan dengan Qonni.
Tatapan pilu terus terarah, rasa bersalah mendesak-desak saat ini.
"Dek?" Panggilnya yang di respon dengan berpalingnya wajah Qonni.
Pria di sisinya kemudian menyentuh wajah itu. Sambil terus berucap maaf, tangannya berkerja untuk mengusap bulir-bulir bening yang telah membanjiri pipi milik isterinya.
Qonni yang sedikit kecewa kemudian menyingkirkan tangan Ilyas, sebelum membenamkan wajahnya di atas dua lututnya.
"Mas minta maaf, Dek," ucapnya halus seraya membelai kepala yang masih tertutup bergo instan ukuran standar. "Mas nggak bermaksud seperti itu. Tentu saja, Mas nggak mungkin menghilangkan sosok Harun dari diri Nisa. Dia tetap Ayah biologis anak itu. Tidak akan berubah, Sayang."
Punggung Qonni masih berguncang. Wajah Harun kembali terbayang-bayang, ia rindu. Sangat merindukan laki-laki itu. Yang selama menikah dengan Ilyas, terus berusaha ia pendam dan ia sembunyikan.
Sekarang, saat mendengar perkataan Ilyas yang memintanya untuk menolak nafkah dari keluarga Harun untuk Nisa, ia mendadak merasakan sakit. Ini berlebihan... runtuknya dalam hati.
"Sayang, udah jangan nangis. Mas benar-benar minta maaf, iya. Mas ngaku salah. Tolong maafin aku."
"Hiks, A' Harun—" lirih, suara rintihan yang samar terdengar di telinga Ilyas mendadak mencubit hatinya.
Ia bahkan sampai menyentuh dadanya sendiri, ketika mencoba untuk mendengarkan dengan seksama, perempuan terkasih saat ini sedang merintih memanggil nama Harun tanpa henti.
Ilyas pun mengangkat wajah isterinya, agar wanita itu mau menatap matanya. Mereka saling diam, sementara air mata masih banjir di kedua pipi Qonni.
Ilyas menahan, walau kedua tangan Qonni sedikit meronta minta untuk di lepaskan.
Aku sedang berusaha untuk terus memahami, apa yang kamu rasakan. Walau kamu nggak sebaliknya, berusaha untuk memahami apa yang ku rasakan, Ayu.
Perlahan Ilyas mendaratkan kecupan di bibir, dengan ke-dua tangan masih memegangi wajah sang istri. Ia mengulum bibir isterinya dengan lembut.
Inilah cinta Ku, Dek. Walau, jutaan kali yang kau sebut bukanlah namaku. Hatiku tetap akan menggebu untuk mu.
__ADS_1
Ilyas mengetikan gerakan bibirnya, sebelum melepaskan. Dan kembali membuka mata, mengarah pada perempuan di hadapannya.
"Maaf, Sayang..." kata Itu akan terus terucap untukmu. Entah siapapun yang bersalah di antara kita. Aku akan terus menjadi yang pertama untuk mengatakan maaf dan cinta untukmu.
Ilyas memeluk tubuh isterinya, sembari mengusap punggung ia mencium bahu.
"Maaf, ya? Mas janji nggak akan mengatakan hal seperti tadi. Percayalah, mas bicara seperti itu karena sayangku terhadap Nisa amat besar, Sayang.
Perempuan dalam pelukan Ilyas hanya diam saja. Menunggu suasana hati reda, barulah ia meminta maaf balik juga pada suaminya.
***
Selang dua mingguan, Ilyas dengan motornya mencoba untuk melihat ruko yang di berikan untuknya oleh ustadz Irshad. Pria dengan lensa bertengger di kedua matanya nampak tertegun.
Kakinya gemetar, tubuhnya kaku. Sungguh sangat strategis. Karena tidak hanya dekat dengan sekolah tempat Qonni mengajar, namun dekat pula dengan tiga sekolah lainnya. Kawasan disini terbilang ramai, yang berjajar di sebelahnya pun rata-rata konter HP merek terkenal, dan beberapa toko-toko besar lainnya milik orang beretnis Tionghoa.
Kyai bilang, aku di suruh buka rumah Qur'an juga disini.
Di pandang sekeliling. Kalau melihat dari gang di sebelahnya ruko tersebut, seperti komplek perumahan pasti banyak anak-anak juga. Pelan kakinya melangkah, masuk untuk membuka rolling door yang terkunci. Karena Irsyad tak hanya menyerahkan surat kepemilikan tanah dan bangunan rukonya. Melainkan, kunci juga.
Kembali pria itu membuka pintu kacanya dan masuk. Walau masih dalam keadaan kotor rupanya tak membuat Ilyas jijik untuk melakukan sujud syukur.
Allah maha besar, dengan segala kuasanya. Kedua mata Ilyas basah. Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mengumpulkan modalnya sendiri, demi toko ini bisa cepat terisi. Namun untuk sementara waktu, mungkin akan ia gunakan untuk membuka les privat dan TPQ.
InshaAllah, pelan-pelan... Manjjada wajjada. Begitulah kurang lebih keyakinan yang di tanamkan dalam diri pria berkacamata itu.
****
Bulan demi bulan berganti kembali...
Ilyas dengan di bantu Qonni, Ibnu, Abas dan Pak Ulum tampak sibuk membersihkan ruko tersebut. Yang penting bersih dulu saja. Masalah perabotan menyusul. Begitu pikir Ilyas.
Butuh waktu dua hari untuk membersihkan total. Dan di hari ke empat mereka kembali datang untuk menata perabotan yang telah tiba kemarin.
__ADS_1
Ilyas memeriksa keran airnya. Bersyukur, air menyala dengan baik. Sirkulasi udara pun bagus. Tempat ini sepertinya akan nyaman untuk di tinggali mereka bertiga.
"Mas-mas..." Qonni menghampiri sang suami.
"Ya sayang?" Menoleh kebelakang.
"Lihat ini... Alhamdulillah, udah masuk sekitar dua puluh murid ku yang mendaftar untuk ikut lest privat disini," ucap Qonni sambil menunjukkan daftar nama anak-anak muridnya.
"MashaAllah, Alhamdulillah," ucap Ilyas bersyukur. Sungguh permulaan yang baik.
"Tapi kira-kira sanggup nggak, ya? Ini aja sebenernya ada yang mau daftar lagi tapi takut nggak ke pegang."
"Bismillah, kita stop kuota segini aja dulu. Kita kerjakan sama-sama. Di atur, per siswa dapat jatah tiga kali pertemuan dalam seminggu. Kita rolling deh," usul Ilyas yang di sambut anggukan kepala sang istri.
Tatapan Qonni beralih fokus pada keran air yang menyala.
"Udah nyala, Mas, Airnya?" tanya Qonni kemudian.
"Udah, sayang. Alhamdulillah. Lihat ini—" Pria itu mematikan keran. Kemudian memeriksa lampu.
"MashaAllah–" Qonni nampak berbinar.
"Ini akan jadi istana kita, untuk sementara. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih di perluas lagi."
"Aamiin, tapi bagiku ini juga udah lega kok, Mas."
"Tapi kamar hanya dua, Sayang. Kalau ada anak lagi gimana?" Ilyas mengusap perut Qonni. Masih menanti hadirnya kabar bahagia, yaitu isteri Beliau hamil lagi hasil buah cintanya.
Qonni tersenyum tipis. Ia menarik pipi Ilyas. "Yang udah pengen punya anak lagi...," selorohnya.
Ilyas pun tertawa hendak mencium sang istri tapi perempuan itu justru menghindar kabur dengan gelak tawanya.
"Ayu— awas aja ya. Selamat kamu masih banyak orang di sini," gumamnya pada perempuan yang sudah menghilang dari kamar tersebut, geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Pria itu menghela nafas, barang-barang penting sudah ia cicil beli selama beberapa bulan. Sebagian perlengkapan untuk membuka les privat pun sudah tiba sejak kemarin.
Dari balkon lantai dua, dilihatnya Ibnu yang baru selesai memasang papan nama untuk tempat les sekaligus tempat mengaji. Ya sementara itu dulu, kelak akan ia isi dengan berbagai dagangan jika modal telah berkumpul. Bismillah...