
Sehabis pengajian Safa tak langsung pulang gadis itu punya niatan untuk mendatangi salah satu rumah sakit di daerah Koja, Jakarta Utara. Hari ini, orang tua dari teman kuliahnya mengabarkan, bahwa anak gadisnya itu mengalami kecelakaan. Jadilah Ia datang untuk menjenguknya sekalian. Mumpung masih di area Islamic center yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit tersebut.
Gadis itu membawa laju kendaraan roda duanya dengan pelan. Menyusuri jalan di taman Islamic yang cantik dan rapih, mendekati pagar besar yang di jaga seorang juru parkir.
Namun, baru saja ia keluar dari area masjid. Sebuah kerusuhan terjadi. Dua kelompok anak muda berseragam SMA dengan membawa sajam berkumpul.
Mereka tidak hanya berteriak dengan kata-kata kasar. Namun tangan-tangan para pelajar itu bergerak ganas, melempari batu atau apapun sebagai senjatanya untuk saling serang.
Orang-orang yang tadinya sedang santai menikmati waktu siang mereka, pun langsung panik berhamburan. Para pedagang kaki lima yang tengah melayani pembeli juga, langsung lari tunggang-langgang, takut turut kena sabetan benda tajam atau lemparan batu.
Anak-anak muda dengan gaya bak panglima perang yang siap mati terus berlarian dan menyerang siapapun yang ada di sekitarnya. Tanpa pandang bulu, dia warga atau musuh tawurannya.
"Astaghfirullah al'azim." Safa tersentak. Tubuhnya mengerut. Wajah cantiknya kini di selimuti kepanikan. Memandangi wajah-wajah belia yang beringas itu.
Ia sendiri bingung ingin lari kemana. Menoleh kebelakang. Beberapa orang mulai masuk kembali kedalam area masjid untuk berlindung. Sementara beberapa orang lainnya berbondong-bondong untuk menutup gerbang besar masjid agar anak-anak berandalan itu tak turut masuk.
Seseorang yang lain berseru. "Lari, Mbak! Jangan diam aja!"
Safa yang tersadar mencoba untuk membelokkan motornya kearah kanan. Namun sebuah batu besar melayang dan menghantam bodi samping motornya hingga rubuh.
"Kyaaaaa! Astaghfirullah.., Astaghfirullah.., Ya Allah! Allahu Akbar....." Gadis berjilbab itu tak lagi peduli dengan motornya. Ia lantas berlari mencari perlindungan di tengah dua kelompok pemuda yang sedang saling serang itu.
"Ya Allah, lindungi aku." Ia tak tahu harus bersembunyi dimana. Hingga akhirnya memutuskan untuk mendekati salah satu gerobak asongan dan bersembunyi di baliknya. Karena gerbang masjid sudah tertutup rapat.
Baru saja ia berjongkok untuk bersembunyi. Dari sudut yang lumayan jauh. Ia melihat seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi nampak terjebak dalam kerumunan. Terlebih polisi dengan mobil hitam besarnya datang sembari membubarkan mereka menggunakan water Cannon.
Situasi semakin tak kondusif. Para pemuda yang tadi nampak seperti jagoan perang, langsung kocar-kacir menyelamatkan diri dari kejaran aparat.
"Ya Allah.... ibu itu." Safa sangat ingin menolongnya. Namun, kaki yang lemas seolah menahannya untuk bangkit. Ia amat takut untuk mendekat. Hingga tubuh ibu-ibu itu tumbang sebab tertabrak beberapa orang yang lari tanpa arah. "Astaghfirullah, aku harus menolongnya."
Safa bangkit sambil memeluk tasnya. Mengumpulkan segenap nyali yang ia punya demi menyelamatkan ibu itu. Semprot air yang kencang mengarah kesana-kemari. Safa hanya berzikir dan terus berlari menghampiri sang ibu yang terlihat lemas hampir terinjak-injak.
"Ibu! Bangun..., Ayo bangun! Kita pergi dari sini." Gadis itu meraih lengan wanita tersebut lalu memapahnya. Walau kondisi masih sangat kacau, Safa berusaha keras untuk menjauh sambil membawa wanita yang tak ia kenal itu tanpa tujuan.
Ia melihat, gerbang masjid masih tertutup. Ia pun terus berjalan dan mencari tempat berlindung yang lain.
"Sudah! Sudah cukup, saya nggak kuat lagi jalan."
"Ya Allah, Bu. Sebentar lagi ya. Di sini masih belum aman." Safa terus memapahnya hingga kesalah satu gang yang sedikit sepi.
Keramaian yang bertubi-tubi, samar-samar mulai sirna. Ia sudah berjalan cukup jauh. Tanpa peduli dengan motor matic yang ia tinggal begitu saja disana. Yang terpenting menyelamatkan nyawa mereka dulu. Itu lebih utama.
Gadis berwajah teduh itu menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat yang pas untuk duduk. Hingga terdapat sebuah warung kelontong, ia pun tersenyum tipis.
"Ayo, Bu. Dikit lagi, kita istirahat di sebelah sana."
Wanita itu menoleh dengan lemas. Lalu mengangguk. Semakin kuat memegangi lengan Safa.
"Sini, Bu. Duduk dulu." Safa membantunya untuk duduk, setelah itu dia berjalan lebih masuk untuk menemui si penjual. "Pak, beli air mineralnya dua."
"Dingin atau biasa, Neng?" Tanya si pedagang.
"Yang biasa aja," jawabnya sambil ngos-ngosan.
"Ini, silahkan."
"Berapa, Pak?"
"Delapan ribu saja," jawabnya sambil mengamati dua wanita dengan pakaian yang sedikit kotor itu. Setelah menerima uang sepuluh ribu dari Safa. Pria itu pun masuk untuk mengambil kembalian.
__ADS_1
"Bu, minum dulu, ya."
"Terima kasih, Nak." Wanita paruh baya itu menerima botol air yang sudah di buka tutupnya oleh Safa. Setelah itu meminumnya.
"Ibu baik-baik aja, kan?" Tanya Safa setelah minum air miliknya.
"Saya baik-baik saja. Tadi sempat sesak nafas. Tapi sekarang udah enggak begitu."
"Alhamdulillah, kalau begitu, Bu." Safa tersenyum tipis kembali meminum air dalam botolnya sendiri. Sang pemilik warung kembali sambil memberikan kembalian.
"Ibu sama Neng-nya dari mana? Apa habis terjadi sesuatu?"
"Kami habis lari menyelamatkan diri, Pak. Di Islamic ada dua kelompok pelajar yang tawuran."
"Ya Allah. Jadi kalian jalan kaki dari Islamic kesini?" Tanyanya yang di jawab anggukan kepala oleh Safa.
"Kami numpang istirahat dulu, ya Pak."
"Boleh, Neng. Silahkan. Nggak papa Mamang mah. inshaAllah di sini aman."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama." Mengamati lagi mereka berdua. "Apa kalian butuh obat merah atau apa? Kali aja ada yang luka."
"Kalau saya nggak ada yang luka. Tapi, ibu? Boleh saya tahu kali aja ada yang luka."
"Nggak usah. Nggak papa. Saya rasa nggak ada yang luka, kok."
"Beneran?"
"Iya." Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Iya, Pak. Terima kasih." Safa menjawab dengan lembut. Pria pemilik warung kembali masuk.
"Terima kasih ya, Nak. Tadi hampir aja ibu mati keinjek-injek orang."
"Sama-sama, Bu. Kebetulan aja posisi saya dekat dengan ibu."
"Kamu namanya siapa?" Tanya ibu itu.
"Saya Safa, Bu. Baitus Safa."
"Owh, MashaAllah. Nama yang bagus. Saya Ibu Ayattul Khasanah. Senang rasanya bisa bertemu dengan orang baik seperti kamu."
"MashaAllah, tabarakallah. Ibu Ayattul..."
"Kalau boleh tahu, apa kamu sudah menikah?"
Safa tersenyum, lalu menggeleng. "Belum, Bu."
"Benarkah?" Wajahnya terlihat berbinar saat mendengar jawaban itu.
"Iya, Bu."
"Umur kamu berapa kalau boleh tahu? Maaf baru kenal tapi sudah banyak tanya."
"Nggak papa, Bu. Umur saya sudah masuk dua puluh delapan tahun. Sudah tua saya, hehehe."
"Enggak lah, segitu masih terbilang muda. Tua itu kalau udah seumuran ibu."
__ADS_1
Safa tersenyum tipis menanggapi. "Ibu kesini sama siapa?"
"Tadinya sama supir. Tapi dia saya suruh pulang dulu karena ada yang perlu di ambil. Sementara saya ikut pengajian teman saya, Ustadzah Siti tadi. Habis selesai pengajian saya punya niatan buat jalan-jalan dulu. Mengenang masa muda di sini. Mumpung supir belum datang...," ujarnya sambil tertawa. Yang ditanggapi senyum oleh Safa. "Eh bukanya nostalgia, malah terjebak huru-hara."
"Owalah..., tapi syukurlah ibu nggak papa. saya juga habis dari pengajian, Bu. Pas mau pulang malah ketemu dua kelompok pelajar tadi."
"Pelajar sekarang seram-seram, ya."
"Begitulah. Tapi nggak semua kok, Bu. Masih banyak anak-anak yang baik."
"Kamu benar.... Emmmm, omong-omong, Kamu sering ikut kajian begini?"
"Alhamdulillah, nggak sering banget, Bu. Tapi ya, kalau senggang pasti di sempatkan."
"Wah, jarang-jarang loh, ada anak muda mau ke pengajian."
"Nggak juga, Bu. Tadi aja banyak yang lebih muda dari saya." Keduanya tertawa, mulai menikmati obrolan ini hingga beberapa saat sebelum dering ponsel ibu itu memotong pembicaraan mereka.
"Sebentar, ya? Untung tas saya masih aman," gumamnya sambil merogoh isi tasnya mengambil telfon genggam.
Wanita itu berbicara sebentar sebelum kembali mematikan telfonnya.
"Alhamdulillah, supir saya telfon. Dia sempat khawatir. Tapi sekarang sedang jalan kesini."
"Alhamdulillah, kalau begitu."
"Kalau Nak Safa, kesini sama siapa?"
"Sendiri, Bu."
"Naik apa?"
"Motor. Tadi motornya saya tinggal begitu saja di sana."
"Ya Allah, nanti kita tengok sama-sama, ya?"
"Nggak usah, Bu. Biar saya aja ke sana sendiri aja."
Tak berselang lama sebuah mobil warna putih memasuki gang dan berhenti di depan warung.
"Itu supir ibu?"
"Iya benar," jawabnya menunggu mobil itu berhenti dan seorang laki-laki keluar.
"Ibu nggak papa?"
"Nggak papa, pak."
"Maaf, Bu. Saya terlambat datang."
"Nggak papa, Saya sudah dalam posisi aman kok, karena Mbak ini." Bu Ayattul kembali menoleh kearah Safa sambil tersenyum. "Nak Safa ikut saya saja, ya. Biar kami antar."
"Terima kasih, Bu. Tapi saya bakal nyamperin sendiri aja. Lebih baik ibu pulang. Karena saya khawatir ada luka yang harus di obati."
"Tapi saya nggak papa, loh. Saya antar aja, ya?"
"Baiklah, tapi hanya sampai depan Islamic aja, Bu. Motor saya di sana."
"Iya. Ayo masuk, Nak." Bu Ayattul terlihat senang ia memegangi lengan Safa dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1