Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Ekstra part 8 (final)


__ADS_3

Sebelum subuh datang, Harun terjaga. Seperti biasa, ia akan memeriksa ponselnya untuk melihat pesan masuk.


"Apa ini?" gumamnya yang masih sedikit mengantuk. Ia pun membuka pesan dari temanya.


[Assalamualaikum, Run. Antum udah dengar kabar? Ibunya Ilyas wafat tadi malam.]


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," gumamnya pelan yang kemudian beralih mencari nomor Ilyas.


"Siapa yang meninggal, By?" tanya Qonni yang sudah terjaga juga. Pria itu menoleh sebentar sambil mencium pipi Isterinya.


"Ibunya Ilyas."


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un."


"Sebentar, ya. Aku telfon Ilyas dulu..." buru-buru Harun menekan tombol panggilan, sambil menyibak selimutnya turun dari ranjang.


Laki-laki dengan kaos oblong warna putih itu terus berjalan hingga ke sofa, menanti deru panggilan itu berubah menjadi suara sahabatnya.


"Yas, angkat dong!" gumamnya sambil menekan tombol panggilan sekali lagi, namun tidak ada jawaban.


Sementara di tempat Ilyas. Ponsel pemuda itu sama sekali tak keluar dari dalam tas yang ia gunakan tadi. Adapun dirinya sedang fokus membacakan ayat suci Al-Quran di dekat jenazah ibunya yang malam itu juga langsung di bawa pulang ke rumah untuk di urus di sana.


🍂🍂🍂


Beberapa hari berlalu, bahkan hampir satu Minggu setelah kepergian ibunda Ilyas...


Harun dan Qonni baru sempat datang ke rumah Ilyas untuk melayat. Ini kali pertamanya, perempuan itu datang ke rumah laki-laki yang pernah berkali-kali mengatakan perasaannya untuk dia.


Keadaan Rumah Ilyas sudah sepi, hanya tersisa karangan bunga dari sekolah tempat Ilyas mengajar.


"Assalamualaikum, Akhi!" Harun langsung memeluk tubuh sahabatnya yang masih dalam keadaan berkabung itu saat dirinya membukakan pintu untuk Harun.

__ADS_1


"Walaikumsalam warahmatullah." Ilyas membalas pelukan Harun.


"Afwan, Anna baru dateng. Saat tau kabar itu, Anna dan isteri lagi di Jogja."


Ilyas melirik kearah perempuan cantik dengan balutan gamis warna hitam. Pemuda itu pula langsung menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk menyapa Qonniah. Dan balasan serupa di berikan oleh perempuan yang berdiri di belakang Harun.


"Nggak papa, Run. Anna paham, kok. Silahkan masuk..." ajaknya mempersilahkan. "Tapi maaf, rumah masih berantakan, kursi-kursi masih pada di luar."


"Nggak papa, santai aja." Harun langsung meraih tangan Ayudia. Yang tentu saja itu membuat Ilyas memusatkan perhatiannya pada tangan mereka.


Astaghfirullah al'azim... Ilyas membenahi kacamatanya. Lalu mempersilahkan keduanya untuk duduk, kemudian dia sendiri masuk demi membuatkan suguhan sederhana.


Sorot mata Ayudia terus berkelana. Memandangi foto-foto di ruang tamu sederhana ini, ia pun mencondongkan tubuhnya sedikit kearah Harun.


"A', Mas Ilyas sebelum ini hanya tinggal dengan Ibu dan adik-adiknya, ya?" bisiknya, hingga Harun reflek mendekatkan telinganya.


"Iya, Bii. Tapi sekarang tinggal dua adiknya yang masih sekolah semuanya," jawabnya sambil berbisik juga.


Qonni membulatkan bibirnya manggut-manggut. Tak lama, Ilyas keluar dengan dua gelas teh manis hangat.


"Nggak papa, lagian Anna yang nggak enak, karena cuma bisa menyuguhkan minuman."


Harun tersenyum. "Syukron, Akhi!"


"Afwan," jawabnya sambil menghempaskan bokongnya ke permukaan lantai yang dilapisi karpet warna hijau. "Silahkan di minum. MashaAllah– pengantin baru auranya luar biasa."


Nampak Ilyas tengah berusaha menutupi kecanggungannya di depan Ayudia. Jujur saja ia malu pada perempuan di sebelah Harun yang sudah mengetahui perasaannya sebelum ini.


"Alhamdulillah, Anna harap. Antum cepat menyusul."


"Aamiin..." jawabnya lirih.

__ADS_1


"Omong-omong, gimana almarhumah? Anna denger sempat masuk rumah sakit?" Tanya Harun sambil mengangkat gelasnya sendiri.


"Iya, tapi baru beberapa jam langsung masuk ICU. Habis itu, udah ... ibu berpulang."


"Innalilah."


"Selama beberapa hari sebelumnya ibu udah nggak bisa turun dari ranjang. Tapi kalau mau di bawa ke rumah sakit, seperti biasa. Nolak terus... hari terakhir sebelum di bawa ibu itu muntah darah terus-menerus. Dan pas di bawa ke rumah sakit udah dalam kondisi kritis." Ilyas menceritakan panjang lebar kronologi kematian ibunya, yang di respon serius oleh kedua pasangan suami-isteri baru di hadapannya.


"Udah takdirnya, Yas. Tapi sebelumnya masih rutin cuci darah, 'kan?"


"Masih," jawabnya tegas. "Baru dua Minggu yang lalu," sambungnya.


"Ya udahlah, yang penting Antum ikhlas. Sekarang, buat ganti orang tua."


"Iya bener, Run. inshaAllah, Anna ikhlas. Ibu udah nggak sakit lagi." Ilya tersenyum tipis. Sekarang, kedua adiknya benar-benar bergantung hidup kepadanya.


"Kalau ada apa-apa, Antum jangan sungkan telfon Anna. Pasti Anna bantu..."


"inshaAllah, inshaAllah..." jawabnya hanya basa-basi. Walau ia tak sungguh-sungguh untuk berniat merepotkan Harun yang sudah seperti kerabatnya sendiri.


––


Hampir dua jam mereka mengobrol, Harun pun berpamitan. Ia juga meletakkan amplop cukup besar sebagai uang melayat. Karena wadah untuk menampung uang melayat sudah tidak ada jadi Beliau menyerahkan langsung pada Ilyas.


Dan, tentu saja hal itu langsung di tolaknya. Karena bagi pemuda berkacamata itu, Harun mau menyempatkan waktu untuk datang saja sudah hal yang membuat hatinya senang. Bahkan setelah di bujuk beberapa kali, Ilyas tetap menolaknya. Ia tak ingin menerima sedikitpun uang itu, yang mengakibatkan Harun harus mengalah dari keinginan kuat Ilyas untuk menolaknya.


"Anna pamit, ya... Semoga, Antum dan adik-adik Antum di beri ketabahan. Bisa menjalani hari-hari dengan normal kembali."


"Aamin, makasih doanya, Run. Terima kasih juga untuk kalian yang udah menyempatkan waktu untuk datang ke rumah sederhana saya."


Harun hanya tersenyum setelah itu menepuk-nepuk bahu pria dengan kaos oblong warna abu-abu. Mereka berdua pun gegas masuk kedalam mobil milik orang tua Harun. Hingga mobil bergerak dan menjauh, pemuda berkacamata itu masih tertegun memandanginya.

__ADS_1


"Memang, yang pas untuk Ayu itu Harun. Kalau sama aku, pasti nggak bakal sebahagia itu. Semoga Allah memberi kebahagiaan terus dan kebaikan pada rumah tangga kalian... Aamiin." Pemuda berkacamata itu tersenyum simpul, sebelum membalik badan dan masuk ke dalam rumah.


.... Ekstra part, Tamat! ....


__ADS_2