Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 30


__ADS_3

Senja datang menyambut sebuah mobil yang baru saja tiba di pelataran rumah besar milik Afin Anka. Seorang wanita berkerudung dengan pakaian dinas turun dari mobil dengan ceria.


"Rumah sepi banget, apa Arif dan Safa lagi pergi?" Bunda menutup pintunya membenahi baju yang sedikit terangkat karena sedari tadi duduk.


"Bu Ayattul!" Seorang wanita yang bekerja di rumah Arif menyapa sambil meraih bungkusan yang di pegang wanita paruh baya itu.


"Mana anak-anak saya, Mbak? Apa lagi nggak di rumah?" tanyanya.


"Aden biasa lagi kerja di rumah belakang sejak pagi, Bu. Kalau Non Safa di kamarnya," jawab wanita yang berdiri dengan setelan pendek sederhana.


"Anak itu kenapa nggak libur sih?" Bergumam sambil melangkah masuk.


***


Di kamar...


Safa baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Ia benar-benar merasakan jenuh karena dia melakukan apapun di rumah ini. Walaupun ada suami, tapi laki-laki itu hanya masuk untuk ibadah dan makan saja. Tak banyak obrolan di antara waktu bersama itu. Safa bahkan menyadari sesuatu, suaminya seperti menghindarinya. Walau buru-buru di tepis dengan hal yang positif. Ia harus mengerti, pekerjaan Afin seperti apa.


Sebuah ketukan membuatnya bangkit dari kursi. Menutup mushaf kecil yang hendak ia baca sambil menanti waktu magrib.


Cklaaakkk! saat pintu terbuka. Sosok hangat Bu Ayattul menyambutnya dengan senyuman.


"Assalamualaikum, anak perempuanku." Bu Ayattul menyapanya lebih dulu.


"Walaikumsalam warahmatullah. MashaAllah, Bunda. Kapan dateng? Maaf Safa nggak nyambut di luar." Gadis itu mencium punggung tangan ibu mertuanya sebelum memeluk.


"Baru aja dateng, kok. Bunda habis dari kantor terus mampir karena kangen kamu. Bunda juga bawa makanan buat kita makan malam sama-sama."


"MashaAllah, makasih Bunda."


"Sama-sama. Kita ngobrol di luar, yuk."


"Iya Bunda." Safa tersenyum senang. Akhirnya ia ada teman di rumah ini. Setelah dari tadi bingung mau apa.


Sebenarnya ia sempat berusaha berinteraksi dengan para asisten rumah tangga. Tapi sepertinya mereka semua masih canggung. Sehingga kebanyakan menjawab setiap pertanyaan yang di layangkan dengan kata-kata yang singkat. Tanpa melempar balik pertanyaan. Tentu itu akan membuat Safa menjadi turut canggung juga. Khawatir kalau mereka tidak mau di ajak bicara.


Di ruang keluarga yang luas, mereka duduk dengan santai. Bersebelahan di kursi panjang. Dua cangkir teh dan teko kecil yang terbuat dari bahan kaca di suguhkan. Aroma teh yang wangi amat menenangkan wanita paruh baya yang selama seharian ini beraktivitas. Bu Ayattul menyeruput sedikit tehnya setelah itu meletakkan lagi di atas lambar.


Bersamaan dengan itu, Afin masuk menghampiri mereka.


"Bunda, udah dari tadi?" Tanyanya saat setelah mencium punggung tangan Beliau.

__ADS_1


"Baru kok," jawabnya sedikit ketus. "Kamu kenapa masih sibuk kerja? Kalian kan baru aja nikah? Walaupun bulan madu di undur sampai libur sekolah, kalian tetap harus memaksimalkan waktu berdua. Jangan sibuk sendiri."


Bu Ayattul sedikit menegur Arif. Pria itu melirik ke arah Safa yang diam saja. Balik menatapnya, membuat hati Arif merasa bersalah.


"Hanya menyelesaikan kontrak yang udah di ambil, Bun. Dan itu emang agak banyak," jawabnya pelan sebelum kembali melirik kearah istrinya lagi yang terlihat dekat dengan Bundanya. Tangan mereka juga saling berpegangan.


"Tapi kamu harus inget waktu, Rif. Gimanapun juga kalian itu pengantin baru."


"Bun, maaf Safa menyela. Bang Arif juga meluangkan waktu kok. Nggak full meninggalkan Safa. Dan Safa memahami itu." Senyum Safa yang terlihat tulus membuat urat-urat Bu Ayattul yang menegang tadi jadi mengendur.


"Bunda cuma nggak mau kamu merasa sendirian di rumah ini."


"Enggak kok, Bunda. Kita kadang meluangkan waktu beberapa jam bersama. Di kamar," jawabnya lagi. Arif yang mendengar itu tak sedikitpun bersuara.


"Ya udah kalau emang kenyataan begitu. Bunda lega, Nak," tuturnya sambil mengusap tangan Safa. Berselang beberapa menit adzan Maghrib berkumandang. Mereka menjalankan ibadah sholat bersama-sama di rumah itu. Berbarengan dengan Crew yang bekerja bersama Arifin.


Hal itu pula yang membuat mereka, untuk pertama kalinya melihat wajah istri Arifin.


Oh, jadi istri Kak Afin berhijab. Pantesan jadi lebih bawel soal haram dan halal. Emmm, Jangan-jangan yang ku lihat tadi itu juga dia. –Gumam Abiyan sesaat setelah melihat wajah Safa.


***


Malam telah larut...


Tersisa Abiyan di sana yang belum selesai berdiskusi dengan Afin. Terkait management.


"Jadi Kakak belum nemu pengganti Om Brody?" Tanyanya.


Afin menoleh pelan, sebelum kembali ke iPad di tangan. "Sebenarnya kandidat udah ada. Cuman, Gua belum bisa kontrak dia."


"Kenapa, Kak. Bukanya lebih cepat, lebih baik? Kita juga jadi nggak keteteran."


Afin melamun. Memikirkan tentang Brody yang telah pergi tanpa salam apapun. Tak menutup kemungkinan laki-laki itu akan datang dengan kemarahan lebih dari ini jika tiba-tiba posisinya di gantikan oleh orang lain. Karena, ia juga berpengaruh penting dalam debutnya dulu.


Sebenarnya orang itu melarikan diri ke mana ya? Sekarang, adsense juga benar-benar nggak masuk ke rekening gua. Gua emang bersyukur kalau dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan gua walau penghasilan terbesar gua masuk ke dia semua. Tapi tetep aja, gua khawatir tentang hubungan pernikahan ini.


Afin sekarang memang sudah tak mengambil sepersen pun dari hasil Youtube-nya. Dan hanya mengandalkan uang-uang hasil endorse saja. Itulah kenapa ia tidak lagi pilih-pilih dalam mengambil endorse seperti sebelumnya. Karena jika masih seperti dulu, ia akan tertimpa kesulitan. Walau sejatinya aset dia masih banyak.


"Kak!"


"Ya!" Afin terperanjat kaget.

__ADS_1


"Dih, ngelamun. Di ajak diskusi malah bengong..."


"Gua nggak bengong, Biyan."


"Terus?"


"Gua lagi mikir. Gimana kalau gua tutup akun lama terus memulai YouTube dengan Chanel baru."


Biyan menunjukkan ekspresi malas. "Perasaan yang gua minta baru itu manager, dah! Kenapa jadi akun baru."


"Maksudnya, pengen pemutihan aja. Kita ganti akun baru gitu."


"Gua Nggak salah denger nih, Kak?!"


"Enggak. Emang Lu pikir ada yang salah dari inisiatif gua tadi?" Afin menimpali.


"Jelas!" Abiyan melepaskan topinya berusaha untuk sesabar mungkin. "Nih ya, Kak. Seorang YouTubers dengan subscribers sepuluh ribu aja udah nangis Bombay kalau akunnya ke-banned. Apalagi kakak yang udah jutaan. Maksudnya, emang Kakak nggak sayang, sama akun sebelumnya. Belum tentu loh, semua orang mau ikut pindah ke-Chanel baru. Hadeeeh..."


Afin menghela nafas. "Gua tau, Yan."


"Nah, terus?" Tanyanya.


"Ya nggak terus-terus. Udah lah, lupain aja. Itu cuma omong kosong, kok. Sana Lu pulang, udah jam sebelas malem, nih."


"Iyess, Bos!" Abiyan memasang lagi topinya. "Dia yang bahas awal malah di suruh lupain, aneh!" cibirnya lirih sambil menata barang-barang ke dalam tas selempang miliknya. Arif sendiri hanya geleng-geleng kepala.


"Bawa sekalian itu brownies sama cookies jar-nya."


Tanpa menjawab laki-laki itu membungkus makanan kiriman para owner yang memakai jasa endorse Arifin.


"Terus gimana soal manager?" Tanyanya lagi.


"Entar gua pikir ulang aja. Sana cabut, gih! hati-hati."


"Siap!" Abiyan menggendong tas selempangnya dan menenteng kantong keresek berukuran sedang berisi makanan. Sebelum berjalan keluar mendekati mobil yang terparkir di depan rumah produksi Afin Anka.


Sebuah klakson di bunyikan beberapa saat setelah pria itu masuk dan menyalakan mesin. Afin yang duduk di teras menjawab dengan sebelah tangannya yang terangkat sedikit tanpa melihat mobil tersebut.


Beberapa saat berlalu tanpa terasa. Afin tampak mengusap matanya yang perih. Masih sibuk dengan iPad di tangan. Mengatur list untuk beberapa rentetan pekerjaan yang masuk.


"Hoaaaaam!" Ia menguap sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul satu malam. Tubuhnya benar-benar terasa lelah. "Nggak kerasa udah jam segini. Safa mungkin udah tidur."

__ADS_1


Tubuhnya benar-benar lelah. Seharusnya ia cuti untuk beberapa hari. Namun, rupanya malam ini ia harus begadang sampai pagi.


__ADS_2