
Hari-hari berlalu begitu saja. Hingga mampu melupakan sebuah kejadian yang menurut Safa amat mendebarkan. Setelah menerima kabar, kalau Pak Roby telah di tangkap karena kasus penganiayaan terhadap mantan istri dan anak kandungnya, Safa merasa prihatin sekaligus lega.
Kini Thalita bisa tersenyum bahagia, kembali pada pelukan Ibu Indriani. Belum lagi putusan majelis hakim tentang hak asuh Thalita selama masih di bawah tujuh belas tahun jatuh pada ibunya. Bahkan mereka pun mendapat perlindungan khusus dari Komnas perlindungan anak dan perempuan.
Hari ini, Bu Indriani menyerahkan surat pindah anak gadisnya pada Safa yang nampak tertegun melihat sepucuk surat di atas meja tamu kantor.
Sejujurnya Safa amat menyayangkan hal itu. Anak didik yang selalu berprestasi di kelas, harus keluar dari MAN ini. Tapi, kembali semua itu adalah keputusan mereka. Yang berencana untuk pindah ke kampung halaman Ibu Indriani di Aceh. Guna menjalani hidup baru yang jauh dari hingar-bingar kota. Serta melupakan segala kenangan dirinya bersama sang mantan suami yang hatinya sudah serong pada wanita tak berhijab itu sejak sepuluh tahun yang lalu.
Mereka memang baru bercerai sekitar satu setengah tahun. Karena sikap tempramen Roby yang semakin menjadi-jadi semenjak menikahi janda muda yang sempat mengontrak di salah satu kontrakan milik Roby. Dirinya sering menjadi korban amukan tak beralasan dari suaminya setiap kali pulang dari rumah isteri mudanya itu.
Sedikit kisah itu di dengarkan Safa dengan rasa prihatin. Walau sekarang, senyum manis Bu Indriani lebih dominan menghiasi. Namun, tetap saja. Sepuluh tahun menahan luka fisik dan hati itu bukanlah waktu yang sebentar.
Safa menjabat sambil mencium pipi kanan dan kiri (cipika-cipiki) Bu Indriani. Wanita itu pun pamit.
🌸
🌸
🌸
Lewat pukul satu siang. Dimana matahari sedang terik-teriknya memancarkan sinarnya ke bumi. Safa sudah tiba di salah satu masjid agung. Tempat di adakannya tabligh Akbar yang di isi oleh KH. Irsyad Fadilah.
Wanita hamil itu berjalan di tengah teriknya matahari dari tempat parkir mobil hingga menuju undak-undakan masjid yang sangat luas dan panjang. Sementara sang suami yang mendadak mau meluangkan waktu untuk ikut kajian. Langsung menaungi tubuh Safa dengan payung.
__ADS_1
"Bang, Orang-orang ngeliatin kita," bisik Safa.
"Mereka hanya kagum sama kecantikan bumil di sebelah ku," jawabnya enteng. Sambil membenahi kacamata hitamnya.
"Apaan sih, jelas kamu yang bikin kita mencolok," pungkasnya karena memang penampilan Afin yang memakai celana putih dengan kaos lengan pendek warna hitam. Di tambah Sneaker putih, topi, masker, dan terakhir kaca mata hitam. Benar-benar amat mencuri perhatian.
"Aku mencolok?" Afin terpaksa memperhatikan sekitar. Dimana para wanita muda yang mengenali Afin saling berbisik-bisik. Yang sepersekian detik berikutnya tak di hiraukan pria dengan brewok tipis itu.
...
Di dalam gedung masjid. Afin mengatupkan mulutnya rapat beberapa menit sebelum semangatnya berubah lesu. Ia sudah lelah, meladeni dua orang di sisi kanan dan kirinya berbicara. Yang di sebelah kanannya merupakan kakek berusia tujuh puluh dua. Sementara di sebelahnya lagi berusia enam puluh sembilan tahun.
Mereka berdua tak henti-hentinya berbicara padanya. Tentang cucuk, anak, bahkan masa muda mereka. Hingga membuat pria berusia tiga puluh tiga tahun itu sedikit merasa bosan.
Entah serius atau tidak. Afin mungkin menganggap sebuah majelis ilmu itu seperti tempat konser. Dimana terdapat area VVIP untuknya dan Safa.
Setelah semua acara pembukaan di tampilkan. Saatnya ke acara inti. Ustadz Irsyad menaiki panggung kecil yang sudah terdapat kursi oleh panitia untuk Beliau.
Sebuah salam, serta doa-doa kecil di bacakan. Tak lupa ucapan syukur atas kehadirat Allah SWT. Juga sholawat serta salam yang di berikan untuk Nabi Muhammad saw.
"Jamaah yang semoga senantiasa dimuliakan Allah SWT. Hari ini, sebenarnya saya itu harus sudah kembali ke Jawa. Karena lebih dari sebulan saya di sini. Khawatir pondok jadi geser di gotong semut." Terkekeh. "Ini saya tunda lagi karena panitia calling bilang gini ke saya. 'Pak Yai. Usahakan untuk bisa hadir di tanggal sekian. Ntar saya tambahin isi amplopnya.' Langsung saya bilang 'siap!" Selorohnya yang di tanggapi tawa para jamaah yang hadir.
"MashaAllah, siapapun kalau sudah berurusan dengan uang maka segalanya jadi lancar, ya." Ustadz Irsyad membuka buku kitabnya dengan sesekali terkekeh sambil bergumam. "Yang sakit mendadak sembuh, yang depresi mendadak waras. Istri yang marah-marah juga kalau di kasih uang langsung berubah dari mode mata merah jadi mata bening yang berbinar-binar..."
__ADS_1
"Hahaha..." rius suara tawa para jamaah.
"Yang ketawanya paling keras. Fix! Mengalami."
"Hahaha!"
"Itulah magic-nya uang," sambungnya kemudian.
Di sudut lain. Afin nampak kembali bersemangat. Ternyata kajian Ustadz Irsyad menarik juga pikirnya. Pantaslah dia sering di undang di masjid-masjid besar jakarta.
Detik demi detik waktu berjalan. Sekarang kajian inti dimulai. Sebuah tema tentang rumah dalam naungan Allah. Membuat para jamaah tertegun. Mendengarkan sebuah nasehat yang datang dari Allah melalui lisan seorang hamba yang Soleh.
"Ya ayyuhallazina amanu qu anfusakum wa ahlikum naraw wa quduhan-nasu wal-hijaratu 'alaiha mala`ikatun gilazun syidadul la ya'sunallaha ma amarahum wa yaf'aluna ma yu`marun [Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.]"
"Amri bin Qais Al mula'i berkata, kelak akan ada seorang wanita yang menggugat suaminya pada hari kiamat. Dia bilang pada Allah SWT, bahwa suaminya tidak pernah mengajarkan dia tentang agama. Tidak pernah mengenalkan dirinya kepada Allah. Tidak pernah mengajarkan kepadanya perintah-perintah Allah. Bahkan sampai membiarkan Dia tak menutup aurat. Hidup suaminya hanya sebagai mesin pencari uang. Dia hanya kerja, kerja dan kerja."
Afin tertegun. Mendengar ceramah yang seketika membuat hatinya tertohok. Karena, jangankan untuk menjadi pemimpin yang mampu mengajarkan ilmu agama untuk isterinya. Ia bahkan hingga saat ini hanya memiliki nol pengetahuan agama.
"Itulah kenapa, untuk para wanita. Yang hendak menikah, maka wajib mencari pasangan seusai tiga kriteria. Dimana yang paling utama adalah laki-laki itu paham agama." Suara Ustadz Irshad masih terdengar. Di sela-sela lamunan Arifin.
Pria dengan pakaian kasual itu semakin tertunduk. Menekuri cincin perak yang melingkar di jari manisnya. Lantas memutar-mutar sedikit berkali-kali.
Selama ini, Safa sepertinya salah memilih pasangan. Dia seharusnya tak mendapatkan aku yang pendosa ini. Aku saja belum tentu mampu ke surga. Kalau aku malah justru menyeret Safa kedalam kerak neraka bagaimana?
__ADS_1
Hati Afin di hinggapi rasa bersalah. Seolah membuat laki-laki itu beranggapan. Kalau pernikahannya telah menjebak Safa pada tempat yang buruk.