
Pagi hari sebelum Ayah dan ibu Safa tiba. Afin masuk ke kamar sambil membawakan sarapan untuk Safa. Padahal gadis itu bilang tidak perlu dan ingin makan di bawah saja. Tapi Afin tetap membawakannya.
Pria itu menghela nafas sebelum meletakkan nampan makanan keatas meja. Kala melihat gadis itu sudah rapi memakai baju dinasnya sebagai guru.
"Harus ya, hari ini berangkat?" Tanya Afin dengan ekspresi datar cenderung kecewa, memandangi wajah tirus dari pantulan cermin yang sedang memasang pin di bawah dagunya. Agar hijabnya bisa terpasang sempurna.
Padahal aku sengaja kosongin jadwal buat bisa seharian sama kamu, Fa. Kita baru aja berpisah walau cuma satu Minggu. –batin Afin yang merasa terkhianati keadaan.
"Aku harus menyelesaikan tugasku, Bang. Raport anak-anak sudah harus di isi. Otomatis aku harus menyelesaikan nilai untuk semua lembar jawaban mereka," jawab Safa. Tangannya masih fokus memasang Bros di sisi kirinya agar bagian dadanya tertutup sempurna.
Pria itu meraih kedua bahu Safa membawanya menghadap padanya.
"Kamu yakin? Kondisi belum sepenuhnya kondusif..." Ia berbicara dengan nada khawatir.
Dan apa kamu yakin mau ninggalin aku. Aku cuma mau kita kangen-kangenan sebentar. –Afin terus merengek dalam hatinya.
"Nggak papa. Toh aku udah sehat. Walau ada sedikit rasa tak enak di hati. Tapi nggak papa... lagian, sebentar lagi kan libur sekolah." Safa menoleh kebelakang sebentar. "Abang ridho 'kan, Safa berangkat ngajar pagi ini?"
Hemmm, apa boleh buat. (Afin)
Laki-laki itu tersenyum, sebelum mengangguk tanda ia membolehkan.
"Alhamdulillah– makasih, Bang." Gadis itu merasa senang. Walau sepersekian detik berikutnya terkejut. Ketika kedua tangan Afin langsung menggampit pinggang ramping Safa yang tertutup baju longgarnya. Mengunci tubuh gadis itu dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan sampai dada mereka menempel.
"Ada apa ini?" Gadis itu mendadak gugup melihat tatapan Afin.
Jangan berangkat ngajar, Fa. Please... –tatapan seperti kucing yang tidak mau ditinggal majikannya di tunjukkan Afin.
"Ba–Bang?" Safa kebingungan sendiri.
"Kamu udah sehat?" tanyanya yang di jawab anggukan kepala. "Berati semalam pun sehat?"
__ADS_1
"I–iya." Kedua tangan Safa menahan dada bidang suaminya. Jantungnya seperti hendak meledak saat ini, semua sebab belum terbiasa.
"Seharusnya semalam aku langsung menunaikan kewajiku, ya? Setelah sekian lama tentunya aku mengharapkan momen itu."
"Hah?" Mendadak isi kepalanya menjadi kosong. Ia tidak tahu maksud dari perkataan suaminya baru saja.
"Apa mau pagi ini aja?" Afin mengedipkan satu matanya. Membuat kedua pipi Safa langsung memerah.
"Ab–Abang mau kita... itu?" tanyanya. Afin mengangguk cepat dengan ekspektasi memohon. Gadis itu kontan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Please..."
"Ka–kan, Safa mau ngajar? Tadi Abang udah kasih ijin..."
"Aku mendadak berubah pikiran, Sayang? lagian Masih jam setengah enam. Masih ada waktu untuk mandi dan bersiap lagi kalau benar-benar kamu mau ninggalin aku demi anak didikmu."
"Uhuk... Uhuk!" Gadis itu terbatuk-batuk. Adapun Afin langsung berkelakar geli melihat ekspresi istrinya. "Nggak lucu..." rengeknya sambil memukul dada sang suami.
Safa tersenyum. Ia tahu suaminya sedang menujukkan pada dirinya kalau dia benar-benar normal. Walau semalam momen itu belum juga ia rasakan.
"Sebentar saja– kamu nggak akan terlambat kok. Lagipun kalau kamu ijin hari ini, sebenarnya nggak masalah 'kan? Mereka pasti tahu, kamu butuh istirahat," ujar laki-laki itu sambil melepaskan Bros yang sudah terpasang cantik di bahu sebelah kiri Safa. Gadis itu tak berkutik ketika suaminya kembali menanggalkan hijab yang sudah terpasang sempurna.
"A–Abang serius?" Tanya Safa. dimana Suaminya baru saja melepaskan ikat rambut miliknya. Membiarkan rambut indahnya tergerai. Afin membalas tatapannya hanya dengan senyuman. Sebelum mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya keatas ranjang.
Sebuah sentuhan lembut di berikan. Afin mencium bibir Safa cukup lama, seraya tangannya bergerilya menyentuh dengan hati-hati bagian sensitif Safa yang berhasil membuat gadis itu terhenyak karena sentuhan tadi.
"Kamu mau melakukannya pagi ini, 'kan?" Tanya Afin beberapa saat setelah melepaskan ciuman mereka.
"A–aku istri Abang. Tentunya aku harus bersedia melakukannya." Jantung Safa seolah melompat-lompat tak beraturan. Belum lagi saat merasakan gerakan tangan Afin yang sedang melepaskan kancing baju dinasnya, dan sudah sampai ke bagian perut. Itu tandanya, titik aurat yang paling di sukai laki-laki akan terlihat seluruhnya oleh sang suami untuk pertama kali.
Afin tersenyum mendengar respon itu, ia pun langsung mengarahkan kecupan berikutnya di ceruk leher Safa sebagai pembuka. Hingga suara cinta mulai terdengar dari bibir manis sang istri tanda ia mulai menikmatinya.
__ADS_1
Satu tangan Safa menahan wajah itu sejenak, agar berhenti mematik syahwatnya. Membuat kening Afin berkerut.
"Kenapa?" Tanya laki-laki itu sedikit berbisik.
"Ini kali pertama kita melakukannya setelah berminggu-minggu kita hidup bersama. Dan bisa disebut sangat terlambat ketika ini menjadi yang pertama bagi kita untuk menyatukan cinta."
Pria itu terdiam, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa bersalah.
"Tapi Safa ridho kok, Bang. Atas yang kemarin. Wallahi..."
Afin kembali menunjukkan kelegaannya. "Makasih, Fa. Dan maaf sekali lagi. Aku seperti nggak tahu malu saat meminta ini padamu."
Safa kontan menggeleng. "Kenapa malu, ini kewajiban yang harus di jalani. Karena kalau tidak Abang akan berdosa."
Laki-laki itu hanya mengangguk.
"Namun sebelum itu Safa tetap mau kita melakukannya dengan adab yang baik, Bang."
"Adab?"
Gadis yang kedua pipinya sudah memerah itu mengangguk pelan.
"Kita seharusnya solat Sunnah dulu. Dan berdoa agar terhindar dari keburukan."
"Kamu, bener. Maaf aku udah terburu-buru."
Safa menganggapi dengan senyuman. Tubuhnya sedikit lemas akibat hormon yang mulai naik. Namun, ia tetap harus mengingat bahwa adab berhubungan secara Islam memang harus di jalani. Walau keduanya sudah sangat bernafsu sekalipun. Setidaknya, agar cinta yang mereka satukan bisa berbuah menjadi bibit yang baik.
Dan selepas melakukan sholat Sunnah dua rakaat. Mereka kembali pada urusannya. Safa bahkan sudah mengganti pakaiannya. Pagi ini ia putuskan untuk izin saja, masalah pekerjaan bisa ia kerjakan di rumah. Dan untungnya, kepala sekolah memberi izin.
Ya, sinar matahari memang belum sepenuhnya keluar. Namun seberkas sinarnya yang menerobos masuk lewat jendela kaca yang kembali tertutup gorden putih itu sudah menjadi saksi. Penyatuan cinta dua insan yang sempat tertunda lama. Kini akhirnya, Afin bisa melihat wajah Safa dari atas. Sedang menikmati ritme permainannya di atas ranjang. Dan walau ini pertama kalinya Afin melakukan itu dengan seorang wanita. Ia tetap bisa menyelesaikannya tanpa menyakiti Safa.
__ADS_1
Satu ucapan terima kasih terucap dari bibir Safa, setelah selesai Afin membasahi rahimnya untuk pertama kali. Kedua matanya berkaca-kaca ketika Afin memeluknya di bawah selimut. Laki-laki itu juga sama, ia merasa senang dan puas. Akhirnya ia bisa merasakan kenikmatan dalam berhubungan, setelah sekian lama menjadi budak birahi laki-laki yang memiliki kelakuan menyimpang.