
Entah mengapa bagi gadis dengan hijab warna kaki yang senada dengan pakaian dinasnya sebagai guru, amatlah berjalan lambat. Ini baru satu bulan awal dirinya duduk di bangku khusus pengajar di salah satu sekolah menengah pertama swasta. Namun hidupnya selalu di isi dengan perasaan gundah gulana yang tak pernah ia rasakan sebelum mengenal sosok Harun Azmi lebih dalam.
Dulu, pemuda dengan warna kulit cerah itu tak pernah sedikitpun menghiasi pikirannya, hingga sejak sosok pemuda tampan itu selalu mengirim pesan serupa syi'ar. Yang seketika membuat hatinya terus tersirami dengan kata-kata motivasi islami. Membawanya hanyut pada perasaan lain setelah kekagumannya pada sosok laki-laki periang jika di depan para murid-muridnya atau mungkin sesama guru Pria. Tapi tidak dengan lawan jenis, Ustadz Harun lebih membatasi diri.
Mungkin karena status Gus yang tersemat untuk dirinya yang memiliki darah Kyai. Walau Dia tidak pernah mau di panggil Gus oleh siapapun. Hingga membuatnya harus benar-benar menjaga nama baik yang sudah ada sejak dia baru lahir agar tidak tercemar. Tapi yang paling utama tentunya ketakutan Harun pada hal-hal yang akan berujung pada murkanya Allah.
Qonni mendengus, tak henti-hentinya setiap hari ia mengecek pesan yang masuk dengan penuh harap. Calon suaminya memang sudah sejak lama tidak pernah lagi mengirim pesan, kecuali kata-kata selamat jika ada momen tertentu, pun tidak berlanjut panjang sebagai percakapan basa-basi.
Bel berdenting, Qonni gegas memasukkan ponselnya ke dalam saku depan. Kemudian bersiap untuk memulai pelajaran di kelas yang akan ia tuju. Walau para guru lain masih sibuk bercengkrama, ada juga yang dengan santainya nonton film di laptopnya sendiri, atau yang santai saja melahap makanan dan lain sebagainya.
Qonni sendiri memilih untuk bergegas menuju kelas. Ya, setidaknya sebagai guru baru ia harus lebih bertanggung jawab atas pekerjaannya. Karena saat dirinya masih menjadi murid pun ia suka merasa kesal jika waktu pelajaran yang ia sukai harus terbuang sebagian, karena keterlambatan sang guru masuk kelas.
Guru yang mengajar mata pelajaran matematika itu sudah mengambil langkahnya keluar dari ruang kantor sambil sesekali menyapa para murid yang masih ada di luar kelas mereka.
***
Di tempat lain.
Harun bergeming setelah menamatkan buku tafsir Ibnu Katsir jilid ke delapan. Pria dengan jenggot tipis itu memandang langit yang sudah gelap dari jendela kaca kamarnya yang berada di lantai dua. Ada perasaan rindu yang acap kali mengganggu hari-harinya, walau ia sudah berusaha keras menepis bayang-bayang Qonniah dari benaknya untuk sementara ini.
Belum saatnya!
Ia selalu menekankan dirinya untuk tidak mengikuti jebakan setan. Karena walaupun sudah terikat dalam status tunangan, Qonni tetap belum halal baginya untuk di rindukan.
Pria dengan kaos oblong warna putih itu bangkit saat merasa perutnya sedikit lapar. Ya, sejak siang tadi dirinya belum menyentuh nasi, wajar saja jika otaknya bereaksi mengirim sinyal dari perut yang kosong.
Di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, pria itu mengambil nasi secukupnya dari dalam alat pemanas nasi. Lalu duduk di atas kursi di mana di atas meja sudah tersedia sayur dan lauk. Harun sendiri lebih memilih rendang daging yang menjadi favoritnya serta bawang goreng yang memang wajib ada di atas meja.
"Baru makan, kamu?" Suara seorang wanita dengan tasbih di tangan membuat Harun menoleh kearah pintu.
"Iya, Mi. Ummi udah makan?" Tanyanya balik sebelum memasukan suapan kedua kedalam mulutnya sendiri.
"Udah." Perempuan yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu menarik keluar salah satu kursi di hadapan Harun lalu duduk. "Kamu udah bicarakan dengan calon isteri mu, belum? Kalau bisa, kalian nanti tetap tinggal di sini?"
__ADS_1
Harun bergeming, ia sedang fokus mengunyah lalu menelannya.
"Belum, Ummi. Pelan-pelan lah. Lagian, Ayu juga anak bungsu di rumahnya."
"Walau bungsu, kedua orangtuanya masih utuh. Kalau Ummi, 'kan sendirian." Bu Nyai Nur menarik toples berisi emping lebih mendekat kearahnya. "Tapi ya terserah kalian sih. Ummi nggak maksa, di sana juga rumah orang tua, di sini juga," sambungnya kemudian.
Harun manggut-manggut, ia nampak sedang berpikir. Walau Ummi Nur tak pernah mempermasalahkan selain memberikan saran saja perihal ia dan isterinya mau tinggal dimana. Tapi jika di pikir-pikir ada benarnya, selama ini kalau Ummi sakit dirinya lah yang selalu di cari. Entah karena anak bungsu yang paling dekat dengan Ummi atau karena tangannya yang hangat? hingga saat merawat, Bu Nyai Nur akan cepat sembuh ketimbang di sentuh anak-anak yang lain.
"Mi...!"
"Hemmm?"
"Harun minta untuk di majukan saja ya?"
"Apanya?" Tanya Bu Nyai Nur sambil senyum-senyum. "Nikahnya?" tebak Beliau kemudian.
"Kalau boleh–" Harun menjawab lirih karena malu.
"MashaAllah, memang sebaiknya pernikahan harus di segerakan, Run." Ummi Nur memahami. Apalagi usia Harun sudah cukup matang untuk menikah godaan hasratnya pasti lebih besar.
"Nanti coba Ummi tanyakan sama A'a kamu. Biar di sampaikan langsung ke Pak Fatkhul Qulum. Kali saja di perbolehkan."
Harun tersenyum senang saat mendengar jawaban itu. Semoga saja, tidak perlu menunggu akhir tahun, Ayudia Qonniah sudah sah menjadi isterinya. Dan ia tak perlu lagi menahan rindunya kepada gadis berparas manis itu.
🌸🌸🌸
Di malam lain, Qonni berdiri memunggungi tembok yang bersebelahan dengan pintu menuju ruang tamu. Gadis dengan hijab warna dusty itu memegangi bagian atas dadanya, ketika mendapati kabar Gus Mukhlis datang dengan Bu Nyai Nur membuatnya was-was.
"Ini soal adik bungsu saya, Pak Ulum. Mohon maaf, perbincangan ini sebenarnya tidak bermaksud menentang keinginan Pak Ulum."
Sederet kemungkinan buruk sudah menghinggapi isi kepala Qonni. Bagaimana kalau kedatangan mereka rupanya untuk membatalkan pernikahan?
Aku nggak mau ya Allah... Aku mau A' Harun. –Qonni bergumam penuh harap.
__ADS_1
"Kalau di izinkan, pihak kami minta pernikahan untuk di majukan, Pak. Karena berkaitan dengan fitnah. Bapak tahu sendiri, setan mendiami aliran darah manusia. Sama halnya adik saya, mungkin ia ingin menghindari hal-hal yang buruk dengan cara mempercepat pernikahannya dengan Ayudia."
Pak Ulum nampak manggut-manggut, begitu juga Aida yang mendampingi di sisinya. Karena kedatangan mereka mendadak, jadilah keduanya tidak ada persiapan untuk kembali membahas ini.
Qonni sendiri langsung tersenyum sambil bergumam hamdalah. Ia sempat berpikir kedatangan tiba-tiba ini karena mereka membawa kabar yang tak baik. Namun justru sebaliknya.
"Jadi bagaimana, Pak?"
"Emmmm, boleh saya tahu. Kalau dari pihak keluarga maunya di bulan apa?"
"Mungkin nggak sampai dua bulan lagi," jawabnya yang membuat Ulum dan Aida saling pandang sebentar. Terlihat Aida mengangguk sekali sambil mengusap tangan suaminya. Sementara Ulum kembali menoleh kearah tamu mereka.
"Kami mungkin akan meminta pendapat Kakak sekaligus guru kami, Kyai Irsyad. Apakah boleh?"
"Tentu saja boleh, Pak." Gus Mukhlis terkekeh. "Ini hanya permintaan kami, kok. Selebihnya Bapak dan ibu boleh memikirkannya. Sambil meminta saran pada orang-orang yang paham."
"MashaAllah..., terima kasih, Gus."
"Sama-sama, Pak Ulum."
Qonni yang masih menguping itu seketika menutup mulutnya. Ia benar-benar dilanda rasa gugup. Calon suaminya meminta untuk di majukan, dan jika di setujui maka tidak sampai dua bulan mereka akan sah sebagai pasangan suami-isteri.
Buru-buru ia melenggang pergi dari posisinya. Setengah berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar yang sekarang berada di lantai dua.
Gadis dengan hijab instan warna dusty itu nampak berbunga-bunga dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
Baru saja ia hendak mendekati ranjang tidur, gawai di atas meja sudah berdenting. Ada satu pesan masuk yang semakin membuat jantungnya berdegup kencang.
[Assalamualaikum.]
"A'a...!" Gegas ia menyambar benda pipih yang tergeletak di atas meja. Inginnya langsung di buka. Namun, perasaan gengsi menahannya. Hingga pesan susulan masuk lagi.
[Embun hati... tiada rasa yang mampu membunuh seseorang selain gejolak hati yang kian bergemuruh. Ayu, apa kabar? Semoga Allah senantiasa melimpahi kamu dengan kebaikan.]
__ADS_1
Qonni membaca pesan susulan itu dari strip notifikasi, tanpa perlu membuka aplikasi chatting-nya. Tentunya bibirnya terus melengkungkan senyum, seiring desir hati yang membuatnya merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan pesan dari calon suaminya.