
Setelah Afin pergi mencari tempe mendoan. Bunda langsung buru-buru meminta supirnya ke apotek mencari sesuatu.
Dan setelah beberapa menit keluar. Sang supir kembali. Bunda pun bergegas menuju kamar anak dan menantunya itu untuk menyerahkan sesuatu yang ia beli melalui supirnya.
Tok... Tok...
Sebuah ketukan membawa Safa kembali membuka mata. Pelan-pelan bangkit dan berjalan mendekati pintu. Dan setelah pintu terbuka, Bunda tersenyum padanya.
"Ambil ini, Nak." Bunda langsung menyerahkan salah satu bungkusan kecil ke Safa.
"Ini apa, Bunda?" Tanyanya heran. Safa sempat berpikir ini adalah obat. Namun saat di buka rupanya sebuah alat yang kontan membuatnya bergeming.
"Simpan ini. Besok pagi setelah bangun tidur kamu periksa ya."
Jadi bunda berpikir aku lagi ngidam, ya? – Wanita itu masih memandangi alat tes kehamilan di tangannya.
"Di simpen, Nak. Jangan dulu kasih liat ke Arif ya." Sebuah belaian lembut di terima Safa pada kepala yang tertutup hijab instan.
"Emmm, masih terlalu dini buat periksa, Bun."
"Terlalu dini gimana. Kalian udah berbulan-bulan nikahnya, loh. Kali aja 'kan, udah?" jawabnya semangat, sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran di perut.
Memang kami menikah udah lebih dari tiga bulan. Tapi Bang Arif baru menyentuh Safa belum genap satu bulan. Nggak mungkin langsung jadi 'kan? –Safa nampak ragu-ragu. Bagaimana kalau hasilnya tak sesuai harapan. Bunda pasti akan kecewa.
"Kamu pasti takut hasilnya nggak sesuai harapan, ya?" Bunda seperti menangkap kekhawatiran menantunya yang hanya diam saja.
"Sedikit Bunda. Kalau ternyata Negatif?"
"Ya, nggak papa kalau hasilnya masih negatif. Bunda cuma punya firasat baik aja. Makanya suruh kamu cek pakai alat tes kehamilan itu. Apapun hasilnya, Nak."
Bibir Safa melengkung manis. Setelah itu mengangguk. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar. Bunda buru-buru meminta Safa untuk menyembuhkan di kantong baju tidurnya. Karena memang, suara itu berasal dari langkah kaki Afin yang sedang menaiki anak tangga.
"Kalian berkumpul? Apa terjadi sesuatu sama kamu, Fa?" Tanya Afin sambil menenteng bungkusan yang terlihat hawa panas di dalamnya.
"Enggak kok, Bang. Kita cuma ngobrol sedikit," jawab Safa menanggapi.
"Dapat tempe mendoannya?" Tanya Bunda sambil menyilakan kedua tangannya di depan dada.
"Dapat nih– agak jauh. Udah gitu antrinya bikin istighfar." Afin mengangkat makanan tersebut.
"Maaf ya, Bang."
"Nggak perlu minta maaf, Fa. Aku ikhlas kok."
"MashaAllah... Makasih, Bang. Tapi, ada sambal kecapnya?" Wanita itu buru-buru menerimanya.
__ADS_1
"Ada, Fa. 'Kan, yang dari Purwokerto. Aku belinya langsung dari penjual asli orang sana."
"MashaAllah –" di hirup aroma gurih dari dalam kantong tersebut. Bibir Safa kembali tersenyum.
"Ya udah, yuk makan. Aku ambil nasi dulu."
"Nggak usah, Bang. Kita makan di bawah aja. Abang turun duluan."
"Kenapa nggak bareng sekalian?"
"Nggak papa, aku menyusul." Safa menyerahkan kembali bungkusan tadi pada suaminya.
"Udah Rif. Sana turun duluan. Safa biar turun sama bunda. Kamu siapin aja semuanya..." sang ibu menimpali.
"Iya, deh." Dengan perasaan aneh, Afin pun berjalan menjauh. Dan kembali menuruni anak tangga. Saat itu pula Bunda menoleh kearah Safa.
"Udah sana simpen dulu."
"Iya, Bunda." Tak ada pilihan lain. Safa menurut saja. Apapun hasilnya ia akan tetep memeriksanya besok pagi.
🍂
🍂
🍂
Harap-harap cemas. Wanita itu mulai sedikit berharap saat satu garis mulai nampak jelas. Beberapa detik kemudian, satu garis merah susulan muncul. Wanita itu menutup mulutnya dengan satu tangan, tak percaya.
Masih belum bergerak dari posisinya, Safa terus mencermati apa yang ia lihat hingga beberapa saat baru ia percaya. Rasa tidak nyamannya selama beberapa hari belakangan ini tak lain karena tubuhnya yang sedang berbadan dua.
Ia lantas mengucap syukur dalam hati, netra indahnya mulai mengembun. Memunculkan kristal bening yang berjatuhan saat kedua matanya mengerjap.
...
"Assalamualaikum warahmatullahi–" Afin mengucap salam setelah menengok ke sisi kanan. Setelah itu gerakan serupa di lakukan ke arah yang sebaliknya. Sholat subuh telah selesai dijalankan.
Wanita dengan mukenah putih itu tersenyum, sebelum meraih tangan suaminya. Setelah itu menciumnya cukup lama. Bahkan lebih lama dari biasanya. Tentunya itu cukup aneh bagi Arifin. Namun, ia masih menunggu hingga Safa mengangkat kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Afin penasaran saat melihat kedua mata Safa yang basah karena air mata. "Kamu pusing lagi?"
"Enggak, Bang. Justru Safa tahu sekarang apa penyebab sakitnya Safa."
Kening Afin berkerut. Belum lagi saat Safa tak langsung menjawabnya ia justru beranjak dan dan berjalan memasuki kamar madi. Beberapa detik kemudian ia kembali sambil membawa sesuatu, yang tersembunyi di dalam Mukenahnya.
"Bang, Safa mau tanya sesuatu boleh?" Tanyanya sambil duduk di hadapan Afin.
__ADS_1
"Tentunya boleh. Kenapa juga nggak boleh? Emang kamu mau tanya apa??"
"Apa tujuan Abang menikahi seorang wanita?"
"Maksudnya?"
"Maksudnya, Alasan adanya pernikahan dalam hidup Abang?"
"Tentunya ketenangan hati..." jawab Afin ragu-ragu.
"Terus?" Safa semakin bersemangat.
"Keturunan," jawabnya lagi yang lantas membuat Safa semakin merasakan keharuan. "Setiap orang pasti mikir itu, kan? Tapi aku nggak akan memaksa kamu buat buru-buru."
"Kamu nggak maksa aku buat buru-buru. Kalau ternyata udah di kasih sekarang gimana? Apa kamu udah siap?"
Afin masih mencoba untuk mencernanya. Laki-laki itu memandangi wajah cantik istrinya yang polos tanpa riasan itu dalam kebisuan. Hingga Safa mengeluarkan sesuatu, lantas menunjukkan itu pada Afin Anka.
Kontan, Afin semakin membeku. Tangannya gemetar meraih pelan alat tersebut.
"Ini?" lirihnya tanpa ingin menafsirkan sendiri.
"Abang tebak aja, itu apa?"
Mata Arifin bergerak cepat, kembali mengarah pada istrinya.
"Guzelim... Kamu hamil?" Tebaknya spontan dengan bibir gemetar. Perempuan itu mengangguk tanda membenarkan.
"Ya Allah, serius?! Serius, Fa?" Mendengar itu dia langsung bangkit sambil menarik pelan tangan Safa agar turut berdiri.
"Iya, Bang–" jawabnya sambil tertawa, karena Afin terus mengguncangkan tubuhnya bertanya.
"Aku nggak percaya ini?"
"Aku juga. Tapi kita akan tahu ini akurat atau nggak setelah ke Abang bawa Safa ke Bidan."
"Iya, iya! Kita nanti langsung ke dokter kandungan buat periksa." Afin mengangkat tubuh Safa. Wanita itu pun menjerit kecil sambil tertawa. "Kesayangan ku hamil... Istriku hamil... Hahaha! Aku akan punya anak! Aku akan jadi Ayah!"
Afin memutar tubuhnya beberapa kali sambil menggendong Safa saking senangnya mendengar kabar kehamilan itu.
Lo liat ini, Brody br*ngsek! siapa bilang Gua udah nggak guna jadi laki-laki...! Istri gua hamil!! Dia hamil anak Gua!
Seolah hatinya ingin berteriak, menunjukkan pada dunia dan seisinya kalau dia benar-benar laki-laki normal yang bisa membuat istrinya hamil. Bahkan dalam kurun waktu tidak lama dari sejak pertama kali mereka berhubungan suami-istri.
Dan apa yang di lakukan Afin membuat Safa tergelak cukup keras. Memeluk lingkar leher suaminya erat. Antara takut dan juga bahagia.
__ADS_1
Tentunya tawa itu membuat Bundanya Afin tersenyum dari luar. Ia bisa menduga, kebahagiaan apa yang sedang di rasakan anak dan menantunya itu. Sehingga tawa mereka bisa terdengar sampai ke luar kamar. Bunda lantas mengucap syukur sambil mengusap air matanya.