
Di tempat lain Afin berkumpul dengan teman-teman yang menurutnya sudah seperti keluarga. Yang telah bertahun-tahun membantu dia dalam proses pembuatan konten dari awal ia menjejaki dunia hiburan.
Kehidupan yang pernah menjadikannya merasa di atas awan. Hingga melupakan bahwa dirinya merupakan mahluk kerdil yang jika bukan karena karunia Allah, Afin bukanlah siapa-siapa.
"Guys! Sebelumnya gua mau ucapin terima kasih. Dari semua yang udah kalian jalani, selama kerja bareng gua dan alm. Om Brody."
Ya laki-laki itu akhirnya meninggal dunia, satu hari sebelum di pindahkan ke RSCM.
"Sampai akhirnya gua ganti manager yang sampai saat ini. Gua tau, ini berat banget bagi sebagian orang termasuk gua sendiri. Buat mutusin ini aja gua butuh waktu satu tahun lebih sampai benar-benar yakin ninggalin dunia yang pasti banyak orang pengen ada di posisi gua."
Semua yang ada di hadapan Afin tertunduk. Mereka sebenarnya masih belum ikhlas dengan keputusan Afin yang ingin berhenti menjadi selebritis dunia maya. Sebab, setelah dari sini. Kemana lagi mereka akan mencari pekerjaan. Pun kalaulah ada tak semua boss se-royal Arifin. Yang acap kali memberikan bonus besar setiap beberapa videonya yang tranding.
"Gua ucapin terima kasih buat Lu, Yon. Makasih udah bantu buat hapus video di YouTube secara bertahap. Plus video-video yang ada di IG dan lain-lain."
Ucapan Afin di tanggapi acungan jempol dari Yonie dari bagian editing yang masih menunduk lesu.
"Makasih juga buat kalian semua. Sebelum berpisah, gua mau minta maaf yang sebesar-besarnya. Gua sering marahin kalian, gua sering ngeluarin kata nggak pantes. Gua mohon kalian ridho buat maafin Gua."
"Kak Afin! Ini beneran kita nggak lanjut produksi? Kalau Kak Afin benar-benar udah hijrah, kita ganti channel agama nggak papa, dah! Kita udah nyaman kerja sama Kak Afin" Asisten pribadinya memotong pembicaraan ini. Ia hanya sudah tidak sanggup mendengar ocehan mengandung bawang yang di lontarkan Arifin.
Afin tersenyum, sebelum menghela nafas. Sesungguhnya yang berat memang berpisah dengan timnya itu.
"Gua belum mampu untuk buka channel agama, Biyan. Nggak mungkin tiba-tiba gua dakwah..."
"Bikin acara podcast yang ngundang Ustadz aja. Buat bahas agama." Alan menimpali.
"Ide itu bakal Gua bungkus untuk masuk pertimbangan. Tapi untuk sekarang, gua lagi fokus belajar agama. Sambil kita liat kedepannya, okay!"
"Tapi, Kak. Gimana dengan kita?" Biyan memasang muka memelas di hadapan Afin. Laki-laki itu pung meletakkan telapak tangannya tepat di pucuk kepala yang tertutup topi putih. Kemudian menepuk-nepuk pelan.
"Gua yakin kalian bakal dapat pekerjaan yang lebih baik. Walau nggak sama gua."
"Nggak semudah itu, Kak. Kita udah belasan tahun. Bahkan channel Afin Anka udah menjadi top se-Asia tenggara. Lagian lanjut aja kenapa sih, Bang? toh kita udah ganti tema 'kan?" Walau sedikit demi sedikit mulai ada yang unfollow, sih. Sambung Biyan dalam hati.
"Nggak, Yan. Gimanapun juga, setiap keputusan baik memang harus siap untuk mengorbankan sesuatu."
"Haaaaaahhh..." Pemuda dengan topi putih itu menghela nafas berat.
"Sekali lagi gua minta maaf sama kalian. Gua emang nggak profesional sebagai artis."
__ADS_1
"Nggak, Bang. Buat gua pribadi keputusan Abang nggak sepenuhnya salah. Itu hak Abang, dan gua pribadi menghargai itu," ucap Alan sambil tersenyum.
"Bener, Bang. Kita ridho, kok. Walau masih berharap nggak lama dari hari ini, Bang Afin manggil kita lagi buat gabung," sambung Yonie yang di setujui beberapa crew yang lain.
"Alhamdulillah–" Afin bergumam sebelum menoleh pada Biyan di sebelahnya. "Sekarang Lu, Yan? Lu ikhlas, 'kan?"
"Ya mau gimana lagi?"
"Udah lah iklhas aja. Cengeng banget sih, Lu!" Alan merangkul pundak Biyan sambil terkekeh. Lantas ruangan pun berubah menjadi gaduh dengan canda tawa.
Selepas perpisahan yang di gabung dengan acara barbeque bersama. Mereka semua saling bersalaman dan memeluk. Saling memberi support dan doa masing-masing.
Kini hanya tertinggal Afin sendiri setelah semuanya pulang. Berdiri memandangi rumah produksi yang ia bangun dengan hasil Youtube-nya. Pria itu pun keluar sambil mematikan lampu satu-persatu. Setelah itu mengunci rapat.
***
Pintu kamar terbuka, Safa yang sedang menyusui bayinya menoleh pelan.
"Aina kebangun?" Tanya Afin sambil mengayunkan kakinya mendekati ranjang.
"Iya, tadi habis pup. Ini tinggal minta susu." Perempuan dengan rambut panjang se punggung itu tersenyum. Wajahnya yang polos nampak terlihat lelah setelah acara hari ini di Babelan.
"Kamu beneran mau cariin pengasuh? Aku bilang kan nggak usah, Bang. Safa bisa sendiri."
"Aku mau kamu nggak stress, Fa. Kebanyakan ibu-ibu yang punya Newborn itu mengalami baby blues kalau nggak di bantu."
Safa tersenyum, menangkap niat baik suaminya. Jarang-jarang loh, ada suami yang peka dengan urusan mental isterinya.
"inshaAllah, aku nggak papa. Di rumah, aku kan nggak ngapa-ngapain. Cuma ngurusin Aina aja. inshaAllah aku mampu."
"Iya sekarang, kamu sendiri minta tetep ngajar di Madrasah 'kan?"
"Ya kan masih lama..."
Afin menghela nafas. "Aku tetep bakal cariin baby sitter. Gimanapun juga, aku itu masih pengen quality time sama kamu. Kamu inget, aku pernah mau ajak kamu ke suatu tempat?"
Safa mengingat-ingat. Sedikit nggak ingat sih karena omongan itu sudah cukup lama.
"Besok malam, aku mau ajak kamu ke acara peresmian salah satu restoran Turki."
__ADS_1
Kening Safa berkerut. "Punya siapa? Temen kamu?"
Afin tersenyum, sebelum mencium pipi isterinya. "Kita lihat aja besok."
Rasa penasaran yang di tancapkan Afin membuat Safa tidak sabar untuk menanti hari esok. Pelan-pelan hisapan Aina di salah satu dadanya membuat Safa menunduk. Melihat sang anak sudah selesai menyusu. Ia pun kembali meletakkan puterinya ke ranjang bayi yang berada tak jauh dari ranjang mereka.
"Sini–" Afin merentangkan kedua tangannya setelah tubuhnya terbaring dalam posisi miring.
"Mau apa?"
"Kelonin aku lah. Apa lagi? Dari tadi Aina terus yang di urusin. Babanya juga mau dong di urusin."
"Hahaha... Abang ini bisa aja."
"Sini– Guzelim!"
Perempuan dengan daster panjang berlengan pendek itu mendekati sebelum duduk di bibir ranjang.
"Aku gemukan sekarang, ya?" Tanya Safa sambil melihat pantulan dirinya dari cermin meja rias.
"Enggak lah. Kamu cuma berisi, dikit! Aku suka–" di peluknya tubuh Safa sambil membawa dia untuk rebahan di sisinya.
"Aku capek, Bang." Safa merengek manja sambil membalas pelukan suaminya di bawah selimut.
"Mau aku pijitin?"
"Nanti aja. Maunya peluk dulu..."
"Okay, Nyonya. Aku milikmu malam ini."
"Hahaha, Abang apaan, sih..." kepala Safa menengadah ke arah wajah Afin.
"Aku berusaha romantis, Fa. Apa lagi?"
"Geli aja dengernya."
"Astaghfirullah, ya udah aku galak aja, ya?"
"Ya jangan juga."
__ADS_1
"Terus?" Tanyanya heran, sementara Safa hanya tersenyum sambil membenamkan wajahnya di dada Suaminya. Tempat ternyaman baginya sekarang adalah pelukan Arifin saat menjelang tidur.