
Hari berikutnya, seorang murid menyerahkan dompet Pink Safa kepadanya. Hal itu tentu membuat Safa merasa bersyukur. Untung saja ia belum memblokir semua kartu yang ada di sana. Ia hanya percaya kalau masih rezeki pasti akan kembali.
"Ini kamu yang nemu, Nak?"
"Emmm..." gadis berseragam Pramuka itu mengangguk. Sesuai permintaan Ustadz Musa, ia di minta untuk mengaku kalau dialah yang menemukan dompetnya.
"MashaAllah, makasih banyak, ya." Safa mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya, senilai lima ratus ribu. "Ini buat jajan, Kamu."
"Nggak usah, Ust."
"Nggak papa, ambil aja. Rezeki kamu karena telah jujur. Karena nggak ada se-sen pun uang Ustazah yang hilang."
"Tapi?" Anak itu merasa tak enak hati. Sudahlah ia berbohong. Di tambah harus menerima uang imbalan juga.
"Ambil aja–" Safa menyerahkan uang itu kepadanya. "Ya sudah, Ustadzah langsung mau ke kelas lain. Sekali lagi makasih, ya."
"S–sama-sama, Ust. Makasih juga ini."
Safa hanya tersenyum sambil mengusap kepala yang tertutup hijab coklat gelap itu. Gadis itu memandangi uang lima ratus ribu dalam genggamannya. Ia bersyukur karena hari ini tidak membawa uang untuk membayar LKS yang sudah berkali-kali di tagih. Sebab sang ibu yang hanya seorang buruh setrika sedang tidak memegang uang lebih. Namun di sisi lain, kalau ia terima begitu saja akan sangat tidak menghormati Ustadz Musa.
– Beberapa menit kemudian...
"Assalamualaikum, Ustadz!"
"Walaikumsalam warahmatullah." Pria yang baru saja hendak melaksanakan sholat Dhuha terkejut saat melihat gadis yang ia mintai tolong tadi menunggunya di serambi masjid. "Ada apa, Put?"
"Ini uang dari Ustadzah Safa." Gadis itu menyodorkan uangnya. Ia memutuskan untuk menyerahkan kepada Gurunya saja. Toh, hari ini ia sedang puasa Daud jadi tidak perlu jajan. Dan masalah bayar buku, bisa ia pikirkan nanti.
"Uang dari Ustadzah. Maksudnya?"
"Tadi saya di kasih uang jajan karena udah menemukan plus mengembalikan dompet Ustadzah. Padahal yang menemukan dan menjaga dompet Beliau 'kan, Ustadz. Jadi ini saya kasih ke Ustadz Musa aja."
__ADS_1
Laki-laki dengan jenggot tipis dan kulit yang putih itu tertegun sejenak. Sebelum akhirnya tertawa.
"MashaAllah! Nggak, nggak..., itu hak kamu. Ambil aja." Ustadz Musa menolaknya.
"Jangan gitu, Tadz. Saya udah berbohong, masa saya harus nerima uang ini juga."
"Ya nggak papa, bohongmu insyaallah demi kebaikan. Jadi ambil aja..., ya udah Ustadz mau Dhuha dulu."
"Tapi, Tadz?"
"Nggak papa. Buat kamu aja." Pria itu gegas menjauh memasuki masjid setelah membaca doa. Sementara Gadis itu kembali tertegun.
Mungkinkah ini rezeki-ku. Tadi ibu bilang, sepulang sekolah aku di suruh hutang beras sama telur ke warung buat makan siang adek-adek. Alhamdulillah, aku nggak perlu hutang. –mata gadis itu mengembun. Ia pun mengambil selembar untuk di masukan kedalam kotak amal setelah itu melenggang pergi dengan hati penuh syukur.
🌸🌸🌸
Beberapa minggu berlalu. Safa memandangi sebuah tanggalan yang berada di atas meja. Ia sedikit tercengang karena sudah lewat satu hari dari tanggal HPL. Namun, kontraksi tak kunjung ia rasakan. Tangannya menyentuh perutnya yang membesar itu ia mulai merasa khawatir.
Di sela-sela ucapannya. Ia mendengar pintu kamar yang di ketuk. Dengan hati-hati wanita yang sudah mengambil cuti sejak sepuluh hari yang lalu berjalan mendekati pintu.
"Assalamualaikum, Fa." Bunda Ayattul menyapanya dengan riang.
"Walaikumsalam, Bunda," jawabnya hangat sebelum meraih tangan Bunda Ayattul. Cium tangan.
"Mendekati tanggal lahiran, Bunda makin was-was kalau lagi kerja. Takut kamu kerasa pas lagi nggak ada yang mendampingi."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Dan duduk di salah satu Sofa di sudut ruangan.
"Alhamdulillah, terima kasih udah selalu kasih perhatian, Bunda." Safa tersenyum.
"Gimana, HPL-nya tanggal berapa, sih? Bunda lupa tepatnya."
__ADS_1
"Sebenarnya kemarin, Bunda."
"Hah?!" Bunda Ayattul menyentuh perut Safa. "terus, udah ada kontraksi?"
Safa menggeleng pelan.
"Kok belum? Sekarang kita ke rumah sakit aja, ya? Periksakan ke dokter. Bunda khawatir malah," pintanya yang kemudian di iyakan oleh Safa.
Beberapa waktu berlalu. Setelah tiba di rumah sakit dan melewati antrian untuk pemeriksaan. Sekarang Safa dan Bu Ayattul sudah memasuki ruangan Obgyn. Seorang Dokter kandungan mencoba untuk memeriksa kondisinya.
"Ini sudah lewat satu hari dari HPL. Namun belum ada kontraksi, biasanya wajar ya. Karena ada sebagian yang seperti itu. Sekarang sih saya sarankan untuk tidak pulang, Bu. Mengingat kondisi janin sudah bagus, pembukaan juga sudah masuk satu. Mungkin, akan di lakukan prosedur induksi guna memacu bayi agar mau keluar."
"Begitu, ya. Jadi anak saya bisa lahiran hari ini juga?" Tanya Bu Ayattul antusias.
"Iya, Ibu. inshaAllah, bisa normal. Semoga tidak ada kendala apapun."
"MashaAllah." Safa bergumam dengan mata mengembun. Sebentar lagi, ia akan merasakan detik-detik antara hidup dan mati. Seorang wanita yang melahirkan anaknya ke dunia.
"Silahkan nanti di diskusikan untuk memilih kamar rawat inap. Nanti, suster akan mengantarkan, Nyonya Safa untuk di bawa ke ruang bersalin."
"Terima kasih, Dokter." Keduanya bangkit sambil menjabat tangan dokter kandungan itu. Sementara seorang suster wanita yang mengenakan hijab. Lantas membimbingnya menuju ruang bersalin.
Di tempat lain... Afin nampak sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan sang asisten pun tak menyadari jika ponsel Afin terus berdering. Karena memang mengunakan mode silent.
Beberapa waktu kemudian, perut Safa mulai melilit setelah menerima proses induksi tadi. Ia bahkan sedang tidur dalam posisi miring kiri. Sambil tangannya menggenggam tasbih kecil. Disisi kirinya, dua wanita paruh baya sedang menunggu Safa sambil terus menuntunnya untuk beristighfar.
Nampak Bunda Ayattul berkali-kali mengeluarkan ponsel untuk menghubungi, Afin. Namun tak kunjung di jawab.
"Kemana, sih. Anak itu?!" Bunda sedikit panik. Belum lagi saat ada sesuatu yang rembes.
"Bu, kayanya ketubannya udah pecah." Safa memberitahukan dengan suaranya yang lemah setelah beberapa jam menunggu, proses melahirkan pun akan segera di lakukan.
__ADS_1