Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 87


__ADS_3

Sebelum Ustadz Irsyad dan keluarganya pulang. Afin sempatkan untuk mendekati Beliau, dan berbicara empat mata tentang pelajaran agama yang selama ini di ikuti secara rutin walau hanya melalui tatap muka di media online.


"Kapan saya bisa muroja'ah lagi Ustadz?" Tanya Afin yang memang masih menjuluki Irsyad dengan gelar Ustadznya.


Pria bertubuh tambun itu tersenyum sambil mengencangkan kacamatanya. "Kalau Kamu ada waktu luang, mau besok atau bahkan nanti juga ndak papa."


"Nanti?" Afin terdiam. Ia ingat nanti adalah malam rapat dirinya dengan para crew-nya sendiri.


"Besok aja, ndak papa. Saya lowong di pukul sembilan sampai waktu Dzuhur," timpal Ustadz Irsyad yang memahami kesibukan suami Safa ini.


"Iya, Ustadz. InshaAllah saya akan usahakan dateng di jam-jam segitu."


Irsyad terkekeh, sambil menepuk pundak pria di sebelahnya. Setelah itu menoleh ke sisi kanan, semua keluarganya sudah berkumpul di dekat mobil mereka. Kemudian menoleh kearah Afin lagi.


"Saya pamit dulu. Jangan lupa, bawa catatan pelajaran onlinenya."


"Semuanya, Ustadz?"


"Yo, ndak. Yang terakhir aja. Biar sekalian di evaluasi. Nanti kita bedah lebih dalam kandungan dalam Kitab Safinatun Najah. Yang udah di pelajari via Video call selama saya di Magelang kemarin."


"MashaAllah... baik, Ustadz." Afin manggut-manggut.


"Yo wes! Tak jalan dulu, sampai ketemu besok. Mudah-mudahan semuanya sehat, dan masih ada umur untuk ketemu."


"Aamiin, terima kasih sekali lagi, Ustadz." Afin meraih tangan Ustadz Irsyad lalu menciumnya dengan takzim.


Mereka berjalan bersama hingga keluar gerbang. Tempat dimana semuanya berkumpul, termasuk keluarga Ulum yang turut mengantarkan keluarga Ustadz Irsyad hingga ke gerbang yang tinggi dan nampak paling bagus di antara gerbang-gebang milik rumah sekitarnya.


Sekarang laki-laki berusia senja itu sudah duduk di bangku tengah, mobil yang di kendarai Rumi. Bersama cucuk laki-lakinya. Sementara Debby turut duduk di depan sesuai dengan yang di minta Irsyad. Karena Beliau memang lebih suka duduk di kursi tengah, berdua dengan Alzah. Bermain sambil memandangi mobil-mobil dari sisi Beliau duduk.


Adapun Faqih dan Nuha memang tak turut dalam mobil yang di kendarai Rumi. Mereka bawa mobil sendiri yang akan langsung pulang ke Asemka. Sebab, sebelumnya mereka sudah menginap dua malam di Harapan Indah.


Suara klakson mobil berbunyi sebelum roda-roda itu bergerak maju. Lambaian tangan terlihat dari mereka semua. Baik yang berada di dalam mobil atau mungkin mereka yang turut mengantarkan sampai ke gerbang.


Jejak roda mereka meninggalkan hening sesaat sebelum Ulum menoleh pada putri bungsunya yang kebetulan berdiri di sisi kanan.


"Buat acara lusa udah di persiapkan?"


"Udah, Yah. Aku berangkat pagi untuk make-up dan pakai kebaya wisuda. Ayah sama Ibu bisa datang jam sembilanan."


Ulum manggut-manggut.


"Cieee, yang mau wisuda," goda Safa dengan kedua tangan menggelayut di lengan Suaminya. Sementara Qonni senyum-senyum. "Ada hal lain tuh yang di tunggu selain wisudanya."


"Cieee, cieeee... yang peka..., bentar lagi aku akan bales keromantisan kalian!" balas Qonni yang kemudian memicu gelak tawa mereka yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Masih lama, kamu masih lama buat bales aku. Kerja dulu!" Safa menarik pipi adiknya hingga gadis itu merengek jengkel.


"Iiiish, Ayah. Mbak Safa, nih!" adunya pada sang ayah yang hanya geleng-geleng kepala.


"Udah mau nikah, eh... wisuda, tapi masih ngaduan."


"Yeeee, apa hubungannya?"


"Ada dong–" Safa tertawa melihat wajah bersungut Qonni. Dimana tangan gadis itu terus mengusap kepala mungil keponakannya.


"Udah sana masuk. Keponakan ku kasian nih, udah kepanasan." Qonni mencondongkan wajahnya pada bayi dalam dekapan Aida, kemudian mencium bayi perempuan itu dengan gemas. "Pipinya enak banget sih..."


"Jangan diciumin terus Aina-nya. Nanti habis pipinya," goda Safa hingga membuat mereka kembali tertawa. Termasuk Afin yang mengusap kepala isterinya.


Duuuuh, A' Harun bisa semanis itu nggak ya nanti sama isterinya? –kedua pipi Qonni tiba-tiba merona saat membayangkan wajah Harun yang sedang tersenyum. Hingga otomatis bibirnya langsung beristighfar.


"Ayo masuk..., masuk! Kasian cucukku ke panasan, ini." Aida berjalan lebih dulu, yang di susul semuanya.


Sebenarnya di luar cukup sejuk. Hawa panas matahari tetap kalah dengan rimbunnya dedaunan yang di goyangkan angin dari pohon yang ada di dekat mereka.


🌲🌲🌲


Hari masih cerah, saat kaki telanjang yang nampak putih dan bersih itu menginjakkan kaki di atas lantai granit masjid. Pemuda dengan sebagian rambutnya masih basah karena air wudhu itu melangkah keluar, sebelum menuruni anak tangga.


Tak berselang lama, pemuda lain dengan kacamata terpasang keluar dan duduk bersebelahan di sisi pemuda pertama tadi dengan jarak sekitar dua meter.


Pemuda berkacamata itu kontan menoleh. Kenapa bisa ia bertemu dengannya di Depok? Bahkan di masjid yang sama.


"Ngapain disini? Ya Allah!" Pria itu bergeser sambil menenteng sepatunya yang belum terpasang.


"Habis COD, biasa..." Ilyas tersenyum tipis sebelum menjabat tangan Harun yang terulur padanya. Adapun Harun langsung menarik lengan itu memeluk sebentar.


"MashaAllah, bisa kebetulan gini?"


"Iya. Bisa nggak ngeuh ada Antum."


"Anna di sudut kiri paling belakang."


"Owalah, pantes. Anna di paling depan. Dekat imam tadi," balas Ilyas sambil tertawa, kemudian kembali fokus pada sepatu mereka masing-masing. "Antum sendiri dari mana?" tanyanya sambil menoleh sebentar sementara tangannya sedang berkutat dengan tali sepatu.


"Habis kirim barang, Yas. Sama!" jawabnya. Kini pemuda dengan mata sedikit sipit itu telah selesai memasang kedua sepatunya.


"Bener sama, Run. Hanya beda partainya. Kalau Antum partai besar. Kalau anna kecil-kecilan."


"Hahaha, bisa aja. Eh, kita mampir ke depan yuk. Makan Mie ayam sama es dugan."

__ADS_1


"Waduh, Afwan. Kayanya nggak bisa, takut kesorean," tolak Ilyas hati-hati.


"Enggak lah! Orang cuma sebentar..., ayok!" Harun menarik temannya itu untuk gegas bangkit setelah melihat Ilyas juga sudah selesai memakai alas kakinya.


Kemudian mereka berjalan bersama menuju sebrang masjid. Tempat dimana sebuah gerobak biru dengan kepul asap dari panci perebus mie. Serta di sebelahnya terdapat tundunan kelapa muda, lengkap dengan alat potongnya.


"Mie Ayam sama es kepalanya dua, Pak. Makan sini." Harun langsung memesan, begitu mereka masuk kedalam tenda sederhana yang terbuat dari sepanduk bekas.


"Siap, Mas!"


Dengan cekatan penjual Mie ayam itu gegas membuatkan pesanan Harun dan Ilyas. Sementara dua pemuda tadi kembali melangkah mendekati meja panjang yang yang di atasnya sudah lengkap dengan perlengkapan makan seperti sendok, garpu, dan sumpit. Juga berbagai jenis saus, dan sambal.


"Lama nggak ketemu, semenjak antum nganterin anna ke rumah Ayu. Kayanya sekarang Antum jarang di rumah, ya?" tanya Harun setelah menghempaskan bokongnya di atas kursi plastik tanpa sandaran.


Pria berkacamata itu tersenyum. Menopang kedua sikunya di atas meja, sementara jari-jarinya saling bertaut.


"Ibu sehat, 'kan?" sabung pemuda dihadapan Ilyas yang paham kondisi ibunya itu.


"Alhamdulillah, sekarang sehat. Cuman sebelum ini, lagi sering check up. Dokter sih nyaranin rawat inap. Tapi ibu nggak mau."


"Gitu, ya?"


Seorang laki-laki yang nampak lebih muda dari bapak yang sedang memasak Mie tadi menyerahkan dua butir kelapa muda utuh yang sudah di buka bagian atasnya. Kemudian di sandingkan pula dua gelas berisi es batu. Mereka pun mengucapkan terima kasih sebelum melanjutkan obrolan.


"Memang orang tua harus sedikit di paksa demi kebaikannya."


"Kalau di paksa, Ibu jadi lebih drop, Run. Maklum, orang tua kadang suka takut sama peralatan medis."


Harun manggut-manggut, paham. Beliau mengucap bismillah sebelum menyesap air kelapa yang menyegarkan itu menggunakan sedotan. Adapun Ilyas sendiri masih belum memulai.


Melihat Harun sekarang, membuatnya kembali teringat akan perempuan idaman yang akan di nikahi sahabatnya itu. Sudah cukup membuatnya tak berselera menyantap apapun.


Ia sendiri tahu, jodoh tidak bisa di paksa. Perasaan orang pun sama. Tidak bisa di paksa demi membalas kekaguman seseorang. Namun, bukankah melupakan orang yang pernah menjadi dambaan amat membutuhkan proses yang tak sebentar?


"Di minum, atuh! Di anggurin aja...." Harun menegur sambil menepuk pundak pria di depannya yang kontan tertawa lirih.


Tak lama dua porsi Mie ayam terhidang di hadapan mereka.


"MashaAllah, saya laper banget, Yas! dari siang nggak sempet makan apapun." Harun menarik mangkuknya lebih mendekat.


"Calon juragan madu, dan kurma. Udah mulai nggak punya waktu buat makan."


"Hahaha, belum jadi juragan Anna, mah!"


"Aamiin aja, kenapa?"

__ADS_1


"Aamiin!" balas Harun diselingi tawa. "Ayo di makan." Keduanya mulai fokus pada Mie ayam di mangkuk masing-masing. Saling meracik saus dan sambal sesuai selera.


__ADS_2