Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 26


__ADS_3

Safa memasuki area kantor. Tempat para guru beristirahat setelah mengajar. Beberapa di antaranya ada yang membentuk satu kelompok. Mengobrol entah apa, dengan tawa yang terkadang terdengar keras. Ada lagi yang sibuk menyusun soal, sebagai persiapan ulangan harian. Ada pula yang duduk sendirian sambil menonton video berita lewat layar ponselnya. Intinya, waktu istirahat kelas sama juga di manfaatkan untuk istirahat para guru.


Safa duduk di kursinya. Gadis dengan kerudung panjang itu menyapa guru lain di sebelahnya. Yang sedang merapikan make-up Beliau. Tak berselang beberapa menit seorang dari petugas Tata Usaha menyerahkan surat izinnya.


"Assalamualaikum, Ustadzah Safa."


"Walaikumsalam warahmatullah, Bu Yanti." Sautnya sembari berdiri menyambut wanita paruh baya tersebut.


"Ini suratnya udah dapat persetujuan dari kepala sekolah dan pihak yayasan. Ustadzah bisa libur mulai besok."


"MashaAllah, Alhamdulillah–"


"Sekali lagi selamat, ya. Nggak nyangka, diam-diam mau menikah," ujarnya lirih. Tapi masih di dengar oleh guru perempuan di sebuah meja Safa.


"MashaAllah, beneran, Ust? Mau menikah? Sama siapa?" Tanya Beliau yang usianya mungkin sepantaran dengan Safa.


"Alhamdulillah– dengan anak dari kenalan keluarga saya," jawabnya sambil tersenyum.


"Ya Allah. Kok, nggak undang-undang sih?"


"Ini cuma acara keluarga, kok, Ust," terkekeh malu.


"Selamat, ya. Semoga lancar sampai hari-H." Menjabat tangan Safa sebelum memeluknya.


"Aamiin, terima kasih, Ust! Atas doanya."


Tak membutuhkan waktu lama, beberapa orang berkumpul menanyakan kebenarannya.


Safa memang sengaja tidak kabar-kabar. Karena, ia juga takut gagal lagi. Jadi lebih baik diam saja. Ia juga hanya mengundang sebagian saja. Walau guru-guru yang lain tetap ingin datang. Safa merasa bersyukur, melihat kebaikan mereka yang terlihat turut senang mendapati kabar dirinya hendak menikah.


Salah satu guru laki-laki berusia tiga puluh tiga tahun yang duduk di depan Safa, berjarak dua bangku lagi menoleh kebelakang sebentar. Sebelum kembali menatap layar laptop berisi kumpulan soal yang belum selesai ia ketik. Pria yang tak turut berkerumun itu menghela nafas, terdiam untuk beberapa saat. Sebelum mengangkat tangannya hanya sebatas bawah meja beliau.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir–" gumamnya tanpa suara. (Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.)


Jadi Ustadzah Safa akhirnya menerima pinangan laki-laki itu, dan Dia mau menikah. Syukurlah..., Sambungnya dalam hati. Laki-laki berjenggot tipis itu tersenyum samar, sebelum kembali mengetik.

__ADS_1


Sebenarnya ia sempat menaruh lamaran juga pada Pak Ulum untuk Safa. Ketika bertemu pada sebuah acara di kantor dinas pusat.


Namun, kata Pak Ulum sudah ada laki-laki yang sedang menunggu jawaban dari Safa. Beliau sempat bilang; kalau Safa menolak laki-laki itu, maka Beliau akan menyampaikan niat baiknya langsung pada Safa.


Tapi sudah lewat enam bulan ia menanti pesan singkat berisi kabar. Yang hingga saat ini tak kunjung datang dari Pak Ulum. Malah justru sebaliknya, suatu kabar gembira dikemukakan di depan rekan guru lainnya. Safa akan menikah. Ya, inilah akhirnya ia benar-benar harus mengubur harapan itu.


🍃


🍃


🍃


Malam sebelum pernikahan, Arif tidak bisa tidur. Ia masih saja bimbang karena sampai saat ini masih belum mampu berkata jujur tentang masa lalunya pada Safa.


Satu hal yang membuatnya semakin menunda untuk mengatakan itu adalah. Ketika dirinya mendengarkan ceramah singkat tentang aib masalalu seseorang yang sudah di tutup oleh Allah SWT dan dia sudah bertaubat? Maka tak perlu juga ia menyampaikannya pada pasangan yang hendak ia nikahi. Namun, konteks jelasnya tentang aib yang seperti apa dulu, yang perlu di sembunyikan. Apa termasuk perbuatan menyimpang-nya dulu?


Inginnya ia menemui ulama atau ustadz yang mampu menjawab keraguannya. Namun, rasa takut bercampur malu menahannya untuk mencari tahu.


Arif berharap semuanya tidak akan berujung pada keburukan. Ia tidak mau kehilangan gadis itu yang akan sah menjadi istrinya esok hari.


Terserahlah... Arif tidak peduli. Yang terpenting hidupnya bisa tenang. Dan acara akan sukses besok. Semoga saja.


****


Pagi datang...


Acara berjalan dengan hikmat. Ijab qobul di bacakan dengan lancar walau harus mengulang tiga kali karena saking gugupnya. Kini Safa sudah resmi menjabat istri seorang Arifin Faruk Anka.


Beberapa yang datang, sempat terkejut saat tahu calon suami Safa merupakan artis. Namun, sesuai aturan. Tidak ada yang boleh mengambil gambar berupa foto ataupun video. Dokumen foto pun hanya dari pihak keluarga. Mereka sangat mengetatkan aturan privasi di acara ini. Semua demi kenyamanan Safa. Bahkan para guru yang datang pun di jadwalkan kemarin. Sementara acara hari ini, murni di hadiri oleh keluarga dan kerabat dekat.


Safa berdiri di depan Arifin. Pria itu sudah siap, dengan hafalan doa yang di berikan oleh wanitanya. Dengan gugup ia membaca, satu tangannya menyentuh kening Safa, sementara gadis itu menengadahkan tangannya sambil menunduk.


Bulir-bulir bening berjatuhan, manakala suara yang terbata-bata itu membacakan doanya yang di akhiri dengan kecupan penuh keragu-raguan di kening Safa.


Gadis itu mengangkat kepalanya mengarah pada Arif. Pria itu tersenyum singkat dan amat kaku lalu memalingkan wajahnya. Entahlah mungkin dia gugup. Safa kembali tertunduk mengucap hamdalah.

__ADS_1


Bu Ayattul menghampiri dua mempelai itu dengan air mata kebahagiaan membanjiri pipinya. Memeluk Arif dan menciuminya berkali-kali, hingga peci hitam yang di gunakan laki-laki itu terlepas dan jatuh kelantai. Pria itu tertawa sambil membalas pelukan Bundanya. Mencium bahu wanita itu cukup lama sambil mengangguk sesekali, mengiyakan apa yang di sampaikan ibunya.


"Jangan sakiti istrimu, nak. Bahagiakan dia... jangan kecewakan dia. Kalau kamu menyakitinya sama saja menyakiti hati Bunda. Dengar itu?!"


"Iya Bunda." Arifin membalas kecupan di pipi Bu Ayattul. Setelahnya wanita itu beralih pada Safa, memeluknya juga.


"Terima kasih, Nak. Mau menerima anak Bunda yang mungkin jauh dari kriteriamu. Bunda sangat bahagia dan bersyukur. Akhirnya memilki anak perempuan sebaik dirimu. Kalau dia belum bisa membimbingmu mohon bersabarlah. Dan ajak dia ke jalan yang baik, yang di ridhoi Allah."


"inshaAllah, Bunda. Mohon doanya, Safa bisa menjadi istri yang baik untuk Bang Arifin."


"Aamiin, Aamiin..." jawabnya sambil melepaskan pelukannya.


Acara masih berlanjut hingga masuk waktu malam. Kedua sepasang pengantin baru itu berada di dalam kamar yang luas. Bersih dan tertata rapi.


Terlihat Safa duduk dengan wajah tertunduk di sisi Arif yang banyak diamnya. Laki-laki itu terus saja memalingkan wajahnya. Ia hanya sedang mengusir rasa gugup yang bersarang di tubuhnya.


"Bang?" Panggil Safa memecah keheningan. Laki-laki itu pun menoleh tanpa menjawab. "Kita?"


Arif langsung bangkit dari posisi duduknya. "Aku keluar sebentar, ya. Kalau kamu mau istirahat duluan nggak papa." Tanpa menatapnya ia langsung keluar kamar meninggalkan tanda kebingungan di wajah Safa.


"Padahal, aku cuma mau bilang kalau kita harus sholat Sunnah sebelum tidur," gumamnya sambil memandangi pintu yang tertutup rapat. Gadis itu pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sambil melepaskan jilbabnya Safa terdiam, tidak mengerti dengan sikap suaminya setelah ijab qobul tadi. Yah, mungkin saat ini dia gugup sekali. Tidak apa lah– dengan pakaian yang sudah berganti menjadi busana tidur. Gadis berambut panjang itu berjalan menuju ranjang yang luas dan empuk. Amat berbeda dengan ranjang yang ada di rumahnya.


Senyumnya mengembang singkat sambil menyentuh permukaan kasur.


"Alangkah beruntungnya manusia di jaman sekarang. Bisa tidur nyenyak di atas kasur yang empuk. Sementara Rosulullah Saw, laki-laki mulia, kekasih Allah harus tidur hanya beralaskan tikar yang di lipat jika musim panas, dan di bentangkan agar permukaan lainya bisa di jadikan selimut saat musim dingin..."


Safa merebahkan tubuhnya, masuk kedalam selimut yang tebal. Gadis itu tidur dalam posisi miring.


"Haruskah aku menunggu Bang Arifin, atau aku tidur duluan. Tapi mataku terasa berat. Aku ngantuk..." Sayup-sayup pandangnya mulai kabur. Safa pun tertidur pulas diatas ranjang Afin sendirian.


Beralih pada laki-laki itu... Dia kini tengah duduk di taman. Menatap kearah jendela kamarnya dan Safa yang masih terang di lantai dua. Sambil menghisap rokok. Walaupun sudah berhenti mengkonsumsi barang haram. Pria itu masih belum bisa lepas dari batangan racun itu.


"Harusnya gua nemanin Safa di kamar. Ini malam pertama kami. Tapi, kenapa aku takut. Takut jika harus menidurinya dengan tubuh kotor ini." Pria itu menghisap lagi, lalu menghembuskannya. Mengeluarkan kepulan asap yang cukup banyak sebagai pelampiasan frustasinya.

__ADS_1


Untuk malam ini, adalah sebuah kewajaran, jika ia belum bisa menyentuh istrinya. Namun, tidak untuk malam-malam selanjutnya.


__ADS_2