Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 37


__ADS_3

Afin menempelkan punggungnya di pintu. Sebuah penyesalan yang berujung pada makian untuk dirinya sendiri. Laki-laki itu tak bisa melakukan apapun. Tapi, dalam hatinya ia takut Safa pergi.


Dalam keresahan ia berharap untuk memutar kembali waktu. Andai saja ia mengaku di awal saat sebelum dilangsungkannya pernikahan. Mungkin ia bisa menerima, apabila Safa menolak. Tapi sekarang, saat hatinya sudah benar-benar terpatri. Ia tidak bisa melepaskan Safa untuk pergi dari hidupnya.


Ingatanku merekam semuanya, Fa. Kebaikan mu. Selama kamu menjadi isteri ku. Dan aku memurkai diriku sekarang. Yang telah tega membuatmu terjerumus dalam ruang hinaku. Tanpa tahu apa-apa, kamu harus turut menanggung semuanya.


Tak ada yang bisa di lakukan Afin sekarang. Rencana untuk bersenang-senang di rumah mertuanya pun batal. Padahal ia sudah pesan beberapa makanan untuk di kirim ke rumah orang tua Safa.


Satu hari penuh kehangatan seketika terhapus dari agendanya hari ini. Afin mengepalkan tangannya. Ia lantas merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Demi menghubungi seseorang.


"Hallo, My Boy!"


"Puas Lu, sekarang?!" Sarkasnya berang.


"Wait...! Hahaha, santai dong. Ada apa ini?"


"Jangan pura-pura beg*. Apa maksudnya ngelakuin ini ke gua, hah! kenapa Lu kirim video sialan itu ke istri gua?!"


"Bersenang-senang, apa lagi?"


"Bersenang-senang? Lu jangan gila, Brody."


"Si sialan ini ngatain gua gila?" Gumamnya sambil membuang gelas di tangannya ke dinding. "Fin, Lu harus ingat. Siapa yang membuat Lu seperti sekarang ini? Apa yang gua lakukan itu nggak sebanding dengan semua rasa sakit ini. Lu mengkhianati gua. Dan lu bahkan mengganti posisi manajer dengan orang lain. Lu udah main-main sama gua?"


"Urusan kita udah selesai. Sejak Lu pergi dan mengambil royalti YouTube yang akan terus mengalir selama view masih banyak. Tapi Kenapa sekarang Lu usik lagi hidup gua?"


"Semuanya nggak akan pernah cukup. Yang gua inginkan itu, Lu. Bukan yang lain... kembalilah, ceraikan istri Lu. Gua benci ngeliat muka wanita itu."


"Lu benar-benar licik. Lu pikir dengan cara itu gua bakal pisah dengan istri gua?"


"Hahaha, berarti Lu mau wanita itu menerima konsekuensinya?"


Deg!


"Lu jangan gila Brody. Sekali Lu sentuh dia. Gua nggak akan tinggal diam."


"Wow, Semakin menarik. Baiklah... kita bermain sampai akhir. Dan lu siap-siap. Untuk jalan hidup yang lebih ekstrim lagi."


"Brengsek!"


"Hahahaha... jangan kasar sama Daddy. Aku tahu kamu penurut. Gua bakal kasih lu kesempatan terakhir buat memperbaiki semuanya. Tapi selangkah lagi Lu memilih untuk putar arah dari gua. Maka habis semuanya, camkan itu Brother!"


Pik!


Afin menurunkan ponselnya pelan. Semua mendadak rumit. Ia benar-benar tidak bisa membaca pikiran laki-laki. Karena apa yang dia lakukan selalu di luar dugaan. Dan ia benar-benar harus melindungi Safa kalau-kalau laki-laki itu nekad melakukan apapun pada istrinya.


***


Saat ini gadis itu tengah menjadi pengawas ulangan semester di sekolah tempat dia bekerja. Safa termenung di mejanya dalam keheningan ruangan kelas, dimana semua anak-anak muridnya tengah fokus menggarap soal.


Aku bersumpah, aku bukan G*y. –Safa menghembuskan nafasnya berat. Gadis itu tak mau berlarut-larut dalam kegalauan. Karena tentunya hal itu membuat pekerjaan jadi terbengkalai.

__ADS_1


Beberapa hari belakangan, Afin memang tak terlihat memaksa untuk mengajaknya bicara. Mereka bahkan tetap tidur pada satu ranjang yang sama walau dalam posisi saling memunggungi.


Jujur saja ia benar-benar tidak tahan untuk terus ada pada posisi seperti ini. Ingin rasanya menanyakan sesuatu pada seseorang tapi siapa??


...


Selesai mengajar, Safa mendatangi rumah seseorang yang ia kenal. Walau ragu-ragu tapi akhirnya ia sampai juga di halaman rumah Ustadz Irsyad.


Cklaaakkk... Seorang wanita yang sedang hamil tujuh bulan terlihat sumringah saat melihat gadis berjilbab di depan pintu.


"Mbak Safa? MashaAllah..." Debby dan Safa berpelukan melepas rindu. Sudah lama sekali sejak Safa menikah mereka tidak pernah bertemu. Percakapan basa-basi biasanya di sampaikan lewat pesan chat. Itupun tidak sering.


"Apa kabar, Debby?"


"Baik, Mbak. Alhamdulillah... Mbak Safa sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah, Deb. Aku juga sehat." Safa menyentuh perut Debby yang membuncit itu. "MashaAllah, udah besar kandunganmu."


"Alhamdulillah, hehehe. Masuk yuk."


"Iya–" keduanya melangkah memasuki ruang tamu yang tertata rapi walau tak begitu besar. "Ku dengar Pakde Irsyad lagi di sini?"


"Iya, Mbak. Baru aja dateng tadi pagi. Sekarang lagi ke masjid. Niatnya sih habis ini kita mau ke rumah Nuha."


"Oh begitu, ya?"


"Assalamualaikum–" seru seorang pria paruh baya sebelum nongol dari bibir pintu.


"MashaAllah, ada tamu. Udah dari tadi, Nduk?" Tanyanya saat Safa sedang mencium tangan Beliau.


"Baru kok, Pakde."


"Keluarga sehat semua, to?"


"Alhamdulillah. Sehat..." Safa tersenyum tipis.


"Aku permisi sebentar, ya Mbak." Debby berpamitan masuk untuk membuatkan minuman.


"Lungguh, Nduk." Titah Irsyad mempersilahkan Safa untuk duduk. Gadis itu langsung menuruti. Duduk dengan jarak yang tak begitu jauh.


"Pakde sehat kan?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat," jawabnya sambil tertawa. Laki-laki itu terlihat semakin kurus. Walau tak sekurus ayahnya namun memang ada perubahan yang amat terlihat jelas dari diri Pakdenya.


"Syukurlah–" Safa menunduk situasi kembali sepi. Karena ia sedang berusaha menyusun kata-kata pembuka sebelum berbicara ke inti.


"Nduk, lama nggak jumpa tapi Pakde merasa ada yang beda pada dirimu," ujarnya yang langsung membuat Safa menegakkan wajahnya.


"Beda apanya? Safa masih sama, Pakde."


"Itu–" Irsyad menunjuk wajahnya. Memainkan rasa penasaran Safa yang menanti kata-kata selanjutnya dari Ustadz Irshad. "Matamu... seolah kehilangan cahayanya," sambung laki-laki paruh baya itu menutup teka-tekinya sendiri.

__ADS_1


"Cahaya?" Katanya yang nyaris berwujud sebuah keluhan ketimbang pertanyaan. Ustadz Irshad mengangguk.


Aku sudah lama tak bertemu Pakde. Tapi sepertinya Beliau langsung tahu perasaanku. –Safa termenung.


"Ada apa, Nduk? Adakah yang menggangu pikiranmu?"


"Sedikit, Pakde," jawab Safa sambil kembali tertunduk.


"Masalah rumah tangga?" Tanya beliau yang di sambut dengan anggukan kepala. "Hal lumrah itu, Nduk. Namanya rumah tangga pasti ada masalah."


"Tapi masalah yang Safa hadapi sangatlah tidak biasa, Pade."


"Maksudnya?"


Gadis itu kembali terdiam saat Debby keluar sambil membawakan air dan camilan.


"Repot-repot, Deb." Safa membantu menurunkan gelas di atas nampan.


"Nggak lah, Mbak. 'Kan cuma air. Silahkan Mbak..."


"Terima kasih, Deb..."


"Sama-sama." Debby kembali masuk, karena ia tahu ini pasti pembicaraan yang cukup serius.


Irsyad menunggu keponakannya meminum sedikit airnya. Setelah itu tersenyum saat Safa sudah kembali meletakkan cangkirnya.


"Masalahnya sudah seberat apa?" Tanya Irsyad. Ia menangkap kristal bening yang tertahan di kedua netra Safa.


"Entahlah, Safa sendiri bingung. Safa seperti terjebak dalam situasi yang nggak baik-baik aja. Safa juga nggak tau harus melanjutkan jalan ini atau enggak, Pakde."


Ustadz Irshad manggut-manggut. Sepertinya memang seberat itu. Terlebih ia tahu seperti apa suaminya. Seorang pria yang mungkin bisa di bilang sangat jauh dari ketaatan walau ia tak mau menerkanya lebih dulu.


"Pakde, Safa boleh tanya sesuatu?"


"silahkan, Nduk."


"Emmm, kira-kira ... poin apa saja yang bisa menjadi penguat, wanita boleh meminta cerai pada pasangannya?" Sambungnya kemudian. Bersama dengan setitik air mata di pipinya.


"Innalilah–" gumam Beliau. Rasanya sangat miris sekali mendengar itu dari bibir keponakannya yang bahkan baru memasuki bulan ketiga pernikahannya. "kenapa harus bertanya masalah yang di benci Allah?"


"Sungguh, hatiku sangat berat menerima fakta yang ada pada diri suami Safa. Tapi di sisi lain, Safa takut masuk dalam katagori wanita yang tak bisa mencium baunya surga. Sebab, notabene suami Safa adalah laki-laki yang baik."


"Iya, Nduk. Memang Pakde tidak tahu apa yang di rasakan kamu semenjak menjadi istri seorang Arifin. Dan tidak ada larangan untuk seorang istri meminta cerai asal memenuhi satu saja dari tiga syarat itu. Yang pertama, laki-laki yang tidak mau melaksanakan sholat wajib. Kedua mengabaikan nafkah lahir ataupun batin, yang ketiga pezinah yang tidak bisa di sembuhkan, dan terakhir pelaku penyimpangan seksual."


"Hiks..." Air mata Safa semakin tumpah saat mendengar yang terakhir.


"Tapi, berpikirlah lebih jernih. Kalau semua masih bisa di perbaiki. Maka berikan kesempatan. Karena kamu tahu, fitrahnya manusia itu adalah pendosa. Dan kita tidak pernah tahu, di detik mana orang itu mendapatkan hidayah."


"Safa berusaha untuk memahami semuanya. Tapi tetap saja buntu. Safa tidak bisa menerima kekurangan suami Safa itu. Semua sangat menyakitkan Pakde."


"Semua tetap ada pada keputusanmu. Ambillah waktu sepertiga malamu untuk meminta jawaban. Jalan mana yang akan kamu ambil, Nduk. Pakde hanya bisa menyarankan itu. Karena Pakde tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya di antara kalian."

__ADS_1


Safa mengangguk, sambil beberapa kali mnembersihkan air mata yang mengalir begitu saja.


__ADS_2