Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 41


__ADS_3

"Dan video yang kamu lihat adalah video aku saat masa SMA dulu, dalam pengaruh obat-obatan. Dimana posisinya itu aku sedang sakau Fa. Aku nggak bisa menolak keinginan predator itu demi satu gram sab*. Walaupun itu sakit dan menjijikkan. Aku tetap tidak bisa menolaknya. Dia selalu memanfaatkan itu saat aku sedang butuh barang. Itulah awal mula aku terjebak Fa... tidak bisa kemana-mana dalam ruang kenistaan ini."


Hati yang sebelumnya merasa gimana, perlahan-lahan berubah menjadi simpati. Ia tidak tahu jika seberat itu masalah Afin selama ini padahal yang Safa tahu. Laki-laki itu bahagia hidup bergelimpangan harta di tambah popularitas yang tinggi.


"Aku sudah menceritakan semuanya dari awal. Setelahnya silahkan kamu menilai sendiri. Dan keputusan tetap ada padamu. Jika kenyataan kamu tetap tidak bisa menerimaku, aku ikhlas melepas mu. Silahkan hiduplah dengan laki-laki yang lebih baik dariku."


Safa terus memandangi kedua mata Arifin. Ia berbicara sungguh-sungguh. Namun amat erat menggenggam kedua tangannya.


"Abang yakin, akan mengikhlaskan Safa? Seperti yang Abang bilang. Tak banyak orang mampu menerima sebuah penyimpangan. Dan aku salah satunya."


Afin tersentak saat mendengar itu. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Tidak bisa menahan kesedihan jika harus mendengar kata perpisahan dari wanita yang ia cintai ini.


"Bang?"


"Entahlah...," jawabnya berat sambil menunduk.


"Kenapa entahlah? Aku hanya ingin Abang jawab. Siapkah untuk mengikhlaskan aku sekarang?"


"Nggak!" jawabnya spontan yang langsung membuat Safa ingin tersenyum saking senangnya. "Maksudnya, jika boleh aku meminta. Tolonglah tetap singgah di sini untukku, Fa."


Laki-laki itu kembali mengangkat kepalanya. Tertuju pada sepasang mata indah milik Safa. Memohon.


"Nggak bisakah kamu bantu aku? Karena aku butuh kamu, Fa. Cintaku sungguhan, demi Allah. Ku nggak pernah menikmati saat predator itu memangsa ku. Aku mencintaimu, Fa..."


Setitik air mata terjatuh dari salah satu mata milik Afin. Laki-laki itu serius dan Safa bisa menangkapnya. Hingga Safa pun menghadiahi sebuah kecupan hangat di pipinya. Sontak Afin tertegun mendapatkan itu dari Safa.


"Kamu cium aku?" Tanyanya tidak percaya.


"Iya, Bang. Aku percaya dengan pengakuan Abang. Maafkan aku sempat berpikir jijik dengan kelakuanmu. Sebelum tahu, bahwa kamu adalah korban bukan pelaku."


Pria itu mengulas senyum lebih lebar. "Aku emang menjijikkan, jadi untuk apa minta maaf?"


"Tentu Safa harus minta maaf. Karena sudah memiliki pikiran untuk meminta pisah."


"Jadi?" Tanya Afin sambil menghapus air mata bahagianya.


"Aku akan tetap disini. Sebagai istri dari seorang Arifin Faruk Anka."


"Serius? Kamu mau menerima aku yang seperti ini?"

__ADS_1


"Iya. Karena nggak ada alasan aku untuk meninggalkan laki-laki yang tulus mencintaiku."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, Sayang."


"Kyaaaaa!"


Saking bahagianya, Afin langsung memeluknya hingga tubuh Safa terdorong. Keduanya tertawa bersama, bercampur tangis kebahagiaan yang tak bisa di gambarkan. Terutama untuk Arifin. Sekarang ia benar-benar lega setelah terbuka. Ia menyesalinya, kenapa tidak sejak awal saja.


Kecupan demi kecupan di berikan di wajah bersih tanpa riasan itu. Lalu tertegun sejenak sambil mengusap-usap pipi gadis yang ada di bawah kungkungannya.


"Terima kasih. Sudah menerima kekuranganku... Guzelim," gumamnya lembut yang di sambut dengan senyuman manis istrinya.


"Bang?"


"Hemmm?"


"Aku penasaran. Kamu sering menjuluki ku Guzelim. Sebenarnya apa artinya?"


Pria itu tertawa halus. "Sekian lama mendengar, tapi nggak mau cari tau lewat internet?"


"Safa mau mencarinya. Tapi, bukankah lebih indah kalau di sampaikan langsung pada yang menyematkan nama itu untukku."


Afin terdiam sebentar. Menikmati irama jantung yang benar-benar membuatnya berkali-kali menghela nafas.


"Kesayangan! Kurang lebih itu artinya."


"Berarti benar..." Safa tertawa sejenak.


"Benar? Maksudnya?"


"Ya sebenarnya aku udah tahu. Udah sempat aku search juga di internet."


"Loh, tadi katanya belum kamu cari?"


"Sengaja. Aku pengen denger langsung dari Abang."


"Astaghfirullah al'azim." Pria itu mendadak gemas dengan tawa istrinya yang terdengar lucu.


"Maaf, kan lebih indah kalau aku tahu artinya langsung dari kamu."

__ADS_1


"Ya, ya terserah deh." Afin mencium kening istrinya lembut beberapa saat sebelum mengangkat wajahnya kembali. Setelah itu tatapannya tertuju pada bibirnya yang manis. Arifin kembali mendekatinya dengan gerakan pelan.


Tok! Tok!


Gerakan Afin terhenti sekaligus kedua mata mereka yang kembali terbuka saat mendengar ketukan di pintu.


"Nak! Nak! Kalian belum tidur kan? Arif, Safa!"


"Bunda, Bang?"


"Ah, ya..." Pria itu melepaskan tubuh Safa lalu turun dari ranjangnya mendekati pintu.


...


"Gimana, Safa? Bunda dengar Safa jadi korban pengeroyokan orang-orang tak di kenal?" Tanyanya mengandung kepanikan. Setelah pintu kamar di buka.


"Iya, Bunda. Tapi sudah nggak papa..." jawabnya sebelum Bu Ayattul menggeser pelan tubuh Arifin dan masuk ke dalam kamar.


"Nak? Kamu nggak papa 'kan?" Wanita paruh baya itu langsung menyentuh wajah yang terkena banyak cakaran. "Ya Allah, sampai seperti ini."


"Nggak papa, Bunda. Cuma lecet sedikit."


"Lecet sedikit gimana? Ini pasti perih... udah berobat?"


"Udah, tadi langsung Arif bawa ke rumah sakit." Afin berdiri di dekat Bundanya.


"Ini semua tuh gara-gara kamu. Bunda udah bilang, jadi artis itu nggak bagus! Lihat, istri kamu kena amukan para fans yang nggak terima bintangnya punya pasangan."


"Sebenarnya itu bukan fans ku, Bun. Aku udah cross check. Mereka sebagian besar simpatisan Si Camelia."


"Iiiish! Tetap sama aja. Mereka itu nggak punya adab. Ngefans kok sampai brutal gitu. Pokoknya berhenti lah jadi artis. Lagian kamu kan lulusan sekolah Hukum. kenapa nggak kamu pergunakan titel SH kamu itu buat kerja yang beneran."


"Orang sepertiku yang pernah berurusan dengan kepolisian. Apa masih bisa kerja di bagian hukum? Udah lah, Bun. Semua nggak ada kaitannya dengan itu. Mungkin Arif akan berhenti tapi belum saatnya."


"Kamu masih aja, ya? Nggak mikirin keselamatan keluarga kamu."


"Bunda udah, ya. Safa nggak papa kok. Safa benar-benar nggak ngerasa di rugikan. Memang pekerjaan yang di lakukan Bang Afin kurang baik dalam Islam. Tapi semua butuh proses. Biar nanti pelan-pelan Safa omongin."


Wanita paruh baya itu menghela nafas. Setelah itu fokus pada luka-luka yang yang ada di wajah dan lengan Safa. Sambil terus mengucapkan kalimat tauhid. Wanita itu benar-benar merasa kasian.

__ADS_1


Dan kekhawatiran tidak hanya di rasakan Bu Ayattul. Esok harinya, Ulum dan istrinya juga datang. Sepasang suami-isteri dengan busana sederhana itu langsung memeriksa putrinya. Aida tak henti-hentinya menangisi kondisi Safa walau tidak parah. Yang kini mendapatkan pelukan hangat dari putrinya itu tanda dia baik-baik saja.


Sejenak Afin berpikir. Ia memang belum bisa menjaga Safa dengan baik. Hingga harus kecolongan seperti ini. Rasa geram pun terus membara di dadanya. Lebih-lebih orang-orang dari keluarga pelaku yang di tangkap meminta jalur damai. Dan itu pula yang di pesankan oleh Safa. Untuk membebaskan mereka dari tuntutan. Tapi lihatlah nanti, semua belum berakhir. Ia tetap menginginkan efek jera untuk para pelaku agar bisa berpikir lebih jernih saat berkelakuan. Seperti penuturannya di media.


__ADS_2