Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 25


__ADS_3

Jarum jam terus berputar, denting waktu seolah memainkan perasaan yang sedikit was-was. Arifin berdiam diri, di dalam mobil sebelum berjalan menuju lokasi tempat dia melakukan pekerjaannya sebagai publik figur. Bertemu dengan orang-orang banyak, dan bercengkrama santai dalam sebuah acara reality show di salah satu stasiun televisi.


Hari ini jadwalnya memang cukup padat, namun ia bisa mengatur sedemikian mungkin melalui asisten pribadinya.


Sebelumnya, Arif merasa sangat tertekan, bimbang antara tetap menemui Brody atau tidak hari ini. Jika iya, kekhawatiran akan di paksa melakukannya lagi pasti akan benar-benar terjadi. Laki-laki itu memang penggila *** sekali. Bahkan, sebenarnya korbannya bukan hanya Arif. Ada beberapa, cuman yang paling kuat terikat rantai adalah dirinya.


Daddy sangat mencintai Baby sugarnya. Hal itu sering di utarakan langsung oleh Brody, Ia tidak akan mau melepaskan Arif sebagaimanapun Arif memaksa untuk melepaskan diri. Sebuah kesulitan yang harus di hadapi. Tapi, ia tidak mau terus-terusan terbelenggu dalam jurang dalam ini. Ia harus lolos bagaimanapun caranya.


Satu tombol untuk menyalakan mesin mobil maticnya di tekan. Deru halus pun terdengar, mobil mulai bergerak mundur keluar dari garasi setelah cukup lama berdiam diri.


Di jalan raya... situasi terpantau lengang, karena ini sudah lewat jam orang-orang berangkat ke kantor atau mungkin pelajar menuju sekolahnya. Afin memakai kacamata hitam, dan memutar lagu nasyid yang menurutnya tak begitu buruk. Justru sebaliknya, membuat hatinya menjadi sejuk.


Mobil terus bergerak menuju salah satu gedung milik stasiun televisi. Beberapa crew menyambutnya dengan baik. Mengarahkan Arifin ke ruangannya untuk memakai make-up tipis dan mengganti busana dari sponsor.


Tok..., tok..., Seorang wanita dengan seragam warna hitam masuk ke ruangan Arif.


"Kak Afin udah siap?" tanyanya.


"Ready, Mbak!" saut seorang dari wardrobe.


"Siap-siap, briefing dulu, yuk, Kak Afin. Sepuluh menit lagi acara live di mulai."


"Okay!" Pria itu beranjak. Mengikuti langkah wanita dari tim kreatif acara tersebut. Memasuki studio yang luas, dimana terdapat satu sudut yang berisi bangku-bangku serta alat musik sebagai area pengambilan gambar.


"Kak Afin, ini naskahnya. Jadi nanti Kakak masuk saat Segmen kedua, ya. Dan... bla..., bla.., bla...,"

__ADS_1


Wanita itu menerangkan apa saja pertanyaan yang akan di berikan dan jawaban-jawabannya. Ia juga di beri tahu apa-apa saja yang tidak boleh di sebutkan di depan camera. Beberapa artis yang turut menjadi bintang tamu pun ikut berkumpul membentuk lingkaran kecil.


"Kalian boleh improvisasi secukupnya aja. Biar acara terkesan lebih real. Tapi tetap harus patuh sama aturan KPI, ya. Segini aja paham 'kan?" lanjutnya. Yang di balas anggukan kepala dari mereka semua. Baik para host yang terdiri dari tiga orang dan dua bintang tamunya.


Sembari menunggu on air. Pria itu kembali duduk menunggu gilirannya masuk. Para host juga terlihat sedang bersiap dalam hitungan sepuluh detik sebelum kamera benar-benar on.


Lagu pembuka acara sedang di putar, Afin menopang kepalanya yang miring kearah kanan. Memandang kearah mereka yang mulai menampilkan kemampuan menyanyi mereka sebagai pembukaan.


Walau pandangannya tertuju pada acara yang penuh dengan suka cita. Pikirannya justru melayang pada gadisnya. Tak lebih dari dua hari lagi statusnya akan berubah. Meniti bilangan tahun berdua, dengan tanggungjawab yang lain.


Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus jujur pada Safa tentang diriku yang sebenarnya? Sebelum menikahinya? Tapi kalau Safa langsung membatalkan semuanya, gimana? –sorot matanya masih tertuju lurus pada mereka-mereka yang sedang tertawa riang. Saling melontarkan lawakan yang terbilang receh demi bisa memecah tawa para pemirsa. Tentunya dengan bantuan tawa yang di buat-buat oleh para penonton bayaran.


Tiiiiiiiing! Sebuah pesan chat masuk.


Dengan malas ia mengeluarkan ponselnya sebelum di serahkan pada Biyan selaku asistennya.


Safa : "Assalamualaikum...


Maaf, Bang. Aku hanya ingin kamu menghafalkan doa di bawah, dan tolong bacakan setelah kita ijab qobul. Sambil Abang menyentuh kepalaku. Kemarin, aku lupa menyampaikannya pada Bu Ayattul.


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


Bibir Arifin mengembang. Membentuk lekungan manis ia langsung mengetik sesuatu.


"Hanya itu?" Tanyanya dalam pesan singkat yang ia kirim.

__ADS_1


Gadis yang saat ini masih mengajar di kelasnya tertegun. Rasanya, agak gimana saat menerima balasan darinya. Butuh waktu beberapa detik untuknya kembali mengetik balasan.


Tiiiiiiiing! Pria itu memang belum keluar dari menu chattingnya. Hingga ia bisa langsung melihat saat pesan balasan kembali masuk. Walau hanya sebuah kata yang amat singkat.


Safa: "Iya–"


Sejenak ia melupakan kegundahannya tadi. Seperti inilah jatuh cinta, ia bisa terus melengkungkan bibir tanpa henti. Walau hanya sebatas saling berkirim pesan. Gadis di sebrang juga tidak banyak tingkah. Bahkan baru hari ini ia bisa menerima ketikan kata dari jari calon istrinya. Benar-benar membuatnya berdebar.


Arifin: "kalau boleh tahu, artinya apa?" Tanyanya, sebagai cara agar Safa mau membalasnya lagi. Pria itu menunggu lagi, karena cukup lama jedanya sampai kembali menerima balasan.


Safa: "Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Dia emang nggak bisa mengucapkan kalimat basa-basi walau hanya sebuah pesan chat. –batinnya sebelum membalas chatnya lagi.


"Kak, udah waktunya tampil..," ujar Biyan mengagetkan Afin yang baru menuliskan kata 'kalau'. Laki-laki itu kembali menghapusnya sebelum menyerahkan benda pipih itu pada Biyan.


"Maaf, Kak–" seorang wanita dari wardrobe membenahi pakaian Afin yang sedikit terlipat. "Okay!"


"Udah?" Tanyanya ramah, hingga gadis yang tadi menyentuh pakaian Afin terpanah.


"Iya, Kak," jawabnya sambil tersenyum dengan mata tertuju pada Arifin.


"Thanks, ya!" ucapnya kembali sebelum melenggang pergi menuju area untuknya masuk ke acara.


Kyaaaaaa! Kenapa Kak Afin gantengnya nambah berkali-kali lipat sih, akhir-akhir ini. –gadis tanpa hijab itu menutup mulutnya. Girang bukan kepalang.

__ADS_1


Sekarang laki-laki itu sudah menampilkan kemahirannya berekspresi di depan kamera. Salah seorang host wanita bergelayut manja di lengan Afin. Semua itu tentunya hanya sebagai bahan untuk memancing host lain agar mencibirnya. Ya, hal biasa yang kita lihat di depan kamera. Terkesan real, namun semua sudah masuk dalam arahan tim kreatif.


__ADS_2