
Afin masih mencoba untuk menghubungi Safa setelah dirinya menelpon keluarga di Babelan. Kata Aida, puterinya sama sekali tidak datang hari ini. Dengan nada cemas Aida lantas bertanya balik. Apakah mereka sedang ada masalah hingga Safa bisa belum pulang ke rumah mereka sampai seseore ini.
Tentunya dengan tenang Afin menjawab, bahwa mereka sama sekali tak memiliki masalah apapun. Ia pun berpamitan untuk mematikan ponselnya, serta akan memberi kabar jika sang isteri sudah kembali.
Lampu sen mobil menyala di sisi kanan. Tepat di dekat sekolah, menandakan ia akan berbelok sekaligus masuk ke dalam kawasan sekolah. Baru saja mobil tiba. Afin sudah di kejutkan dengan keributan yang dimana ada Safa turut terlibat.
Buru-buru pria itu keluar. Walau mobil belum dalam ke adaan terparkir dengan benar. Ia gegas berlari. Serta menahan tubuh Safa yang yang terdorong pria asing tersebut.
🍃
🍃
🍃
Afin serta beberapa security juga penjaga sekolah langsung memeriksa rekaman CCTV dari sudut pria bernama Roby itu menghajar wanita kurus yang di duga mantan isterinya.
Untung saja tangkapan kamera menampilkan wajah pelaku dengan sangat jelas. Dari saat wanita itu di seret hingga jarak dua meter, lalu di hempaskan kasar ke jalan yang beraspal.
"Dia itu tadi pagi sempat kesini, Mas. Dan anak gadis yang ada di samping motor, ini–" jari salah seorang security menunjuk ke arah gadis dengan jaket warna pink yang berdiri sambil berteriak di sisi motor. "Itu murid sini juga. Anak kelas sebelas..."
Afin manggut-manggut. Ia pun memutuskan untuk meminta rekaman itu sebagai bukti, lantas mengajak salah satu dari mereka yang menjadi saksi walau dalam posisi sudah terlambat untuk mengantarnya ke polres.
Setelah bukti dalam genggaman, Afin kemudian menyambangi salah satu kantor resort. Serta melaporkan kejadian tersebut. Polisi pun sigap menindaklanjuti kasus tersebut. Sebab bukti pemukulan yang benar-benar valid memperlihatkan wajah pelaku.
......................
"Fa–" Arif menghampiri Safa yang duduk di kursi tunggu dekat pintu ruang UGD. Setelah segala urusannya selesai. "Maaf aku agak lama. Habis ngurus sesuatu dulu."
"Ngurus apa, Bang?" Tanyanya setelah mencium punggung tangan Afin.
__ADS_1
"Orang itu harus menerima hukuman. Makanya aku langsung laporin Beliau ke polisi atas aksi pemukulannya," jawabnya. Safa sendiri hanya manggut-manggut. "Gimana ibu yang tadi?"
"Alhamdulillah udah siuman. Dia juga udah bisa langsung pulang, tapi kata aku suruh nunggu Bang Arif. Karena 'kan motornya juga masih di sekolah, Ibu Indriani juga belum sembuh betul."
"Sebenarnya, ini ada apas, sih? Kenapa kamu bisa terlibat?"
"Thalita itu, anak didikku. Aku wali kelasnya, Bang. Jelasnya gimana, aku nggak paham. Karena ini urusan keluarga mereka. Yang pasti tiga hari sebelumnya aku dapat telfon dari ibu Indriani yang minta izin untuk menjemput anaknya pulang karena ada urusan keluarga. Jadilah aku memberikan izin."
"Terus?" Afin menatap serius pada wajah yang sudah terlihat lesu itu.
"Ya, aku nggak tahu. Kalau Lita nggak pulang ke rumah Bapaknya selama tiga hari itu. Karena ijin pulangnya, sekalian merangkap ijin nggak masuk juga. Dan sebab itu pula, Pak Roby datang dengan amarahnya."
Afin sama sekali tak bergerak, masih fokus pada cerita sang isteri. Walau di selingi, tangannya mengusap lembut perut Safa sesekali.
"Siangnya aku langsung menghubungi Bu Indriani. Dia janji akan memulangkan Lita jam tiga sore ke sekolah. Makanya aku nunggu mereka. Nyatanya ibu dan anak itu tak kunjung datang. Di sinyalir, Thalita sendiri yang menolak untuk pulang. Walau ibu Indriani tak menjelaskan semuanya."
"Tadi mati pas jam dua, Bang. Aku mau ngabarin di awal lupa. Karena bener-bener banyak kerjaan. Hari ini tuh pas jadwalnya ulangan harian untuk dua kelas. Jadi aku sibuk mengkoreksi jawaban siswa."
Afin menghela nafas. "Ya udah. Tapi kamu udah makan belum?"
"Aku?" Safa menggeleng. Ia bahkan baru makan roti sobek tadi siang. Namun Safa tak mau mengatakan itu. Karena ia bisa kena semprot Arifin.
"Ya udah Kita temui ibu itu. Dan kita ajak makan sekalian. Habis itu, kita antar pulang. Aku liat kamu udah capek banget soalnya."
Safa tersenyum tipis, merasakan dirinya benar-benar di perhatikan seperti ini membuatnya yakin, Afin tidak akan seperti Pak Roby. Ia pun mengangguk sebelum di bantu suaminya untuk bangun.
......................
Sampai di salah satu rumah kontrakan tiga petak. Wanita paruh baya itu langsung mengucapkan terima kasih. Walau pandangannya nampak gamang, memikirkan nasib puterinya yang di bawa paksa oleh sang ayah yang di ketahui sangat tempramen.
__ADS_1
Namun, ia juga tidak mau membawa wali kelas puterinya itu dalam masalah keluarganya lebih jauh. Sehingga ia hanya mengucapkan maaf dan terima kasih atas semuanya. Tanpa menjelaskan banyak hal yang terkait dengan semua kejadian hari ini.
Safa sendiri menyadari netra sepuh yang terlihat menganak sungai sebab menahan perih di hati. Sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menunggu hasil dari pihak kepolisian dalam menangani kasus ini. Serta berharap semua akan terselesaikan dengan cara baik-baik.
...-----------...
Tiba di rumah, adzan isya sudah berkumandang. Mereka langsung membersihkan diri serta menjalankan sholat isya berjamaah.
Hari yang benar-benar melelahkan, Safa bahkan langsung tertidur pulas diatas ranjang tidurnya dengan tubuh masih terbalut mukena dan tangan yang menggenggam mushaf kecil.
Pelan-pelan Afin mengambil mushaf tersebut dan meletakkan di atas meja. Kemudian mukena sang istri. Terlihat wajah polos yang tenang dalam tidurnya menggoda Dia untuk mendapatkan kecupan di pipi. Afin tersenyum, merasa gemas saat Safa hanya menggeliat semakin membenamkan wajahnya ke bantal.
"Fa–" pria itu langsung merebahkan tubuhnya sambil memeluk sang istri. Kembali menciumi Safa tanpa henti.
"Baaaang–. Aku ngantuk," rengek Safa yang merasa terganggu karena di cium berkali-kali.
"Ya udah tidur aja. Biar aku yang bekerja."
Senyum Safa terbit dengan posisi mata masih terpejam. "Nggak mau. Sama aja aku bakal sulit tidur."
"Kalau sulit tidur ya lanjutkan ke tahap selanjutnya –" ledek Afin sambil mengusap wajahnya di ceruk leher Safa.
"Abang! Geli–"
"Tapi enak 'kan?" bisiknya.
"Astaghfirullah, terserah kamu lah..." Safa tertawa tanpa suara.
Matanya sudah benar-benar berat, tidak mampu lagi untuk melayani sang suami. Sehingga ia membiarkan apapun yang di lakukan Suaminya. Walau beberapa menit kemudian Afin menyudahi aksinya. Dan memilih untuk menutup tubu Safa dengan selimut.
__ADS_1