Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 73


__ADS_3

Saat ini pria dengan kacamata tebal itu tengah sibuk melakban satu persatu kotak berbagai ukuran yang dilapisi poly bag hitam.


Isinya tak lain adalah beberapa komponen barang elektronik yang menjadi kebutuhan mahasiswa, guru, dan juga Dosen.


Ia sendiri sebenarnya baru pulang, selepas mengirim barang COD ke lima tempat sejak sehabis ashar tadi, dan baru sampai rumah ba'da isya. Belum lagi beberapa laptop dan printer yang sedang mengantre untuk di servis dan belum sempat tersentuh semuanya. Ilyas siap ngelembur pekerjaannya setidaknya sampai batas jam dua belas malam nanti.


Rasa lelah yang teramat tak sedikitpun menyurutkan rasa syukur, serta semangat dari hati pria berambut ikal tersebut. Karena, di samping harus menabung demi masa depan. Ia juga bekerja keras demi membantu biaya sehari-hari di rumah.


Ilyas hidup bersama ibu dan dua adiknya yang masih sekolah. Adapun Sang ibu hanyalah seorang penjual nasi pecel di depan gang. Dekat dengan jalur keluar masuknya para Karyawan PT.


"Alhamdulillah..." gumamnya setelah menyelesaikan bungkusan terakhir. "Tinggal di kirim, pagi saat berangkat. Sisanya pas pulang ngajar. MashaAllah, tabarakallah."


Bibir manis pria itu mengulas senyum seraya menekan frame tengah kacamatanya. Tak hentin-hentinya mengucap syukur atas semua yang ia terima hari ini, kepada Ar Razzaq. Sepertinya ia bisa membawa Sang ibu tepat waktu ke rumah sakit. Demi melakukan cuci darah rutin. Sebab kelainan ginjal yang di derita ibunya sejak empat tahun terakhir.


Triiiiing....


Ilyas menoleh kearah meja. Tempat gawainya tergeletak dengan slot charger terpasang. Pun lantas meranggai benda pipih itu kemudian membaca pesan chat yang rupanya dari Harun.


"AllahuAkbar!" Rasa turut bahagia saat membaca pesan dari sahabatnya itu, sehingga mematik rasa semangat untuk kembali menyatakan niat baiknya pada Qonni. Ia pun membalas dengan ucapan mengandung support agar sahabatnya itu semakin semangat untuk maju.


***


Hari minggu telah tiba, kedua anak muda itu sedang bersiap untuk mengambil start dari rumah Ilyas. Awalnya mereka berniat untuk membawa motor sendiri-sendiri. Terlihat dari Harun yang sudah kebali naik ke atas motornya sebelum buru-buru di cegah oleh laki-laki yang perbedaan usianya hanya beberapa bulan saja.


"Mending kita bawa satu motor aja, Run. Anna takut nanti motor Antum oleng gara-gara gugup," ledek Ilyas padanya sambil terkekeh.


"Yang ada-ada aja. Anna juga masih bisa kontrol, lah!" Turut tertawa. Walau kenyataanya tanganya saat ini terasa kebas, sekaligus dingin.


"Udah, kita satu motor aja. Boncengan! Mau motor yang mana?" Bujuk Ilyas lagi yang di setujui oleh Harun.


"Motor Anna aja yang udah siap. Sok, boceng sini."


"Walah! Yakin mau Antum yang bawa?"


Harun tertawa. "Iya, ayo jangan lama-lama. Panas, nih..."


"Iya, yang udah nggak sabaran." Ilyas mengangkat satu kakinya sebelum naik ke atas motor. Membonceng Harun.


Setelah membaca doa sebelum menyalakan mesin motor. Kendaraan roda dua berjenis All New CBR 150R itu mulai melaju dengan kecepatan sedang keluar gang.


Terik matahari di siang ini, walau sedang garang-garangnya sama sekali tak menyurutkan semangat dua pemuda soleh itu. Selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Rupanya di manfaatkan Ilyas untuk menggoda Harun demi mencairkan suasana tegang yang di rasakan sahabatnya itu.


Hingga perlahan sorot matanya fokus ke sekitar, disaat melalui jalan yang di rasa tidak asing.


"Run, kita mau ke Babelan, ya?" Tanya Ilyas, yang di jawab anggukan kepala.


"Iya, dia tinggal di sana," sautnya kemudian yang tak begitu jelas. Namun masih terdengar di telinga Ilyas.

__ADS_1


Sejenak. Pria berkacamata itu bergeming, tanganya yang tersembunyi karena posisi bersila di depan dada itu, terus menekan tasbih digital.


Suasana pun mendadak hening. Tersisa deru motor yang tengah menerjang jalan utama kota Bekasi.


Perasan Ilyas makin di hinggapi rasa tak nyaman saat mereka mulai masuk ke sebuah gang.


"Run—"


"Ya?"


"Kalau boleh tahu, nama gadis yang mau Antum lamar itu siapa?"


Harun belum menjawab. Tatapannya fokus ke jalan.


"Jangan salah faham. Anna cuma bertanya aja," sambung Ilyas yang merasa pertanyaannya tak di respon oleh temannya.


"Nanti aja, setelah Anna mendapat jawaban dari bapaknya. Baru Anna kasih tahu." Harun menjawab sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan karena tinggal beberapa deretan rumah saja lagi, ia akan sampai.


Hati Ilyas pun semakin tidak nyaman. Rasa semangat yang ia bawa dari rumah mendadak sirna. Tersingkap fakta saat motor yang ia tunggangi bersama Harun berhenti tepat di depan rumah sederhana yang ia sendiri tahu siapa pemiliknya.


Ayudia–Ilyas bergumam dalam hati. Tanpa perlu menunggu jawaban Harun. Ia sudah mengetahuinya lebih dulu, siapa nama gadis yang di inginkan temannya itu.


"Ayo turun. Kenapa malah jadi diem?" Harun memecah lamunan Ilyas yang gegas turun dari motor sport milik Harun.


"Ini rumahnya?" Ia masih berharap, bukan Ayudia-nya yang akan di lamar Sang sahabat.


***


Di ruang tamu sederhana. Ilyas memandangi beberapa foto yang terpanjang. Fokusnya kini tertuju pada salah satunya. Foto keluarga, yang terpampang jelas wajah Qonni dengan senyum indah.


Walau mereka sudah duduk di kursi sudut. Rumah dari gadis yang ia harapkan. Entah mengapa, harapannya masih terus hidup untuk tetap bukan Ayudia yang akan di nikahi Harun. Walau, ia sendiri tahu. Hanya ada dua putri di rumah itu. Dimana salah satunya sudah menikah. Berarti memang, Qonni lah tujuan Harun datang ke sini.


Ibu Aida keluar dari dapur. Menyuguhkan dua pemuda itu dua cangkir teh hangat dan juga kue yang sengaja ia beli di pasar saat tau akan ada tamu yang datang.


"Silahkan di cicipi. Di rumah Ayudia adanya cuma kaya gini."


"MashaAllah, gini juga kami udah terima kasih, Bu. Malah jadi repot-repot." Harun menyanggahnya. Karena semua yang terhidang sudah lebih dari cukup untuk mereka.


"Yo, ndak. Silahkan..."


"Iya, Bu. Terima kasih." Harun mengambil cangkirnya. Dan menyesap satu kali sebagai cara menghormati suguhan dari pemilik rumah.


Berbeda dengan Harun. Ilyas justru hanya diam saja. Menunduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Hatinya masih tak karuan. Bahkan sedikit merasakan penyesalan. Kenapa juga harus dia yang mengantarkan Harun lamaran. Andai saja sejak awal tahu, siapa gadis yang di harapkan. Mungkin ia akan memilih untuk menolak permintaan Harun.


Di sisi lain. Ulum sesekali melirik Ilyas jadi sedikit merasa canggung, saat awalan Ilyas buru-buru menjabat tangannya serta kembali memperkenalkan dirinya sendiri. Padahal mereka sudah pernah berkenalan sebelumnya.

__ADS_1


Namun Ulum lebih-kurangnya paham. Walau hanya sebatas menerka, jika Ilyas ingin menyembunyikan fakta tentang dirinya yang pernah datang kesini. Pun membuat Ulum tak berani membahas tentang kedatangannya malam itu.


Di jam-jam awal. Mereka hanya mengobrol, tentang pekerjaan Harun. Selain menjadi guru rupanya ia punya bisnis seperti suaminya Nuha. Walau tak sebesar milik Faqih.


"Jadi Nak Harun mengajar di rumah Tahfiz yang ada di Asemka juga?" tanyanya.


"Iya, Pak."


"Berarti, kenal Faqih putranya Pak Ustadz Rahmat?"


"Oh, A' Faqih. Saya kenal, Pak. Kebetulan kami agak dekat karena bisnis madu dan kurma."


"MashaAllah– Faqih itu menantu dari Kakak ipar saya."


"Oh, ya? Ustadzah Nuha itu kalau nggak salah, puterinya Ustadz Irsyad?"


"Benar..." Terkekeh. "MashaAllah."


Ilyas mendorong pelan air teh yang masuk ke dalam tenggorokannya. Sebab, obrolan yang mulai mengalir begitu saja dirasa cukup untuk membuat dadanya beku.


Dan jika di lihat-lihat, ada banyak ke cocokan antara Harun dan Ayahnya Qonni. Bibir laki-laki berambut ikal itu mengulas getir.


Ilyas kembali menyesap teh dari cangkir yang ia genggam. Bahkan, isinya hampir tandas ia minum. Karena, dia sama sekali tak bersuara. Dan lebih memilih untuk menanggapi seperlunya saja, jika di tanyai.


Satu jam berlalu. Dari kalimat basa-basi yang sejak tadi menjadi bahan pembuka kata. Ulum pun menyampaikan jawabnya.


"Saya, tentunya sudah membahas hal ini dengan Putri kami. Dan, ia menyerahkan seluruhnya pada saya. Atas jawaban itu," paparnya. Sementara Harun hanya manggut-manggut. "Sebagai Ayah. Tentu saya mengharapkan yang terbaik, namun tak mematok kriteria tinggi. Asal dia bertanggung jawab seumur putri saya tinggal dalam status istri dari Ikhwan itu."


Ilyas yang sejak tadi menunduk mengangkat biji matanya. Menunggu jawaban apa yang akan di berikan Ayah Ulum. Hatinya mencoba untuk menerima apapun itu. Karena jika ia mengharapkan lamaran Harun di tolak. Sama saja Dia jahat, bukan?


"Nak Harun siap menunggu putri saya sampai sarjana. Dan membiarkan dia paling nggak satu tahun untuk mengambil masa baktinya sebagai guru."


Dari pertanyaan itu, Ilyas sudah mampu menangkap. Jika Pak Ulum ataupun Qonni sendiri sudah menerima Harun.


"InshaAllah, Saya siap, Pak," jawab Harun sigap.


"Baiklah. Selamat, lamaran Antum saya terima. Silakan datang bersama orang tua untuk memperjelas ikatan kalian. Dan membahas jenjang yang berikutnya."


"Allahuakbar–" gumam Harun yang kontan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil mengucap hamdalah. Adapun laki-laki di sisi Harun hanya tersenyum sebelum mengulurkan tangannya.


"Selamat, Saudaraku..." gumamnya tulus.


"Ilyas!" Harun membalas jabat tangan Ilyas. Kemudian menariknya untuk di peluk.


*Ya, gadis itu belum sah milik siapapun. Tidaklah aku memiliki hak untuk kesal pada takdir ini yang rupanya berpihak pada Harun. Adakalanya seseorang melambungkan doa demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun bukan berarti semua harapan harus di terima sesuai harapan.


Dan sekarang aku tak perlu lagi bertanya tentang akankah bisa aku berjodoh dengannya. Karena nama kami memang tak pernah tertulis untuk bersanding di lahumul Mahfudz*.

__ADS_1


–Ilyas–


__ADS_2