Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 19


__ADS_3

Semilir angin menerjang tubuh mereka berdua yang masih berdiri dengan jarak, di bawah pohon rindang yang besar, di tepi jalan.


Tiba-tiba sang Selebgram ada di depan mata. Tubuh Safa tentunya langsung membeku. Apa yang mau dia katakan? Apa dia ingin aku untuk menolak perjodohan ini?


Sesaat, kembali diingatkan. Ketika Rumi memintanya bicara dan satu hal yang tak terduga. Pria itu mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak bisa menerima Ta'aruf bersamanya.


Seburuk itukah aku? sampai harus menerima penolakan dua kali setelah di lamar. Batinnya terus berdenyut. Walau pria itu belum sama sekali membuka suaranya.


"Orang lain biasanya bakal seneng ngeliat gua ada di depan mata mereka." Suara Arifin yang berat dan maskulin terdengar. Dan itu mampu membuat Safa sedikit gemetar. Ya, dia terlalu gagah dengan postur tubuhnya yang tinggi dan sedikit berisi. Bukan gemuk, namun berotot.


"Ada perlu apa, Anda menemui saya begini. Dan bagaimana bisa, tiba-tiba Anda ada di belakang motor saya."


"Menguntit!" jawabnya jujur.


Menguntit! Kening Safa mengeryit.


"Sekarang Lu percaya gua bukan maling, kan?" Tanyanya. "Baru kali ini gua ketemu orang, kok, nggak kenal siapa gua."


Safa geleng-geleng kepala. Rasanya ingin menertawakan dia dengan miris. Laki-laki yang gila populeritas.


"Lu pasti bingung kenapa gue tiba-tiba datengin Lu kaya gini. Soalnya, kalau gue ajak Lu ketemuan di kafe dan sebagainya. Pasti Lu bakal nolak, kan? Orang-orang kaya Lu gini, gua paham, sih."


"Langsung aja ke topiknya. Apa yang mau Anda omongin ke saya." Safa tak ingin terlalu lama berada di tepi jalan berdua dengannya. Karena, itu lebih terlihat tidak baik serta mengandung fitnah yang macam-macam. Bagaimana kalau tiba-tiba ada paparazi disini. Walau Arif kembali menggunakan masker dan topinya, itu tetap mencolok bagi Safa.


"Baik! Gua langsung ke intinya aja. Ini masalah yang kemarin. Saat gua dateng bareng Bunda ke rumah Lu."


Emmm, ya. Dia pasti mau memintaku untuk menjawab 'tidak!' baik! Emang itu kok, mungkin yang akan aku jawab. Karena menikah dengan seorang Selebgram terkenal. Pasti bakal sulit untuk ke depannya. Bagaimana bisa, aku memiliki suami yang notabene adalah idola anak-anak muridku sendiri.


"Tentang pernyataan kemarin. Apa cuma itu syaratnya?"

__ADS_1


"Syarat?" Safa semakin bingung. Belum lagi pria itu berbicara sambil sesekali menggaruk kepalanya. Apa dia sedang gugup sekarang?


"Saya hanya gadis biasa, yang mengharapkan pasanganku itu adalah laki-laki yang mampu membimbingku." Arifin mengulangi sebait kata-kata itu tanpa di kurang sedikitpun. Ia sampai hafal di luar kepala, karena mengingat itu sepanjang hari-harinya. "Emmm, ka-kamu. Kamu mau laki-laki yang bisa membimbing?"


Safa terdiam saat laki-laki itu menurunkan intonasi suaranya. Bahkan mengganti julukan 'Lu/Gua' menjadi 'kamu/aku'. Pun dengan nada bicara yang terdengar gugup.


"Coba, kasih aku bahasa yang lebih jelas. Makna membimbing itu luas."


"Sholat, ilmu agama. Itu yang paling penting. Karena Rosulullah Saw, memberikan kriteria laki-laki yang harus di nikahi seorang wanita. Yang pertama dia laki-laki. Maaf, tidak menyimpang. Kedua adalah agama, dan yang ketiga akhlak," jawabnya.


Terkhusus jawaban yang pertama. Arifin sedikit tercekat. Tidak menyimpang. Batinnya mulai di hinggapi rasa pesimis.


Itu sudah pasti. Wanita mana yang mau dengan laki-laki yang memiliki hubungan spesial dengan sesama jenis. Tapi, sejatinya. Aku menyukai wanita bukan laki-laki. Semua ku lakukan karena keterpaksaan. Tapi, semua tak bisa menjadi alasan. Aku tetap masuk dalam golongan kaum sod*m. –Arifin menarik kebawah maskernya. Hingga menempel ke dagu. Sorot matanya mengarah lurus ke rerumputan yang ada di sebrang trotoar jalan.


"Itu bukan syarat yang sulit. Dan, Saya rasa semua wanita menginginkan suami yang bisa membimbingnya. Anda harus tahu, wanita adalah makhluk yang paling lemah imannya. Dia bisa terbawa pada keburukan jika suaminya tidak pernah membimbingnya dengan baik."


"Walau bisa membanjiri mu dengan harta?" Arifin memotong.


Arifin tercenung, lidahnya kaku. Ia benar-benar tertohok kata-kata Safa baru saja.


"Kalaulah, di beri pilihan. Ada dua laki-laki di hadapan ku. Dia yang kaya namun jauh dari Allah dan Dia laki-laki biasa bergaji honorer namun mampu membawa saya pada kebaikan dengan ketaatannya. Tentu saya akan memilih yang kedua. Mungkin, semuanya memang membutuhkan uang di dunia ini. Namun, uang sejatinya tak mampu membayar agar waktu kita di kurangi pada saat hari perhitungan nanti. Semua akan hangus, sebagaimana bumi ini di hancurkan. Dan, sebagai laki-laki! Seharusnya dia memiliki kepahaman. Kenapa Arsh Allah sampai bergetar saat ijab Qabul di lafadzkan. Sebab tanggungjawabnya bukan hanya sekedar mencukupi dia secara materi di dunia namun di akhirat juga. Dan, ketika istrinya masuk neraka? Sementara laki-lakinya berada di surga. Si istri pasti akan menutut suaminya yang tak bisa membimbing semasa mereka berada di dunia. Maka masuklah mereka berdua ke neraka."


Deg, deg! Jantung Arifin berdegup kencang. Tiba-tiba saja ia seperti merasakan ketakutan. Keringat dingin mengucur di kening dan tengkuknya. Arif refleks melepaskan topinya.


"Okay!" gumamnya gugup bercampur ketakutan.


"Tapi semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baiknya orang adalah dia yang mau berubah menjadi lebih baik." Safa mengimbuhkan. Desir angin pun mendinginkan hati Arifin.


"Apa Allah SWT akan mengampuni dosa besar yang di lakukan semua hambaNya?" tanya Arifin sedikit terbata.

__ADS_1


"Iya..., bahkan syirik pun akan di ampuni. Asal dia bertaubat sebelum kematiannya," jawab Safa. Arifin kembali terdiam.


Hampir semua dosa besar sudah kulakukan. –wajah Arifin berpaling. Embun kristal di kedua matanya mengaburkan pandangan.


"Allah, mencintai hambaNya yang mau kembali. Semua catatan buruk tetap akan tersimpan. Dan di buka di hari pengadilan yang di saksikan semua makhluk Allah di Padang Mahsyar. Tapi berbeda dengan mereka yang masih menyembunyikan aib dosa serta mau bertaubat...," ujar Safa membuat wajah Arifin kembali menoleh kearahnya.


Laki-laki itu membeku melihat wajah gadis berhijab itu dari samping. Karena Safa sama sekali tak menghadapnya sejak tadi. Wajahnya yang teduh itu seperti air yang mengaliri hatinya setelah sekian lama kemarau.


"Allah akan memberikan tabir. Dan hanya Dia dan manusia itu yang akan tahu. Ketika Allah memutar semua dosa-dosa yang dilakukan. Serta menanyakan kepadanya. Tangan dan kakinya tidak akan bersaksi lagi, karena lisannya mengakui dengan sendirinya. Sambil manusia itu tertunduk, merasakan malu. Tapi apa kata Allah? 'hambaKu. Aku mengampunimu. Serta ku tutupi Aibmu di Dunia dan di akhirat. Maka masuklah ke Surgaku. Karena taubatmu telah ku terima sejak di dunia.' itulah kenapa nama Ar Rahman di letakan di awal dari sembilan puluh sembilan Asma indah yang Allah milik. Allah ingin semua manusia tau bahwa Allah itu Rahman, maha pengasih."


Setitik air mata terjatuh, tanpa sepengetahuan Safa. Laki-laki itu langsung menyekanya.


"Anda tahu, Allah itu sebenarnya masih mencintai Fir'aun padahal dia amatlah durhaka. Contohnya ada pada Al Qur'an, ketika Allah mengutus Nabi Musa as dan Nabi Harun as untuk mendakwahinya. 'maka datanglah kalian padanya dengan berlemah lembut, sampaikanlah kepadanya kebenaran'. Fir'aun yang telah mengaku dirinya Tuhan masih di beri kesempatan untuk kembali dengan cara di utusnya dua Nabi Allah yang mulia. Dan sadar nggak? Allah itu sebenarnya mau semua manusia masuk kembali ke tempat awal Nabi Adam di ciptakan yaitu surga. Makanya, semua ulama atau orang yang Allah kasih kebaikan untuk mencari ilmu di wajibkan untuk menyebarkan kebaikan itu walau hanya satu ayat. Allah SWT hanya ingin menyelamatkan kita, walau melalui lisan orang lain. Karena Allah paham, kita ini malas untuk mencari ilmu kebenaran."


"Tapi sikap manusia memang gemar membangkang. ia akan terus bersembunyi pada kata 'uruslah surgamu. biar aku urus neraka ku sendiri' itulah kenapa, Rosulullah Saw mengemukakan semua umatnya akan masuk ke surga. Kecuali yang tidak mau."


Astaghfirullah al'azim... –Arifin kembali mengusap kedua matanya yang tiba-tiba berlinang.


"Kita wajib takut pada adzab Allah, tapi kita juga wajib sadar akan sifat Ar Rahman yang di miliki Allah. Maka kehidupan akan menjadi lebih baik untuk kita. Makanya jangan pernah berkata Allah SWT tidak adil. Allah adil, buktinya semua nasib kita di tentukan pada saat di akhir sebelum ajalnya. Agar dia yang pendosa masih punya harapan untuk kembali, dan dia yang beriman tetap sadar bahwa amal ibadahnya tidak akan berarti apa-apa jika di akhir hidupnya ia durhaka." Safa menutup kata-katanya. Ia hanya berpikir sudah terlalu banyak ia berbicara. Pasti pria itu sangat bosan mendengarnya.


"Maaf, saya terlalu banyak bicara."


"Terima kasih!" gumam Arifin lirih membuat Safa menoleh beberapa detik untuk melihat ekspresinya setelah itu memalingkan wajah. "Aku bukan laki-laki yang Soleh. Tapi..., Aku mau berusaha untuk masuk dalam kriteriamu," imbuhnya sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


Wajah Safa memancarkan kebingungan. Sebelum laki-laki itu kembali membuka kaca mobilnya.


"Assalamualaikum–" hanya itu, ia kembali menutupnya dan pergi dari sana meninggalkan Safa yang masih berada di tepi jalan.


Gadis itu menghela nafas. "Walaikumsalam warahmatullah. Ya ampun, aku sampai ceramah. Kayanya dia jadi kesel."

__ADS_1


Safa pun kembali naik ke atas motornya sebelum melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Perutnya yang lapar sudah tidak sabar untuk bertemu menu santap siang yang di buat Ibu.


__ADS_2