Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 79


__ADS_3

Pagi menyapa. Walau mentari belum nampak. Safa dan Afin sudah berada di teras balkon. Tempat favorit mereka menikmati udara pagi tanpa terlihat orang.


Secangkir kopi panas, dan satu gelas susu ibu hamil tersaji. Lengkap dengan kue cucur buatan Mak Nyai yang sebelumnya diminta Safa untuk di buatkan, saat tiba-tiba muncul rasa ingin menyantap kue yang terbuat dari tepung beras dan gula merah itu.


Semua baru saja di antara Mak Nyai, asisten rumah tangga paling tua di rumah Afin. Ya, karena kandungan yang sudah besar. Membuat Safa sudah tidak di perbolehkan untuk naik-turun tangga berkali-kali.


"Omong-omong, kenapa sampai hari ini kamu masih berangkat ngajar, sih? Bukannya bisa ambil cuti, ya?"


Safa mengangguk. Sambil tangannya mengusap perutnya. Sang anak sedang tidak terlalu aktif saat ini. Namun, akibat perenggangan otot perut. Membuat sensasi gatal sedikit terasa.


"Satu mingguan lagi, Bang. Lagian kan masih sangat jauh dari HPL," jawab Safa.


"Tapi aku udah nggak tega liat kamu kerja. Kadang aku suka mikir. Aku tuh jahat sekali ya, bisa bikin anak orang sampai begini."


"Ya Allah, Gusti!" Safa tertawa.


"Serius, Fa! Semua karena aku. Kamu harus hamil, habis gitu melahirkan."


"Ya udah kodratnya perempuan, Bang. Hamil dan melahirkan. Udah nggak bisa di bantah."


"Tapi tetep aja..." Afin menyentuh perut Safa. "Nak, jangan bertingkah ya. Jangan tambah bikin susah Bundamu."


"Justru yang banyak tingkah itu kamu."


"Kok aku?"


Safa hanya diam saja sambil menghela nafas. Dalam hatinya memprotes. Sang suami yang masih suka kekanak-kanakan minta jatah di hampir setiap malam. Padahal ia sendiri tahu, kalau isterinya sedang hamil besar. Belum lagi merasakan perut yang mengeras efek kontraksi ringan yang di sebabkan cairan syahwat Arifin. Karena laki-laki itu tetap melepaskannya di dalam rahim Safa.


Safa masih bergeming. Pria itu lantas meraih cangkir kopinya. Dan meniup permukaan air berwarna gelap tersebut.


"Bang, di bilang jangan suka niup minuman ataupun makanan."


"Tapi panas, Sayang."


"Ya tunggu dingin sebentar. Meniup makanan itu bisa menghilangkan keberkahan," ucapnya dengan mengikuti petuah Rosulullah.


"Kopi kalau dingin itu kurang enak," elaknya.


"Sini aku kasih tahu caranya." Safa meraih cangkir dan lambarnya lalu menuangkan sedikit kedalam lambar itu. "Begini... nggak perlu nunggu dingin banget. Seenggaknya sampai asap udah nggak nampak. Dan air nggak melukai lidah."

__ADS_1


"MashaAllah," gumamnya sambil menerima lambar berisi kopi dan menyeruputnya pelan.


"Dari hadisnya ibnu luhai'ah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad . Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya. Jadi jangan suka memaksakan diri untuk makan yang panas-panas."


"Iya, Sayang–" balas Afin yang masih sesekali menyeruput kopinya.


"Gimana, lebih nikmat 'kan?"


"Alhamdulillah, iya lebih nikmat. Walau agak lucu mengkonsumsinya dengan cara gini."


"Ayah ku gitu kalau minum kopi." Safa menimpali.


Sementara Afin kembali menuangkannya sedikit. Merasa ketagihan dengan sensasi minum kopi pakai lambar.


"Islam itu sebegitu detailnya memberikan anjuran. Semua demi apa, kita menjaga tubuh titipan ini dengan baik. Karena, melukai tubuh sama saja dzolim pada diri sendiri. Itulah salah satu alasan kenapa bunuh diri tidak di terima Allah."


Pria itu meletakkan lambar ke atas meja. Lalu mengangguk sambil membersihkan mulutnya sendiri.


"Makasih, kajian paginya sayang."


"Enggak bosen, kan?"


"Enggak, dong." Afin merentangkan satu tangannya lalu merengkuh tubuh sang istri sebelum menghadiahkan sebuah kecupan di kening.


Siang ini, Safa kembali berjalan menuju kantor. Setelah mengajar dua jam mapelnya. Yang membahas akidah dan akhlak.


Sebelum tiba di kantor, biasanya ia akan melewati tiga ruangan. Yaitu laboratorium bahasa, perpustakaan, lalu UKS. Lantas ia akan bertemu tiga anak tangga dan jalan setapak pendek yang memisahkan dua bangun tersebut sebelum sampai ke tempatnya.


Di sela-sela langkah, saat wanita dengan hijab syar'inya melewati pintu UKS. Ia seperti mendengar suara sesenggukan dari dalam. Hingga langkahnya pun langsung terhenti. Safa mendekatkan diri pada pintu yang tertutup.


UKS di jam pelajaran memang tak pernah ada yang jaga, kalaupun ada itupun hanya saat upacara bendera saja. Yang terdiri dari para murid dari organisasi PMR.


Safa bergeming. Dia memang bukan guru konseling. Namun, mendengar ada suara tangis sampai seperti itu membuat hatinya tergerak untuk menghampiri.


Tok, tok... Dua ketukan sebelum membuka pintu ruang UKS itu. Kontan membuat seorang gadis berjilbab itu buru-buru meredam tangisnya.


"Assalamualaikum–" suara halus Safa menyapa yang sedang menunduk sambil mengusap air mata.


"Wa–walaikumsalam, Ust," jawabnya lirih.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanyanya. Saat ini dia sudah berdiri di sisi ranjang. Tempat gadis itu duduk dengan menggantungkan kedua kakinya.


Gadis itu tak menjawab selain gelengan kepala pelan.


"Yakin kamu baik-baik aja? Kalau ada masalah, kamu bisa kok cerita ke Ustazah." Safa mengangsurkan secarik tissue yang ia ambil dari atas meja. Ruangan itu memang biasa menyediakan tissue. Dan perlengkapan P3K lainnya.


Gadis yang masih sesenggukan walau sudah tidak menangis itu masih diam saja. Tangannya justru kini meremas tissue yang ia genggam. Saat Safa sedang mengambil air dari dalam galon yang memang sudah ada di sana.


"Minum, dulu."


"Makasih, Ustadzah." Pelan-pelan mengambilnya, lalu menengguk hingga tandas. Sejak tadi menangis, membuatnya jadi haus.


"Kamu namanya siapa?"


"Ifa, Ust."


"Kelas?"


"Sepuluh, tiga," jawabnya amat lirih.


"Oh, kelas sepuluh, tiga." Dengan lemah lembut, Safa mengusap kepala gadis yang menurutnya cukup manis dengan kulit kuning langsatnya itu. "Kamu udah jauh lebih baik?" tanyanya, yang justru memecah tangis gadis remaja itu.


"Hiks?" Karena pelukan Safa. Ifa jadi kembali tak bisa membendung tangisannya.


"Ifa?" Sorot mata Safa kembali bergeser kebawah.


"Uuussssst... Hiks!"


"Nggak papa nangis aja. Lepaskan saja kalau kamu benar-benar ingin nangis."


Safa kembali menenangkan dia dengan cara menepuk-nepuk pelan punggungnya. Mencoba untuk membuatnya tenang lebih dulu. Setelah itu baru ia kembali bertanya.


"Saya bingung... saya takut, Ust!" gadis itu mulai membukanya.


"Bingung kenapa?"


"Saya?" ucapan gadis itu tersendat. Ia tidak bisa mengatakan masalahnya. Namun kepalanya sudah benar-benar buntu menyembunyikan semua ini.


"Nggak papa kalau kamu nggak bisa ceritakan...?"

__ADS_1


"Saya Hamil, Ust!" Potong Ifa dengan tangisan yang kembali pecah.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Sontak, pengakuan gadis kelas sepuluh itu membuat dirinya tercengang.


__ADS_2