
Bel dua jam pertama berbunyi. Tanda pergantian mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain. Saat ini, Safa baru saja selesai mengajar di dua jam pertama. Ia pun kembali ke kantor para guru. Dan akan kembali ke kelas lain di satu jam terakhir sebelum bel istirahat, lantas menyambung satu jam lagi sesudah istirahat.
Begitulah pembagian waktu seorang guru. Tak menentu dalam kurun waktu empat jam pelajaran dia akan mengajar di dua kelas sekaligus. Karena pastinya akan ada satu mapel yang hanya mendapatkan satu jam pelajaran saja setiap pertemuan.
Belum juga dirinya mendekati pintu. Langkahnya sudah terhenti, karena mendengar suara televisi di kantor. Dimana saat ini televisi tersebut sedang menayangkan acara talk show yang di bintangi oleh suaminya sendiri.
Di sana ia biasanya tidak berani untuk masuk. Karena rasanya akan sangat canggung. Belum lagi, beberapa guru akan buru-buru mengganti salurannya saat mengetahui adanya Safa. Ya, hanya sebatas menghormati saja. Belum lagi beberapa waktu terakhir suaminya sedang menjadi trending topik.
"Hidup memang nggak bisa di tebak. Tapi sebagai lakon dalam kehidupan ku sendiri. Saya memiliki pilihan untuk melewati jalan kehidupan ini. Dan, aku bersyukur. Di antara duri-duri semak belukar kehidupan. Aku tetap menemukan sesuatu yang indah. Yaitu asa untuk kembali ke jalan yang lurus."
Suara Afin membuat orang-orang di studio tersentuh. Begitu juga dengan Safa yang masih berdiri, menempelkan punggungnya ke dinding kantor sambil memeluk buku pelajaran.
"Wooow..." Sepasang mata sang pembawa acara berbinar.
"Di situ juga nggak mudah, Mas. Ada rasa malu untuk kembali kepada kebaikan. Tapi, di sela-sela keraguan untuk berubah. Doa ibuku terkabulkan. Aku diberikan bidadari berhati bening yang sangat membantu proses hijrahku."
"MashaAllah –" gumam Beliau.
"Mungkin, orang banyak menghujatnya sebelum ini. Tapi percayalah... dia Istriku yang amat berati. Karena dia juga, perubahan ku dalam menjalani hidup semakin signifikan. Dia nggak hanya guru untuk murid-muridnya. Tapi untukku juga. Guru yang tak menggurui..."
Senyum Safa mengembang malu-malu. Walau hanya suaranya saja. Tapi sudah cukup untuk membuat jantungnya berdebar. Satu tangan lainnya mengusap perut yang mulai berdenyut. gerakan halus pertama yang ia rasakan.
"Allahu Akbar..." Safa merasa terharu dengan itu.
"Waaaah... keren. Dengar-dengar, istrinya sedang berbadan dua. Bener?" Tanyanya bersemangat.
Dari pertanyaan itu Safa menanti. Apakah suaminya akan menjawab dengan jujur.
"Ya... doakan saja. Afin junior akan launching." Pria itu tertawa renyah tanpa beban.
"Wah, keliatan seneng banget si calon ayah ini...."
"Hahaha." Afin masih tertawa. Karena Memang, dia sebahagia itu sekarang.
"Okay, Fin. Semoga sehat selalu ya. Untuk ibu dan calon anaknya. Bla.. bla.. bla..."
Acara masih berlangsung. Safa juga masih bertahan. Berdiam diri di dekat pintu kantor. Hingga seorang guru lainnya muncul.
"Ustazah Safa!" Panggilnya sedikit terkejut karena tiba-tiba ada orang di sana.
"Eh, iya Ust!" sejujurnya Safa juga sama, terkejut.
"Ngapain disini? Ya Allah saya sampe kaget." Wanita berusia tiga puluh tujuh tahun itu terkekeh.
"Nggak papa, Ust. Ustazah mau ke kelas sebelas?"
Perempuan dengan hijab segi empat jumbo itu mengangguk.
"Tapi sebelumnya, saya mau tanya. Ini gara-gara acara di TV tadi. Ustadzah beneran lagi hamil?" Tanyanya sambil memegangi lengan Safa.
"Alhamdulillah, iya Ust."
"Alhamdulillah... Selamat ya, Ust. Udah berapa bulan?"
__ADS_1
"Jalan empat," Safa menjawab dengan mata berbinar.
"MashaAllah...." Perempuan itu menyentuh perut Safa yang jika di cermati memang sedikit buncit. "Allah... Allah... ini calon anak artis."
"Ustadzah Ulfah nih bisa aja." Safa menimpali.
"Loh emang beneran."
"Assalamualaikum –" guru lain menyapa keduanya. Yang di jawab langsung oleh mereka.
"Ust, tahu? Ustazah Safa sedang hamil, loh."
"Iya kah, Ust?"
"Alhamdulillah. Iya, Ustadz Eka."
"Alhamdulillah... Barakallah. Semoga sehat selalu, ibu dan si calon bayinya."
"Aamiin...." Safa menanggapi dengan senang. Dan dari dua orang tadi. Bertambah beberapa guru lainnya. Yang turut mengucapkan selamat kepadanya.
Sekarang hampir seluruh penghuni ruang guru. Mengetahui kabar kehamilan Safa. Seorang pria dengan jenggot tipis itu pula tersenyum tipis mengucap hamdalah.
🌸🌸🌸
Langit diluar telah gelap. Saat ini, Safa sedang sendirian dirumahnya karena Ayah dan ibu sedang Magriban sambil menunggu Isya di masjid. Sementara Qonni sedang ada acara di rumah temannya sejak ba'da Ashar tadi.
Wanita yang membalut tubuhnya dengan mukenah itu sedang bertilawah. Menyambung bacaan demi targetnya untuk Khatam Al Quran sebanyak tujuh kali dalam bulan ini.
Sebuah suara motor terdengar. Lantunan ayat itu seketika berhenti. Ia sangat mengenal suara motor itu.
Benar dugaannya. Laki-laki itu datang sendirian sambil membawa sesuatu.
Wanita itu kembali menutup gorden kamarnya. Lantas terdiam di balik jendela. Tak lama, suara langkah kaki yang masih terdengar dari tempatnya berdiri semakin dekat di akhiri dengan suara ketukan pintu yang di selingi salam.
Suara khas Rumi yang halus seolah membuat Safa tidak mampu bergerak. Apalagi di rumah sedang tidak ada siapapun.
"Assalamualaikum, Paman–"
"Walaikumsalam warahmatullah..." Safa menjawab dengan gumaman bibirnya. Ia belum berani keluar. Rasanya masih kaku saja dengan laki-laki itu sejak awal Rumi mengetahui perasaannya dulu.
Tak berselang lama, suara mobil terdengar. Safa kembali menyibak gordennya. Itu mobil suaminya, kemudian kembali menutupnya. Safa melepaskan mukenanya. Dan mengganti dengan hijab instan syar'i warna moca.
–––
Di depan rumah...
Rumi melengkungkan bibirnya. Menyambut seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil matic tersebut.
"Assalamualaikum–" Afin menyapa sambil melepaskan topi yang ia pakai. Lalu menyibak-nyibak rambutnya kebelakang.
"Walaikumsalam warahmatullah, Kak." Rumi melangkah maju hingga ke bibir teras. Menyambut suami Safa yang baru tiba itu.
"Udah dari tadi?"
__ADS_1
"Baru, Kok," jawabnya.
Afin menatap pria yang mengenakan setelan celana bahan dengan kemeja warna Nevy kemudian di tutup jaket warna hitam itu dari atas kebawah. Setelahnya melirik ke arah pintu yang masih tertutup.
"Nggak ada orang ya di rumah, ya?" Tanyanya, sambil melangkah melewati Rumi.
"Mungkin, Kak. Soalnya saya ketuk dari tadi nggak ada yang nyaut," jawab Rumi apa adanya.
"biasanya sih, Bapak sama Ibu di Masjid kalau jam segini. Mungkin Safa juga ikut sama Qonni." Afin sendiri mencoba untuk menekan handle pintu, dan pintu itu tidak terkunci.
"Anu, maaf. Saya mau titip ini aja–" kata Rumi. Afin pun menoleh lagi kebelakang. Tidak jadi membuka pintu. "Ini dari Abi, tapi baru sempat di antar..."
"Oh–" Afin menerima bungkusan tersebut.
"Maunya pagi langsung kesini. Tapi sayanya ada rapat pagi, jadi bisanya pas pulang," tutur Pria yang masih menggendong tas ranselnya. "Oleh-oleh dari Jawa," sambungnya kemudian.
Entah mengapa dia merasa canggung pada Afin. Mungkin karena tatapan pria itu. Yang menurutnya lain dari saat pertemuan dulu. sekarang seperti tak bersahabat.
Afin tersenyum tipis. "Makasih, ya."
"Sama-sama, Kak."
Pengennya sih nawarin duduk. Tapi, setelah tau dia laki-laki yang pernah di sukai Safa. Rasanya males kalau dia lama-lama disini. –batin Afin.
"Ya udah, Kak. Saya langsung pamit aja, ya–"
Baguslah tau diri. –batinnya sambil tersenyum lebih lebar. "Iya, Mas. sekali lagi makasih."
"Salam buat Paman sama Bibi."
"Ya nanti di sampaikan. Hati-hati di jalan– salam buat Ustadz Irsyad."
"Walaikumsalam warahmatullah, nanti saya sampaikan." Rumi membalik badannya setelah berjabat tangan dengan Afin dan kembali menaiki motornya.
"Bisa kan keluarnya?" Tanya Afin khawatir mobilnya menghalangi pintu.
"Bisa, kok," jawab Rumi sambil memundurkan motornya. Mengambil posisi untuk memutar dan keluar dari halaman rumah itu.
Setelah motor Rumi menghilang dari pandangan. Afin menghela nafas, bersamaan dengan itu juga pintu rumah terbuka. Laki-laki itu kontan menoleh kebelakang.
"Bang–" Safa menyapa dengan suaranya yang lembut kemudian meraih tangan suaminya, cium tangan.
"Kamu dari tadi di dalam?" Tanya Afin. Safa pun mengangguk.
"Di rumah nggak ada orang, jadi aku nggak berani buka pintu," imbuhnya.
"Kenapa nggak berani buka pintu?"
"Ya, emang Sariat-nya begitu. Apalagi, Safa udah bersuami."
"Kirain hatinya masih berdesir –"
"Abang kok ngomongnya gitu?" Safa menggenggam tangan suaminya erat mendadak sedih. Afin menghembuskan nafasnya, kemudian mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Masuk, yuk. Aku gerah..." ajaknya sambil menggandeng tangan istrinya masuk kedalam rumah. Yang bablas sampai ke kamar mereka berdua. Tentunya setelah meletakkan bingkisan dari Rumi tadi di atas meja ruang tamu.