Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 86


__ADS_3

Setelah mengambil keputusan. Aida lah yang menjadi pendamping Safa di ruang bersalin. Wanita paruh baya itu kini memegangi kedua tangan Safa. Sambil terus berbisik dengan kalimat tauhid.


Saat ini, dokter dan para medis hanya memantau gerak janin. Sambil mengaba-aba, hingga dengan mudahnya bayi perempuan itu terlahir kedunia ini dengan selamat.


Sebuah salam terdengar. Tepat dimana tangis bayi memekik kencang. Safa tersenyum melihat suaminya datang walau laki-laki itu tak melihat langsung prosesnya. Namun, baginya Afin tetap datang tepat waktu.


"Allahu Akbar..." Pria itu menangis sambil mendekat kearah Safa menciumi wajahnya berulang-ulang. "Terima kasih, Sayang. Maaf aku datang terlambat."


Wanita yang ada dalam dekapannya hanya mengangguk lemah sambil berlinang air mata.


"Pak silahkan diadzankan anaknya."


"MashaAllah. Iya, Sus–" Afin mengecup kening Safa sekali lagi sebelum menyusul suster ke balik tirai tempat bayi mereka di letakkan. Senyum haru Afin terarah pada bayi perempuan yang masih merah dengan bercak putih yang masih menempel di tubuh bayi tersebut. Pelan-pelan ia lantunkan adzan di telinga kanan dan di tutup dengan Iqamah di telinga kiri.


Momen langka itu di abadikan oleh salah seorang perawat dengan kamera ponselnya.


"MashaAllah, anak Baba." Di kecupnya sang bayi perempuan dengan penuh kasih sayang.


***


Sudah beberapa hari semenjak mereka menginap di rumah sakit. Kini Safa dan anaknya sudah di perbolehkan pulang.


Ekspresi antusias di tunjukkan dua wanita paruh baya yang baru saja memandikan cucu pertama mereka bersama-sama. Lantas memakaikan baju untuknya.


"Lucu sekali, ya Allah..."


"Warna rambutnya ikut, Arifin," celetuk ibu Ayattul yang di setujui Aida.


"Sepertinya hampir semuanya. Nggak ada yang di buang, Bu."


"Hahaha..."


Di sudut lain, Safa hanya tersenyum. Dia baru saja mengkonsumsi makanan yang di bawakan Afin. Pria itu juga kini nampak memandangi dua nenek yang langsung membawa cucu mereka keluar kamar.


"Kita jadi nggak ada waktu buat main sama si Dede," Afin menghela nafas sambil senyum.


"Alhamdulillah, aku bahkan kaya masih bisa tidur nyenyak karena di bangunkan saat Dede minta menyusu aja."


Keduanya tertawa, Afin langsung merengkuh bahu isterinya. Kedua mata itu saling memandang.


"Aku sempat berpikir, orang seperti aku. Emangnya bisa punya isteri dan anak? Sekarang, aku merasakan kesempurnaan itu ada dalam hidupku, Fa."


"Karena Abang di takdirkan untuk tetap berada dalam kodratnya. Abang juga menolak itu semua itu, 'kan?"


Pria itu mengangguk. Walau di hatinya masih mengganjal rasa tidak enak hati. Setelah sebelum ini ia pernah beberapa kali menodai tubuhnya dengan sesama jenis. Tapi ia tetap mengambil hikmah dari semua kejadian itu. Afin jadi lebih menghargai wanita, setelah merasakan nikmatnya berhubungan dengan yang seharusnya.


"Maaf, ya?"


"Maaf buat apa?"


"Buat ketidaksempurnaanku."

__ADS_1


"Kamu sudah sempurna, Bang. Menurut versi ku. Dengan apa yang kamu lakukan."


Afin memiringkan kepalanya mencium bibir Safa dengan lembut selama beberapa saat. "Aku mencintaimu, Guzelim–"


"Aku juga, Bang."


Netra keduanya kembali saling mengunci. Sebelum Afin kembali mengajaknya berciuman selama mungkin yang mereka bisa.


🍂🍂🍂


Sudah lewat beberapa bulan. Rumah Fatkhul Qulum sudah selesai di renovasi.


Keluarga besar itu berkumpul dalam rangka tasyakuran sederhana. Tak terkecuali keluarga Ustadz Irsyad juga berserta anak-anak dan menantunya.


Terlihat Debby yang sangat mengharapkan bisa punya anak perempuan. Menggendong anaknya Safa dengan penuh kasih sayang. Sementara Rumi sedang sibuk dengan anak laki-lakinya yang mulai aktif berlari kesana-kemari.


"Nah, tinggal ini, nih..." Ustadz Irsyad menggoda Qonni yang sedang menurunkan air dari atas nampannya.


"Tinggal apa, Padhe?" Gadis itu tersipu malu. "Wisuda aja belum."


"Loh, emangnya belum?"


"Ya belum dong. masih seminggu lagi, habis itu kerja dulu. Satu tahun."


"Nunggu satu tahun itu nggak lama, Nduk." Ustadz Irsyad menanggapi.


"Iya, sih."


"A'a tahu calonnya Qonni, nggak?" Nuha menimpali. Qonni sendiri langsung menoleh sambil meletakkan jari telunjuknya ke bibir.


"Dia itu calonya Ustadz Harun, loh."


"Serius, Neng?" Tanya Faqih yang memang belum tahu. Nuha pun tertawa sambil menutup mulutnya.


"Dih, Kak Nuha, nih."


"Ya salaaam," gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Diem-diem Si Barudak hiji ita, hayang kawin. Minta di toyor rupanya. Faqih berpikir sambil senyum-senyum jahat.


"Baru tahu, 'kan? Aku juga kaget. Hehehe..."


"Kamu kenal dimana sama Dia?" Tanya Faqih pada Qonni.


"Sempat jadi senior di acara kampus. Sebelum Beliau ke Mesir. Dan ketemu lagi di Al-Azhar kelapa Gading. Qonni pernah magang di sana."


"Oh pantesan–" Faqih geleng-geleng kepala. "inshaAllah anaknya baik. Dia temen A' Faqih."


"Iya, A'. Alhamdulillah kalau begitu."


"Kita bisa Doble date pas kamu udah nikah, ya Dek."


"Iya, Kak." Keduanya cekikikan.

__ADS_1


"Double date apaan. Inget ini udah tiga biji ini, loh–"


"Dih, kenapa harus di sadarkan dengan fakta sih, A'?" Protes Nuha yang di respon gelak tawa mereka yang ada di sana.


––


Di sela-sela obrolan ringan Ustadz Irsyad bangkit, dan berjalan keluar. Kemudian di susul Ulum yang turut mengekor di belakangnya.


Pria bertubuh tambun yang sudah semakin menua itu berjalan pelan dan duduk di sebuah kursi taman yang belum begitu teduh karena pohon-pohonnya belum tinggi.


"MashaAllah, ya Lum. Rumahmu, semanger... apik!"


"Alhamdulillah, Kyai."


Pria itu duduk dengan sopan di sebelah Ustadz Irshad.


"Kadang saya mikir, saat puteri-puteri saya menikah. Pasti tinggal berdua di rumah besar ini."


"hahaha..." Ustadz Irsyad terkekeh.


"Padahal dulu, Qonni sering menyeletuk. Pengen punya kamar seperti milik Nuha. Pengen punya rumah yang ada tangganya seperti Rumah Padhe Irsyad." Ulum menambahkan.


"Buah kesabaranmu, kegigihanmu, serta kesederhanaan yang selalu kamu pegang teguh. Kamu lihat sendiri, dunia itu nggak perlu kamu kejar. Kalau udah jalanya bakal kamu miliki, maka ia akan datang dengan cara yang tak terduga. Hanya memang, waktunya yang kita nggak pernah tahu kapan."


"MashaAllah. Njih, Kyai. Matur sembah nuwun..., kalau nggak karena bantuan Allah lewat uluran tangan Kyai juga. Saya nggak mungkin bisa seperti ini. Dulu saya sendiri, Kyai. Sekarang saya punya keluarga yang utuh." Ulum mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar. "Itu yang paling saya syukuri."


Pria di sisi Ulum menepuk bahunya. Sambil tersenyum kemudian menghela nafas membiarkan hening tercipta di antara keduanya.


"Tapi kadang saya juga suka mikir. Bentar lagi Qonni nikah. Pasti akan di bawa suaminya. Tinggal saya sama Aida berdua di rumah ini. Sebenarnya, kaya sia-sia. Membangun rumah. Tapi anak-anak sudah tidak tinggal sama kita lagi."


"MashaAllah..., dulu saat saya masih muda. Suka mikir gini juga. Di masa tua nanti aku dan Rahma pasti hanya tinggal berdua aja. Anak-anak menikah dan tinggal dengan pasangannya masing-masing. Membentuk keluarga baru. Tapi, waktu itu cepat sekali berlalu. Hal yang Saya pikirkan di masalalu. Malah justru secepat ini saya rasakan. Dan jauh dari dugaan. Saya benar-benar sendirian, Lum."


Ulum tertegun mendengarkan ucapan Ustadz Irsyad yang lirih namun amat menghentakkan hatinya.


"Padahal dulu saya saat masih muda juga sendirian. Kaya kamu dulu, Tinggal di rumah yang saya tempati di Harapan Indah. Kesepian, Lum. Tapi sepinya nggak se-hampa masa tua."


"Ya Allah, Kyai. Kenapa nggak tinggal di Jakarta aja? Saya udah membayangkan pasti Kyai sangat kesepian di Magelang."


Irsyad tertawa. "Ndak gitu, Lum. Saya nggak benar-benar sendirian lah. Perasaan itu hanya muncul sesekali. Selebihnya ya, nikmat yang ku harapkan. Bisa menyebarkan ilmu ini, yang mudah-mudahan sampai akhir hayat."


"Aamin, MashaAllah..."


"Lagipun, kita harus sadar. Kita memang mahluk sosial. Nggak bisa hidup sendirian, namun suatu saat akan ada masa dimana kita dipaksa untuk benar-benar di tempatkan sendiri." Hembusan angin siang membawa keheningan bagi keduanya selama beberapa saat. "Alam barzah. tempat yang sempit, pengap dan gelap."


"Ya Allah...," gumam Ulum meresapi.


"Kehidupan itu akan membawa kita pada dua kesendirian. Kalau masa Tua kita masih ada kemungkinan untuk nggak benar-benar sendiri. Namun, saat meninggal. Kita baru benar-benar sendiri. Yang sering berjalannya waktu. Orang-orang akan melupakan siapa itu Irsyad Fadillah. Siapa itu Fatkhul Qulum..."


"Njih! leres, Ustadz." Ulum manggut-manggut.


"Jadi ya. Hati harus tetap eling, to? Allah adalah dzat yang tak akan pernah meninggalkan kita. Sampai kapanpun."

__ADS_1


"Njih Ustadz..." Ulum tersenyum.


Di sana, dua pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad terus berbincang mengenai masa yang terus berganti. Bahkan dari perbincangan itu membuat Irsyad mengingat wajah cantik mendiang Isterinya. Ia pun berpikir untuk menengoknya setelah ini.


__ADS_2