Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Ekstra part 7


__ADS_3

Menempuh waktu tujuh jam perjalanan, membuat mereka langsung menuju hotel yang sudah di pesan guna beristirahat. Kamar yang luas dengan satu ranjang khusus untuk pengantin baru sudah menyambut kedatangan mereka yang sedikit kelelahan.


Harun meletakkan koper di ujung kamar. Sementara Qonni langsung berjalan cepat menuju dinding kaca dengan view kota Jogja.


"MashaAllah, A'a. Pemandangannya bagus banget."


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Ini rekomendasi temen yang pas masih pengantin baru nginep di hotel ini." Harun menanggapi sambil melepaskan tas cangklongnya.


"Kita mau langsung jalan, nggak, A'? Kayaknya enak kalau kita cari...?" Suara Ayudia atau Qonni terhenti, ketika kedua tangan suaminya melingkar di perutnya dari belakang.


"Kamu itu emang nggak ada capeknya, ya?" gumamnya sambil menempelkan bibir di bahu Ayu. Adapun perempuan dalam dekapan Harun hanya tersenyum sambil menutup mulutnya.


"Pengen liat-liat, sambil jajan."


"A'a baru pesen makanan, nanti kalau mubazir gimana?" Harun melepaskan pin yang terpasang di kerudung isterinya sebelum menanggalkan hijab tersebut. "Mending istirahat sambil main sama, A'a."


"Ehh..." Ayudia mendadak gugup. Karena sejatinya ia masih merasa malu-malu jika bercumbu dengan suaminya. "Dua jam lagi masuk ashar, loh."


"Masih lama..., main sama A'a kan nggak sampai setengah jam selesai." Ledek Harun sambil tertawa, kemudian langsung mengangkat tubuh isterinya dan mengajaknya keatas ranjang.


Menghabiskan waktu beberapa menit untuk bercumbu, sambil menunggu petugas pelayanan hotel datang mengantarkan makanannya.


🌸🌸🌸


Malam pun datang, sepasang pengantin baru itu berjalan bersisian sambil bergandengan tangan di jalan Malioboro. Menikmati hiruk-pikuk kawasan, yang konon katanya seseorang belum ke-Jogja jika tak mengunjungi tempat tersebut.


Harun mengikuti saja keinginan Ayu yang terus-menerus menarik lengannya untuk mampir dari satu toko ke toko yang lain. Jajan ini dan itu, dan mengambil beberapa foto berdua di tempat-tempat yang lumayan estetik.


"Wajah A' Harun tuh emang fotogenik banget. Mau diem, mau senyum, mau ngelamun, bahkan yang lagi nguap aja hasilnya tetep mantul."


"Ya Allah..., nggak lagi nguap juga kamu potret, Yang!" protesnya pelan, adapun Ayu hanya tertawa sambil menata bagian depan rambut suaminya. Setelah itu fokus pada jajan di tangan.


Salah satu tangan Harun merengkuh pundak isterinya. Lalu menaikan sedikit ponselnya dengan mode on camera.

__ADS_1


Kliiiik...! Harun tertawa saat selesai mengambil gambar dirinya dan Ayudia secara spontan.


"Iiih, akunya belum siap udah di pencet aja. Mana lagi makan cilok, lagi!"


"Tapi lucu, liat lirikan matanya. Hahaha..."


"Lucu apanya, hapus ih! Rada blur juga itu!"


"Jangan, dong. Aset ini, foto aib isteri." Pria di sebelah Ayudia tertawa lagi sambil buru-buru menjauhkan ponselnya dari tangan sang istri yang hendak merebutnya.


"A'a, ih! Hapus...!"


"Jangan, ih! Kita foto lagi aja, ya?" bujuknya sambil menekan-nekan kedua pipinya hingga bibir perempuan dengan hijab warna coklat susu itu mengerucut.


"Tapi tadi, jelek," rengeknya memohon.


"Enggak, Ya Qalbii..." bisiknya halus. Hingga memunculkan kemerahan di kedua pipi Ayudia. "Ini lucu, mau ku simpen."


"Panggilannya, MashaAllah..." tuturnya yang mendadak lupa dengan foto tadi.


"Suka banget. Hubby!"


"MashaAllah..." Harun turut merona di panggil seperti tadi.


"Hehe Aku juga punya panggilan spesial, dong. Yang udah ku siapkan sebelum kita menikah."


"Terus kenapa baru di pake?"


"Malu aja langsung manggil itu."


"Gaya banget, pake malu-malu segala." Harun yang gemas langsung mengusap-usap kepala yang tertutup hijab itu. Sontak, apa yang di lakukan Harun rupanya menuai protes Ayu karena hijab yang jadi berantakan.


Sepersekian detik berikutnya, keduanya bergegas bangkit karena hujan yang tiba-tiba mengguyur kawasan tersebut. Satu tangan Harun menutupi kepala isterinya sambil sama-sama berlari menghindari gerombolan air langit. Keduanya pun meneduh bersama orang-orang yang turut berhamburan karena hujan.

__ADS_1


"Basah, nggak, Bii?" Tanya Harun yang membuat Ayu kembali merasakan sensasi getaran di hatinya. Belum lagi Harun yang nampak sibuk menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu. Kemudian ia pun memutuskan untuk melepaskan jaketnya dan meletakkan di bahu Ayu.


Kyaaaaaaa, ngalahin Drakor ini mah. Versi halal lagi... hihihi. –kedua netra manis Ayu tak terlepasnya mengarah pada wajah suaminya.


"Apa sih, ngeliatnya gitu banget?" Harun terkekeh.


"Romantis!" jawabnya dengan suara di buat-buat lebih imut.


"Hahaha...." Pria itu hanya tergelak, berdiri di depan sang istri yang berdiri di salah satu tiang penyangga. Sementara telapak tangan Harun menempel di tiang tersebut tepat di sisi wajah Ayudia.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di tempat lain...


Ilyas nampak panik sambil menemani ibunya yang mendadak muntah darah. Wanita paruh baya itu bahkan harus di larikan ke rumah sakit karena kondisinya yang semakin lemah.


Seorang dokter yang menangani ibunya Ilyas pun memanggil pria berkacamata itu untuk di ajak berbicara.


"Bagaimana, Dok?"


"Melihat kondisinya yang seperti itu, kemungkinan sembuh hanya sepuluh persen."


"Astaghfirullah al'azim..." Kedua mata pemuda itu kontan mengembun.


"Mungkin, sekarang hanya perlu di dampingi. Bacakan doa, mudah-mudahan Allah kasih kesempatan untuk pasien kembali sembuh."


"Ya Allah!" rintihannya merasakan getir. Ilyas pun mengucapkan terima kasih, setelah Dokter tersebut berpamitan.


Di sisi kanan dan kiri ibunya. Kedua adik Ilyas terus membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang tak begitu kencang. Wajah Ilyas tampak lemas, terus terarah pada wanita yang telah melahirkan dan merawatnya hingga saat ini. Pelan-pelan langkahnya terseok, semakin mendekati tubuh wanita yang terbaring di atas ranjang ruang ICU.


Pemuda berkacamata tebal itu lantas mendekati telinga ibunya, mengucapkan kata maaf dan terima kasih atas apa yang sudah di berikan Ibunya selama ini. Ia juga menyesal karena hingga detik ini, dirinya belum mampu menjadi anak yang bisa di banggakan.


Ilyas melepaskan kacamata hanya untuk menyeka air matanya sendiri setelah itu memanggil adik-adiknya untuk mengucapkan maaf pada Ibu.

__ADS_1


Adik-adik Ilyas menuruti, mereka secara bergantian mengucapkan kata maaf dan juga terima kasih. Bahkan menciumi tangan kurus milik ibu mereka.


Tak lama, respon tak baik di tunjukkan. Ibu mendadak kejang, hingga perawat dan Dokter pun kembali memeriksanya. Dokter pun menyerahkan pada Ilyas karena kondisi pasien sudah dalam keadaan sakaratul maut. Dengan ketegarannya pemuda itu menuruti, membisikan kalimat syahadat hingga empat sampai lima kali. Kedua netra sepuh yang terpejam itu mengalirkan air matanya sebelum akhirnya Dokter menyatakan pasien telah meninggal dunia.


__ADS_2