Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 42


__ADS_3

Semenjak kejadian brutal kemarin Afin semakin memperlihatkan perhatiannya pada sang istri. Mulai dari membantunya mengoleskan obat luka luar, membantu menyuapi makanan walau sebenarnya tidak perlu dan lain sebagainya.


Tentu yang ia lakukan amat di apresiasi oleh gadis itu. Yang sangat bersyukur atas perhatian yang belum pernah ia rasakan selama menikah dengan Afin Anka. Walaupun sebenarnya, hal itu bukan hanya sebatas rasa bersalahnya sebab pengeroyok kemarin. Melainkan rahasia yang sudah ia keluarkan semalam, membuat Afin jauh lebih berani untuk berada lebih dekat di sisi Safa. Setidaknya ia harus mengganti momen yang sempat hilang di bulan-bulan pertama pernikahannya, bukan? Dan Itulah wujud dari rasa sayangnya terhadap gadis bermata bening itu.


Belum tiba waktu subuh, laki-laki itu sudah terjaga lebih dulu sebelum di bangunkan seperti biasa. Ia menyadari tidak ada istrinya di sebelah dia berbaring saat ini. Membuat kepalanya langsung terangkat mencari sosok sang istri.


Di lihat pintu kamar mandi tertutup dengan lampu yang padam. Dia pasti tidak di dalam sana. Pikirnya menerka.


"Fa?" Gumamnya mencari-cari sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya sebelum samar-samar mendengar suara wanita sedang mengaji di balkon.


Pria dengan kaos putih dan celana training itu langsung berjalan keluar, menuju sumber suara. Dan benar saja, wanita dengan mukena putih yang di hias brokat di bagian kepala terlihat duduk sendirian.


Rupanya cukup berani juga dia untuk ukuran seorang wanita, keluar di rumah di saat langit masih gelap, pikirnya dalam diam.


Afin menyandarkan tubuhnya di pintu kaca yang terbuka. Ia tahu jam baru menunjukkan pukul 03:29. Pantas saja rasa kantuknya masih sedikit ia rasakan.


Surah Ar Rahman bernada jiharkah sedang dibaca gadis itu saat ini. Dan sungguh, suara merdu Safa sangat menenangkan jiwa.


Laki-laki berwajah tegas itu memang sangat menyukai lantunan ayat yang di bacakan Safa, sejak pertama kali mendengarnya. Seperti menyihirnya pada tempat yang begitu sejuk dan damai untuk beberapa saat.


Afin kembali melangkah lebih dekat. Tangan kanannya reflek menarik kursi demi mengikis jarak antara dirinya dan Safa. Ia ingin mendengarkan lebih dekat.


Sementara Gadis yang menyadarinya datang, tak merespon selain tenang dalam tilawahnya. Membiarkan laki-laki itu menggeser meja berbahan besi sebelum duduk dihadapannya.


Afin memasukkan tangan kedalam mukenah yang di kenakan Safa. Mencari tangan gadis itu. Dan saat bertemu ia tersenyum tipis manakala netra bening Safa mengarah naik padanya sambil tersenyum juga walau bibir masih bergerak melantunkan ayat-ayat. Adapun Afin langsung menggenggamnya erat.


Beberapa saat setelah surat Ar Rahman selesai dibacakan gadis itu tersenyum manis padanya yang sudah sabar menanti. Mengecup punggung tangan laki-laki itu dengan rasa cinta.


"Abang sudah bangun?" tanyanya halus yang di jawab dengan anggukan. Laki-laki itu menguap sebelum beristighfar. Sementara tangan lainnya mengacak-acak rambutnya sendiri. Memperlihatkan ketampanan yang natural hingga sukses membuat jantung Safa berdebar kencang.


"Kamu ngapain ngaji disini. Sendirian lagi? Mending di dalam." Pria itu mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.


"Aku emang suka ngaji di sini. Udah terbiasa juga."

__ADS_1


"Oh, ya? Apa setiap malam kamu lakukan ini sendirian?" Afin terperangah. Gadis itu mengangguk pelan.


Semoga bukan ria Ya Allah... batin gadis itu berharap.


"Entahlah aku jatuh cinta dengan tempat ini, banyak tanaman dan air mancur kecil di sudut itu. Jadi berasa kaya di alam, dan aku tidak takut walau harus sendirian...," ucapnya ceria.


Udaranya memang lebih sejuk disini. Afin pun setuju, ia juga lebih suka melakukan olahraga kecil di tempat ini daripada di ruangan Gym-nya.


"Di samping tempatnya nyaman, dan sejuk, pemandangannya langsung tertuju pada menara masjid di sebelah sana." Gadis itu menunjuk objek yang di sebut tadi. "Jadi kalau Adzan subuh rasanya kaya lebih indah terdengar."


Afin menoleh ke arah menara dari salah satu masjid yang ada di sisi kanannya. Sebelum kembali pada Safa. Gadis itu benar-benar menggodanya hingga sebuah kecupan di kening Afin berikan. Safa memejamkan matanya menikmati sesuatu yang hangat menempel di keningnya.


"Bang?"


"Hemm?" jawabnya sebelum melepaskan.


"Bagaimana dengan mereka yang menjadi tersangka kerusuhan kemarin?"


"Nggak usah pedulikan mereka. Biar mereka mendapatkan ganjaran atas apa yang di lakukan."


"Bang, boleh Safa minta sesuatu?"


"Boleh!"


"Safa mau, semua masalah di selesaikan dengan kekeluargaan. Abang cabut laporannya supaya mereka bebas."


"Nggak, Fa. Nggak mungkin aku bebaskan mereka begitu saja. Mereka harus mendapatkan apa yang sudah di perbuat. Biar jera..."


"Ya, tapi kasian. Kalau beberapa dari mereka merupakan seorang ibu bagaimana?"


"Ngapain peduli, Fa. Itu hidup mereka, kok. Kesalahannya sendiri. Ngapain ngabisin kuota internet demi buat mantengin kebusukan para artis. Sudah gitu mereka brutal tanpa mencari tahu lebih dulu."


"Kita nggak pernah tahu alasan mereka apa. Lagian Safa nggak menyalahkan orang-orang itu sepenuhnya. Belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Maka orang lain pun akan mudah memaafkan kesalahan kita."

__ADS_1


Afin tersenyum tipis. "Masalahnya nggak segampang itu, Fa. Mereka itu bukannya nggak tahu, tapi emang rata-rata nggak mau tahu. Karena yang mereka cari adalah publik figur yang mau di hujat. Harus terima di hancurkan. Tanpa berpikir bahwa publik figur beserta keluarganya juga manusia biasa. Jadi penjara adalah hal yang pas untuk memberikan efek jera pada pelaku anarkis."


"Harus, ya?"


"Harus, Fa! Itulah kenapa aku menyembunyikan kamu. Karena bakal jadi begini akhirnya. Kita itu nggak boleh terlalu memberikan hati pada orang. Memang sih, jutaan orang mengaku fans kita. Tapi kamu harus tahu, sebagian besar dari mereka adalah pembenci. Hanya segelintir saja orang-orang yang tulus menjadi pengagum kita."


Safa manggut-manggut. Ia memang tidak tahu dunia keartisan seperti apa.


"Hidupmu selama ini pasti nyaman sekali ya?"


"Maksudnya, Bang?"


"Ya, kamu mudah sekali memaafkan. Bahkan berpikir positif terhadap mereka yang sudah membuatmu sampai seperti ini. Aku hanya iri dengan sikapmu yang selalu positif itu."


Safa tersenyum. "Bukankah kita memang harus selalu berpikir positif pada siapapun?"


"Boleh, tapi waspada juga perlu." Afin mengusap kepala gadis yang masih tersenyum sambil mendongakkan sedikit kepalanya. Hingga kedua pasang mata itu saling mengunci untuk beberapa saat. "Aku malu padamu..." gumam Afin ditengah-tengah keheningan mereka berbagi cinta dalam diamnya.


"malu kenapa?" Safa menyentuh pipinya. Merasakan geli yang di akibatkan rambut di sekitar tulang rahang suaminya.


"Aku malu karena Kamu begitu taat. Sementara aku? Kita kaya nggak sebanding... kenapa kamu harus dapat aku yang seperti ini?"


"Semua mahluk dimata Allah sama, Bang. Yang penting hatinya. Tidak ada manusia suci di muka bumi ini. Aku juga punya kesalahan di masa lalu."


"Oh, ya? Kesalahan apa yang pernah kamu lakukan, memangnya? Aku rasa orang kaya kamu nggak mungkin punya dosa."


Safa tertawa lirih, sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. Karena tangan satunya masih berpegangan erat dengan Afin.


"Tentu aku punya dosa lah, Bang. Safa kan manusia biasa. Sama kaya Abang."


"Begitu ya...?"


"Iya. Manusia itu punya aib dan noda-noda lainnya. Baik yang secara terang-terangan dan dia tahu bahwa itu salah, ataupun yang tidak menyadarinya sama sekali. Hanya saja Allah maha menutupi aib-aib hambaNya."

__ADS_1


Afin mengangguk paham. "I love you, istriku. Kamu semakin membuatku kagum."


"MashaAllah..." gumam Safa yang merasa senang ketika mendapat pujian itu.


__ADS_2