
Pagi ini Ulum berdiri di depan teras utama gedung sekolah. Dekat dengan kantor guru. Mengamati para siswa dan siswi masuk guna menimba ilmu. Seorang kepala sekolah yang purna tugasnya belum genap lima tahun itu melamun. Sambil menggendong tangannya kebelakang.
Ia terus memikirkan, tentang pembicaraan antara dirinya dan Aida tadi malam. Masalah rumah yang mereka huni. Aida menyarankan, Ulum untuk tetap mendatangi Ustadz Irsyad agar semua jelas. Karena, selama ini Ustadz Irsyad tidak pernah memaparkan secara gamblang apakah rumah itu sudah dikhithbahkan sepenuhnya untuk dirinya dan Aida. Atau hanya sebatas menghuni seumur hidup.
Aida bahkan menuturkan, masalah rumah harus segera diselesaikan agar kedepannya tidak menjadi sengketa.
Tentang semua itu, tentu Ulum sudah memikirkan. Namun, bagaimana cara dia berbicara. Apakah akan sopan jika dia datang lalu membayar rumah itu lantas meminta surat tanah beserta bangunan yang masih ada di tangan Beliau. Apakah tidak saru ?
Dalam pemikirannya, ia khawatir akan menyinggung ustadz Irshad. Kalau-kalau di anggap sudah mampu dan dengan sombongnya mau membayar, bagaimana? Karena masalah tanah adalah hal sensitif. Jika seseorang tidak pernah menawarkan tanahnya untuk di jual maka seseorang pun tak berhak menawarnya.
Hembusan angin menyibak rambut laki-laki paruh baya dengan seragam dinas warna khaki itu. Berselang kemudian tersenyum sambil menyapa seorang guru pria yang mengajaknya berjabat tangan.
🌲🌲🌲
Pukul tiga sore, dimana mentari masih bersinar cukup terik. Hingga membuat kedua mata pria paruh baya yang baru mematikan mesin motornya itu menyipit.
Sampai saat ini, Ulum memang masih mengendarai sepeda motornya. Walau guru-guru lain sudah bergonta-ganti motor atau bahkan sampai membawa mobil mereka ke sekolah.
Sebenarnya, Ulum sendiri mampu membeli mobil dengan cara mencicil seperti guru lainnya. Namun, prinsip hidupnya yang menolak riba dalam bentuk apapun membuat Beliau hanya bisa membeli kebutuhan yang penting-penting saja.
Bahkan motor untuk isteri dan kedua Putrinya pun di beli dengan cara menabung. Jadi Ulum lebih memilih untuk menunda keinginan dengan cara menunggu uangnya terkumpul. Karena dengan seperti itu, mau sesulit apapun hidupnya akan tenang karena tak di kejar hutang.
Berlaku juga untuk Aida juga seluruh anggota keluarganya. Yang jika menginginkan apapun harus berusaha menabung sendiri. Dan apabila benar-benar penting seperti laptop dan sebagainya, barulah Ulum akan menambahkan.
Cklaaakkk...
Suara pintu yang terbuka, laki-laki dengan jenggot tipis dan rambut yang mulai memutih hampir seluruhnya itu tersenyum.
"Barakallah..." Irsyad berjalan tergopoh menghampiri Ulum.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pak Yai." Ulum gegas mendekat lalu meraih tangan kanan Irsyad. Menciumi beberapa kali sampai Irsyad harus menariknya sendiri.
"Walaikumsalam warahmatullah, hehehe... Monggo, Monggo." Sambil merangkul Ulum, Irsyad membawa adik iparnya itu masuk ke dalam rumah Beliau.
Di dalam ruangan yang rapi dan bersih. Ulum duduk dengan sopan di atas kursi yang mungkin baru beberapa bulan di beli. Karena terakhir Beliau ke sini. Kursinya belum di ganti.
"Monggo, ngunjuk.." Irsyad meletakkan satu cangkir kopi untuk Ulum. Sementara camilan memang selalu tersedia di atas meja. Juga air mineral yang tertata di wadah khusus minuman cup berbahan stainless steel.
"Njih, kyai." Ulum meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan. Berlaku amat sopan dengan kepala tertunduk.
"Gimana, gimana? Saya sempet kaget kamu tau-tau ngabarin mau kesini," tuturnya sambil membuka ketiga toples yang ada di meja. "Di makan, Lum."
"Iya, Kyai. Terima kasih..." Sebagai basa-basi, Ulum mengambil dua butir kacang telur dari dalam toples yang di sodorkan Ustadz Irshad lalu memakannya satu, mengunyah pelan, lantas menelannya. "Sebelumnya, terima kasih, Kyai selalu ingat untuk memberikan oleh-oleh setiap kali ke jakarta."
"Halah! Wong cuma bolu emprit sama getuk lindri, kok," jawabnya sambil terkekeh. Padahal yang Beliau berikan tidak hanya itu. Ada teh, kopi, gendar kering dan lain sebagainya. Termasuk yang di sebutkan tadi. "Keluarga sehat?" tanyanya.
"MashaAllah– pastilah saya doakan, keponakan Solehah. Semoga sehat semua... Ibu, dan si jabang bayi." Irsyad tersenyum.
Sekilas mengingat Safa. Beliau jadi merasa bersyukur. Duri-duri tajam dalam rumah tangga Safa dan Afin sudah mulai menghilang, dan akibat kabar yang beredar tentang masalah Arifin di media. Irsyad jadi paham, kenapa keponakannya sempat bertandang serta bertanya hukum meminta cerai.
Ulum menelan kacang telur yang kedua Serta menyesap satu kali kopinya. Pria itu kembali terdiam. Sambil mengusap-usap pahanya sendiri.
"Pie... adakah yang mengganjal pikiranmu?" tanya Beliau memancing. Karena Ulum tak pernah secanggung ini jika tidak ada hal yang amat penting untuk Beliau sampaikan.
Pria itu terkekeh sopan, "Anu, itu..."
"Opo? Ngomong aja. Ndak masalah. Bawa santai aja. Wong sama Kakak sendiri..." Irsyad memang benar-benar sudah menganggap Ulum sebagai adik. Bahkan berkali-kali, Beliau meminta Ulum untuk memanggil dirinya Mas. Sama seperti Aida.
Nyatanya hingga saat ini, Ulum tetap memanggilnya Ustadz atau sekarang Kyai. Hanya karena Beliau sang pengurus pondok pesantren besar di Magelang.
__ADS_1
"Sebelumnya Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Kyai."
"Ngomong aja belum udah minta maaf. Pie aku maafinnya coba? Wong kamu belum ngelakuin kesalahannya," kelakar Irsyad yang mencoba untuk mencairkan suasana. Walau tetap ditimpali tawa kaku Ulum.
"Ya, gimana lagi. Ini agak sensitif..."
"Emang kamu mau bahas politik?"
"Mboten, Kyai..."
"Ya udah. Santai aja, kaya ngomong sama presiden aja pake ana, anu. Bikin puyeng..." Irsyad mengambil keripik sale pisang di dalam toples lalu memakannya.
"Ini soal rumah yang saya tempati, Kyai," Ulum akhirnya membuka.
Irsyad pun mengangguk. Menunggu kelanjutannya.
"Pangapunten, nggak bermaksud sok mampu, Kyai. Soalnya, selama ini saya merasa nggak enak menempati rumah itu. Jadi kalau di izinkan, saya mau membayar tanah beserta bangunan yang saya tinggali itu. Dengan niat menghindari sengketa. Karena kita nggak pernah tahu, di masa depan akan seperti apa. keturunan-keturunan kita, Pak Kyai."
Irsyad terdiam. Nampak sedang memikirkan sesuatu. Tangan kirinya yang Beliau letakan pada sandaran di pinggir sofa menepuk-nepuk pelan. Sementara tatapannya lurus ke depan, sambil menyelesaikan gerakan mengunyahnya. Sedangkan tangan kanannya mengusap-usap di bawah. Membuang remahan yang menempel di kulit.
"Maaf, Kyai. Kalau saya saru bicara seperti ini." Ulum semakin tak enak hati karena diamnya Ustadz Irsyad. Walau lantas tawa renyah Irsyad terdengar.
"Sek... tunggu sebentar, ya." Beliau bangkit, dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan jejak kebingungan di wajah Ulum.
Kebetulan kondisi rumah sedang sepi. Karena Debby dan cucuk laki-lakinya sedang pergi dengan Ce Maryam. Sehingga suasana hening seolah semakin mencekaknya sendirian di ruang tamu.
Tak lama Beliau muncul lagi. Sambil membawa map berwarna merah. Kemudian di letakan di atas meja.
Jujur saja, saat ini Ulum semakin terlihat pucat. Ia khawatir menyinggung Sang Guru. Andai bisa dia memutar waktu. Lebih baik tidak usah mengatakan ini. Batinnya terus mengutuk, bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Seharusnya ia ikuti kata hatinya untuk tidak usah datang kesini.
__ADS_1