Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 90


__ADS_3

Esok paginya...


Arifin sudah duduk di gazebo rumah Ustadz Irsyad. Sengaja ia memilih tempat tersebut walau Irsyad sudah mengajaknya untuk masuk ke dalam saja. Namun Afin tetap meminta di luar karena suara gemericik air kolam ikan koi amat membawa ketenangan baginya. Sehingga surat-surat dalam ayat suci Al-Quran bisa ia setorkan dengan lancar karena pikiran yang jernih.


Di sanding mereka terdapat dua gelas teh manis, dan satu piring kue-tok isi kacang hijau yang baru saja di buat Debby tadi pagi.


Akhir-akhir ini, wanita itu memang gemar membuat konten memasak di channel YouTubenya sendiri. Tentunya tanpa memperlihatkan wajah dan suara. Sesuai syarat yang diminta suaminya agar hobinya bisa berjalan dengan lancar tanpa ceramah panjang atau mungkin wajah cemberut dari Rumi.


Lumayan, walau subscribers masih di bawah satu juta. Namun Debby bisa menyalurkan hobinya memasak sambil berbagi resep untuk teman-teman dari dunia maya. Dan, wanita itu biasanya akan mengambil waktu memasak di pagi hari atau malam. Saat dimana Rumi masih di rumah, jadi ia bisa membantunya menjaga putra semata wayang mereka selama ia mengerjakan proyeknya.


Kembali pada Afin yang baru saja selesai mencermati bedah kitab yang di bimbing langsung oleh KH. Irsyad Fadilah. Pun semakin merasakan hati menjadi lebih tenang.


"Sekarang udah paham, ya?"


"Lumayan lebih paham, Ustadz. Mudah-mudahan nggak lupa–" terkekeh.


"Yo, di baca lagi. Kan catatannya ada. Namanya ilmu harus terus di asah. Biar nggak kemana-mana."


"inshaAllah Ustadz."


"Monggo di habiskan tehnya. Atau mau di tambahin air panas lagi biar nggak dingin."


"Terima kasih, Ustadz. Ini udah cukup. Lagipula, habis dari sini saya mau langsung jemput Safa, buat ke acara wisudanya Qonniah."


"MashaAllah, iya saya lupa. Hari ini, ya?"


"Iya, Ustadz."


Ustadz Irsyad manggut-manggut sebelum menggigit kue buatan menantunya yang menurutnya benar-benar enak. Maklumlah, keturunan Chinese masakannya memang enak-enak. Apalagi soal kue-kue dan pastry. Debby benar-benar ahli. Makanya, tak jarang menantunya itu menerima pesanan kue tart dari rekan-rekan kerjanya dulu.

__ADS_1


"Ustadz, saya boleh tanya sesuatu?"


"Tafadhol..." Irsyad mempersilahkan.


"Apa orang seperti saya masih bisa seperti Ustadz?"


"Maksudnya, gimana? Tua kaya saya gini?"


"Bukan yang itu..." Afin terkekeh.


"Lah, wong kamu ngomongnya kurang jelas. Pengen kaya saya... ya tua, berarti. Lagian jangan di kepenginin. Ntar datang sendiri masanya," kelakar Irsyad.


"Apa saya bisa kaya Ustadz. Maksudnya jadi pria yang bisa menyebarkan ilmu saya? Sementara saya sendiri nggak ada keturunan Kyai, seperti Rumi contohnya."


Jujur saja, Afin memang sedikit iri dengan kefasihan Rumi dalam berilmu. Pria itu juga mulai sering berceramah di berbagai masjid saat dirinya libur bekerja. Dan yang pasti, Safa pernah mengagumi laki-laki itu karena agamanya. Jelas ia ingin seperti Rumi, bahkan kalau bisa lebih.


"Menyebarkan ilmu itu wajib. Jadi kenapa tanya 'apakah bisa?' tentu harus bisa."


"Hahaha..." Ustadz Irsyad menyesap teh manisnya yang sudah dingin. "Emang kamu taunya tentang 'Ustadz' itu gimana, sih? Pria suci yang nggak punya dosa?"


Afin menggeleng pelan. Khawatir salah merespon.


"Ustadz itu artinya guru, dan guru itu artinya punya ilmu, dan kalau punya ilmu itu harus di sebarkan. Perkara dia pendosa, mantan pendosa itu kan manusianya. Yang penting dalam hatimu dulu. Niatnya untuk apa? Kalau untuk menggurui orang lain atau untuk di pandang sebagai orang alim ya salah," jelasnya. Yang di tanggapi anggukan kepala Afin.


"Kamu tahu nggak ada tiga yang paling pertama masuk neraka?" Sambung Irsyad bertanya.


"Siapa itu ustadz?"


"Satu orang yang berjihad di jalan Allah, dua orang alim, tiga orang yang dermawan."

__ADS_1


"Kok?" Afin mengerutkan keningnya. Bukankah ketiganya itu amalan yang memasukkan orang ke surga?


"Kamu pikir mudah menjadi seorang yang memiliki kedudukan tiga tadi?" tanya Ustadz Irshad sementara Afin hanya tercenung memandangi wajah sepuh pria dihadapannya.


"Tapi jangan lantas menafsirkan bahwa orang yang taat malah justru masuk neraka. Konsepnya bukan seperti itu. Mereka-mereka adalah orang yang munafik. Kamu tau munafik kan?"


"Mereka yang akan di letakkan di kerak neraka bahkan Allah pun enggan memandang wajahnya," jawab Arifin lirih.


"MashaAllah, itu..." Ustadz Irsyad kembali menyesap air yang tinggal sedikit itu hingga tandas. "Satu, seorang mujahid dimasukkan ke neraka bukan karena jihadnya. Namun niat jihadnya, niatnya itu agar mendapatkan pujian dari orang-orang kalau dia ahli jihad. Yang kedua, orang alim. Makanya ulama-ulama seperti saya ini selalu berdoa, agar terhindar dari niatan yang buruk. Sebab, Allah maha tahu hati manusia yang bahkan malaikat pun nggak tahu. Di depan orang kita di anggap alim, di anggap Qori dalam segala ibadah padahal di belakang orang? kita biasa aja. Maka Allah akan melempar orang itu ke dalam neraka. Sama halnya dengan dermawan tapi munafik. Ia bersedekah bukan karena Allah. Ia sengaja gembor-gembor di depan umum agar tersohor kalau dia merupakan orang dermawan. Maka sedekah satu gunung emasnya itu tidak akan ternilai. Hilang seperti debu yang berterbangan. Makanya hati-hati dengan suatu niat yang kita kerjakan."


"Astaghfirullah al'azim..." gumam Afin


"Allah itu tahu, isi hati manusia. Jadi tidak perlu berpura-pura di hadapan Allah. Cukuplah terlihat biasa di hadapan khalayak namun luar biasa di hadapan Allah SWT."


"MashaAllah..." Pria di hadapan Ustadz Irshad tertegun.


"Jadilah diri sendiri, Nak Arifin. Tidak perlu memaksakan untuk menjadi orang lain. Masalah menyebarkan ilmu, bisa pelan-pelan. Yang penting tetap menjaga niat tetap bersih. Karena setan itu mahluk yang tak punya welas asih. Jika seseorang tidak bisa di goda untuk melakukan maksiat, maka ia akan di buat menjadi manusia yang taat namun rupanya memiliki sifat ujub. Nauzubillah.... ingat pesan saya ya, jangan pernah lupakan santapan qolbu untuk diri sendiri."


"MashaAllah, iya Ustadz. Terima kasih banyak atas ilmu yang sudah di berikan. Insyaallah akan saya amalkan pelan-pelan."


"Sama-sama. Sudah jam sembilan, acaranya jam berapa?"


"Katanya jam sepuluh, Tadz."


"Ya udah, monggo... semoga acara lancar. Salam untuk Qonniah, dan semuanya."


"Walaikumsalam warahmatullah. Baik Ustadz. Saya permisi, mohon pamit." Afin meraih tangan Irsyad dan mengecupnya.


"Monggo-monggo. Hati-hati di jalan."

__ADS_1


Afin mengucapkan salam sebelum melenggang pergi dari tempat tersebut. Tujuan utama adalah rumahnya sendiri, kemudian ke kampus tempat adiknya wisuda.


__ADS_2