
Di kamar...
Safa masih terjaga walaupun tubuhnya sudah sejak tadi tertutup kain selimut dengan pakaian terbaik yang dikenakannya. Gadis itu sudah bersiap sejak pukul sembilan tadi untuk melayani suaminya. Bukankah sebaik-baik istri adalah yang berusaha agar terlihat indah ketika di pandang suaminya. Dan Safa sudah berusaha sebaik mungkin menghiasi diri, kalau-kalau malam ini akan menjadi malam panjang mereka.
Namun, di antara waktu yang terus berdenting, tentunya rasa kantuk sudah sangat menyeretnya untuk segera terlelap. Safa justru masih terjaga, menunggu suaminya yang tak kunjung datang padanya.
Segalanya berubah menjadi kepedihan yang pelan-pelan menyayat hati. Ia memang belum sepenuhnya mencintai Arifin. Tapi, bukan seperti ini juga yang ia harapkan. Apa laki-laki itu tak sedikitpun berusaha mencairkan hubungan mereka berdua?
Safa mencoba untuk mengerti, toh baru dua malam. Tidak apa-apa, masih ada hari esok. Batinnya terus menenangkan ditengah bisikan liar yang terus mempengaruhi akal sehat.
Pukul 01:45
Afin masuk dengan perkiraan kalau istrinya sudah tidur. Dan saat pintu di buka Safa kembali membuka mata yang sempat terpejam. Ia beranjak duduk pelan-pelan berusaha untuk tersenyum dengan rambut yang sedikit berantakan.
"Abang udah selesai kerja?" Tanyanya dengan suara yang serak dan mata yang berair setelah berkali-kali menguap menahan kantuknya.
Kontan Afin tertegun melihat tubuh istrinya yang terbalut pakaian tidur itu.
Ya Allah, apa dia memakai itu untuk ku? Dia juga menunggu sampai se larut ini? –Arifin berjalan pelan mendekati ranjang.
"K–Kamu. Kamu kok belum tidur? Nunggu aku?" Tanyanya. Safa mengangguk pelan menyambut Suaminya yang kini duduk di sebelahnya. "Kenapa nungguin? Seharusnya tidur duluan aja. Hampir jam dua loh..."
Tangan Arif menyentuh kepalanya, membelai rambut panjang Safa yang lurus dan halus itu.
"Tadi hampir tidur. Tapi takut Abang membutuhkan Safa untuk melayani. Jadi ku tahan–"
Laki-laki itu semakin dibebani rasa bersalah. Matanya mengarah sendu pada wajah yang terlihat sudah sangat mengantuk itu.
"Aku nggak akan marah kok. Kalau sebenarnya kamu tidur duluan, Fa."
__ADS_1
"Iya sih, tapi aku kan belum tidur. Jadi?" Safa meraih tangan suaminya menggenggam itu dengan kedua tangannya sambil bergerak sedikit maju. Walaupun ia sangat gugup dan malu saat melakukan ini. Safa tetap berusaha menatap suaminya dengan senyum yang sedikit menggoda.
Arifin merasa jantungnya sekarang sangat berdebar sekali. Padahal selama ini ia biasa mendapatkan godaan dari wanita-wanita seksi. Namun berbeda jika itu dari Safa. Memang dia tak menujukkan sikap yang agresif seperti Camelia atau wanita-wanita lainnya yang bahkan pernah terang-terangan mengajaknya berzinah. Safa hanya duduk lebih menempel ke tubuhnya dan menggenggam tangan Afin di atas pangkuannya.
"Kita sholat yuk. Setelahnya Safa siap, melayani Bang Arif malam ini," tuturnya terlihat ceria. Pria di depan Safa memang sudah tergoda untuk langsung menerkam istrinya. Terlihat dari telinga dan wajah yang mulai memerah, darahnya juga sudah mulai panas.
Pelan-pelan, Arif melepaskan tangannya dari genggaman Safa. Hingga senyum gadis itu pelan-pelan meredup. Menggeser pandangan pada kedua tangan yang sudah tak lagi menggenggam.
"Udah terlalu malam, aku tahu kamu udah ngantuk, Fa. Aku juga capek." Pria itu menguap sambil memalingkan wajahnya dan beranjak dari sana.
Safa terdiam mendengarkan langkah kaki beralaskan sendal tidur tengah mondar-mandir di sekitar ranjang mereka. Seperti mematikan lampu dan terakhir masuk ke dalam kamar mandi.
Sejenak mata Safa mengembun ia menghela nafas sambil beristighfar. Setelah itu merebahkan tubuhnya lagi dengan pelan pada posisi miring. Bibir manisnya bergumam, membaca doa-doa sebelum tidur dan sekarang mencoba untuk memejamkan matanya. Menghapus pikiran-pikiran buruknya yang beranggapan jika sebenarnya Arif tidak menyukai dirinya.
***
Sepuluh hari sudah terlewati. Safa masih belum di sentuh oleh suaminya. Kini dia justru semakin terlihat murung dalam melakukan aktivitas sebagai guru tanpa keceriaan seperti biasanya.
"Ust, kenapa sih kok kayanya sekarang banyak ngelamun. Kaya dunianya jadi mendung gitu loh," celetuk seorang guru yang usianya sudah di atas empat puluh tahun.
Safa tersenyum tipis. "Ustadzah Handayani bisa aja. Siapa yang banyak ngelamun. Saya lagi banyak kerjaan aja. Bentar lagi anak-anak ulangan kenaikan kelas 'kan? Lebih ke itu sih... karena harus ngejar materi yang belum sempet di bahas."
"Owh, kirain lagi ada masalah. Soalnya biasanya nampak ceria."
"Enggak, Ust. Makasih atas perhatiannya. Saya permisi mau foto copy rangkuman soal di ruang TU. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah," jawabnya sambil membuka map di hadapannya.
Safa berjalan di koridor, sambil memeluk lembaran soal yang akan ia foto copy. Sesekali tersenyum pada anak murid ataupun rekan guru yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
Sampai di ruang TU, ia langsung meminta izin untuk memakai alat tersebut. Ia pun menekan-nekan tombolnya. Mengatur alat tersebut sebelum di gunakan.
Dan saat mesin sedang bekerja. Safa kembali terdiam. Sorot matanya terlihat kosong, memikirkan apa yang salah pada dirinya. Apakah ia harus menanyakan pada Arifin tentang apa yang ia suka?
Mungkinkah selama ini penampilannya terkesan kampungan. Itu sudah pasti, selama ini Safa kan memang terbiasa berpenampilan sederhana. Yang penting sopan dan Syar'i. Sementara Arif yang memiliki pekerjaan tak terlepas dari wanita-wanita muda segar dan berpenampilan menarik. Mungkin itu salah satunya alasan, Arif tak tergoda sama sekali padanya.
Apa mungkin Abang nggak suka dandananku atau rambut panjang ini? Karena kadang orang yang baru nikah suka memotong rambutnya. Di kalangan gadis-gadis muda juga sedang trend rambut pendek. –Safa menerka-nerka.
Seorang guru laki-laki terlihat menghentikan langkahnya di depan pintu TU. Sepertinya ia hendak menggunakan mesin fotocopy itu juga. Menunggu beberapa saat sampai mesin itu selesai mengcopy. Dan saat mesin berhenti Safa masih diam saja melamun. Pria itu pun berinisiatif mendekati.
"Assalamualaikum, Ust–" panggilnya hingga Safa tersadar.
"Walaikumsalam, Ustadz Musa," jawabnya sedikit terkejut.
"Ustazah udah selesai belum pakai mesinnya?"
"Oh?" Safa melihat alatnya sudah selesai mengcopy lalu menatanya. "Udah ustadz. Ustad Musa mau pakai juga?"
"Iya, Ust," jawabnya ramah. Mengamati sekilas gadis yang sedang menunduk sambil menata puluhan lembar hasil copy-nya.
"Silahkan, Ustadz–" Safa mempersilahkan.
"Tunggu Ustadzah Safa. Ini lembar aslinya belum diambil."
"Eh, Ya Allah... Saya lupa!"
Beliau membuka mesinnya setelah itu menyerahkan lembar aslinya pada Safa.
"Silahkan–" ucapnya ramah sambil menyodorkan kertas tadi.
__ADS_1
"Makasih Ustadz, saya permisi. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Ustadz Musa terdiam. Rupanya tak hanya para guru wanita yang mengamati perubahan sikap Safa semenjak menikah. Namun, ia juga. Dan berhubung ia tidak punya hak untuk ikut campur jadilah Beliau mengabaikan itu. Lantas fokus dengan tujuannya sambil mendoakan hidup gadis yang hampir ia lamar itu.