
Sehabis mengajar, Safa bergegas menuju rumah orang tuanya guna mengambil pesanan baju milik beberapa rekan guru.
Semenjak ada satu-dua orang yang menitipkan jahitan pada Safa, guru-guru lain lantas tertarik dengan hasil jahitan ibu Aida. Yang terbilang bagus dan rapih. Sehingga mereka kerap kali meminta tolong Safa atau mungkin meminta alamat orang tuanya langsung.
Seruan salam di gaungkan sebelum wanita berhijab itu menapaki kakinya di ambang pintu. Karena tidak ada jawaban namun pintu kaca bertuliskan Penjahit AIDA terbuka. Safa kemudian masuk begitu saja ke ruangan berukuran 11,15 meter persegi yang di penuhi alat-alat jahit, gulungan bahan, dan baju-baju siap pakai yang tergantung.
"Bu?" Panggilnya sambil menyusuri ruangan demi ruangan. Tak lama langkahnya terhenti saat mendengar langkah kaki menuruni tangga.
"Ya!" Seorang wanita dengan perawakan langsing itu menyahut dari ujung tangga paling atas. "Kamu, Fa...? Ibu kira siapa."
Wanita yang menunggu di bawah hanya tersenyum setelah mengucapkan salam susulan.
"Kok bisa ibu di atas tapi pintu tempat kerja ibu kebuka lebar."
"Ini juga mau tutup, kok. Tadi abis nengok Ayah sebentar. Sekarang mau ambilin makan, karena dia tiba-tiba nggak enak badan."
"Ayah sakit?" tanya Safa mendadak khawatir.
"Iya gitulah. Sehabis pulang dari Rumah Pade Irsyad mendadak demam. Sekarang lagi meringkuk di kasur."
"Emmm, ya udah Safa coba nengok Ayah dulu. Itu tolong, Bu. Pesanan temen Safa di siapin, ya. Nanti mau Safa bawa sekalian."
"Iya–" Aida mengangguk sementara Safa langsung melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan pintu. Ia melihat seorang pria paruh baya tengah tidur dalam posisi miring sementara seluruh bagian tubuhnya tertutupi selimut kecuali muka.
"Assalamualaikum, Yah." Safa mengetuk pelan pintu kamar yang terbuka.
"Walaikumsalam warahmatullah." Ulum membuka mata, dan mendapati Putri sulungnya sudah melangkah masuk. "Kamu datang, Nak? Sama Arifin? Aina mana?"
"Aina nggak ikut, Yah. Safa dateng sendiri sehabis ngajar," jawabnya sambil menghempaskan bokongnya ke permukaan kasur.
"Kamu baru pulang sampai se-sore ini?" Tanyanya lirih, seraya mengeluarkan tangan untuk menyambut uluran tangan puterinya. Kemudian perempuan bermata bening itu menyentuh kening Ayahnya, mengecek suhu yang memang benar-benar panas.
"Sebenarnya udah dari tadi. Tapi aku di ajak sebentar buat nengok kepala sekolah yang habis operasi kaki." Wanita dengan balutan seragam dinas itu berpindah posisi. Pelan-pelan memijat kaki Ayahnya. "Qadarullahnya pas mau pulang, di jalan ban motor Safa malah bocor. Alhasil, nambal dulu. Kalau nggak diamanahin buat ambil baju temen, mungkin Safa langsung pulang. Tapi, malah aku denger Ayah Sakit."
__ADS_1
Pria dengan jenggot tipis yang mulai muncul uban itu tersenyum tipis.
"Ayah udah berobat? Badan ayah panas banget."
"Ayah cuma masuk angin, Fa. Biasa, udah mulai menua jadi sering sakit."
"Makanya jangan kecapean. Ayah juga baru pulang, 'kan?"
"Ayah cuma mampir sebentar dari rumah Pade-mu."
Safa manggut-manggut, kedua tangannya masih bergerak memijat kedua kaki Ayahnya yang tertutup selimut.
"Ayahmu itu, sakit bukan karena kecapekan, Fa."
Aida yang masuk dengan membawa nampan makanan tiba-tiba nimbrung. Kontan, kedua pasang mata itu langsung beralih padanya yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Ayahmu sakit, karena stress. Banyak pikiran," sambungnya kemudian.
"Banyak pikiran? Memang Ayah lagi ada masalah?" Tanya Safa sebelum mengalihkan pandangannya lagi pada pria yang hanya diam saja.
"Ibu, ngomong apa, sih?" Ulum protes sambil memejamkan matanya. Adapun Aida hanya terkekeh, satu tangannya meranggai piring berisi nasi, tahu, dan tempe bacem. Memindahkan keatas pangkuan.
"Penyakit seorang Ayah, gimana maksudnya."
"Udah nggak usah di dengerin, Fa."
"Faktanya gitu kok." Aida menimpali dengan tawanya. "Kamu harus tahu, beberapa hari yang lalu keluarga dari calonnya Qonni dateng. Dan mereka minta untuk di majukan bulan nikahnya."
"Di majukan?" Kening Safa mengernyit.
"Iya! nggak sampai dua bulan lagi. Itulah yang bikin Ayah mu stress. Dia belum ikhlas, Qonni nikah."
"Ya Allah..., Ayah–" Safa tersenyum tipis. Adapun Ulum hanya geleng-geleng kepala.
"Sama kaya waktu kamu mau nikah. Ayah kan sempet sakit juga. Dan untuk Qonniah, kayanya lebih membuat Ayahmu terpukul." Aida tertawa.
__ADS_1
"MashaAllah, Ayah..., anak mau nikah kok malah terpukul?"
"Siapa yang terpukul. Suka ngarang itu ibu kamu." Bibirnya mendadak mengerucut, sementara ke-dua tangannya bersidekap, sambil memejamkan mata.
"Nggak mau ngaku Dia. Itu 'kan alasan terbesar, kenapa Ayah minta Harun buat sabar nunggu Qonniah ngabdi satu tahun?"
"Bener, Yah?" Tanya Safa.
"Nggak gitu. Ayah cuma mau Qonniah menikmati masa gadisnya dulu. Namanya nikah kan, ibadah terlama. Dia harus mendewasakan dirinya. Orang tidur aja masih suka di kelonin, kok."
Aida memajukan bibir bagian bawahnya sambil melirik kearah Safa. Wanita di depannya pun terkekeh.
"hari ini Ayahmu mendatangi Pade Irsyad untuk minta pendapat. Eh, malah kena semprot."
"Semprot apa sih? Siapa yang kena semprot?" Kembali membuka matanya.
"Itu tadi Ayah bilang, kalau Mas Irsyad sempat menegur Ayah yang minta waktu satu tahun?"
"Bukan negur." Ulum mendadak bangkit, merubah posisinya jadi duduk. "Cuma menyayangkan, kenapa harus di tunda. Karena pernikahan memang harus di segerakan. Apalagi dua-duanya udah saling suka."
"Ya intinya sama aja, to? Di tegur..." godanya sambil mencolek dagu yang berjenggot itu.
"Beda, Bu." Pria itu menujuk mulutnya sendiri. Kode minta di suapi. "Nasi di pangku terus, nanti dingin, lagi...!"
"Halaaach, halaaaach!" Wanita paruh baya di sisinya langsung menciduk kuah sayur bening bayam dari dalam mangkuk lain, sebelum disuapkan ke mulut suaminya. "Enak, to?"
"Seger, Bu. Yang banyak sini, sama nasinya sekalian."
"Iyo, Mbah Akung," godanya yang di sambut tatapan sinis Ulum. Aida lantas tertawa puas
Safa tersenyum, merasa senang melihat manjanya Sang Ayah jika sedang sakit. Sejenak ia melirik jam tangan yang sudah menujukkan pukul lima sore lebih lima belas menit.
"Aku keluar dulu, Yah. Mau ngabarin Bang Arif."
"Ya, kalau bisa Aina susulin ke sini aja. Ayah kangen nih pengen denger celotehan dia."
__ADS_1
Gadis itu menjawab dengan anggukan kepalanya setelah itu bangkit dan keluar dari kamar kedua orangtuanya.