
Hari-hari baru terus berdatangan. Bahkan tanpa terasa anak mereka kini sudah mulai memasuki usia sepuluh bulan.
Sepasang suami-isteri tersebut baru saja menyelesaikan sholat tahajud dan dzikir mereka. Sekarang keduanya nampak duduk bersila saling berhadapan. Sambil menunggu waktu subuh mereka melakukan sambung ayat surat Ar Rahman hingga selesai.
"MashaAllah, Abang." Safa merasa kagum saat melihat perubahan Arifin yang benar-benar jauh dari saat pertama kali mereka bertemu.
"Jangan puji aku, Fa. Aku takut jadi senang dan akhirnya berambisi melakukan amalan baik demi dapat pujian."
MashaAllah, Safa membatin. Ia mengangguk sambil tersenyum, meraih tangan kanan suaminya lalu mengecup dengan takzim.
"Selama ini aku pikir hidupku nggak akan bisa sampai di titik ini. Tapi aku bersyukur, walau iman ku naik turun. Kamu, selalu berhasil membawa aku kembali."
"Bukan aku, Bang. Tapi Allah..., karena segala kebaikan itu datang dari kemurahan-Nya. Jadi pujilah Allah dengan sebaik-baiknya pujian."
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar." Afin bergumam. Pria itu bahkan semakin memancarkan aura keimanan di wajahnya. Yang membuatnya semakin terlihat teduh.
Tak lama Adzan subuh berkumandang. Afin pun berpamitan ke masjid dekat rumah sambil berjalan kaki.
...----------------...
Beberapa orang berkumpul yang di dominasi jamaah laki-laki. Sambil menunggu imam mereka berpuji-pujian. Tak lama seorang muadzin bangkit dan langsung beriqamah tanda sholat akan segera di mulai.
"Mas Arifin. Bisa ya, jadi imam di masjid. Kebetulan Pak Ustadz lagi sakit."
"S–saya? Jadi imam?" Afin tergagap.
"Iya, saya denger-denger Mas Arif bisa ngaji kok."
"Kata siapa?" Afin bertanya. Karena selama ini tidak ada yang tahu kalau dia belajar agama dengan Ustadz Irsyad. Bahkan Safa sendiri pun tidak tahu.
"Kata siapa, ya? Kaya pernah dengar aja. Udah Mas, maju aja."
"Tapi?"
"Nggak papa... pasti bisa." Semua orang menyetujui Afin untuk menjadi imam di masjid tersebut.
Sejujurnya Afin ragu karena ini kali pertama dia menjadi imam masjid. Apakah tidak akan jadi masalah? Kalau bacaannya tidak tepat bagaimana?
Pikiran-pikiran buruk mulai meracuni isi kepalanya. Namun mau mundur bagaimana, ia sudah berdiri di mihrab masjid.
Ya Allah, gimana ini? Aku gugup sekali. Afin masih belum bertakbir. Sehingga bisik-bisik di belakang pun mulai terdengar.
Yakinlah niatmu karena Allah. Maka semuanya akan lancar. –kata-kata Ustadz Irsyad mendadak terlintas. Pria itu pun mengucapkan bismillah.
Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii –Afin membaca doa dalam hati. Setelah itu membaca niat dengan lisannya.
"Allaaaaaaahu Akbar!"
Dua reka'at subuh di jalankan dengan baik. Bacaan Qur'an yang mulus dan merdu, di tambah qunut yang tak terbata sedikitpun. Tak pelak membuatnya menitikkan air mata. Teringat dosa-dosa masa lalu yang pernah membuatnya takut untuk kembali. Dan hari ini ia berdiri sebagai imam untuk beberapa orang. Allah benar-benar maha baik, Allah hanya menilai orang dari amalan baiknya dimasa sekarang tanpa memandang keburukan hamba itu di masalalu.
Afin telah berhasil melaksanakan tugasnya sebagai imam. Ia juga memimpin dzikirnya juga, sebagai tambahan.
Belum cukup dengan semua itu. Mereka lantas meminta Afin untuk membawakan materi kuliah subuh. Adapun pria itu langsung mengangguk, menyanggupinya. Seperti kata Ustadz Irsyad. Ilmu itu harus di sebarkan, dengan niat berbagai petunjuk Allah.
__ADS_1
Sementara itu di rumah, Safa baru selesai berzikir. Seketika itu pula wanita itu tertegun, mendengar suara salam pembuka dari toa masjid. Ya, Ia amat hafal suara itu. Suara pria yang ia rindukan setiap harinya.
"Saya berbicara disini. Bukan sebagai manusia suci yang tak punya dosa. Saya bicara di sini, karena saya sendiri pun pelaku dosa yang mungkin lebih hina dari bapak dan ibu sekalian."
"Bang Arif?" Gumamnya, dengan tangan gemetaran memegangi tasbih. Bulir bening di salah satu matanya menetes dan terjatuh. Ia pun bangkit dan melangkah dengan cepat menuju balkon kamar.
Ia hanya ingin mendengar kajian yang di bawakan suaminya dari luar agar terdengar lebih jelas.
"Saya cuma mau berbagi satu hal. Bahwa sebesar apapun dosa kita? Jangan pernah lari...! Jangan pernah lari dari jalan pulang yang senantiasa terbuka lebar dari Rabb yang maha menerima taubat."
"Maka jika kita sakit karena dosa-dosa itu. Dimana orang-orang menjauh, dimana orang-orang mencaci, menghakimi..!" Afin menahan sejenak sambil mengedarkan pandangannya. "Kita harus ingat, kalau cinta Allah itu tidak akan pernah hilang. Bapak dan ibu sekalian."
"Manusia, jika kita punya sembilan puluh sembilan kebaikan, dan hanya satu keburukan. Maka yang terlihat yang satu itu. Tapi nggak untuk Allah. Hari ini kita maksiat, lantas bertaubat, Allah terima. Besok kita mengulangi kesalahan yang sama, kita bertaubat, Allah terima. Berpuluh-puluh kali bermaksiat lantas berpuluh-puluh kali taubat lagi dan berpuluh-puluh kali pula Allah terima."
"MashaAllah, Suamiku. Alhamdulillah–" Safa berkali-kali menitikkan air mata. Ia tidak pernah menyangka suaminya mampu bertausiyah. Bahkan di sisipkan ayat-ayat dengan bacaan yang nyaris sempurna.
...----------------...
"Assalamualaikum..." Afin membuka pintu kamar. Safa pun langsung menyambutnya dengan pelukan. Wanita yang masih menggunakan mukena itu menangis haru dalam pelukan Arifin.
"MashaAllah, Abang. Kuliah subuh yang indah."
"Benarkah?"
"Iya."
"MashaAllah, Alhamdulillah kalau begitu." Afin mengusap-usap punggung Safa.
"Yang menggerakkan lisan Abang itu Allah. Abang mah bisa apa tanpa Allah."
"Iya, Bang." Safa menaikan wajahnya, menghadap sang suami.
"Aku udah pantas kan buat kamu?"
"Pantas? Kenapa Abang ngomong gitu? Abang jelas selalu pantas buat aku."
"Nggak sebelum ini, Fa. Aku terus berusaha mengimbangi kamu. Karena jodoh adalah cerminan. Katanya, kalau pasangan kita terlalu baik, dan kita nggak seimbang untuknya maka kita nggak akan berjodoh lama."
"Nggak gitu juga, Bang. Aku juga masih perlu belajar kok. Tapi aku salut, Abang benar-benar mau belajar. Semoga ilmunya bermanfaat, dan segala amalan yang Abang lakukan bisa di terima Allah SWT."
"Aamiin...." Afin mengusap wajah istrinya. "Kamu udah mandi belum?"
"Udah lah. Sebelum subuh kan mandi dulu. Sunnahnya."
"Tapi aku gerah lagi."
"Maksudnya?"
Afin tersenyum jail sambil melepaskan pecinya sendiri dan juga sajadah yang berada di bahunya.
"Bang, tatapannya kok gitu?"
Afin tak menjawab selain mengangkat tubuh isterinya.
__ADS_1
"Kyaaaaaa! Abang mau apa?"
"Main air, yuk."
"Apa?"
"Bentar aja!"
"Nggaaak mau, Abaaaaang!" Suara Safa semakin menghilang sering pintu kamar mandi yang menutup.
Di dalam kamar mandi...
Afin menurunkan tubuh Safa yang masih terbalut mukena kemudian menyirami istrinya dengan shower air. Gelak tawa tak terelakan antara keduanya saat Safa turut membalas suaminya saat berhasil merebut shower dari tangan Arifin. Pria dengan Koko gamis itu nampak menghindari semburan air dengan lengannya.
Ya, pagi ini. Rasa bahagianya sangatlah membuncah. Ia merasa lebih merasakan ketenangan hidup yang jauh di banding kehidupannya di masa lalu.
"Udah, Fa! Faaa, ampun!" Afin terus berusaha menghindari semburan air yang di arahkan ke wajahnya sebagai balasan Safa. Hingga pria itu mampu meraih kedua tangan Safa lalu mendekapnya dan merebut shower itu kembali.
"Udah, beneran loh... kita kan nggak boleh banyak bercanda di dalam kamar mandi." Safa memohon. Khawatir suaminya kembali melakukan penyerangan.
Afin pun mengangguk. Karena yang di katakan isterinya benar. Ia langsung meletakkan kembali shower ke tempatnya. Setelah itu melepaskan pakaiannya yang sudah basah itu. Begitu pula dengan Safa yang lantas melepaskan mukenanya. Keduanya saling menatap, kemudian tersenyum.
"Ayo mandi lagi–" ledek Afin sambil menunjuk bilik shower.
Wanita dihadapannya nampak menghela nafas jengkel.
"Ayo mandi, sini ku bukain bajunya."
"Jangan, aku buka sendiri aja."
"Sama aja–" Afin melepaskan kancing baju istrinya lalu menanggalkannya. Setelah itu mereka melanjutkan mandinya berdua dalam satu bilik shower.
......................
Pagi yang masih panjang. Afin membawa keluarga kecilnya berjalan-jalan keliling komplek sambil mendorong stroller bayi. Udara yang masih sejuk memang baik untuk dihirup lebih-lebih lingkungan mereka tinggal cukup bersih dan nyaman.
Mereka menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir danau buatan. Yang sengaja di bangun untuk memperindah taman komplek ini. Memandangi air yang tenang dengan teratai yang mengambang di permukaan.
"Ternyata menjadi manusia yang tak di kenal orang banyak itu menyenangkan. Menjadi orang biasa dan hidup normal di tengah-tengah keluarga sambil mendalami agama adalah pilihan tepat. Apalagi memiliki isteri Solehah seperti kamu."
"MashaAllah, aku tak se-Solehah itu, Bang."
"Buat ku kamu Sholehah, Fa. Kamu terjaga, seperti pakaian mahal dalam etalase kaca. Aku bersyukur hanya aku yang memiliki kunci untuk membuka etalasenya."
Safa tersenyum. Kedua pipinya merona.
"Semoga Aina bisa mewarisi ketaatan seperti ibunya."
"Aamiin, ku harap lebih dari ku."
Afin tersenyum, mengamini. Ia lantas merengkuh pundak sang isteri. Sambil mensyukuri segala nikmat yang ia rasa saat ini. Semoga segalanya terus berjalan baik. Walaupun akan tetap datang ujian baru. Namun ia berharap, bisa menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
–Selebgram Insyaf untuk Si Solehah, Tamat!–
__ADS_1