Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 82


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Afin berhenti di depan lobby salah satu hotel. Tempat di adakannya resepsi pernikahan seorang teman sesama artis.


Acara yang di gelar secara meriah. Dengan di hadiri banyaknya tamu artis yang berpenampilan menarik.


Sebenarnya, sang pengantin sudah menikah di Bali dua Minggu yang lalu. Dan hari ini adalah resepsi kedua yang di selenggarakan di Jakarta.


Safa memegangi erat lengan Afin. Rasanya, entah mengapa ia merasa canggung saat memasuki ruangan yang di hias dengan pernak-pernik dominan warna tosca. Wanita berhijab Syar'i itu tak banyak menyapa, karena memang tak ada satupun dari mereka yang di kenal dekat olehnya. Hanya sebagian saja, itupun kebanyakan perempuan dan hanya sekedar menebar senyum lebih dulu saat mata mereka mengarah padanya.


Segala prosesi acara di langsungkan, dari yang adat sampai internasional. Semua di suguhkan dengan apik oleh WO yang bertanggung jawab atas acara ini.


Kini acara telah sampai pada sesi di persilahkannya para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang di siapkan. Sembari bergantian menemui pengantin demi mengucapkan selamat.


Sepasang suami-isteri dengan warna busana yang senada sedang berdiri di antara meja-meja prasmanan.


"Kamu mau yang mana? Biar aku aja yang antri." Afin mengusulkan sementara Safa masih bingung. Karena sepertinya semua menu nampak lezat.


"Itu apa, ya?" Menujuk salah satu stand makanan yang paling ramai.


"Kalau di liat kaya siomay Bandung."


"Wah, aku mau itu."


"Okay. Aku antri dulu. Kamu di sini aja, ya," tuturnya yang di iyakan oleh Safa sebelum Afin berlalu.


Wanita itu kembali mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Di sudut lain, ada beberapa tamu yang turut berjoget bersama penyanyi yang memang sudah di siapkan. Sebagian yang lain masih berada dalam deretan para tamu yang hendak bersalaman dengan kedua mempelai. Selain yang di stand makanan, sisanya menyebar ke berbagai sudut sambil menikmati makanan mereka.


Salah satu di antara orang-orang yang tak turut mengantri, ada yang nampak sedang memperhatikan Safa dengan tatapan yang entah apa. Wanita dengan rambut yang di tata lurus dengan poni menutupi seluruh bagian keningnya. Gadis dengan pakaian malam terbuka bernama Camelia menengguk minuman yang di sediakan untuk para tamu sebelum melangkah mendekati Safa.


"Hai–" sapanya pada perempuan berhijab yang kini memalingkan wajahnya menuju asal suara.


"Oh, Hai." Senyum manis Safa di tujukan pada Dia yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Gadis dengan balutan baju yang sedikit terbuka itu menatap dari atas kebawah. Menilai penampilan sederhana namun elegan seorang isteri Afin.


"Baru kali ini saya liat, Anda?" Tanyanya sebelum melirik kearah pria yang masih sibuk mengantri sambil bercengkerama dengan rekan sesama artis. Setelah itu kembali pada perempuan yang hanya tersenyum. "Kak Afin pasti sangat jarang membawa Anda ke segala acara yang ia hadiri."


"Iya, itu karena saya yang menolak, Mbak."


"Jangan panggil, Mbak. Saya rasa usia saya lebih muda..., jauh dari, Anda." Merasa tersinggung dengan panggilan Mbak yang di sematkan oleh wanita yang usianya berada enam tahun di bawah Safa, membuatnya sedikit protes.

__ADS_1


"Oh, maaf."


"Panggil aja Lia," potongnya. "Sesuai dengan panggilan yang sering orang-orang sebut. Atau Ia..., dulu itu menjadi panggilan sayang seorang Afin Anka."


Safa manggut-manggut. Ia kenal gadis di depannya adalah gadis yang pernah menjadi pacar setingan Afin. Hal itu pernah di ceritakan oleh Afin sendiri.


"Mbak beruntung sekali, ya. Bisa bersanding dengan Kak Afin, yang sah dalam catatan Negara. Bahkan, sedang mengandung ..., tapi itu anaknya Kak Afin, 'kan?" sambungnya.


"Astaghfirullah, maksudnya?" Safa mengucap istighfar dengan gumaman lirih namun bertanya maksudnya dengan intonasi lebih keras sedikit.


Gadis itu menyunggingkan separuh bibirnya. "Aku pikir Dia nggak suka perempuan. Aku sering loh, Mbak. Duduk di pangkuannya. Meraba apa saja yang seharusnya menjadikan laki-laki itu naik hasratnya."


Seperti di sengaja, Camelia ingin melihat ekspresi apa yang akan di tunjukkan seorang isteri yang kata orang Solehah itu. Sambil sesekali melirik kearah Afin. Mengecek situasi.


Bagaimanapun juga, Dia wanita. Pasti akan kesal mendengar ini dari mantan Sang suami. Batinnya melanjutkan.


"Apa untungnya Anda memberitahukan aib, Mbak sendiri?"


"Aib?" Gadis cantik dengan tubuh langsing itu menyeringai. "Aku cuma ingin tahu, kali aja nasib kita sama."


"Sama gimana, maksudnya?" Safa masih menanggapi dengan santai. Bahkan bibirnya masih sesekali tersenyum.


Safa geleng-geleng kepala. "Alhamdulillah, selama menjadi isteri Beliau. Dia banyak memperlakukan ku selayaknya seorang pria yang mencintai gadisnya."


Seolah paham pembicaraan Camelia itu menjurus kemana, Safa lantas menyanggah hal itu dengan tenang.


"Saya nggak mungkin melakukan pernikahan settingan dengan siapapun. Karena pernikahan itu sakral. Di saksikan semua orang yang datang. Bahkan Arsh Allah sampai bergetar manakala ijab qobul di gaungkan. Mempermainkan sebuah pernikahan, sama saja mempermainkan syariat Islam, Lia."


"Ya, ya ..., terserah, deh." Gadis itu merubah raut wajahnya dengan ekspresi malas saat mendengarkan. Seorang laki-laki memanggilnya sambil menepuk pundak. Gadis itu pun beralih mengabaikan Safa dan kembali asik berbicara dengan pemuda yang baru saja nimbrung di antara mereka.


Safa menghela nafas, tatkala dua orang itu berjalan sambil bergandengan tangan.


"Fa–" panggil Afin yang sudah berdiri di belakangnya. Perempuan itu kembali menoleh.


"Udah?"


"Ya, maaf lama. Tadi aku banyak ngobrol."


"Nggak papa, Bang," jawabnya sambil menerima piring kecil berisi Siomay. Sementara Afin melirik kearah gadis yang baru saja pergi dengan salah satu gamer ternama negara ini.

__ADS_1


"Dia tadi di sini?"


"Siapa?"


"Ia–"


Safa tersenyum. "Kenapa? Kangen sama si pemilik wajah yang makin imut itu?"


"Nggak, lah!" Sanggahnya spontan. "Cuma mau tanya, kayanya tadi Dia ngobrol sama kamu."


"Begitulah." Safa dan Arifin berjalan guna mencari tempat duduk.


"Dia ngomong apa aja?"


"Nggak ada kok, cuma sapaan aja."


"Nggak yakin deh, Dia cuma gitu aja? Aku paham karakter Dia."


"Cieee, yang masih paham karakternya," Safa menimpali dengan candaan. Setelah itu duduk saat menemukan kursi kosong.


"Faaa..., nggak gitu."


"Iya, Bang. Aku paham...." Safa mengambil potongan siomay ikan sebelum memindahkannya ke dalam mulut. "Dimakan..."


Afin diam saja. Memandangi wajah santai Safa yang sedang mengunyah pelan makanannya.


"Dia ngomong apa?" Mengulangi pertanyaannya. Dengan ekspresi penasaran, namun lebih dominan khawatir.


"Nggak ada yang di omongin, Bang."


"Jangan bohong."


Perempuan di sebelahnya tersenyum tipis. "Aku nggak bohong. Udahlah, toh aku nggak papa."


"Fa, jujur aja."


"Ya Allah... nanti aja aku cerita ya. Jangan disini."


Pria itu mengangguk, "aku sayang kamu, loh. Serius!"

__ADS_1


"Aku percaya itu, suamiku." Perempuan di sisi Afin tertawa sambil menutup mulutnya sendiri. Melihat suaminya sedang menyantap siomay dengan ogah-ogahan, sebab di hinggapi rasa penasaran.


__ADS_2