Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 38


__ADS_3

Selama di rumah Ustadz Irshad, Beliau tak banyak menanggapi, hanya sebagian yang masih masuk dalam ranahnya. Itupun sudah lebih dari cukup membuat batin Safa menjadi lebih baik.


Ya, karena memang begitulah adab mendengarkan curhatan orang. Belum lagi gadis itu tak banyak mengungkapkan apapun yang ia rasakan selama menjalani rumah tangga.


Safa istri yang Sholehah. Itu yang di tangkapnya. Sesakit apapun yang di rasakan gadis itu, sama sekali tidak keluar sedikitpun dari mulutnya keburukan Arifin. Ia tetap menjadi pakaian terbaik untuk Sang suami. Tentunya, Irsyad bangga dengan sikap putri sulung Fatkhul Qulum itu.


Beberapa menit menyampaikan uneg-uneg. Safa mulai dilingkupi kelegaan. Ia tak lagi merasa buntu, dan memilih untuk pulang sambil mempraktekkan ilmu yang iadapat.


Irsyad sempat memintanya untuk singgah lebih lama. Tapi karena Safa juga ingin berkunjung kerumah orang tuanya. Ia pun langsung berpamitan. Biarlah Beliau melanjutkan rencana untuk menemui Nuha dan cucu-cucunya.


Hari ini, Safa tidak hanya berkunjung, ia juga punya niatan untuk bermalam beberapa hari di rumah Ibu dan Ayah. Tak lupa ia juga mengirim pesan pada Afin. Karena mau bagaimanapun juga, tidaklah baik bagi seorang wanita yang sudah menikah, pergi dari rumah tanpa izin suaminya. Ia tetap menghargai Afin yang masih berstatus suami baginya. Dan laki-laki itu menanggapi dengan cara yang baik-baik pula.


(Nggak papa, Fa. Aku mengizinkan... Hati-hati, ya) begitulah kira-kira pesan balasan darinya.


Ia masih tak habis pikir. Bagaimana mungkin, pria manis yang mulai menduduki singgasana hatinya justru adalah pria yang seperti itu. Safa tak terima dengan fakta yang ada. Bagaimana caranya untuk melanjutkan cinta ini? Dan bagaimana caranya untuk lari... kakinya sudah betah menapaki areanya dengan Afin. Ini tidak adil, baru saja memulai cinta namun sudah terpatahkan.


Wanita paruh baya yang sedang memakai mesin jahitnya terlihat senang, saat mendapati motor matic milik putrinya memasuki pekarangan rumah.


"Assalamualaikum, Bu–" gadis itu menyapa dengan salam sebelum turun dari atas motornya.


"Walaikumsalam warahmatullah. Loh, kamu baru pulang langsung kesini, Nduk?" Tanyanya, menyambut kedatangan Safa dari dalam rumah. Pekerjaan yang hampir selesai membuat ia merasa tanggung jika harus berhenti sejenak.


"Iya, Bu." Gadis di luar mengambil barang-barangnya yang menggantung di bagian depan, sebelum membawa serta masuk ke dalam rumah sederhana yang penuh dengan kenangan.


Belum juga raganya memasuki pintu, suara mesin yang bekerja sudah kembali berdengung. Menggaungkan kesederhanaan yang biasa ia nikmati dulu, sebelum pindah ke rumah besar milik Afin. Dan memang, biasanya di bulan-bulan ini, ibu akan sibuk dengan banyaknya jahitan.


"Jahitan lagi banyak ya, Bu?" Tanya Safa sambil mengulurkan tangannya minta salaman. Aida menghentikan sejenak hanya untuk menjabat tangan putrinya itu.


"Lumayan, bentar lagi udah mulai liburan sekolah. Beberapa anak-anak yang mau masuk SMP dan SMA udah mulai masukin bahan mereka untuk di jahit disini."


"Alhamdulillah, tapi Ibu pasti lembur lebih malam dari biasanya. Sekarang 'kan nggak ada Safa. Nggak ada yang bantuin pegang mesin obras."


Aida menepuk pelan lengan anaknya itu sambil tertawa. "Tenang, tetap masih ada dua pegawai Ibu. Ayah sama Qonni– Ayah udah mulai jago megang mesin obras. Jadi dia akan dapat dua bagian, potong bahan sama obras. Qonni juga udah rajin setrikain baju pelanggan loh!"


Ibu sengaja bersuara lebih keras agar sampai ke kamar Qonni.


"Dih, Qonni nggak mau begadang kalau cuma sendirian. Nggak asik!" Suara Qonni yang tiba-tiba menyahut dari dalam membuat keduanya tertawa.


"Kamu nggak kuliah, Dek?" Seru Safa tanpa menghampiri adiknya yang mungkin sedang sibuk di dalam kamarnya sendiri.


"Sudah pulang, Mbak. Hari ini nggak banyak kok mapelnya."


"Owh..." Safa membawa tas berukuran sedang kedalam kamarnya. Dan itu membuat Aida baru menyadarinya.


"Kamu bawa tas sebesar itu, Nduk? Mau nginep agak lamaan?" Tanyanya. Safa terdiam sejenak sambil meletakkan tas travel berwarna ungu di atas kasur.


"Iya, Bu. Hanya beberapa hari," jawabnya kemudian. Karena posisi kamar yang amat dekat dengan ruang tamu, mereka masih bisa mengobrol walau ada di ruangan yang berbeda.

__ADS_1


"Udah izin suami kamu, belum?"


"Udah, kok. Beliau mengizinkan aku nginep beberapa hari disini." Safa meremas tali tasnya.


"Dia pasti sibuk ke luar kota ya?"


"Iya–" jawab Safa pelan. Padahal sejatinya tidak juga. Memang sih, Afin sedang ke luar kota namun sorenya pasti sudah kembali.


"Begitu, ya?" Aida kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara Safa terdiam pada posisi duduk.


Kalau aku memutuskan berpisah, alasan apa yang akan aku sampaikan pada Ibu, Ayah, dan Bunda?


Gadis itu tak kunjung menemukan cara untuk menyampaikan alasan sampai benar-benar masuk akal. Karena ia juga tidak mau mereka sedih.


"Nduk, udah makan belum? Kalau belum, makan gih! Ibu masak sayur lodeh kentang."


"Iya, Bu," jawabnya.


Gadis itu menghela nafas. Mengusap mata yang kembali berkaca-kaca. Seolah semua bayangan pahit menari-nari di kepalanya.


Padahal Ia pulang ke rumah ini untuk membuang pikiran yang selama beberapa hari terakhir mengganggunya. Tentu, Safa harus berusaha bahagia tanpa membawa masalahnya turut serta ke sini.


Gadis itu keluar kamar, ia benar-benar merindukan masakan Ibu. Semoga ia bisa makan lebih banyak dari yang bisa ia makan di rumah Afin.


🍃 🍃 🍃


Afin terus-terusan melamun. Seolah tak ada gairah untuknya melakukan pekerjaan apapun. Jika saja ia belum tanda tangan kontrak. Mungkin akan memilih untuk mengurung diri di kamar selama berhari-hari.


Tangan kirinya nampak memijat kening, sementara tangan satunya memegangi benda pipih dengan layar yang sedang menunjukkan foto istrinya. Gambar yang ia ambil diam-diam di setiap kali ada kesempatan untuk memotret.


Dan dari puluhan foto, ada beberapa yang paling ia suka. Termasuk yang satu ini. Ada segenggaman rindu yang tak bisa tersampaikan. Serta segudang kasih yang sebenarnya ingin ia berikan.


Safa, aku rindu... Batin Arifin menjerit tanpa tahu bagaimana menyelesaikan semuanya. Ia hanya bisa pasrah menanti keputusannya.


"Bro, ada pesen nih dari yang punya PH. Dia minta Lu lebih ekspresif lagi di Sekmen kedua. Disini Lu ngeluarin dialog agak banyakan ya. Jangan jadi pasif!" Seorang dari pihak rumah produksi menyampaikan keluhannya pada Afin.


"Sorry, kayanya Gua emang lagi kecapekan. Setelah ini gua akan totalitas deh."


"Iya deh. Dan satu lagi nih, nanti 'kan bakal ada bintang tamu tambahan. Jadi Lu bakal di pertemukan dengannya."


"Talent baru? Kok nggak di bahas di awal? Siapa dia?"


"Camelia."


"Hah! Serius? Kok nggak ada di skrip kalau dia bakal datang. Satu frame lagi sama gua?"


"Lah, asisten Lu nggak baca mendetail sampai bawah? Kalau sewaktu-waktu ada perubahan. Maka talent akan menyetujui itu.... karena memang kita akan kasih kejutan di salah satu sesinya nanti."

__ADS_1


"Sialan, Si Biyan kenapa nggak teliti sih?" Gumamnya kesal.


"Lagian yang lagi rame kan itu... terus yang punya PH mau bikin gebrakan. Yaitu mempertemukan Lu dan Camelia. Ntar kalian berdua akan di wawancarai sama Host Rumah Kunang. Awal keretakan hubungan kalian. Tapi, disini mereka mau, Lu masih menunjukkan kesan penyesalan karena udah mengkhianati dia dan menikah sebab perjodohan orang tua. Nanti tatap dia saat si Lia lagi bicara, ya."


"Gila! Lu mau gua bohongin publik? itu sih nggak fair! Kenapa harus ada adegan kaya gitu. Kalau di film wajar, ini reality show! semua terkesan nyata. Lagipula Gua nikah itu beneran bukan bohongan. Kalau kaya gini gua bisa nyakitin istri dan keluarga dari istri Gua."


"Sorry. Ini udah kemauan atasan. Dan lagi kami juga udah dapat persetujuan manager Lu."


"Bang Mario? nggak mungkin dia asal taken kontrak kaya gini."


"Bukan Bang Mario lah, tapi Bang Brody..."


"Bro–Brody?"


"Iya..."


"Kok bisa dia sih? Manager gua kan udah ganti, Bang."


"Lah, mana gua tau. Gua cuma sutradara... Intinya semua udah di tandatangani. Honor juga udah dibayar di muka."


"Ya Allah..." Lirihnya.


"Ya udah, gua nggak mau tahu sih. Lu udah dapet honornya. Sekarang tinggal kerjain kewajiban Lu sebagai talent yang bertanggung jawab." Pria itu menepuk bahu Afin dua kali sambil bangkit dan melenggang pergi.


"Duh, Si Biyaaaaan!" Ia pun turut beranjak menemui Biyan yang berdiri tak jauh dari posisinya.


"Eh, Yan! Siapa yang tanda tangan kontrak di acara ini?"


"Emmm, bukannya Kak Afin sendiri."


"Gua?" Sorot matanya menajam, menahan kesal. "Sejak kapan Gua tanda tangan kontrak gua sendiri? Semua itu di tangan manager yang udah di cek sama Lu selaku asisten gua!"


"I–itu? Mungkin Om Mario."


"Bang Mario dari dua hari ini nggak bisa di hubungin, Yan! Yang ambil kontrak ini Si Brody!"


"Apa?"


"Gimana sih, Lu?"


"Maaf, kayanya gua kecolongan, Kak."


"Yan, Lu...!"


"Maaf Kak. Beneran, dah! Gua pikir Kak Afin yang ambil sendiri. Makanya saya nggak baca skrip sampai akhir."


"Ck!" Afin mendorong tubuh Abiyan. Dan dorongan itu tidaklah keras. Hanya sebagai tanda kekecewaan saja.

__ADS_1


Di acara ini, bakal banyak banget pertanyaan menjebak nih pasti. Gimana ini?


__ADS_2