Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 28


__ADS_3

Harum nafas Safa tercium ketika jarak dirinya semakin dekat. Membuat Arifin yang sebelumnya menduga ini adalah sebuah mimpi langsung tersadar. Gadis yang ada dalam kungkungannya memang benar-benar Safa.


Afin menghentikan gerakan lambatnya. Walau Safa sudah memejamkan mata serapat mungkin, dengan kedua tangan mencengkeram lengan suaminya erat.


Jujur saja, gadis itu belum siap jika harus bersentuhan bibir sekarang. Namun, ia juga tidak berani menolaknya. Karena apa yang ada pada tubuhnya sudah haknya Afin. Dan apapun yang akan pria itu lakukan sudahlah sah asal tidak menyakitinya.


Pria itu terdiam. Sebelum beralih ke kening Safa yang semakin lemas karenanya. Jantungnya benar-benar berdebar. Apa suaminya akan mengajak dia berjima pagi ini? Tapi, sudah masuk waktu subuh. Safa masih bergeming kaku di tempatnya.


"Kamu boleh buka mata. Aku nggak ngapa-ngapain, kok," ujarnya sambil tersenyum tipis melihat wajah Safa. Gadis itu membuka matanya perlahan. "Kamu pasti kaget?"


"S–sedikit. Lain kali, jangan melakukan aksi tiba-tiba," jawabnya lirih. Yang membuat Arifin mengangguk sambil merubah posisinya.


Suara adzan masih terdengar walau hanya dari satu, dua masjid. Pria itu menghela nafas lega. Ia hampir melanggar janjinya sendiri tadi. Sekarang gadis di sebelahnya sedang melepaskan mukena.


"Kok di lepas?" Tanya Arif heran.


"Wudhu ku batal, Bang. Karena tadi–"


"Masa sih, cium aja batal?"


"Tetap batal. Karena aku adalah wanita yang halal kamu nikahi. Menurut Mazhab Syafi'i. Lagipula, aku yakin tadi mengandung pembukaan jima."


"Jima? Apa itu jima?"


"Istilah yang di pakai, untuk menggambarkan hubungan suami-isteri."


Arifin manggut-manggut. Karena ia baru tahu sih sebenarnya.


"Aku ke kamar mandi dulu. Setelahnya menunggu Abang."


"Iya, Fa," jawabnya masih dalam posisi duduk. Gadis itu pun bergerak pelan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Omong-omong, tadi Bang Arif panggil aku apa? Guz? – Safa tidak ingat. Julukan apa yang di ucapkan Suaminya tadi. Karena itu sangat asing terdengar.


Selesai mengambil air wudhu, Safa menunggu Arif yang juga sedang membersihkan dirinya serta mengganti pakaian dengan yang bersih.


Dan saat Safa hendak bersiap pria itu langsung mengambil sajadah lain. Dan meletakkannya di belakang sajadah yang sudah di gelar Safa, kemudian berdiri di atasnya. Safa yang bingung hanya bisa terdiam.


"Ayo sholat–" ajaknya.


"Tunggu! Abang kok, dibelakang Safa?"


"Bacaan ku masih buruk, Fa. Udah mending kamu aja yang di depan."


"Eh–" gadis itu merasa heran. Sebelum kemudian tertawa aneh. "Aku perempuan, Bang. Mana ada perempuan jadi imamnya laki-laki?"


"Nggak papa, aku ngijinin, kok."

__ADS_1


"Allahu Rabbi!" Safa tertawa. Ia merasa ini benar-benar konyol. "Nggak ada aturannya Bang. Karena yang seharusnya jadi imam itu laki-laki."


"Tapi bukannya perempuan boleh jadi imam??"


"Iya kalau jama'ahnya perempuan semua, Bang. Kalau kaya kita gini ya nggak boleh."


"Terus gimana? Aku cuma hafal Annas, Al Falaq, Al ikhlas," jawabnya bernada sedikit murung. Safa pun tersenyum tipis.


"Nggak papa, nanti Abang tambah lagi hafalan surat pendeknya. Yang penting Abang hafal surat Alfatihah, 'kan?"


"Iya," jawabnya pelan. Ia benar-benar merasa malu sekali. Belum lagi saat Safa bergeser mempersilahkan dia untuk menjadi imam shalatnya.


Afin menelan ludah. Dengan gerakan lambat ia berjalan maju. Berpindah ke sajadah yang ada di depannya.


"Kamu yakin? Bacaan ku masih banyak salahnya, loh. Satu lagi, aku juga nggak hafal doa yang sebelum gerakan sujud."


"Nggak papa, Bang. Kunut bisa pake bacaan Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar. Dan kata seorang ulama itu sah. Ayo! Latihan–" Pintanya sambil melangkah dan berdiri di belakang pria itu.


Afin yang merasa gugup mencoba mengingat niat sholat yang di baca imam. Bismillah... Arif membacanya perlahan tanpa suara.


"Allaaaaaaaaaahu Akbaaaaar!" Suara Arifin terdengar serak dan gemetar. Safaa yang mendengar itu merasa senang kemudian turut bertakbir.


Ini kali pertama Arifin menjadi imam sholat untuk seseorang yang sudah halal untuknya. Perasaan takut, senang, bercampur bangga. Semua menjadi satu. Hingga salam di ucapkan. Pria itu berhasil. Ia pun langsung menoleh kebelakang sambil tersenyum haru.


"Aku bisa, Fa–" ucapnya saking senangnya.


"Alhamdulillah, Bang." Safa meraih tangan Arifin setelah itu menciumnya. Pria itu menghembuskan nafasnya pelan.


"Enggak, kok. Udah bagus..," jawabnya sebelum beranjak. Gadis itu mengambil dua buah Al Qur'an sebelum menghampiri Suaminya lagi. "Abang bisa baca Al Qur'an?" tanya Safa kemudian.


"Aku pernah ngaji, hanya sampai juz lima. Itu pun saat aku SMP."


"Berarti Abang udah bisa baca sedikit?"


"Iya."


"Kita baca sama-sama dari juz satu lagi. Okay?"


"Iya, Fa." Bersemangat, pria itu langsung membuka mushafnya dari belakang.


"Abang salah. Al Qur'an itu nggak kaya buku. Bukanya dari kanan," tuturnya sambil tertawa.


"Astaghfirullah–"


"Nggak papa. Yuk, di mulai dari berta'afudz, kemudian basmalah..."


Di waktu pagi itu. Keduanya mengaji bersama. Walau terdengar sangat kesulitan dan terkesan melelahkan. Arifin tetap berusaha bertahan, membaca ayat demi ayat hingga dua surat sudah terbaca. Safa sengaja tak melanjutkan hingga ke Al Baqarah. Karena melihat kemampuan Suaminya juga. Ya, inilah awal untuknya. Menjadi istri seorang Afin Anka. Laki-laki yang ilmu agamanya sangat nol sekali. Ia juga harus bersabar dengan semuanya. Dan berharap kedepannya akan menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


***


Pukul 08:58


Beberapa orang yang menjadi tim kerja Arifin tiba. Kantor pribadinya ada di lantai satu, berada tepat di sebelah rumah besarnya. Tempat itu memang sengaja di buat untuk studio pengambilan gambar, juga sebagai gudang penyimpanan barang-barang endorse.


Seperti hari ini. Mereka bersiap dengan kamera dan lain sebagainya. Diantaranya membawa masuk barang endorse yang baru saja tiba.


Safa memandang kesibukan itu dari kejauhan. Karena isinya rata-rata laki-laki. Jadi ia tidak berani mendekati.


Suaminya terlihat sedang mempersiapkan diri, walaupun ini masih terlalu dini untuk kembali bekerjaan setelah sehari sebelumnya menikah.


Gelak tawa terdengar keras di lantai satu, mereka-mereka mulai melakukan briefing sebelum memulai pengambilan gambar.


"Kak, ini beneran skripnya mau di ganti? Padahal udah keren kita mau pake talent wanita." Tanya Biyan memastikan.


"Iya. Gua ubah karena dalam skrip itu gua harus mangku seorang cewek seksi. Nggak deh!"


"Tapi ini permintaan Om Brody."


"Dia udah bukan manager gua lagi."


"Hah?!" Biyan menatap bingung. Tiba-tiba?


"Alan! Mana skrip barunya sini–" panggilnya pada seorang crew yang lain. Pria dengan topi bundar warna abu-abu langsung mendekati, dan menyerahkan naskahnya.


"Ini, Bang."


"Coba, Lu baca." Menyerahkan kertas itu pada asistennya.


Abiyan meraihnya lalu membaca. Setelah itu menghela nafas. "Udah bagus yang sebelumnya, Kak. Kak Afin jalan setelah nyemprotin parfumnya. Terus di ikutin dua talent cewek."


"Ck! Nggak-nggak! Gua udah nggak mau ambil style, hot lagi."


"Yaaaah, Kak."


"Haram, Yan. Haram!"


"Haram apaan sih, Kak. Orang biasanya juga gini."


"Pokoknya haram, deket-deket sama yang bukan muhrim." Pria itu menepuk pelan bahu Abiyan. "Yuk, semuanya, mulai kerja!" Serunya kemudian sambil berjalan menuju titik pengambilan gambar.


"Beberapa bulan terakhir kelakuan dia diluar nalar. Dari yang tiba-tiba sholat lima waktu. Ampe nggak mau deket-deket sama cewek seksi. Apa otaknya geser pas di rehabilitasi, ya?"


Di tengah keheranannya, Pria itu menoleh ke arah jam dua belas dari posisinya berdiri. Nampak bayangan gadis berhijab seperti baru saja masuk dengan terburu-buru.


"Eh, itu tadi apaan, ya? Orang 'kan, tadi?" Biyan terus menatap kearah pintu. Seharusnya Biyan tahu kalau Arifin sudah menikah. Sudah tentu yang dia liat adalah istrinya. Tapi yah, mungkin dia lupa.

__ADS_1


"Woy! Biyan! Buruan...!" Teriak Arifin memanggilnya. Laki-laki itu pun garuk-garuk kepala, sebelum putar arah menuju taman samping rumah.


Safa yang masih menyandar di balik tembok nampak terdiam memikirkan sesuatu. Setelahnya memilih untuk masuk ke lantai dua.


__ADS_2