Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 6


__ADS_3

Pelan-pelan Aida mengetuk pintu kamar Safa, dan berdiri di depan pintu karena kamar putrinya tidak tertutup rapat.


"Assalamualaikum, ibu boleh masuk?" tanya Aida lirih.


Gadis yang tengah duduk di depan komputernya menoleh.


"Walaikumsalam. Boleh, Bu. Masuk aja," jawab Safa. Wanita paruh baya itu pun masuk sambil menutup rapat pintu kamar Safa. Berjalan pelan lebih mendekat lantas berdiri di sisi anak gadisnya.


Sorot matanya tertuju pada layar komputer yang menyala, namun hanya menayangkan latar monitornya saja.


"Kamu baik-baik aja, kan?"


"Safa baik. Emang ada yang salah, Bu?"


"Nggak, ibu cuma khawatir."


Gadis di sisi Aida, yang masih pada posisinya duduk tanpa melakukan apapun itu hanya menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di perut sang ibu.


"Ada sebuah kisah dalam kehidupanku yang tidak bisa ku terima alurnya, Bu....," gumam Safa yang kembali menitikkan air matanya. Lembut tangan Aida mengusap kepala putri sulungnya itu. "Dia yang ku harapkan untuk menjadi imamku, rupanya tak berkenan denganku."


Aida melebarkan sedikit matanya saat mendengar pengakuan putrinya itu.


"Tapi itu bukan salahnya. Itu salah Safa... yang sudah dengan lancang menaruh hati lebih dulu." Gadis itu tak bisa menahan isak tangisnya.


Tangan kanan Aida terkepal kuat. Seolah memori masa lalu kembali di putar. Wajah ustadz Irshad saat masih muda dulu, pun terpampang jelas dalam ingatannya.


"Apa alasannya, saat menolakmu?" Tanya Aida. Safa sendiri sempat terdiam sejenak lalu menjawab pelan.


"Tidak ada alasan. Hanya kami memang tidak jodoh, Bu."


Aida bergeming, tangannya kembali mengusap lembut kepala Safa.


–––


Selang beberapa menit setelah mengobrol dari hati kehati, Aida memutuskan untuk keluar. Lantas menghampiri Ulum yang sedang menonton acara olahraga di televisi.

__ADS_1


"Mas tahu apa yang di alami Safa?" Tanya Aida sambil menyeka air matanya. Pria paruh paya itu terdiam. "Apa ini alasan Mas kemarin ajak Safa keluar beli sate?"


Pertanyaan itu di jawab dengan anggukan kepala dari suaminya.


"Ck! Mereka itu benar-benar ya? Seenaknya saja mempermainkan hati orang lain."


"Siapa yang mempermainkan. Kita juga awalnya nggak ada niat untuk menjodohkan anak, bukan? Nggak boleh begitu, Bu. Lagi pula, Kita nggak tahu apa alasan pasti Rumi menolaknya."


"Alasannya udah jelas! Rumi itu pemilih!! Seleranya tinggi, bukan orang rendahan yang hidup keluarganya selalu di bantu oleh orang tua dia, seperti safa!!!" Aida yang tersulut emosi terus saja berbicara lantang. Menghujat keluarga Ustadz Irsyad.


"Istighfar, Bu! Istighfar!" Ulum berusaha untuk meredam suara sang istri. Beliau lantas mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Tidak ingin pembicaraan ini terdengar sampai ke luar.


Safa yang ada di dalam kamar hanya terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata. Ada sedikit penyesalan, kenapa ia harus berbicara pada ibunya. Walau sebenarnya sudah di saringnya, dan hanya memberitahu sedikit dari apa yang terjadi. Ia tidak mau masalahnya menjadi lebih ruwet lagi. Jika ia tahu, Rumi berubah pikiran semenjak melihat perubahan Debby di rumah ini.


...


Di dalam kamar, mereka kembali berbicara soal Rumi dan Safa.


"Mas kenapa, sih. Sukanya membela keluarga Mas Irsyad? Sampai-sampai mengesampingkan perasaan anak sendiri?" ujar Aida.


"Aku tahu, tapi apa Mas nggak mikir? Kalau mereka itu sudah mempermainkan keluarga kita?"


"Mas nggak menangkap itu. Justru terlihat sekali, ustadz Irsyad menyesalinya."


"Ck! Susah sekali bicara sama orang yang terikat utang budi. Keluarga kita memang kesannya pengemis sekali ya. Jadi kaya nggak pantes di hargai."


"Aida! Jangan bilang begitu."


"Faktanya demikian, Mas. Mas selalu ngajak aku dan anak-anak ke rumah Ustadz Irsyad buat bantu-bantu. Hanya karena merasa kita punya hutang budi. Dan semua itu berlangsung selama puluhan tahun. Lantas sekarang kalau aku kecewa, apa nggak boleh, Mas?!"


"Kenapa masalahnya jadi merembet kesana?" Tanya Ulum dengan sedikit penekanan. "Sekarang Mas tanya. Apakah mereka pernah memperlakukan kita dengan buruk?"


Aida terdiam, melihat kedua mata Ulum yang memerah membuatnya tidak berani membantah lagi.


"Jangan hanya karena satu kesalahan. Maka meluruhkan seluruh kebaikannya! Lagipun, apa yang Mas lakukan hanya sebagai tanda terima kasih. Keluarga Ustadz Irsyad tidak pernah menyuruh kita untuk balas budi. Dan sebagai orang yang berakal, seharusnya mau membantu apapun sebisa kita sebagai tanda terima kasih tanpa di minta. Intinya, mas hanya ingin kita merasa sadar diri atas kebaikan orang lain, Aida."

__ADS_1


Shafa yang masih bisa mendengar suara orang tuanya tengah bertikai kecil pun keluar kamar. Lantas mendekati pintu kamar orang tuanya. Gadis itu hanya bisa termenung sembari menyandarkan punggungnya ke dinding. Kedua tanganya saling meremas di depan dada. Air matanya pun mengalir tanpa tahu cara menghentikannya.


"Tolong pahami situsnya, seharusnya kamu sebagai ibu itu lebih bijak. Hibur anakmu, bukan malah memetik api di ladang yang kering. Ngerti, nggak?!"


Aida masih menunduk dengan air mata berderai-derai. Hatinya benar-benar turut merasakan sakit. Ia merasa, ini semua tidak adil untuknya. Seharusnya sudah cukup Ustadz Irsyad yang telah mematahkan hatinya di masa lalu. Sekarang kenapa putranya pula, turut meninggalkan jejak luka di hati putri sulungnya?


Ulum bergeming, bibirnya terus bergumam istigfar sementara hatinya sudah bergemuruh menahan emosi yang sejatinya sudah sangat ingin meluap-luap. Hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mereka.


Cklaaaaaak... tiba-tiba pintu terbuka. Shafa yang masih di sana kelabakan sendiri.


"Safa?" Panggil Ulum.


"Ayah, ma—maaf. Shafa nggak bermaksud menguping." Gadis itu mengangguk sekali sebelum melenggang pergi dengan kaki yang terasa lemas.


"Nak!" Ulum yang menatap kasihan memanggilnya dengan suara yang lembut. Gadis itu pun menghentikan langkahnya, terdiam.


"Kamu putri ayah yang cantik jelita. Nggak ada yang salah dengan akhlakmu. Bagi Ayah, kamu sudah cukup baik untuk terpilih. Jadi, jangan pernah pundung hanya karena ini. Percayalah, tidak dipilihnya kamu bukan karena kamu kurang Shalihah. Namun, karena Allah tidak menuliskan namanya sebagai pendamping hidupmu. Dan Ayah percaya, kamu akan mendapatkan yang terbaik, bagi Allah untukmu."


Mendengar kata-kata itu, kedua mata Shafa mengerjap. Bulir-bulir bening pun semakin mengalir deras di kedua pipinya.


Ulum yang mendengar isak tangis sang putri lantas mendekat, lalu merengkuhnya. Hingga gadis itu tak kuasa untuk mengatakan apa-apa lagi. Semua seolah sudah terwakili dengan tumpahnya air mata yang ia hujani dalam pelukan cinta pertamanya dalam hidup. Yaitu Ayah Ulum.


"Ayah menyayangimu. Ayah masih ingin melihatmu menjadi wanita muslimah yang hebat. Kamu mau menunjukannya pada Ayah?" Ujarnya yang jawab dengan anggukan kepala Shafa.


Sementara itu, Aida yang keluar dari dalam kamarnya kembali menangis melihat sang anak yang sedang di peluk ayahnya sambil sesenggukan.


Mas akan menikahimu, Aida!


Maaf, semua yang Mas katakan kemarin adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya Mas mengatakan itu padamu.


Kata-kata Irsyad terdahulu seolah terngiang-ngiang. Menabuh kembali gong kebencian yang sebenarnya sudah menghilang.


Kenapa di dunia ini ada laki-laki seperti mereka. Yang mudah menabur bubuk luka. Namun hanya menyematkan kata maaf tanpa mau tahu, betapa lamanya memulihkan luka yang mengakar di hati? Karena sebuah harapan palsu.


Aida mengepalkan tangannya kuat. Membayangkan wajah alim Ustadz Irsyad dan Rumi yang benar-benar membuatnya berang.

__ADS_1


__ADS_2