
"Ambil ini, Lum," ucapnya dengan raut wajah tetap sumringah.
"Kyai... Saya minta maaf. Saya salah, saya nggak sopan..." Kontan Ulum langsung menurunkan tubuhnya.
"Eh, enggak... opo Iki?" Irsyad buru-buru menahan Ulum yang hendak bersimpuh di bawah kakinya. "Bangun. Jangan kaya gini..."
"Tapi saya salah, Kyai."
"Ndak... ndak...." Irsyad menepuk-nepuk bahu Ulum. "Gini, ya. Sebenarnya aku juga yang salah. Rumah yang kamu huni itu emang udah benar-benar saya berikan padamu dan Aida. Jadi kalian itu nggak perlu bayar. Hanya saja, saya lupa. Nggak langsung ngasih surat tanah ini pada kalian. Untungnya masih ada, Lum..."
Beliau mengambil map yang sudah berdebu itu. Lantas menyerahkannya pada Ulum. Pria yang di sodorkan map hanya tercenung.
"Ambil, ini..." Kembali Irsyad menyuruhnya. Ulum pun menerimanya dengan hati-hati. "Udah ambil, ndak usah bayar. Itu hak mu dan Aida. Sesuai yang saya katakan dulu, rumah itu hadiah pernikahanmu dan Aida. Saya dan almarhumah Rahma ikhlas, Lum."
"Allah...!" pria itu mengusap sudut matanya yang basa. "Tapi, Kyai. Saya bener mau bayar kok."
"Eleh...! Walau kamu sekarang punya tabungan banyak. Tapi saya masih mampu menyerahkan tanah itu buat kamu sama Aida. Ambil-ambil... bocah iki, segala mau bayar tanah dan bangunan segala. Nek uang mu banyak. Bangun masjid aja sana!"
Ulum terkekeh walaupun dengan mata berkaca-kaca.
"Allahu Akbar, Kyai... ini seriusan?"
"Di kiramu kakek senior ini mau nipu calon kakek baru juga?" Candanya yang justru memecah tawa Ulum.
"MashaAllah–" Ulum langsung meraih tangan Irsyad. Menciumnya beberapa kali.
"Sak jane aku abis makan ikan peda sama sambel terasi, loh. Nggak kebauan apa?"
__ADS_1
"Nggak, Kyai." Ulum menanggapi.
"Serius?"
"Serius!"
"Nyoooh cium lagi." Irsyad menyodorkan tangannya lagi. Walau sepersekian detik langsung di tariknya saat Ulum beneran hendak mencium tangan Beliau lagi. Mereka pun tertawa bersama.
Sekarang hatinya benar-benar senang sekaligus lega. Ia bahkan sampai berkali-kali bertanya untuk memastikan. Hingga pukulan di bahu ia dapatkan dari Irsyad. Mereka lantas berbincang kesana kemari. Urusan balik nama, sudah di serahkan pada Ulum. Dan Irsyad pun hanya menunggu, jika sewaktu-waktu di butuhkan tanda tangannya.
🌸🌸🌸
Di dalam kamar, Qonni terus melamun sejak membaca pesan dari Harun kemarin malam yang mengajaknya untuk berta'aruf padahal ia sendiri belum melangsungkan sidang kelulusan. Tapi Harun sepertinya sudah benar-benar serius ingin menikahi Dia.
Sejujurnya ada keraguan yang terbetik di hati Qonni. Karena menurutnya ini terlalu terburu-buru. Tapi kalau kata Mutia, Harun memang sudah sangat ingin menikah. Sebab, sang ibu yang sudah sepuh, hingga memintanya untuk buru-buru mencari istri. Dan yang baru Qonni ketahui, Harun itu merupakan anak terakhir dari enam bersaudara.
Demi meyakinkan Qonni, Harun beberapa kali mengajaknya untuk berbicara langsung dengan di dampingi teman masing-masing. Agar tak menimbulkan fitnah.
Namun Qonni menolak karena walau gadis itu terkenal cukup pecicilan. Dia termasuk tipe perempuan yang paling tidak bisa berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.
Tiiiiiiiing...
Satu pesan Chat masuk. Lagi-lagi dari Ilyas. Laki-laki yang tak begitu di sukai Qonni. Ya, setiap orang memiliki selera untuk memilih pasangannya. Termasuk juga Qonni. Padahal sejatinya Ilyas tidaklah buruk.
Ilyas, dia manis. Dengan kulit yang tak terlalu terang. Matanya lebih sipit ketimbang Harun. Dan terlihat sedikit tidak fokus jika di lihat dari kacamata tebalnya. Laki-laki itu tentunya memiliki darah Jawa, walau tak pernah menetap di Jawa Tengah sejak lahir. Ilyas juga termasuk taat, karena ia juga penghafal Al-Qur'an walau tak sebanyak hafalan Harun.
Sementara Harun memiliki kulit putih bersih dengan mata sedikit sipit yang manis. Seperti wajah-wajah oriental walau tak memiliki darah Chinese. Dia asli orang Cisarua Bogor. Yang berdomisili di Jakarta.
__ADS_1
Intinya mereka berdua memiliki ciri khasnya masing-masing. Yang sama-sama menarik menurut Qonni. Hanya saja, kecenderungannya lebih pada Harun.
[Assalamualaikum, Dek. Gimana baterai laptopnya, cocok?]
Sebuah pesan basa-basi yang membutuhkan keberanian tinggi saat hendak mengirimkannya. Akhirnya di terima Qonni. Lebih-lebih, salamnya kemarin tak di tanggapi gadis itu. Hingga tak ada pilihan, Qonni pun membalasnya.
[Alhamdulillah, cocok, Mas. Agak awet juga. Makasih, udah di pilihkan yang bagus.]
Di seberang, seorang laki-laki yang baru saja melaksanakan sholat magrib yang di lanjutkan tilawah satu juz itu tersenyum. Posisinya yang sedang jongkok di kursi terus fokus berkirim pesan.
[Syukurlah, Mas pikir nggak cocok. Mau Mas anterin yang baru niatnya. Emmm... Omong-omong. Mas boleh ke rumah, nggak? Walau hanya ngobrol sama Bapak.]
Dari balasan itu, Qonni bergeming. Ia tak lagi membalasnya. Baginya, Ilyas tak berubah. Terkesan agresif dan selalu berusaha untuk bisa bertemu dan dekat dengan orangtuanya. Sehingga Qonni tak begitu suka jika berlama-lama bicara dengan sang mantan kakak tingkatnya itu.
Satu pesan susulan muncul. Setelah hampir setengah jam, Qonni hanya membuka balasan Ilyas.
[Maaf, Dek. Kalau kamu merasa gimana. Mas nggak ada maksud, kok. Hanya ingin lebih dekat saja dengan Pak Fatkhul Qulum.]
Qonni pun hanya membalas dengan stiker gambar wanita berhijab. Yang ada tulisan (Santai saja) sambil menunjukkan ibu jarinya.
Pria berambut ikal dengan kupluk masih terpasang di kepala tersenyum kecut. Kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Punggungnya menyandar. Sambil menurunkan kedua kaki. Ia menatap langit-langit kamar.
"Ya Allah, sulitnya mendapatkan ciptaanmu itu. Padahal niatku baik. Tapi bagaimana cara aku menyampaikan niat baik ini. Kalau dia sendiri selalu menghindar."
Rasanya sudah hampir putus asa, namun ia tetap pantang menyerah dengan giat melambungkan harapannya sampai mampu mengetuk pintu langit. Karena ia paham, meminta langsung pada Sang pemilik hati adalah
Di sisi lain, Harun yang baru saja menyelesaikan tilawahnya. Langsung mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Mengharapkan jawaban terbaik dari gadis yang akan ia halalkan itu.
__ADS_1