
Dalam kamar hotel...
Di bawah selimut yang hangat, Safa berbaring dalam posisi tengkurap di atas ranjang. Sembari melangsungkan panggilan video bersama Ibu Ayattul dari Tab milik Arifin.
"Bagaimana kondisi kalian di sana, Nak?" Tanya Bu Ayattul dari sebrang.
"Alhamdulillah. Baik, Bunda. Kami bahkan udah ketemu Paman dan Bibi yang ada di sini."
"Oh, ya? Apa kabar mereka?"
"Mereka juga baik, Bun." Safa menjawab apa adanya.
"Syukurlah kalau begitu."
Tak lama Arifin keluar dari toilet dan langsung berjalan menghampiri Safa. Masuk ke dalam selimut juga.
"Bunda apa kabar? Bunda udah makan?" Tanya Afin.
Melihat anak laki-lakinya terlihat lebih ceria, Bu Ayattul merasa bersyukur.
"Alhamdulillah, baik. Bunda juga udah makan Fin. Emmm, Selama di sana kalian jaga kesehatan. Jangan padatkan jadwal untuk perjalanan jauh. Suhu di sana pasti sedang dingin 'kan?"
"Iya Bun, lumayan. Kami juga tetep minum vitamin kok."
"Syukurlah kalau begitu. Ya udah, kalian istirahat. Jangan tidur terlalu malam, ya. Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam warahmatullah." Keduanya menjawab dengan bersamaan. Layar di hadapan mereka berubah menjadi tampilan utama. Pria itu menoleh, kemudian mencium pipi Safa dua kali.
"Bunda tadi kok kaya lemes, ya? Apa Beliau kurang sehat?" Tanya Safa. Yang langsung mendapatkan pelukan di pinggangnya.
"Bunda cuma capek, Fa. Kerjaannya kan banyak. Sering lembur juga."
"Emmm, ku harap begitu." Safa beranjak duduk di ikut Afin yang juga turut bangkit. Ia meletakkan tab ke atas nakas. Kemudian membuka laci, mengeluarkan tas kecilnya.
"Kita belum minum vitamin hari ini." Afin mengeluarkan satu botol obat kemudian mengeluarkan dua kapsulnya yang akan mereka konsumsi. "Buka mulutnya...," Pintanya kemudian yang dituruti Safa.
Satu kapsul dengan ukuran sedang masuk ke dalam mulut Safa. Kemudian di dorong masuk oleh air mineral yang di sodorkan setelahnya.
Hal yang sama di lakukan Afin. Ia mengkonsumsi vitaminnya juga sebagai daya tahan tubuh. Sebuah helaan nafas terdengar setelah laki-laki itu meletakkan gelas.
"Sekarang apa?" Tanyanya dengan mimik wajah menggoda. Sebab melihat istrinya melepaskan bergo instan yang ia kenakan tadi.
"Apa, apanya? Tidur Bang."
__ADS_1
"Iya kamu benar. Tidur sambil memproduksi..." Afin tertawa manakala melihat kedua mata Safa yang melebar itu.
"Jangan bercanda..." Rengeknya sambil mencubit pinggang Afin. Laki-laki itu kontan menggeliat sambil tertawa.
"Nggak-nggak... ampun! ampun! Sakit."
"Ya udah ayo tidur aja, kasih aku satu malam untuk libur."
"Kan emang kita lagi libur.... Liburan sambil produksi...." iseng mematikan lampu tidur Arifin menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
***
Pagi menyapa, setelah berlalu satu hari lagi.
Selesai sholat subuh mereka langsung bersiap-siap berangkat ke airport. Sebelum menuju lokasi penginapan baru yang paling dekat dengan tempat yang akan mereka tuju. Yaitu wilayah Cappadocia.
Beberapa barang sudah tertata rapi sejak kemarin mereka memutuskan satu hari tidak keluar hotel demi mengistirahatkan tubuh. Mobil sewaan pula akan tiba sekitar satu jam lagi.
"Kita sarapan dulu, yuk," ajak Afin sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sebuah troli khusus koper di dorong Afin menuju lift. Dan setelah turun mereka meletakkan koper-koper itu di penitipan barang. Sebelum lanjut masuk kedalam restoran yang sudah di sediakan.
Menu breakfast lumayan bervariasi. Semua hangat dan menggugah selera. Mungkin karena lidah yang sudah mulai terbiasa. Safa mulai bisa memilih sendiri makanan mana yang menjadi favoritnya di sini.
"Kamu jadi suka Kofte?" Goda Afin setelah duduk di kursinya.
"Iya ini enak kaya bakso. Cuman, dagingnya lebih kerasa. Bismillah..." Safa menggigit ujung Kofte sedikit besar. "Emmmm, ada nasinya di dalam."
"Oh... Kadınbudu Köfte. Di dalam udah plus karbohidrat. Ada kentang dan nasi, ini pakai daging domba."
"Oooh.. Abang kok tahu banget soal makanan disini?"
"Ya sebenarnya nggak cuma di sini aja. Di negara manapun aku pasti akan tanya-tanya dulu sebelum memesan. Kita kan muslim, jadi harus paham komposisi makanan yang akan kita konsumsi. Makanya nggak sedikit aku pasti paham bahan dasarnya."
"Emmm..." Manggut-manggut. Ia memakan kentang gorengnya juga setelahnya.
Hingga beberapa menit kemudian. Safa mengusap perutnya yang terasa kenyang setelah duduk di dalam mobil sewaan yang akan membawa mereka ke bandara sebelum melakukan perjalanan udara ke Cappadocia.
"Aku banyak makan selama disini–"
"Nggak papa. Itu justru bagus, kamu akan pulang keindonesiaan dengan berat badan yang bertambah."
"MashaAllah –" Safa terkekeh dengan harapan dalam hati, hubungan mereka akan selalu baik-baik saja setelah ini. "Tapi jangan protes kalau aku jadi ibu-ibu gemuk ya..."
__ADS_1
"Hahaha, enggak lah. Buat apa aku protes. Malah bagus. Makanya jangan pernah berpikir untuk diet-dietan. Aku nggak mau istriku menyiksa diri. Karena aku menaruh harapan lebih padamu. Jadi tetaplah sehat ya. Dan hiduplah lebih lama di sisiku."
"Abang, bicaranya udah kaya punya firasat kalau aku bakal pergi ninggalin Abang," cibirnya tidak serius yang memetik kebisuan tiba-tiba dari laki-laki itu.
Afin termenung, sorot matanya terus tertuju ke istrinya untuk beberapa saat. Wanita berhijab itu adalah bidadarinya yang amat ia cintai sekarang. Seulas senyum terlihat darinya kemudian sebelum mencium kening Safa, setelah itu menoleh ke sisi jendela mobil yang berembun.
🏔️🏔️🏔️
Lama perjalanan dari Istambul ke Cappadocia sampai dua jam perjalan udara. Akan semakin lama jika menggunakan jalur darat, itulah alasan Afin memilih jalur udara.
Baru saja Safa tiba di salah satu hotel gua yang mengagumkan. Di sekelilingnya di penuhi panorama alam yang berbeda dari yang sering ia lihat di Indonesia.
Wanita itu tidak pernah menyangka, apalagi membayangkan sedikitpun akan menjadi bagian dari orang-orang beruntung yang berkesempatan mengunjungi tempat impian beberapa orang di belahan dunia manapun.
"Gimana? Suka tempatnya?" Tanya Afin. Kedua tangan bertopang pada pembatas besi di hadapan mereka.
Angin berhembus kencang mempermainkan rambutnya. Menoleh ke sisi kanan, tempat Safa berdiri. Wanita itu mengusap air mata yang tiba-tiba membasahi pipi saking terharunya. Kalimat tauhid masih terus terbaca dari gerakan bibir wanita berhijab syar'i itu.
"Kamu kenapa? Ada yang salah ya?" Afin merasa khawatir.
"Enggak, Bang. Aku hanya bahagia. Demi apapun, tempat ini luar biasa."
"Akan lebih luar biasa besok pagi. Kamu akan melihatnya– keajaiban yang lebih indah daripada ini." Afin mengusap sisi samping dekat ekor mata Safa. Menyeka kristal bening kebahagiaan istrinya.
–––
Kembali bertemu esok hari.
Seperti yang di katakan Afin. Fenomena alam yang semakin sempurna, sunrise yang indah bercampur balon-balon udara yang mulai mengudara satu persatu.
"MashaAllah –" gumamnya, sebelum menerima kecupan lembut di pipi. Arifin memeluknya dari belakang.
"Kita akan menjadi salah satu. Dari orang-orang yang menaiki balon udara itu."
Safa menoleh. "Sekarang?"
"Ya. Kita siap-siap. Karena kita dapat giliran sekitar dua jam lagi."
"Ya Allah..." Safa menutup mulutnya dengan kedua tangan tak percaya.
"Guzelim!" Afin memanggil Safa yang masih membeku memandangi langit yang belum tersinari mentari sepenuhnya. "Ayo! kita nggak punya banyak waktu loh."
"Ya, Bang." Safa melangkah masuk kembali ke dalam kamar mereka. Guna bersiap untuk menikmati pengalaman luar biasa di atas balon udara tersebut.
__ADS_1