
Beberapa menit berlalu, saat Ayah dan ibu pulang dari masjid. Safa dan Aida langsung menyiapkan untuk makan malam. Adapun Qonni yang baru pulang dari rumah temannya sigap langsung menghampiri kakak dan ibunya di dapur.
"Aku ngapain, nih?" Tanya Qonni semangat. Sambil menongolkan kepala di tengah-tengah Ibu dan kakak perempuannya.
"Udah mandi, belum?" Aida yang sedang menumis udang dan buncis menanggapi.
"Udah lah. Aku kan pergi jam setengah lima, udah jelas sebelum ke rumah Mutia aku mandi dulu, Bu," protesnya. Sementara yang di sana tertawa.
"Dek, bikin sambel bawang aja, sana," pinta Safa yang sedang menggoreng tempe mendoan. Lauk andalan yang harus ada di rumah itu.
Tadi ayah sempat membantu membuat bumbu dan adonan tepungnya. Urusan menggoreng biar mereka. Karena hari ini mendadak ada tamu, di mana salah satunya adalah ahli waris dari sang pemilik rumah sebelah.
Qonni yang sudah tahu apa tugasnya langsung menyiapkan cobek dan ulekan. Membuka lemari pendingin hanya untuk mengambil cabai rawit hijau yang sudah di buang tangkainya. Dan beberapa bawang yang sudah di kupas bersih. Jadi tinggal pakai saja.
Tiga wanita beda usia sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mengolah makan malam yang istimewa di rumah sederhana itu.
Sementara kita beralih pada Ulum yang tercenung ketika sang notaris menyerahkan surat balik nama. Pria paruh baya itu terkejut, karena tiba-tiba menantunya membayar rumah sebelah untuk dirinya.
"Nak, ini maksudnya gimana?" bisik Ulum pada Afin di sisinya. Pria itu pun tersenyum.
"Ya ini rumah untuk Ayah sama Ibu," jawabnya enteng.
"Tapi, Ayah kan udah ada rumah ini."
"Nggak papa, Afin punya rencana setelah ini. Yang penting Ayah tanda tangan aja dulu."
Ulum menelan ludah. Ia merasa tak enak hati. Ingin rasanya menolak. Tapi melihat sang ahli waris nampak berbinar karena rumahnya laku merasa tak enak jika dia tiba-tiba menolaknya.
"Mari Pak, tanda tangan disini." Sang notaris kembali meminta. Pelan-pelan tangan pria paruh baya itu membuka tutup penanya. Sebelum mengguratkan tanda tangan Beliau.
"Alhamdulillah β" beberapa yang di sana mengucap syukur.
"Baik, muamalah kita selesai. Tingga menunggu surat atas nama Bapak Fatkhul Qulum selesai," kata Pak Notaris.
"Saya ucapkan terima kasih, Pak Ulum, dan Mas Arifin sudah bersedia membeli rumah orang tua Saya."
"Sama-sama, Pak," jawabnya sambil tersenyum.
Setelah tiga orang itu berpamitan pulang. Ulum kembali menanyakan alasan menantunya itu membeli rumah di sebelah. Namun, belum sempat di jawab Safa sudah keluar lebih dulu memastikan tamu sudah tidak ada. Barulah ia meminta Ayah dan suaminya masuk untuk makan bersama.
Ruang makan sederhana yang masih menyatu dengan dapur itu memang terbilang sangat sempit. Belum lagi dengan adanya dua lemari kaca tempat menyimpan perabotan dapur. Membuat kursi makan jika sudah di keluarkan seluruhnya akan membuat ruang itu semakin memenuhi sempit.
Seperti biasa, Afin terlihat lahap saat makan di rumah orang tua Safa. Masakan ibu Aida memang enak, ia mengakui itu. Bahkan kalau boleh jujur, lebih enak masakan Beliau daripada Bundanya. Namun, Afin tetap menyukai keduanya. Tanpa bermaksud membandingkan. Terlebih lagi masakan ini di olah bersama Safa. Dan itu membuat rasanya terkesan lebih sempurna walau tampak sederhana menunya.
__ADS_1
Selepas menyantap hidangan. Ayah kembali bicara perihal tamu tadi. Serta rumah sebelah yang sudah berganti nama kepemilikan. Bu Aida sempat terkejut. Ia tidak menyangka Afin membeli rumah itu untuk mereka. Ia pun menanyakan alasannya, sebuah pertanyaan yang belum sempat di jawab Afin.
"Sebelumnya, Arif minta maaf karena nggak ngomong dulu. Karena, beli rumah itu jodoh-jodohan kalau kata orang. Takutnya, kalau Arif ngomong dulu, Ayah sama ibu pasti nggak setuju. Sementara Arif rasa, sayang aja. Kalau rumah di sebelah nggak kebeli. Jadi, aku mutusin untuk bayar rumah itu dulu habis itu baru bicara. Karena sebenarnya, ada niat buat bantu Ayah sama ibu renovasi rumah ini dengan cara menggabungkan dengan rumah sebelah. Jadi lebih lega."
Mendengar penjelasan sang menantu. Keduanya saling tatap. Ayah sendiri langsung terdiam, mengambil gelas berisi air mineral yang hanya tinggal separuhnya. Kemudian minum itu.
"Maaf, Yah. Mungkin Arif terlalu lancang."
"Nak Arif... Ayah menghargai, niat baik kamu. Tapi, sejujurnya... rumah ini bukan milik Ayah. Melainkan milik Ustadz Irsyad. Itu salah satu alasan kenapa Ayah nggak pernah renovasi rumah ini. Selain buat ngebenerin yang udah rusak. Jadi kalau mau bangun total, Ayah itu agak ngerasa nggak enak."
"Punya ustadz Irshad?" tanyanya.
Ulum mengangguk. Beliau pun menceritakan, kalau rumah ini adalah tempat yang diminta Ustadz Irsyad untuk di tinggali selepas pernikahannya dulu bersama Aida.
Karena dulu, rumah ini beliau beli sebab desakan jamaahnya yang sedang membutuhkan dana cepat. Sementara itu, surat kepemilikan rumah ini pun masih atas nama Ustadz Irsyad. Jadi, ada rasa tidak enak jika tiba-tiba di bongkar untuk di renovasi.
Mendengar itu, Safa sendiri juga baru tahu. Jika rumah yang di huninya sejak baru lahir ini adalah milik Abinya Rumi. Lebih-lebih Qonni, yang tidak tahu apa-apa. Ia jadi semakin menyadari, jika hutang budi keluarganya kepada keluarga Rumi benar-benar besar.
"Kalau begitu, biar Afin bayar sekalian rumah ini, Yah?"
"Aiiiihhh..." Ulum mengibaskan tangannya. "Jangan, Nak."
"Loh, kenapa?"
"Ayah Ulum, orangnya emang kaya gini. Sangat menghormati gurunya. Ustadz Irshad..." Aida menimpali.
"Begitu, ya?" jawab Afin. Ia tidak menyangka ternyata serumit ini.
"Udah, ya... nanti kita pikirkan lagi. Ayah tahu niat baikmu, Nak. Sekali lagi, terima kasih banyak. Udah memperhatikan kenyamanan kami." Ulum merasa terharu. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca.
"Sama-sama, Yah. Arif senang kok."
Senyum Ulum mengembang. Beliau pun bangkit sambil membawa piring kotornya ke wastafel. Kemudian mencuci tangan dengan sabun. Karena beliau makan dengan tangan.
Melihat sang Ayah hendak keluar, Qonni yang kebetulan duduk dekat pintu langsung beranjak dan memasukkan kursinya sejenak kebawah meja agar sang ayah bisa lewat.
Suasana meja makan kembali hening setelah Ulum keluar dari ruang makan tersebut. Di susul Aida, kemudian Afin. Di sana, hanya tersisa Safa dan juga Qonni yang sigap membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bersama-sama.
πππ
Selepas membenahi dapur, Qonni kembali masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu langsung meraih gawai di atas meja, sebelum merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Baru saja ia tekan tombol samping guna menyalakan gawai tersebut. Ia sudah mendapati dua pesan chat dari orang yang berbeda.
__ADS_1
Satu dari laki-laki yang sebenarnya cukup membuatnya risih. Satunya lagi dari nomor tak di kenal.
Sama-sama mengucapakan Assalamualaikum. Ini kali pertama setelah chating perkara baterai laptop, Ilyas kembali menyapanya. Di sisi lain, ia tahu. Pesan lainnya dari Harun.
Qonni bergeming. Di antara keduanya belum ada yang ia buka. Namun, ia lebih berfokus pada Foto Harun yang sedang berada di puncak gunung Tangkuban perahu.
Desir hatinya membuat dia tidak sengaja menekan pesan dari Harun itu. Jadilah, mau tak mau ia membalasnya.
βββ
Di tempat lain. Seorang laki-laki dengan sarung terpasang di lingkar pinggangnya berjalan keluar sambil membawa dua gelas kopi panas.
"Antum itu kalau datang sukanya nggak kabar-kabar. Ya gini hasilnya, cuma dapet kopi tanpa camilan," ujar Ilyas sambil meletakkan gelas belimbing ke atas meja tanpa tatakan.
"Anna cuma nggak sengaja lewat habis nganterin madu, jadinya mampir. Alhamdulillah, kalau cuma kopi, Yas." Pria dengan jaket masih terpasang di tubuhnya itu terkekeh.
"Di minum, Run." Sambil membenahi kacamatanya, Ilyas duduk di kursi lain, mempersilahkan. Sementara laki-laki yang sempat jadi seniornya di kampus itu pun mengangguk.
"Omong-omong, gimana pekerjaanmu?" Tanya Harun basa-basi. Sebelum menyesap dua kali kopi yang masih panas itu.
"Masih sama. Namanya honorer, Run. Gaji cuma lima ratus ribu. Kemaren sempet daftar CPNS. Tapi nggak lolos. Belum rezeki, mungkin."
"Kan saya udah bilang." Harun meletakkan gelasnya di atas meja. "Antum ngajar di swasta aja. Jangan negeri... gajinya kecil."
"Kalau semua guru wiyata maunya ngajar di swasta, ya kasian dong sekolah negeri... lagian, tesnya nggak gampang. Aku mau sabar dalam berproses aja."
"Sok lah... ku doakan cepet jadi PNS."
"Aamiin..." Ilyas menanggapi. Sebelum menyesap kopi di gelasnya sendiri.
Harun beralih fokus pada suara ponsel yang berbunyi. Tanda adanya pesan chat masuk. Di bukanya ponsel tersebut. Lalu membaca namanya. Ukhti Ayudia. Senyum laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu langsung mengembang.
"Eh, senyum-senyum, tuh. Wah, gawat!" goda Ilyas hingga membuat pria dengan warna kulit yang lebih cerah dari Ilyas itu tertawa.
"Dari seseorang, yang saya harapkan nggak akan menolak lagi kaya sebelumnya."
"Waaaah..." Ilyas turut senang mendengarnya. Dan berharap gadis itu benar-benar menerima sahabat aktivisnya itu.
"MashaAllahβ" Harun kembali memasukkan gawainya kedalam tas. "Doakan Saya, kalau gadis ini mau Saya lamar. Maka secepatnya akan saya halalkan."
"Allahu Akbar. Aamiin... semoga, Run. Antum berjodoh. Aamiin! Doakan saya juga, karena ada ukhti yang sedang saya dekati. Niatnya sih sama kaya kamu. Kalau dia mau Saya lamar bakal langsung Tak halalin."
"MashaAllah, gini aja. Nanti kita saling datang di acara lamaran masing-masing."
__ADS_1
"Ide bagus, Anna setuju..." Keduanya mengobrol santai. Walau sesekali Ilyas melirik kearah gawainya. Belum ada satupun balasan dari Qonni. Sementara Harun, dia sudah dua kali mendapatkan balasan dari ukhti yang ia harapkan. Yang tanpa mereka ketahui, jika keduanya sedang mengincar gadis yang sama.