
Akibat serangan orang-orang itu lalu lintas menjadi macet. Banyak yang tidak bisa lewat akibat motor-motor yang berjubel di depan sekolah tempat Safa mengajar.
Tak berselang lama, sebuah mobil polisi datang sambil membunyikan sirine. Berada tepat di belakangnya mobil matic milik Afin Anka turut mengiringi dan berhenti di tengah kerumunan.
Teriakkan histeris mereka saat melihat laki-laki itu keluar dari mobil sambil melepas jaket bombernya terdengar. Namun sebagian yang lainnya langsung berhamburan pergi. Sebab adanya beberapa anggota dari satuan Brimob yang langsung memecah kerumunan itu dan menangkapi mereka yang diduga sebagai provokator.
Afin mendorong orang-orang yang masih belum paham situasi di luar. Secara membabi-buta menarik kerudung Safa tanpa memikirkan bahwa hijab itu merupakan aset berharga dari seorang wanita muslimah.
Sorot mata elangnya menangkap gadis yang sedang berjongkok sambil melindungi hijab yang mulai berantakan, dan langsung menutupi tubuh Safa dengan jaket sembari memeluknya.
"Fa ini aku... jangan takut, ya. Kita bangun pelan-pelan dan pergi dari sini." Suara Afin yang halus mampu menenangkan jiwanya. Isak tangis semakin pecah, rasa ketakutan parah bercampur pasrah akan hidup dan matinya sedikit demi sedikit menghilang berubah menjadi kelegaan.
Pelan-pelan Afin mengajaknya berdiri. Orang-orang yang ada di dekat mereka menjerit iri terutama para siswi yang masih ada di area sekolah. Kompak mengangkat kamera untuk mengabadikan momen langka itu.
Rumor tentang guru mereka yang merupakan istri dari seorang Afin Anka pun terkuak. Sebuah fakta yang menunjukkan dirinya sendiri. Bahwa mereka memang suami istri.
Setelah Safa masuk ke dalam mobil, Afin buru-buru membawanya pergi. Sementara kawasan sekolah mulai kembali lengang. Orang-orang yang tadi berkumpul kocar-kacir menyelamatkan diri dari kejaran aparat kepolisian.
🍂
🍂
🍂
Beberapa jam berlalu tepatnya selepas Maghrib. Safa sudah ada di rumah Afin setelah sempat berada di rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Syukurlah semua baik-baik saja, hanya lecet sedikit dan shock. Perempuan dengan raut wajah sendu itu termenung sendirian.
Kejadian yang menimpanya secara tiba-tiba tadi siang benar-benar mengerikan sekaligus membuatnya malu. Dan karena semua itu masuk dalam ranah kriminalitas merekapun harus berurusan dengan polisi. Tentunya Afin sekarang sedang sibuk mengurus laporannya itu.
Cklaaakkk....
Safa menoleh sebentar kearah pintu sebelum kembali berpaling mengusap air matanya. Sudah hampir seminggu tak pulang ke rumah ini rasanya seperti lain. Ia kembali asing dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Gimana, ada yang sakit?" Tanyanya sambil duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan istrinya.
"Enggak, Bang. Safa udah baik-baik saja," jawabnya sambil meng*lum bibirnya sendiri. Laki-laki itu masih berfokus pada lecet di area wajah dan tangan. Lebih dominan sisa-sisa cakaran. "Makasih, Bang. Abang datang menyelamatkan Safa."
"Sebenarnya aku nggak sengaja dengar bakal ada keributan di tempat kamu mengajar. Sayangnya aku terlambat Fa."
"Nggak masalah aku masih bersyukur, semua nggak sampai melakukan pemukulan yang berlebihan."
Arifin menunjuk luka cakaran di wajah Safa. "Tapi kamu tetap luka, Fa. Semua gara-gara aku. Aku benar-benar minta maaf."
Gadis itu hanya tersenyum kecut. "Nggak sakit kok. Semua bisa hilang, yang susah itu luka di hati Safa."
Mendengar itu laki-laki dengan wajah tegas di sisi Safa terdiam. Memang, masalah mereka belum selesai. Dan mungkinkah Safa ingin mengakhiri semuanya.
"Abang tahu, seberapa dalam luka yang tertancap di dadaku. Aku yang mulai bahagia sejak saat Abang mengutarakan perasaan hingga membuat aku berenang di atas awan. Seolah langsung dihempaskan begitu saja dengan kebenaran itu. Safa sulit menerimanya, Bang."
Laki-laki itu tertunduk lesu. Ia tahu dan ia paham tapi bagaimana cara dia menjelaskannya.
"Aku sudah berusaha untuk jujur Fa. Tapi nggak semudah apa yang kamu bayangkan. sejujurnya, Aku sudah mengagumi kamu sejak kita bertemu di masjid waktu itu. Saat kamu menolak aku bayar, setelah meminjamkan aku mukenah. Aku ingin kenal kamu lebih dalam tapi aku takut dengan kekurangan ku ini kamu akan menolaknya."
Pikiran laki-laki itu kembali menerawang ke masalalu. Saat dimana ia sempat tertegun melihat gadis berhijab di depan masjid. Cinta yang tak pernah ia rasakan terhadap lawan jenis, ia rasakan saat melihat wajah teduh penuh senyum milik Safa.
"Tidak ada yang mau memiliki kekurangan. Semua orang mau hidupnya normal-normal aja Fa. Termasuk aku..." Afin meraih tangan istrinya. Menatapnya dalam-dalam penuh pengharapan. "Selama ini aku menyembunyikan kesulitanku sendiri. Tanpa berani speak up. Pernahkah kamu tahu, orang-orang sepertiku justru membutuhkan dukungan untuk menjadi lebih baik?"
Deg! Safa tertegun. Seolah membuatnya merasa bersalah karena telah menelan mentah-mentah tanpa mencoba untuk mengulik fakta lebih jauh.
"Aku boleh bercerita?" Tanyanya hati-hati. Safa yang masih memandang dengan perasaan asing itu mengangguk pelan.
"Silahkan, aku akan mendengarkan. Katakan saja semua tanpa ada yang di tutupi."
Afin tersenyum haru. Kedua matanya berbinar senang. Akhirnya ada seseorang yang bisa mendengarkan semua sisi gelapnya itu. Walau setelah ini ia harus mengikhlaskan Safa jika saja gadis itu tidak mau menerimanya kembali.
__ADS_1
"Aku adalah korban pelecehan dari laki-laki yang memiliki kelainan seksual sejak SMA." Afin mulai berkisah panjang lebar.
Flashback on...
Awalnya Dia memang satu dari anak laki-laki periang. Sama seperti anak-anak pada umumnya. Hidup berkecukupan, bersama Bunda, nenek dan kakek yang amat menyayanginya. Tentu ia bersyukur dengan segala yang ia miliki itu.
Dan yang namanya anak, pasti akan semakin bertubuh besar. Bersamaan dengan semakin kuat rasa ingin tahunya. Sebelum itu ia tak pernah menanyakan siapa sosok ayahnya. Karena baginya itu tidaklah berarti. Sampai suatu masa Afin kecil sering melihat teman-teman sebayanya diantar-jemput oleh sosok laki-laki yang di sebut ayah.
Rasanya, pasti senang jika punya Ayah. Begitulah kira-kira perasaannya kala itu. Dan setiap kali bertanya pada Bundanya. Perempuan itu tidak pernah mau menjawab dengan serius. Selalu di alihkan ke yang lainnya.
Memasuki bangku SMP. Entah bagaimana ia jadi mendapatkan perundungan. Di nilai sebagai anak laki-laki tanpa Ayah. Atau mungkin anak seorang wanita pezinah. Tentu Afin malu dengan itu, ia yang pendiam mulai menarik diri dari anak laki-laki di kelasnya. Namun, bukannya tenang ia justru mulai mendapatkan perlakuan yang tak mengenakan. Yang tiba-tiba mendapat pukulan, tendangan, atau mungkin sekedar isi tas yang di acak-acak.
Afin memang tidak bisa berbuat apa-apa. Kebiasaan di manja sejak kecil membuatnya takut untuk memberontak.
Hingga saat sekolah SMA ia ingin merubah diri menjadi lebih baik. Diapun mulai berbaur dengan anak-anak. Namun sayangnya, pertemanan yang ia pilih amatlah tidak baik. Demi mendapatkan pengakuan bahwa ia bukan pecundang. Ia rela berteman dengan mereka-mereka yang bergelar preman sekolahan.
Apapun yang di lakukan teman-temannya ia ikuti asal tidak mendapatkan diskriminasi lagi dari mereka. Seperti merokok, minum-minuman keras, bahkan turut membeli kunci jawaban ujian untuk teman-temannya yang merupakan kakak kelas.
Afin tidak pernah peduli, walau ia sadar dirinya di manfaatkan oleh teman satu geng. Dikarenakan hanya Afin sendiri yang memiliki uang saku lebih banyak dari normalnya uang saku anak-anak SMA. Mereka juga tahu latar belakang Afin yang merupakan anak dari seorang pejabat.
Hingga belakangan Afin mengetahui satu fakta. Bahwa ibunya merupakan istri kedua dari pria tua yang usianya sudah menginjak hampir tujuh puluh tahun. Pria berkebangsaan Rusia dan Turki. Seorang konglomerat yang memiliki cabang usaha di Indonesia juga.
Kenapa ibunya menyembunyikan fakta itu sejak dulu. Karena sebuah ancaman dari keluarga besar istri pertama. Bahwa Mehmed Faruk tidak boleh mengenal putranya sampai kapanpun demi hubungannya dengan Afin.
Karena dari pihak istri pertama, Mehmed tak memiliki anak laki-laki sementara ia sangat menginginkan anak laki-laki. Sehingga jika Mehmed tahu ia memiliki anak laki-laki dari Ayattul Khasanah. Maka keluarga besar akan mengambil dan menjauhkan Afin dari Ayattul.
Sekilas kisah masa lalu yang rumit memang. Bahkan Afin tidak tahu lebih mendetailnya lagi. Namun yang ia tahu, ibunya memang tidak pernah berniat untuk menjadi istri kedua. Justru ia tidak tahu kalau Mehmed rupanya masih memiliki istri sah di Turki dan dua anak perempuan yang saat itu usianya sudah remaja dan satu yang lain sudah berkeluarga. Bu Ayattul bahkan menggugat cerai tepat dua tahun pernikahannya dengan laki-laki pengusaha dari Turki itu.
Ya, jadi itu pertemuan pertama sekaligus yang terakhir Afin dengan Ayahnya Mehmed Faruk. Laki-laki itu di kabarkan meninggal dunia karena serangan jantung satu bulan setelah kedatangannya ke rumah Ayattul Khasanah. Tentu hal itu merupakan pukulan berat bagi Afin yang berniat untuk mengunjungi beliau di Turki saat liburan sekolah.
Dan di masa-masa kalut itu, Brody mendekat layaknya pahlawan. Orang itu memang tertarik dengan wajah imut dan blasteran Afin. Makanya ribuan cara di gunakan untuk bisa mengikat Afin Anka.
__ADS_1
Flashback off