Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
bab 91


__ADS_3

Hari yang cukup terik di bawah rimbunnya pepohonan area taman kampus. Dekat dengan gedung wisuda.


Serangkaian acara sudah seluruhnya di gelar. Dan sebelum pulang, biasanya mahasiswa/i pasti akan bersua foto bersama kerabat dan keluarganya yang turut datang dalam acara tersebut.


Siang ini, Safa dan Afin memang tidak hadir tepat waktu. Namun mereka tetap menyempatkan waktu untuk hadir walau acara sudah selesai demi memberikan selamat.


Sementara keluarga itu sedang berpose bersama di depan kamera milik fotografer yang memang selalu hadir di momen kelulusan seperti ini. Di sela-sela momen keluarga ini, datang dua orang beda usia yang nampak mendekati keluarga Ulum.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam." Semuanya menjawab hampir bersamaan sebelum menoleh ke sisi kiri.


"A–" Qonni langsung menunduk saat melihat Harun datang dengan ibunya. Nampak pula buket berisi coklat, dan boneka di tangan pria tersebut, yang kemudian di arahkan padanya.


"Barakallah Ayu. Semoga ilmumu berkah, dan bermanfaat bagi orang banyak."


"Aamiin... makasih, A' Harun."


"Sama-sama." Harun tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya pada Pak Ulum. Ia gegas meraih tangan Ulum dan mengecup punggung tangan Beliau. Setelah itu menghadap Aida kemudian Safa sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. Terakhir, barulah ia menyalami Arifin.


"Qonni, Harun mau dateng kok kamu nggak cerita?" tegur sang Ayah padahal Qonni sendiri juga tidak tahu kalau Harun akan datang ke sini.


"Sebenarnya, saya sendiri juga nggak janjian, Pak. Saat tau Ayu mau wisuda, Ummi langsung inisiatif untuk datang ke sini." Harun menjelaskannya lebih dulu.


"MashaAllah, kami jadi nggak enak, Bu Nyai."


"Nggak enak sama siapa? Kita ini mau jadi keluarga, sudah seharusnya Harun datang untuk memberi ucapan langsung pada calon isterinya," wanita sepuh dengan kacamata minus itu tertawa.


Suasana pun menjadi lebih hangat saat mereka melakukan sesi Foto bersama. Namun karena ada Harun. Qonni malah jadi berpose kaku saking gugupnya padahal mereka tak bersebelahan.


"Terakhir..." sang fotografer memberi aba-aba sebelum memotret keluarga yang nampak ceria itu. "Okay!"

__ADS_1


Ayu menghela nafas akhirnya acara foto-foto ini selesai. Gadis itu sekarang hanya berdiri di belakang tubuh ibunya, sementara Harun ada di sisi yang lebih jauh dari dirinya bersebelahan dengan Ulum dan Arifin.


"Sekarang kita pindah saja, Yah. Kita cari tempat untuk makan siang sebelum pulang." Afin mengusulkan.


"Ahh, iya. Ide bagus." Ulum menyetujui, Beliau lantas menoleh kearah calon besannya. "Ibu kita lanjut obrolannya di rumah makan saja."


"Aduh maaf sekali, Pak Ulum. Saya nggak bisa, karena ada acara lain setelah ini."


"Wah, sayang sekali."


"Anu– saya mohon izin bicara sama Ayu sebentar di sebelah pohon itu, Pak?" Pinta Harun sopan sambil menunjuk pohon yang hanya berjarak tak sampai tiga meter dari posisi mereka.


Saat Harun mengatakan itu. Jantung Qonni mendadak berdebar-debar, ini kali pertama ia akan bicara empat mata langsung. Kira-kira apa yang akan di katakan Harun padanya?


"Silahkan, tapi tetap jaga batasan, ya."


"inshaAllah, Pak." Harun berjalan lebih dulu kemudian Qonni mengekor cukup jauh dari Harun.


"Ayu, aku cuma mau kasih ini buat kamu." Pria itu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang pada Qonni. Gadis itu sejenak bergeming, belum berani menerimanya.


"Apa ini, A'?"


"Ambil aja dulu. Terus liat isinya," jawab Harun sambil tersenyum walau tak secara langsung mengarah pada calon isterinya.


Pelan-pelan Qonni mengambil satu langkah sebelumn tangannya terulur mengambil kotak tersebut. Ia pun kembali mengambil jarak dan langsung membukanya demi melihat apa isinya. Rupanya sebuah Bros berbahan emas 24 karat dengan siluet gadis berhijab. Tertulis juga nama Ayudia di bagian bawahnya.


"MashaAllah–" mata gadis itu berbinar.


"Bagus, nggak?"


Ayu mengangguk pelan tanpa sedikitpun mengangkat kepala. Adapun Harun kembali tersenyum mengucap hamdalah.

__ADS_1


"Makasih, A'. Kenapa repot-repot kasih ini?"


"Itu hadiah kelulusan kamu."


"Kan udah ada ini." Qonni menunjukkan buket yang ia peluk.


"Itu lain. Ini khusus aku pesan, buat calon–" Harun tak melanjutkan karena debat jantung yang semakin kuat. "Maaf, kita nggak bisa bicara lama."


Qonni paham, ia mengangguk. "Sekali lagi makasih, A'... Aku suka hadiahnya."


"Sama-sama. Sekarang kamu boleh kembali lebih dulu ke mereka."


"Iya. Assalamualaikum–" Gadis itu melangkah lebih dulu.


"Walaikumsalam warahmatullah." Harun langsung memalingkan wajahnya menghindari punggung calon isterinya yang semakin menjauh dari pandangannya. "Ya Allah, aku berlindung dari fitnah-fitnah kami. Dan semoga semua di lancarkan."


Pria itu menghela nafas sebelum kembali melangkah menjemput ibunya yang masih ada di sebelah Ibu Aida. Setelah itu mereka berpamitan pulang lebih dulu.


......................


Malam kembali datang. Qonni memandangi Bros tersebut yang ia letakan di atas meja. Ia juga mengingat penampilan Harun yang menggunakan kemeja berlengan pendek dan celana bahan. Nampak lebih gagah dari biasanya.


"Astaghfirullah al'azim... nggak enaknya kalau punya tunangan begini. Apalagi udah beberapa kali bertemu. Walaupun nggak pernah chating lagi sekarang." Keluhnya sambil menyandarkan wajah di atas meja. Aku nggak boleh rindu. Dia belum halal untuk aku rindukan. Tangan halusnya menutup kotak tersebut kemudian menyimpannya di dalam laci yang terkunci.


Malam ini ia jadi tidak bisa tidur semua sebab pertemuannya lagi dengan Harun setelah terakhir saat mereka bertunangan.


Adapun pria di tempat lain juga sama, hanya mampu memandang langit-langit kamar dalam posisi terlentang di atas kasur busanya. Sambil mendengarkan murotal dari laptop. Harun mengusap dadanya yang terus berdesir. Menghalau rindu yang memang belum boleh bersarang di dadanya.


Andai pernikahan nggak di tunda lama. Semua pasti nggak akan jadi kaya gini. Ya Allah– seharusnya aku nggak menemui dia hari ini. Titipkan aja hadiahnya ke orang lain.


Harun membalik badannya menjadi tengkurap sambil memiringkan kepala plus mata yang terpejam. Pria itu turut mengikuti bacaan tilawah yang di bacakan oleh salah seorang Qori ternama tanah air. Yang suaranya benar-benar merdu dan menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2