Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 51


__ADS_3

Di tengah-tengah ramainya orang yang hendak naik balon udara. Afin dan Safa menunggu, salah satu balon udara yang sedang di isi hawa panas dari api yang menyala. Perlahan, balon mulai naik dan berdiri tegak walau belum tinggi.


Satu orang bertugas membantu mereka naik satu persatu. Karena Afin mengambil penerbangan Deluxe Flight yang diisi sekitar delapan orang penumpang. Jadilah keduanya berbaur dengan orang-orang dari negara lain.


Saat giliran Safa naik. Wanita itu membaca basmallah di bantu Afin di bawahnya. Barulah dia menyusul.


Kini semua penumpang sudah memasuki keranjang balon. Penerbangan satu setengah jam pun akan segera di mulai.


"OMG... so beautiful!" Jerit kebahagiaan terdengar dari mereka-mereka yang berada di dalamnya. Sambil mengangkat kamera ponsel masing-masing, mengabadikan tebing-tebing tinggi yang terbentuk dari erosi bebatuan vulkanik.


"Ready?!" Seru seorang pria berjanggut dengan pakaian tebal di bawah.


"Yes!" Satu orang mengacungkan ibu jarinya tanda mereka sudah siap mengudara.


Lambaian tangan pun di tujukan untuk para penumpang. Mereka semua membalasnya dengan gerakan sama. Balon mulai bergerak semakin tinggi.


Langit yang sudah mulai terang, berhias sinar jingga yang masih terlihat. Nampak memanjakan mata mereka. Tak terkecuali sepasang pengantin baru itu.


"MashaAllah... MashaAllah..." Safa terus bergumam. Air mata haru membasahi kedua netra indah yang tersorot mentari pagi. "Allahu Akbar..."


"Indah 'kan?" Tanya Afin.


"Iya, Bang. Indah sekali..." jawabnya. Afin mengeluarkan camera mengabadikan area sekitar, lalu bergeser pada posisi sang istri yang terus saja berdzikir.


Ya, tak bisa di pungkiri ada perasaan takut juga sebenarnya. Namun di balik itu, Safa amat mengagumi pemandangan alam yang luar biasa.

__ADS_1


Pria tersebut merengkuh pinggang Safa, mengabaikan seorang pendamping dari crew berbicara kesana-kemari. Tentunya hal itu membuat Safa terkesiap. Menoleh ke kanan dan ke kiri merasa tidak enak.


"Disini banyak orang, Bang," bisiknya.


"Sssstt!" Bukan melepaskan ia justru semakin menarik tubuh Safa hingga benar-benar menempel padanya. "Mereka nggak ada yang peduli dengan apa yang di lakukan penumpang lain. jadi, abaikan saja." Sebuah kecupan mendarat di pipi.


"Tapi 'kan, tetep aja, kita...?"


"Aku sangat mencintaimu... Guzelim. Kamu terlihat sangat cantik pagi ini," potongnya. Tidak memperdulikan protes Safa.


Pipi yang tersengat mentari pagi itu bersemu. Bersamaan dengan seulas senyum manis di bibirnya. Akhirnya Ia mengalah juga, dengan sebaris kata-kata maut dari Afin.


"Aku juga sangat mencintai dan menyayangi Abang. Tapi Abang pasti melebih-lebihkan bilang aku cantik?"


"Hahaha. Abang jangan aneh-aneh, deh."


Keduanya terkekeh sebelum kembali terdiam dengan tatapan tertuju pada pemandangan indah di hadapan mereka. Sambil sesekali mendengarkan penjelasan dari tour guide.


"Makasih ya, Bang..." ucapan Safa membawa Afin kembali berfokus kepadanya. "Makasih atas semua ini."


Laki-laki itu mengangguk pelan, seraya mendaratkan kecupan di kepala yang tertutup hijab dan topi musim dingin.


"Seumur-umur, Safa nggak pernah bermimpi apalagi berkhayal bisa naik balon udara kaya gini. Jangankan naik ini, melakukan perjalanan ke luar negeri aja nggak pernah ada dalam daftar target hidupku kecuali Mekah."


Kebahagiaan yang ditujukan Safa tak ayal membuat pria dengan brewok tipis itu merasa bersyukur. Rasanya 500 Euro atau setara 7,8 juta rupiah untuk penerbangan ini. Sebanding dengan kebahagiaan yang berpendar di wajah cantik Safa. Bukti kalau perjalanan bulan madu mereka tidaklah sia-sia.

__ADS_1


"Semua ini, pasti mahal sekali?"


"Nggak juga... untukku seberapapun mahalnya nggak masalah. Yang penting perjalanan jauh-jauh ini nggak sia-sia. Adapun yang sulit itu justru momennya. Belum tentu kita berkesempatan lagi untuk bisa menaiki balon udara. Dan melihat wilayah perbukitan Cappadocia kaya gini. Kita termasuk beruntung bisa mendapatkan tiketnya di tanggal ini. Karena, untuk naik balon udara disini tentunya kita harus pesan jauh-jauh hari. Dan nggak mesti dapat juga sesuai jadwal yang kita inginkan."


"Begitu, ya...?"


"Iya. Aku cuma ingin menciptakan momen terbaik di antara kita. Kamu harus tahu, ini pertama kali aku melakukan perjalanan romantis dengan seorang wanita. Tentunya aku harus maksimal guna membahagiakanmu, Fa."


Safa terdiam. Mungkin iya, karena selama ini Beliau kan? Safa berusaha menampik pikiran negatif yang membawanya pada khayalan liar.


"Nggak juga dengan pria. Aku serius!" Seolah bisa membaca pikiran Safa, Afin langsung mengkonfirmasi.


"Nggak usah menjelaskan juga, Bang."


"Aku khawatir kamu berpikiran yang nggak-nggak. Karena masa laluku."


Wanita dalam dekapannya hanya tersenyum simpul. "Kalaupun iya, itu urusanmu di masa lalu. Dan kalau bisa jangan ungkit apapun lagi di depanku walaupun aku sudah tahu masalahmu. Tapi, aib haruslah tetap di sembunyikan, jangan bongkar semua di depan istrimu itulah syariat."


Pria itu mengangguk. "I'm so Sorry..." bisiknya lembut.


"Nggak papa." Safa kembali mengalihkan perhatian pada pemandangan di depan. Afin sendiri kembali mengeluarkan camera untuk merekam mereka berdua di sana.


Beberapa jam berlalu. Setelah selesai mengudara dan berjalan-jalan untuk melihat pernak-pernik khas Cappadocia. Serta membeli beberapa cendramata untuk oleh-oleh kerabat dan keluarga di Indonesia. Mereka kembali ke hotel gua untuk beristirahat.


Hari ini sudah cukup, besok keduanya juga harus kembali lagi ketempat lain. Ya, mereka mungkin akan banyak melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Turki sebelum kembali ke bumi Pertiwi.

__ADS_1


__ADS_2