Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 83


__ADS_3

Saat pulang. Camelia berdiri di balik tiang besar yang berfungsi sebagai penyangga atap basemen. Terlihat tangannya sedang mengepal salah satunya. Menunjukkan ketidaksukaan kala melihat Afin begitu perhatiannya dengan wanita yang bahkan jika di lihat dengan mata normal pun sangat tidak menarik.


Gadis itu mengeluarkan bedak padat hanya untuk memanfaatkan cermin kecil di wadah itu lantas memandangi wajahnya sendiri. Setelah merasa dirinya lebih sempurna, Lia langsung menyeringai. Ia pun kembali mengintip ke belakang.


Di lihatnya Afin tengah menyeting kursi untuk sang istri agar lebih nyaman. Lantas memegangnya pelan-pelan saat Perempuan itu hendak masuk ke dalam mobil. Hal itu semakin membuktikan kalau yang dikatakan Safa benar adanya.


CK! Kenapa Kak Afin nggak semanis itu sih, waktu sama aku dulu?


Menunggu hingga mobil Afin melaju, karena kebetulan mobilnya dengan mobil Afin berdekatan. Hanya berjarak satu mobil saja. Ia sebenarnya bisa saja nimbrung. Namun, lebih ke malas saja untuk bertemu dengan isterinya.


Dan saat mobil itu jalan. Kepala Lia mengikuti gerak mobil itu. Sebelum menghela nafas.


"Apa sih istimewanya, si wanita udik itu?" Satu kakinya menghentak kesal sebelum berjalan mendekati mobilnya sendiri.


–––


Saat perjalanan pulang, Afin masih penasaran. Ia lantas kembali menanyakan pada Safa yang saat itu sebenarnya ia juga sudah mulai lupa.


Pria yang sedang memegang kendali mobil menggenggam tangan Safa hingga wanita yang sejak tadi mengusap-usap perutnya menoleh.


"Tadi Dia ngapain kamu?"


"Siapa?"


"Lia, Fa."


Safa menghela nafas. Membenarkan posisi duduknya tanpa menjawab apapun.


"Aku sebenarnya nggak peduli dengannya. Justru aku khawatir ke kamu." Afin menimpali.


"Seperti yang ku jawab tadi pas di sana, Bang. Dia nggak ngomong apa-apa. Ya, cuma ngira aku istri settingan kamu," pungkasnya sambil di selingi tawa.


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya, seadanya. Karena emang kita nggak menikah karena settingan," jawabnya, sementara Afin hanya manggut-manggut. "Cuman, ia sempat tanya ini anak kamu atau bukan."


"Emang otaknya agak geser tuh Cewek!" Sarkasnya sebal.

__ADS_1


"Astaghfirullah, nggak boleh ngomong gitu, Bang."


Afin diam saja, sambil memutar lingkar setir berbelok. Mereka tak lagi membicarakan soal Camelia. karena mau bagaimanapun juga, Afin memang sejatinya tidak suka. Ia tanya karena khawatir Safa akan marah padanya. Seperti pasangan teman-temannya. Yang selalu cemburuan.


Kadang aku heran. Safa itu kaya nggak pernah cemburu. Padahal fans ku banyakan cewek. Tapi nggak pernah dia tiba-tiba kesal. –Afin melirik kearah sang istri. Adapun Safa mulai kembali mengalihkan ke yang lain. Sehingga suasana di dalam mobil kembali mencair.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Suasana pagi hari yang mulai menghangat. Dering bel berdenting membubarkan para murid yang masih berkeliaran di area sekolah untuk bergegas masuk menuju kelas masing-masing. Tanda kegiatan belajar mengajar akan segera di langsungkan.


Di tengah-tengah persiapan sebagian guru yang akan mengajar di jam pertama. Safa dan salah satu guru perempuan yang lain masih terus melanjutkan perbincangan keduanya. Karena untuk jam pertama ini jadwal mereka kosong.


"Ust, nanti kalau udah kerasa jangan langsung ke rumah sakit, ya. Tahan dulu, biar nggak kelamaan nunggunya," kata seorang guru wanita yang usianya sudah menginjak angka empat puluh tahun.


Wanita berhijab besar dengan lima anak itu memberikan wejangan pada Safa yang tinggal sebentar lagi memasuki tanggal lahiran nya.


"Emang biasanya berapa jam, Ust. Sampai benar-benar lahir?"


"Tergantung kondisi kamunya. Tapi biasanya untuk anak pertama itu suka lama. Bahkan ada yang sampai dua puluh empat jam."


"Oh, ya?.." Safa tercengang. Mengalami kontraksi selama 24 jam bukan waktu yang sebentar. Pasti sakit sekali.


Safa manggut-manggut. Semenjak usia kandungannya semakin tua. Perempuan itu sering mendapatkan saran dari kanan-kiri. Mungkin ia akan mengambil beberapa yang menurutnya logis saja.


Belum pula mereka yang ada di dalam ruangan kantor membubarkan diri. Safa dan rekan sesama guru itu pula masih asik mengobrol.


Bu Inayah tiba-tiba memberi pengumuman. Bahwa akan di adakan rapat mendadak. Kontan, hal itu menimbulkan tanda tanya bagi mereka yang langsung saling berbisik.


Ada beberapa yang sudah menebak, ada pula yang tak tahu apa-apa. Yang jelas mereka menurut saja. Ini pasti bukan rapat biasa...


Bu Inayah meminta para guru untuk menunda sebentar proses belajarnya dengan cara memberikan tugas ke masing-masing kelas. Dan rapat dadakan pun di mulai.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," ucapan salam di gaungkan pada semua dewan guru yang ada di sana. Tentunya langsung saja di balas oleh mereka.


Safa yang sejak tadi asik bercengkrama. Sekarang fokus menatap ibu kepala sekolah yang mulai berbicara. Rupanya bahasan kali ini mengenai issue tentang salah satu siswi.


"Mungkin sebagian dari Bapak/ibu sudah mendengar rumor adanya siswi kelas sepuluh yang hamil."

__ADS_1


Safa tertunduk. Ia tahu, siswi mana yang di maksud. Walaupun Bu Inayah tidak memberitahukan nama siswi tersebut. Ia sendiri sudah tahu lebih dulu.


"sebelum ini saya dan Ustadzah Nurma selaku wali kelas X-3, sudah mengkonfirmasi langsung pada siswi tersebut. Dan anak itu mengakuinya. Adapun rapat saya adakan itu semata-mata untuk melanjutkan informasi yang valid, demi menghindari rumor-rumor tambahan yang tidak fakta. Jadi, dari sini. Apakah bapak/ibu guru ada yang mau menyampaikan pendapat?"


Seorang guru pria yang mengajar sosiologi mengangkat tangan.


"Tafadhol, Ustadz Imron."


"Syukron, Bu Inayah. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Walaikumsalam warahmatullah..." Semua guru menjawab termasuk, Bu Inayah.


"Sebagaimana aturan yang sudah di sahkan oleh pihak sekolah. Siswa dan siswi tidak boleh sampai hamil atau menghamili. Maka mereka akan langsung di kembalikan kepada orangtuanya. Maksudnya, ini sudah jelas. Jadi lebih baik, siswi di kembalikan pada orangtuanya, Bu. Kalau bisa mulai besok dia sudah tidak di izinkan sekolah lagi."


Bu Inayah manggut-manggut, pun semua guru yang ada di ruangan itu menyetujuinya. Mereka mulai saling berbisik menanyakan murid yang seperti apa. Karena tak semua guru mengajar kelas X-3.


"Thayib, terima kasih. Ustadz Imron. Mungkin ada yang mau menambahkan."


"Afwan, Bu!" Seorang lainnya mengangkat tangan.


"Tafadhol, Ustadz Adi." Bu Inayah kembali mempersilahkan. Ustadz Adi selaku guru bahasa Arab pun memberi salam lebih dulu sebelum menyampaikan pendapatnya.


"Sepertinya kita harus gencar memberikan sosialisasi tentang bahayanya pergaulan bebas. Karena siswa-siswi kita mungkin menuruti aturan sekolah saat disini. Sementara saat di luar sekolah, mereka berubah liar. Anna sering menemukan postingan-postingan tidak baik para siswa-siswi. Bahkan pacaran juga semakin dinormalisasikan."


"Afwan, Ustadz Adi Anna menyela. Tapi sekolah sudah lepas tangan soal tanggungjawab di luar sekolah." Seorang guru lain menyampaikan pendapatnya.


"Na'am, Ustadz. Itu benar, namun ada baiknya kalau kita juga memberikan arahan ke yang lebih baik. Setidaknya mampu untuk mengurangi dampak negatif pergaulan bebas ini. Saran Anna, sosialisasi tidak hanya pada murid melainkan wali murid juga. Mungkin dalam dua atau tiga bulan sekali di adakan kajian rutin wali dan murid..."


Kasak-kusuk makin terdengar, hingga ruangan kantor menjadi lebih bising sebab adanya pro dan kontra.


"Thayib... thayib, Ustadz. Jazakallah Khair." Bu Inayah menengahi.


Di saat rapat masih berjalan, Safa sendiri tertegun. Ia masih ingat isak tangis Ifa yang mengatakan masih ingin sekolah bahkan sampai bangku kuliah. Namun, mau bagaimana lagi. Ini adalah konsekuensi dia yang tak mampu menjaga kehormatan. Dampak dari zinah-zinah kecil yang harus menghancurkan segalanya.


Sejenak, ia berpikir. Kenapa Ayahnya sangat membatasi pergaulan anak-anak perempuannya. Beliau bahkan rela menjadi tukang ojek pribadi dua puterinya demi keamanan tetap terjaga.


Karena menurut kajian yang pernah ia dengar, anak perempuan adalah sutroh orang tuanya. Atau batas antara surga dan neraka. Anak perempuan bisa jadi tali untuk menarik orangtuanya ke surga, namun bisa juga mendorong orang tuanya ke neraka.

__ADS_1


Jaman sekarang, mungkin orang tua lebih marah jika barang-barang di rumahnya di bawa orang. Namun, tak begitu keras jika anak gadisnya di bawa laki-laki non-mahram keluar rumah. Jauh dari jangkauan matanya.


Realita kehidupan, dimana orang tua sekarang lebih menurut pada anak-anaknya. Ketimbang memberi sedikit kekangan demi kebaikan sang anak.


__ADS_2