
Malam yang cukup membuat hati Safa bertanya-tanya. Kira-kira dirinya mau dibawa kemana? Kenapa sampai Afin meminta Aina untuk di tinggal dengan pengasuh.
Pria yang membawa kendaraannya sendiri itu pun masih bergeming saat di tanyai akan pergi kemana. Hingga mobil mulai memasuki lobby Mall of Indonesia. Sebuah mall terbesar yang terletak di Jakarta Utara. Pria itu menggandeng tangan Safa setelah menyerahkan kunci mobilnya pada jasa valet.
Di dalam Lift yang transparan. Safa terus melirik suaminya sesekali hingga mereka sampai di salah satu lantai yang berisi deretan food court ternama. Bahkan sering di datangi orang-orang berduit.
Setelah beberapa menit berjalan mereka pun berhenti di depan restoran yang terlihat hampir selesai di dekorasi dan belum siap untuk menerima pelanggan. Beberapa karangan bunga ucapan selamat dan sukses juga nampak berjejer di depannya.
"Kita ngapain kesini, Bang?"
Afin memiringkan tubuhnya menghadap Safa.
"Tebak!"
"Tebak?"
"Iya, tebak dulu. Kira-kira kita mau ngapain berdiri di depan restoran yang masih tutup ini?"
Safa tertegun. Memandangi resto di depannya, dan yang membuat pandangannya tertarik untuk diam di sana adalah tulisan nama restonya.
"Ainaaa Turkish Restaurant." Gumam Safa membaca tulisan dengan nyala lampu di dalamnya.
"Kejutan untukmu, Guzelim."
"Ma–maksudnya?" Safa menoleh cepat.
"Ayo masuk." Ajaknya yang sejak tadi tak melepaskan gandengan tangan mereka. Dua pasang kaki itu terayun masuk ke dalam. Orang-orang yang sedang mendekorasi restoran demi acara opening besok menyapa Arifin dan isterinya.
"Merhaba! mübarek çift." Seorang pria berkebangsaan Turki yang berpakaian koki menghampiri mereka berdua. (Hallo pengantin yang di berkahi)
"Liat, ada orang Turki disini–" bisik Afin sambil menoleh kebelakang. Yang di tanggapi senyum Safa. Pria itu langsung mendekati temannya dan langsung memeluk pria jangkung tersebut.
"Ahmet. Nasılsın?" (Ahmet. apa kabar?)
"Kabarku baik, Bro!" jawabnya yang masih terbawa logat Turki.
"Wah dia ngeprank sayang. Rupanya bisa bahasa Indonesia," bisik Afin lagi pada Safa di belakangnya. Safa sendiri hanya berkelakar tanpa menimbulkan suara.
Ahmet turut tertawa setelah itu berpelukan dengan Arifin.
"Lama banget nggak ketemu."
"Ya, Saya harus selesaikan study dulu. Tapi, syukurlah, sudah selesai. Emmm, omong-omong dirimu nampak lebih sehat sekarang?"
"Apa yang kau maksud aku gemukan?"
"Kau yang mengatakannya sendiri, Bro!" Mereka tertawa lagi. Adapun Safa hanya menunduk, di balik tubuh suaminya karena mereka kembali berbicara bahasa Turki.
"Kalian sudah ku siapkan makanan. Sebagai owner, tentunya harus menjadi yang pertama."
__ADS_1
"Owner?" Gumam Safa yang masih terdengar di telinga Afin. Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Bisakah Anda mengantarkan kami, Tuan Chef."
"Of course!" Pria tinggi berwajah Turki itu melangkah didepan. Sambil mengantarkan Afin dan Safa ke sudut yang dekat dengan dinding kaca. Di sana, rupanya sudah di siapkan dinner romantis untuk sepasang suami-isteri tersebut.
"MashaAllah–" Safa tertegun, memandangi meja yang tertata rapi dengan lilin di atasnya. Pemandangan kota jakarta dimalam hari pun menambah kesan romantis yang mewah.
"Silahkan duduk, saya akan siapkan menu pembuka untuk kalian."
"Thanks Ahmet."
"Welcome, Arifin..." Pria itu melenggang pergi, demi menyiapkan makanan spesial untuk Afin dan Safa.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan. Kedua tangan Afin bertumpu di atas meja sambil memandangi waja bingung Safa.
"Aku masih nggak ngerti dengan semua ini, Bang."
"Kamu udah baca nama restonya loh."
"Terus?"
"Ya terus?"
"I–ini punya kita?" bisiknya sambil mencondongkan tubuh ke depan.
"Allahu Akbar." Safa menoleh kekanan dan kekiri. Mengedarkan pandangannya ke segala sudut. Tempat ini amat luas dan bisa di bilang mewah. Pasti mahal sewanya.
"Aku sudah berhenti dari dunia hiburan, Fa," tutur Afin membuat Safa kembali menoleh padanya.
Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya. Setelah itu membuka aplikasi YouTube.
"Tolong search akun ku." Pintanya sambil menyodorkan gawai.
Safa tak lantas terdiam. Ia justru langsung meraihnya dan mencari aku Afin di sana.
"Ada nggak?" Tanya Dia yang di jawab gelengan kepala. "Sekarang buka semua aplikasi ku. Cari akun ku, Fa."
Safa menuruti ia membuka satu persatu dan hasilnya nihil. Ia tak menemukan semua akun dengan puluhan juta followers.
"Abang kemanakan semua akunnya?"
"Ku hapus," jawabnya enteng.
"Emang, Abang sendiri nggak sayang?"
"Enggak, Fa. Udah cukup lah buat aku." Pria itu menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. "Aku udah mendapatkan apa yang aku mau. Puncaknya, kamu dan Aina."
"MashaAllah." Wanita di hadapan Afin tersipu. Kedua pipinya mendadak merona.
__ADS_1
"Aku mau menjadi pedagang. Dagang makanan matang."
Safa tersenyum sambil menutup mulutnya. Dagang kelas atas. Suamiku emang agak lain sih...
"Kamu kok, kaya ngeremehin aku sih?"
"Siapa yang ngeremehin?"
"Ya itu tadi kamu ketawain aku, 'kan?"
"Ketawa, habis kamu bilangnya mau jadi pedagang."
"Loh emang ada yang salah?"
"Enggak sih."
"Nah... Pokoknya, besok kita akan undang keluarga inti aja. Kalau ada orang tanya aku kerja apa? Jawab aja pedagang makanan matang."
Safa manggut-manggut walau sambil senyum-senyum.
"Aku serius ingin menjadi rendah hati loh."
"MashaAllah, iya Suamiku aku percaya."
"Nah gitu dong. Jangan ngeremehin, nanti ku minta jatah ku dobel baru tahu rasa."
"Hei, ngomongnya?!" Safa mendelik sebelum Afin menujuk ke arah depan.
"Makanan kita datang."
Safa menghela nafas, emang bisaan ya dia biar aku nggak marah-marah.
"Kofte, ini favoritku. Hemmm..." Afin menikmati makanannya.
"Rasanya persis dengan yang di Turki." Safa menanggapi.
"Bahan-bahannya emang import langsung dari sana. Jadi rasanya tetep original."
Safa manggut-manggut mengiyakan. Mereka pun melanjutkan makannya hingga beberapa jam di tempat itu setelahnya pulang.
–––
Sesampainya di rumah, Safa langsung menengok anaknya yang tidur di kamar dia sendiri dengan baby sitter.
"Dia rewel nggak, Mbak?" Tanya Safa pada pengasuhnya.
"Enggak, Bu. Dek Aina sama sekali nggak rewel."
"Ya Allah, anakku." Safa menciumi anaknya pelan sambil membawanya keluar dari kamar tersebut, pindah ke kamarnya dengan Afin.
__ADS_1