Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 80


__ADS_3

Safa menurunkan wajahnya. Mengarah pada gadis yang masih berada dalam pelukannya. Ia berharap, apa yang ia dengar itu salah.


"Ini kebodohan saya, Ust! Saya menyesal, hiks. Saya ingin kembali ke empat bulan yang lalu. Saya menyesal, sangat menyesal, ust." sambungnya lirih sambil berderai air mata.


Safa sendiri bingung ingin menjawab apa. Ini bukanlah kasus ringan seorang siswa sekolah menengah atas. Ini merupakan masalah serius, yang sudah pasti akan berujung pada dikembalikannya Ifa kepada pihak keluarga, alias DO.


Sorot mata peri itu bergeser pada jam dinding kecil yang berada di ujung ruangan. Masih ada sisa satu jam lagi sebelum tiba waktu istirahat. Perempuan yang saat ini sedang mengandung anak pertama itu mulai mengendurkan pelukannya. Berjalan pelan menuju meja petugas PMR setelahnya mengambil satu kursi plastik.


Setelah membawa kembali dan duduk menghadap Ifa. Safa menghela nafas, tangannya menggenggam pelan tangan gadis di hadapannya.


"Kamu punya pacar?" tanyanya, yang di jawab anggukan dengan kepala tertunduk. "Anak sekolah ini juga?"


Gadis berseragam putih-abu itu menggeleng. Tangannya nampak memainkan ujung hijab putihnya.


"Lalu?"


"Pacar saya anak SMK 23, Ust," jawabnya pelan. Yang dimana sekolah itu terletak berdekatan dengan MAN ini. Hanya berjarak sepuluh meter saja.


"Jadi, kamu melakukan hubungan itu sama pacar kamu secara sadar, tanpa paksaan?"


"Iya, Ust." Kembali Ifa menangis. "Jujur, saya malu ngomongin ini sama Ustadzah Safa. Tapi, Ifa sendiri capek. Selama beberapa bulan ngumpetin masalah ini sendirian. Sementara pacar Ifa malah udah punya pacar baru lagi."


"Innalilah..." Safa mengusap-usap punggung tangan gadis yang kembali menangis sesenggukan. Ia pun meminta Ifa untuk tenang sebelum kembali bercerita.


Saat itu, adalah ulangtahun ketujuh belas laki-laki yang menjadi kekasihnya itu. Yang kebetulan bertepatan dengan tahun baru. Ifa dan kekasihnya menghadiri acara tahun baru yang menyediakan panggung hiburan dengan live music.

__ADS_1


Singkat cerita, sang gadis sempat berbohong ingin menginap di rumah teman perempuannya. Dan setelah mendapatkan izin ia justru pergi dengan kekasihnya ke tempat hiburan itu hingga pukul dua dini hari.


Setelah acara selesai dan berlanjut dengan makan malam di warung tenda. Ifa dan kekasihnya pulang ke kost sang kekasih yang jaraknya tidaklah jauh dari sekolah mereka. Ya, jadi sang laki-laki memang memilih kost dengan alasan agar lebih dekat dengan sekolah saja.


Saat itu, Ifa memang baru saja selesai menstruasi. Jadi sebelum berangkat tahun baruan. Ifa sempat melakukan mandi besar sehabis haid.


Dan di malam itu juga, entah mengapa mereka bercumbu mesra dalam satu kamar. Bahkan lebih mesra dari biasanya. Padahal tidak ada rencana untuk melakukan itu.


Hingga tanpa sadar, berakhir dengan penaburan benih di lahan yang sedang subur-suburnya. Setelah sang pria meminta kado ultahnya dengan cara berhubungan yang berkedok pembuktian cinta.


Tentunya sebagai gadis yang baru menginjak remaja. Akal sehatnya sangat tak bekerja untuk memikirkan dampak jangka panjangnya. Sementara kata pembuktian cinta dari laki-laki yang bisa di bilang cinta pertama itu tanpa sadar mengandung magis kuat untuk gadis remaja seusianya. Sehingga akhirnya ia rela untuk melakukan itu tanpa berpikir masalah yang akan menghadangnya nanti.


Dan setelah dua bulan ia tak mendapati fase menstruasi seperti biasanya. Gadis itu mulai mencurigai kondisinya yang tak baik-baik saja.


Flashback on


"Selamat malam, ada yang bisa di bantu?" Sapa Sang Apoteker dengan ramah.


"Mbak, ada alat tes kehamilan?" Tanyanya secara gamblang dengan wajah lesu dan pucat karena rasa tak nyaman di tubuhnya. Kontan, pemuda pria di sebelahnya langsung menoleh dengan cepat kearah sang kekasih.


"Kamu beli itu buat apa?" Bisiknya lirih saat sang apoteker sedang mencari alat yang di butuhkan. Sementara gadis berambut pendek yang menutup kepalanya dengan topi hoodie itu hanya diam saja.


Setelah membayar mereka kembali keluar dari apotek. Dan berdiri di parkiran motor. Dekat dengan motor matic berjenis Vario warna hitam.


"Heh, kamu ngapain sih ngajak ketemu cuma buat beli ginian?" tanyanya setengah berbisik menunjuk ke arah keresek mini di tangan pacarnya itu.

__ADS_1


Di hadapan dia, Ifa yang pucat itu bergeming, setitik air mata menetes dari salah satu netranya yang cantik itu.


"Aku udah dua bulan nggak menstruasi, Kak."


"Terus?"


"Aku khawatir..." Gadis itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tidak sanggup untuk mengucapkan suatu kemungkinan yang akan membuatnya mengutuk diri sendiri. Itu hanya dugaan dalam hatinya. Yang berharap tidak akan benar-benar terjadi apa-apa.


"Ngomong yang jelas, anj.r!" Pria yang sering kali mengeluarkan kalimat kasar itu sedikit menaikan nada bicara. Sejujurnya ia juga sudah memiliki feeling tak bagus saat pertama kali menyadari adanya cairan yang lolos sebelum ia mencabut bagian vitalnya. Itulah penyebab pria itu menghindari Ifa setelah hubungan malam itu.


"Kita bakal tau, besok. Sekarang aku mau pulang, huuupp..." Gadis itu menutup mulutnya ketika rasa mual kembali muncul.


"CK! Bikin repot gua aja, Lu!" Sarkasnya sambil menunggangi sepeda motor miliknya, dan di susul Ifa.


Esok paginya, gadis berambut pendek sebatas bahu itu tertegun. Melihat dua garis merah yang bahkan sangat pekat terlihat di alat tes kehamilan yang ia beli bersama kekasihnya tadi malam. Menandakan bahwa gadis remaja yang usianya belum genap tujuh belas tahun itu benar-benar positif hamil.


Pelik masalah yang ia hadapi saat ini. Ketika imbas dari sebuah kenikmatan haram yang sesaat itu, telah membenamkan dalam-dalam segala mimpi dan cita-citanya yang setinggi langit.


Ifa melangkah satu kali mundur, hingga punggungnya menabrak dinding toilet. Pelan-pelan, tubuhnya merosot. Jongkok di atas lantai keramik yang lembab itu. Tangannya membungkam erat mulutnya. Menahan Isak tangis yang ia khawatirkan akan sampai ke luar.


Gimana ini? Aku hamil...


Gadis dengan balutan baju tidur warna hitam dengan gambar kucing warna-warni itu membenamkan wajahnya di bagian lutut yang ia tekuk sambil menangis tanpa suara.


Ia sendiri sedang bingung. Bagaimana cara menyampaikan ini semua pada ke-dua orangtuanya. Lebih-lebih sang Ayah merupakan seorang buruh pabrik biasa yang sedang berjuang mengumpulkan uang untuk biaya kuliah putri satu-satunya itu.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2