
Arif menerima panggilan telepon itu dengan satu tarikan nafas.
"Ya?" Sapanya datar.
"Lu sekarang makin di atas angin, ya, Brother?" Sarkasnya dingin. "Diam-diam mau nikah? Bener-bener tindakan berani."
"Menikah itu bukanlah suatu tindak kejahatan. Jadi kenapa gua harus takut," jawab Arif dengan tenang.
Sebuah tawa sinis terdengar. "Nggak tahu diri anak ini! Terus, gimana dengan segala hutang yang belum terbayar lunas."
"Lu bisa ambil seluruh dari hasil adsense gua jika mau. Setelah itu jangan ganggu hidup gua lagi. Gua udah hijrah."
"Persetan dengan kata hijrah! Gua nggak membutuhkan duit itu– karena yang gua mau itu Lu, tetep milik gua sampai mati"
Arif menghela nafas. "Brody! udah cukup, Lu memaksa gua untuk melakukan perbuatan menyimpang. Ini waktunya gua berhenti. Gua pengen hidup normal."
"Normal?" Tanyanya, tak lama suara tawa keras terdengar dari sebrang. Arif terus mendengarkan tawa itu yang di akhiri dengan suara benda berbahan kaca yang di banting. "Lu pikir bisa hidup normal. Setelah selama ini menikmatinya? Yakin, Lu mampu menyentuh istri Lu dengan tubuh kotor itu?"
Arifin kontan terdiam. Bayang-bayang dirinya yang sedang bercinta dengan sesama jenis kembali terlintas.
"Gua tahu loh, seperti apa wanita yang mau Lu nikahi. Guru madrasah Aliyah yang Solehah. Baitus Safa..." sambungnya kemudian.
Deg! Mata Arifin melebar. Padahal, tak seorang pun rekan artisnya yang tahu tentang Safa. Bahkan teman-teman dekatnya pun tak ada yang tahu. Semua ia tutupi demi kenyamanan Safa yang notabene adalah seorang pendidik.
"Fin, Lu nggak malu dengan tubuh kotor itu menyentuhnya yang suci? Lu itu G*y, Fin! Penyuka laki-laki bukan perempuan."
"Brod, stop! Gua nggak pernah menikmati itu. Gua laki-laki normal. Lu yang buat gua kaya gini, b*ngs*t!!!"
"Hahahaha, tetap aja Lu udah keluar dari batasan Lu. Sadar nggak, Lu terlalu nekad menikahi gadis normal. Apalagi wanita Sholehah. Dia nggak pantes buat g*y kaya Lu!"
"Gua bukan g*y, sialan!" Runtuknya pelan namun menekan.
__ADS_1
"Lu... G*Y! apa lagi? nggak ada laki-laki normal yang mau melakukan itu dengan sesama jenis, Fin."
"Ini paksaan, bukan keinginan!"
"Paksaan? Coba di inget lagi, siapa yang memohon di depan apartemen gua dulu!"
"Sialan!!" Mengumpat tanpa henti.
Nafas Arifin naik turun. Emosinya mulai naik, satu tangannya bahkan terkepal kuat. Hingga ototnya yang menegang terlihat. Timbul dari dalam kulitnya yang bersih.
"Gimana reaksinya, ya? Kalau dia tahu. Seperti apa calon suaminya itu?"
"Bedebah! Lu maunya apa?! Ngomong, setan!" Sarkasnya berang.
"Nggak usah menjuluki Daddy seperti itu. Kembali aja, Fin. Semua belum terlambat, kok. Batalkan pernikahan Lu, sebelum semuanya menjadi kacau di pertengahan. Jangan jadikan wanita baik-baik sebagai ajang uji coba milikmu yang udah nggak berfungsi itu. Hahahaha– gua tunggu kedatangan Lu, besok di apartemen gua! Maka semua rahasia bakalan aman, Brother!"
"Brody, please! Gua nggak mungkin melakukan itu lagi. Gua amat...?"
Tut... Tut... Tut... Panggilan telepon terputus. Arifin menurunkan benda itu pelan. Sorot wajahnya terlihat tegang, dengan kedua mata yang menjadi merah nanar.
"Iiiiiisshh!!!" Arif membanting ponselnya sendiri kearah meja. Hingga benda itu mental dan terjatuh ke lantai. Setelahnya membungkuk, meremas kepalanya merasa frustasi.
Wajah Safa kembali melintas dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri. Senyum manis itu berubah menjadi tangis kebencian. Sedang menujuk kearahnya.
"AAAARRRGGGHHH!!" Arif mengerang frustasi. Bagaimana jika ia benar-benar tidak bisa memberikan nafkah batin sebagaimana semestinya. Yang di katakan Brody benar, tubuhnya yang kotor, tidaklah layak untuk Safa yang terjaga dan bersih. Tapi bagaimana, pernikahannya sudah tidak mungkin bisa ia batalkan.
Harus dengan alasan apa, ia mengemukakannya pada keluarga Safa. Selain itu Ia juga tidaklah sanggup melepaskan pelita cantik yang tinggal selangkah lagi akan ia miliki.
Dalam kegundahan hatinya. Arifin melihat sajadah yang menggantung di tiang stainless steel. Tempat sarung dan sajadah itu biasa menggantung di sudut ruangan.
Allah...
__ADS_1
Seperti kata penceramah yang sering ia dengar lewat kajian online. Siapapun yang sedang dihadapankan padanya sebuah jalan buntu. Maka tidak ada pertolongan lain selain dari Allah. Maka ketuklah langit Allah, demi meminta pertolongan itu.
Tanpa berpikir panjang Pria itu bergegas bangkit dan mengambil air wudhu. Untuk melangsungkan sholat Sunnah.
Dua rekaat di jalankan. Arif duduk dengan posisi bersila. Kedua matanya basah, menyiratkan penyesalan juga ketakutan.
"Aku benar-benar mau berubah, Ya Rahman. Aku benar-benar ingin menjadi diriku yang sebenarnya." Bulir-bulir bening berjatuhan. Arifin sesenggukan dalam doanya. Memohon petunjuk terbaiknya kepada Allah. "Aku sangat mengharapkannya, Tuhan! Tidakkah pantas aku mendapatkan yang suci sebab diriku penuh noda?" Arif menutup mulutnya, bahunya berguncang hebat karena tangis yang pecah.
***
Sebuah ketukan terdengar di pintu kamarnya. Tubuhnya bergerak, lantas mengusap kedua matanya yang terasa pedih.
Jarum jam menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit. Sudah mendekati waktu subuh. Arif tersadar, semalaman ia tidur di atas alas sujudnya. Tubuhnya masih menggunakan pakaian lengkap sisa sholatnya.
"Naaaaak!" Panggilan di luar membuat Arif menoleh kearah pintu. Suara Bunda membangunkannya. Laki-laki itu pun keluar kamar menyambut ibunya yang sudah tersenyum saat melihat Arif dengan baju kokonya.
"MashaAllah...," gumamnya.
"Bunda mau ke masjid?" Tanya Arif.
"Iya, Nak. Kita ke masjid sama-sama, ya. Lebih baik loh, daripada hanya jama'ah sama Pak Yono."
Arif terdiam, namun sepersekian detik dia mengangguk.
"Arif siap-siap sebentar lagi, Bunda tunggu di luar, ya."
"Itu bukannya udah siap?" Menunjuk busana yang di pakai Arifin.
"Ini?" Arif melirik ke pakaiannya. "Udah kepake buat tidur, Bun. Semalam ketiduran pake baju ini. Sebentar, ya..."
"Iya, Nak. Bunda tunggu di luar." Wanita itu mengusap lengan Arif sebelum memutar tubuhnya. Pergi lebih dulu menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Astaghfirullah al'azim. Bisa sampai ketiduran gini." Pria itu kembali masuk untuk membersihkan diri secukupnya. Lantas mengganti pakaian yang lebih bersih sebelum berangkat ke masjid bersama ibunya.