
Sesampainya di sana. Kerusuhan memang sudah mereda, hanya tersisa kekacauan yang di tinggalkan mereka.
Beberapa orang bekerja sama, membersihkan sampah atau batu-batu yang berserakan di aspal jalan.
Lalulintas juga terlihat sedikit kacau karena banyaknya orang-orang yang datang untuk melihat sisa kerusuhan tadi.
"Motornya di sebelah mana, Nak?" Tanya Bu Ayattul setelah mereka berdua turun dari mobil.
"Saya ingat betul di sini, Bu. Mungkin di pindahin orang." Safa mengedarkan pandangannya menoleh ke kanan dan kiri mencari sepeda motornya. Beberapa orang yang berdiri di dekat situ tak luput ia tanyai. Semua tidak ada yang tahu.
Ya Allah, masa iya motorku hilang. โTergambar raut wajah kesedihan di wajah ayu milik Safa. Motor itu baru iya miliki sekitar satu tahun yang lalu. Dan sekarang apakah harus hilang begitu saja?
"Bagaimana? Ketemu?" Tanya Bu Ayattul. Safa sendiri hanya menggeleng pelan. "Haduh, malang sekali. Kalau begitu..."
"Maaf, Bu. Saya menyela, kita sudah kehilangan waktu satu jam. Ibu harus menghadiri rapat sekarang," tutur sang supir mengingatkan.
"Tapi, urusan saya belum selesai."
"Nggak papa, Bu. Ini biar jadi urusan saya," kata Safa menimpali.
"Tapi?"
"Maaf, Neng! Cari motor yang di sini, ya?" Seorang ibu-ibu berseragam oren mendekati mereka.
"Iya, Bu bener. Itu motor saya. Ibu lihat?"
"Tadi saya lihat di angkut aparat. Coba aja konfirmasi ke Polsek."
"MashaAllah, Alhamdulillah." Gadis itu berbinar. Ya, syukurlah kalau hanya di angkut polisi. Tidak di bawa orang. Terlebih kunci motornya masih tersangkut. "Terima kasih informasinya, Bu."
"Iya, Neng. Sama-sama. Saya permisi."
"Iya, Bu." Safa tersenyum senang dengan hati penuh syukur. Ia kembali menoleh ke arah Bu Ayattul. Wanita paruh baya itu masih bertahan di dekatnya. "Ibu, kemungkinan motor saya ada di Polsek. Jadi saya mau langsung ke sana. Terima kasih sudah mengantar saya ke sini."
"Haduh, justru saya yang harusnya berterima kasih. Kalau begitu, Ibu pergi dulu ya. Maaf ibu nggak bisa nemenin kamu sampai ke Polsek."
"Ya Allah nggak papa, Bu. Hati-hati di jalan, Bu Ayattul." Safa meraih tangan ibu itu dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Bibir Bu Ayattul tersenyum senang merasa kagum dengan sikap sopan yang di tunjukkan Safa.
Keduanya lantas berpisah di sana. Bu Ayattul kembali masuk kedalam mobilnya dan mobil itu pun melaju. Gadis itu menghela nafas lega saat mobil wanita itu menjauh.
"Baiklah, saatnya ke Polsek. Mudah-mudahan beneran masih rezeki. Dan motorku ada di sana. Ya Allah, terima kasih." Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju Polsek terdekat untuk mencari informasi motornya itu.
***
Malam datang...
__ADS_1
Bu Ayattul menghentikan ngajinya ketika pintu kamarnya di ketuk seseorang. Beliau menoleh lalu tersenyum.
"Kamu udah pulang, Rif?" tanya Beliau sambil menutup Al-Qur'an yang berada di pangkuannya.
"Iya. Arif denger Bunda tadi hampir jadi korban kerusuhan?" Tanyanya sambil mendekat lalu duduk di hadapan ibunya.
"Benar, tapi nggak papa. Alhamdulillah Bunda di tolong gadis baik hati."
Arifin menghela nafas lega. Ia tak tertarik dengan gadis yang menolong itu. Yang penting saat ini ia bisa melihat ibu yang amat ia sayangi sehat.
Karena sejak kecil, Arifin hanya tinggal dengan sang ibu dan kakek neneknya. Ia ingat betul ketika ibunya sibuk kuliah sambil kerja demi mencukupi kebutuhannya dulu. Bagi Arifin, Ibu adalah segalanya. Ia tidak akan mampu membantah apapun yang di katakan sang ibu. Dan tidak ada ketakutan paling besar kecuali hari di mana ia harus kehilangan sosok wanita penyayang yang ada di hadapannya saat ini.
"Rif, tahu nggak. Gadis tadi itu belum nikah loh."
"Terus?" Tanyanya sambil merebahkan kepala di pangkuan sang ibu yang masih berbalut mukena.
"Dia masih muda, umurnya dua puluh delapan tahun. Cantik, tutur katanya halus. Satu lagi... Sholehah. Kerudungnya aja panjang."
Arif tak menanggapi, pemuda itu hanya memejamkan matanya menikmati rasa nyaman yang hanya bisa ia rasakan jika sedang berada di dekat ibunya.
"Oh, namanya Baitus Safa. Cantik kan? Kayanya kalau di kenalin ke kamu bakal cocok."
"Bunda, apa sih?"
"Iiiish, kamu kan harus menikah, Rif."
"Kok, gitu?"
"Arif masih mau melajang. Kalau perlu selamanya."
"Hus! Kalau ngomong yang bener, ah! Kalau di aamiinkan sama malaikat gimana?"
"Bodo amat!"
"Arif!"
"Lagian Arif udah punya. Jadi nggak usah jodoh-jodohin. Apalagi sama gadis yang baru di kenal."
"Siapa? Cewek itu? Nggak! Nggak! Bunda nggak mau punya mantu cewek yang suka umbar aurat."
"Tapi dia cantik, Bun."
"Cantik apaan kaya gitu. Nggak bisa di jadiin istri! Nggak pantas juga di jadiin ibu buat cucuk-cucuku. Kalau gadis tadi baru cocok...." Bu Ayattul membayangkan wajah teduh gadis tadi.
Sementara Arifin termenung entah apa. Wajahnya tak bisa menafsirkan sesuatu yang ada pada pikirannya.
__ADS_1
"Eh, lupa. Tadi kenapa nggak minta nomor telepon sama alamatnya, ya? Haduh! Sayang banget."
Bibir pria itu tersenyum tipis. "Udah lah pusing-pusing amat. Makan aja, yuk Bunda. Arif lapar."
"Oh, iya. Kamu belum makan?"
"Belum...," jawabnya sambil bangun.
"Ya ampun. Anakku kelaparan. Yuk kita makan, Bunda masakin gulai ayam."
"Bakal lupa diet kalau Bunda udah masak."
"Hahaha, buat apa diet. Kaya perempuan aja?"
"Arifin harus punya tubuh profesional, Bun."
"Aaalaaaaah! Nanti kalau udah jadi bapak-bapak juga perutmu bakal buncit." Keduanya tertawa sambil berjalan bersama keluar kamar.
๐๐๐
Di tempat lain...
Ustadz Irsyad, Rahma, dan Rumi bertandang ke rumah Ulum untuk bersilaturahmi serta memberi kabar. Jika putranya akan menikah dengan gadis asal Bandung. Di sana Safa nampak tersenyum tegar turut bahagia.
"Alhamdulillah, selamat untukmu, Rumi. Kira-kira akadnya kapan?" Tanyanya antusias. Aida yang seperti masih belum menerima itu menoleh kearah putrinya. Bahkan ia seperti ingin menangis.
"inshaAllah, dua bulan lagi. Keluarga sepakat untuk secepatnya. Karena, kondisi Debby," jawab Rumi.
"Oh, aku paham. Syukurlah aku turut senang mendengarnya. inshaAllah, saya akan datang. Tapi, bukan ikut iring-iringan Pakde Irsyad."
"Lantas?" Tanya Irsyad sambil tersenyum.
"Debby kan udah kaya adiknya Safa. Jadi aku mau dampingi dia nanti saat ijab qobul." Ketulusan itu terpancar jelas di mata perinya yang berbinar. Tangan Rahma yang duduk di sebelahnya menggenggam erat tangan Safa. Terharu.
"Allahu Akbar!" Irsyad bergumam. Beliau benar-benar takjub mendengar itu dari Safa. Padahal saat hendak datang kesini, ia sedikit khawatir. Akan kembali menaruh luka di hati anak itu.
"Kamu beneran mau mendampingi Debby?" Tanya Rahma.
"Iya Budeh. Nanti kita ketemu di sana."
"Tapi apa tidak apa-apa?" Rahma masih khawatir. Kedua matanya menatap lekat penuh penyesalan pada anak sulung dari Aida dan Ulum itu. Bayi cantik yang pernah ia timang-timang dulu sebab pada saat itu dirinya belum di berikan momongan.
"Memang Kenapa, Budeh? Jelas Safa nggak papa lah." Safa tertawa. Lebih-lebih saat Rahma mencium pipinya penuh kasih sayang.
Di sana mereka kembali mengobrol santai. Dan hanya Aida yang tak banyak bicara. Walaupun Safa terlihat menebar senyum pada mereka. Ulum juga, ataupun Qonni. Setelah berkali-kali maaf di lontarkan oleh keluarga itu. Tapi dirinya tetap tidak ikhlas melihat kebahagiaan sepihak, mereka yang menurutnya tidak punya hati. Padahal putrinya belum sembuh, namun dengan tega mereka akan menikahkan Rumi dengan Gadis lain. Sungguh, itu jauh lebih jahat baginya.
__ADS_1
Bahkan ia pun sudah tidak bisa melihat sosok Rumi seperti sedia kala. Kalau dulu ada rasa sayang layaknya keponakan, sekarang semuanya berubah menjadi ketidaksukaan. Seiring dengan hati yang luluh lantak.