
Menjelang hari-H, keluarga Arifin datang lagi. Katanya hanya untuk menanyakan persiapan keluarga Safa sebelum acara di langsungkan lusa. Saat ini Safa bisa melihat kebahagian teramat, yang ditujukan dari ibu paruh baya cantik di hadapannya. Setelah sebelum-sebelumnya berusaha keras, terus memohon dengan sangat agar Safa mau menerima pinangan untuk putra Beliau.
Berbalut pakaian trendy dan terkesan mahal. Duduk bersebelahan dengan Bu Aida. Wanita itu berbicara dengan ceria tanpa membatasi dirinya yang seorang pejabat.
Sangat berbanding terbalik dengan keluarga Ulum yang nampak sederhana dengan pakaian yang seadanya asal sopan. Mereka terkesan menjaga kesopanan di dekat Ibu Ayattul. Bahkan saat berbicara pun baik Ayah ataupun Ibu terlihat sangat hati-hati sekali.
Diam-diam Bu Ayattul sudah menyiapkan paket liburan untuk Safa dan Arifin berbulan madu nantinya. Yaitu, Turki.
"Bu, sebenarnya Safa hanya mau yang sederhana aja. Nggak hanya pernikahan, tapi ini. Kalau Bang Arifin mau ajak Safa bulan madu. Bisa di dekat-dekat sini. Bandung, atau Jogja. Safa udah senang sekali."
"Aiiiih, nggak papa. Sekalian, dia pulang ke tempat dimana dia dilahirkan dulu. Makam ayahnya juga kan ada di sana, Nak."
Belakangan, ia baru tahu. Kalau makam Ayahnya Arifin ada di Turki. Benar, Arifin memiliki darah Turki dari ayahnya.
"Liat gelang ini bagus?" Menunjukkan hadiah yang lain. Entah sudah berapa banyak hadiah yang di berikan Bu Ayattul. Baik untuk dirinya atau keluarganya.
"Ibu, Safa benar-benar berterima kasih sekali untuk semua yang ibu kasih. Safa senang, tapi sebaiknya jangan terlalu sering."
"Emang kenapa? Bunda dari dulu pengen punya anak perempuan, tahu." Tertawa sambil memasangkan gelang di tangan Safa. "MashaAllah, cantik sekali."
Safa tersenyum kaku semakin merasa tidak enak dirinya di perlukan seperti ratu oleh calon ibu mertuanya.
Memang setiap barang yang di berikan, beberapa kali Safa mencoba untuk mengembalikannya. Namun selalu di tolak oleh Bu Ayattul. katanya?
"Jangan pernah mengembalikan apapun yang sudah di kasih. Itu tandanya kamu nggak menghargai..." ujarnya tempo hari.
Padahal bukannya tidak menghargai Ia hanya merasa tidak enak saja jika harus di perlakukan seperti ini. Tanpa tahu bagaimana cara dia untuk membalas seluruh kebaikan wanita paruh baya itu.
"Setiap orang punya cara tersendiri untuk menjalin kedekatan dengan orang lain. Dan ini cara Bunda menjalin kedekatan dengan kamu. Jadi jangan merasa canggung, ya?"
Jika dilihat dari antusiasme Bu Ayattul. Beliau benar-benar tulus dan senang saat memberikan sesuatu untuknya.
__ADS_1
Seperti sekarang ini. kesan atusias di diperlihatkan manakala dirinya sibuk menunjukan destinasi mana saja yang akan menjadi tempat Arif dan Safa berpijak saat sampai di Istambul nantinya. Membuatnya tidak bisa mematahkan itu dengan penolakan terus menerus. Apalagi hotel dan tiket pesawat semua sudah di pesan.
Qonni yang di sana berdecak kagum bercampur iri yang bukan dalam konteks dengki. Ia merasa senang melihat Mbaknya yang beruntung itu.
Namun semua berubah menjadi jeritan kebagian. Ketika Bu Ayattul bilang, kelak akan membawa mereka semua. Jalan-jalan bersama ke Turki. Tentunya saat waktunya pas.
Gadis itu hanya diam, dikala riuh kebahagiaan berpadu di ruangan yang tak begitu luas. Hatinya seperti kembali tercubit. Memikirkan semuanya yang akan ia jalani pasca menikah.
Bahagia kah, atau justru sebaliknya... tapi dia juga tak pernah lelah memanjatkan doa perlindungan dalam bahtera pernikahannya nanti.
Ya, tinggal menghitung hari, statusnya akan berubah. Segala kewajiban yang di pikul Ayahnya selama ini, akan beralih pada laki-laki itu.
Beginikah rasanya menjadi gadis yang akan menikah? Padahal tidak ada paksaan saat mengambil keputusan ini. Tapi kenapa aku jadi murung dan sedih?
Safa melihat Bu Aida yang sudah mulai menerima mereka. Tergambar dari caranya yang turut berbicara walau tidak banyak.
Wajah-wajah yang penuh kebahagiaan di sana Membuat Safa dilingkupi rasa syukur. Karena sepertinya Bu Ayattul akan menjadi ibu mertua yang sesuai dengan harapan para menantu di belahan dunia manapun. Baik hati, dan amat meratukan menantunya. Ya, ia beruntung. Di tengah curhatan rekan-rekannya tentang ibu mertua mereka dengan berbagai tabiatnya yang tak sedikit membuatnya mengelus dada.
Ku harap kebahagiaan ini tetap ku rasakan. Ibu mertuaku tetap memandangiku penuh kasih sayang seperti sekarang. Dan Bang Arifin mampu menjadi surga ku yang sesungguhnya. –Safa yang berharap.
Malam harinya Ustadz Irsyad datang bersama Rumi, dan Debby. Keluarga itu berkunjung untuk mengucapkan selamat. Bahkan berjanji akan membantu apapun yang di perlukan oleh keluarga Ulum
"MashaAllah— Nggak usah repot-repot, Ustadz. Acaranya bisa dibilang sederhanaan aja, hanya ijab qobul dan tasyakuran," ujar Ulum dengan sopan. Ia tahu Ustadz Irsyad adalah seorang ulama yang cukup padat acaranya. Tidak enak saja jika ia harus merepotkan beliau.
"Nggak papa, Ulum. Nggak repot, kok. Demi keponakan, saya akan turut mendampingi sampai selesai acara."
"Alhamdulillah, terima kasih Ustadz."
"Sama-sama." Mereka kembali mengobrol. Safa menoleh sejenak ke arah Debby dan Rumi. Lalu tersenyum tipis saat melihat perhatian Rumi kepada istrinya. Menusukkan sedotan kecil ke permukaan plastik dari air kemasan. Sebuah tawa lirih keluar dari bibir Debby menanggapi candaan kecil sang suami.
Syukurlah mereka nampak bahagia. Jika saja aku egois. Mungkin kebahagiaan itu tidak akan terwujud. –gadis itu meminum airnya sendiri. Sambil beralih pandangan ke sudut lainnya.
__ADS_1
Waktu semakin malam. Keluarga Ustadz Irsyad berpamitan pulang. Debby memeluk tubuh Safa erat mengucap salam perpisahan.
"Aku pulang dulu, Mbak Safa. Semoga kehidupanmu, selalu di penuhi kebahagiaan."
"Aamiin, Deb. Besok mau ya mendampingi aku."
"Tentu, dong. Pokoknya, aku bakal ada sebelum ijab qobul di mulai. Aku akan menggenggam tanganmu seperti ini." Debby menggenggam tangan Safa erat. "Sama seperti kamu menggenggam tanganku, Mbak," tuturnya senang. Safa tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya merasa terharu karena akhirnya, hatinya akan benar-benar di serahkan pada yang tepat.
"Sekali lagi selamat buat kamu, Fa." Rumi menimpali di tengah-tengah mereka. Wajah yang sebelumnya menatap dia dengan rasa bersalah sekarang sudah berubah kelegaan.
"Iya, Rumi. Makasih ya, udah sempatin kesini. Padahal acaranya masih lusa."
"Nggak papa, kita kan semua keluarga."
Keluarga... –Safa mengangguk dengan senyum mengembang. Benar, keluarga...
...
Di tempat lain...
Arif duduk di kursi kerja, memandangi rentetan tag di akun sosial media miliknya. Gosip tentang dirinya yang mengkhianati Camelia semakin ramai. Beberapa pendukung Camelia bahkan menghujatnya habis-habisan. Lantas menyangkut pautkan dengan gadis berjilbab yang dulu pernah di ajak Arifin lari menghindar fansnya.
"Kenapa jadi semakin merembet kemana-mana?" Arifin bergumam.
Mereka memang sudah tidak lagi saling follow. Namun, banyaknya postingan galau milik Camelia yang di repost oleh beberapa orang membuatnya sedikit terganggu.
"Nih cewek emang pinter banget aktingnya. Siapa lagi yang di bayar buat nulis kata-kata sok dramatis. Ckckck..." Arifin keluar dari menu sosial media beralih pada menu utama, lantas meletakkan ponselnya begitu saja.
Sejenak terdiam sambil menyandarkan kepalanya menatap langit-langit kamar. Saat ini jantungnya kembali berdebar, ketika mengingat wajah teduh calon istrinya.
"Alhamdulillah, sejauh ini semuanya baik-baik aja. Semoga bisa lancar sampai hari H... tapi sebelum itu. Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya tentang aibku pada Safa. Tapi kalau dia sampai kecewa dan membatalkan semuanya gimana?"
__ADS_1
Drrrrrttt... drrrrrttt... Ponsel Arifin bergetar. Sorot matanya kemudian beralih pada benda pipih diatas meja.
Brody is calling...