Selebgram Insaf Untuk Si Solehah

Selebgram Insaf Untuk Si Solehah
Bab 44


__ADS_3

Setelah beberapa jam mengobrol dengan ibu dan ayah yang tiba-tiba datang. Mereka pun berpamitan, tangan Afin tak terlepasnya menggenggam tangan Safa sambil mengantar sepasang suami-isteri itu pulang dengan motor sederhana mereka.


"Kejadian kemarin benar-benar bikin geger orang tua kita. Kasian mereka jadi khawatir, apalagi Bunda, yang sampai bela-belain malam-malam kesini," gumam Safa yang masih tertuju pada jalan yang di lalui orang tuanya baru saja.


"Wajar, mereka khawatir. Namanya juga orang tua... apalagi kamu istriku. Apapun yang terjadi padamu ataupun aku pasti akan langsung keangkat ke media dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Sudah otomatis, orang tua kita akan langsung tahu."


"Iya–" gadis dengan bergo instan itu menghela nafas. Sebelum menoleh kearah suaminya yang sedang mencium tangan Safa. "Abang ngapain?" gadis itu tertawa geli.


"Kamu harum sekali," gumam Afin yang masih menempelkan tangannya di bibir. Otaknya seperti masih membayangkan apa yang ia lakukan dengan Safa tadi pagi.


"Abang–" Safa tersipu, menepuk manja lengan Afin.


"Pagi ini, ada yang mau kamu lakukan, nggak?" Tanya Afin menawarkan.


Kali saja istrinya ingin melakukan sesuatu. Seperti jalan-jalan ketempat yang romantis, mungkin. Afin sendiri baru kali ini merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, jadi ia tidak tahu hal apa saja yang wajib dilakukan sepasang kekasih saat ingin menghabiskan waktu bersama. Setelah sebelumnya hanya mampu mengagumi wanita cantik tapi tak pernah bisa mengakui ketertarikannya walau hanya pada dirinya sendiri. Ya semua sebab Brody. Omong-omong kemana laki-laki itu..?


"Eeeemmm, ada sih. Tapi aku nggak tau, apakah Abang mau atau tidak." Safa menjawabnya dengan ragu.


"Ngomong aja. Aku pasti mau kok melakukannya. Apapun itu." Seolah ingin berperan sebagai jin lampu yang bisa melakukan apapun untuk istrinya. Pria itu sukses membuat Safa merasa senang.


"Baiklah. Ini keinginan sederhana sih. Dulu saat aku masih gadis, ada yang ingin sekali aku kerjakan setelah menikah di pagi hari."


"Apa?" Kedua tangan Afin masih asik memainkan tangan kanan Safa. Mencium, mengusap-usap ke pipi dan lain sebagainya.


"Belanja ke pasar terus masak sama-sama dengan suamiku," jawabnya semangat.


"Belanja ke pasar?" Tanya Afin mengulangi.


"Iya, Bang. Jadi, kadang aku sama ibu atau aku sama Qonni 'kan sering ke pasar ketika lagi libur. Aku suka melihat pengantin baru belanja di pasar tradisional. Ngeliat mereka milih-milih sayur berdua itu rasanya iri banget. Sampai aku pengen mengalami itu saat udah menikah."


Afin terdiam mendengarkan ocehan istrinya. Dimana mereka masih berdiri di luar pagar besar rumahnya.


"Tapi aku paham, suamiku publik figur. Jadi mungkin akan sangat sulit untukmu."


"Emang sulit kalau kita belanja di pasar tradisional. Tapi kalau di fresh market, boleh juga."

__ADS_1


"Hah, beneran?" Pekik Safa antusias.


"Beneran. Yuk, kita ke fresh market. Jujur, aku juga tertarik untuk belanja sama-sama kamu, dan makan masakan kamu."


"Masak-masaknya?"


"Aku mandorin aja."


"Nggak adil dong?" Safa memukul manja lengan Afin yang merespon dengan tawa.


"Iya, semuanya. Belanja, masak, dan makan. Kita lakukan itu berdua. Gimana?" Afin menoel dagu Safa dengan tatapan seksi yang menggoda. Karisma laki-laki itu memang luar biasa. Pantas saja digilai banyak wanita.


Safa mengangguk senang, sementara Afin langsung menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam untuk bersiap.


Tentunya Safa merasa sangat senang sekali. Walau waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan itu bisa dikatakan tidak sama dengan visual di masa lalu. Karena pasangan suami-isteri baru yang sering ia lihat adalah jalan-jalan di pasar pagi selepas subuh.


🌸🌸🌸


Gadis dengan gamis warna hijau sage yang di dobel long cardigan rajut warna putih itu terus memilih-milih sayuran segar yang terbungkus plastik wrap. Sementara laki-laki yang memakai kaos lengan panjang warna putih dengan aksen garis hitam di lingkar lengan sebelah kirinya, plus topi putih itu turut memberikan saran pada gadis yang kebingungan ingin masak yang mana. Karena semuanya terlihat segar dan menarik.


"Abang suka sayur pare, nggak?" tanya Safa sambil menunjukkan bungkusan berisi dua buah pare segar.


"Kalau masak sup kita harus beli satu persatu komponennya." Safa sedang berpikir, sebelum mengambil beberapa bahan sup lainnya.


Afin sendiri justru bertopang dagu, asik memandangi wajah mungil yang terbungkus hijab pashmina jumbo.


"Abang mau sup ayam apa sapi?" Bertanya tanpa menoleh selain fokus pada sayuran yang berjajar rapi di etalasenya.


"Kamu," jawab Afin sambil tersenyum. Gadis itu membeku, sepersekian detik berikutnya menoleh dan mendapati laki-laki itu sedang memandangnya nakal.


"Abang, serius!"


"Hahaha..." Pria itu tertawa saat mendapati cubitan manja Safa. "Sapi, Sayang. Aku suka sup daging."


Ke-dua pipi Safa kontan memerah. Hatinya benar-benar senang saat suaminya menyebutkan kata sayang sebagai julukan. Karena ia jarang memanggilnya itu.

__ADS_1


"Ba–baiklah. Kita cari daging dulu." Gadis itu mengedarkan pandangannya, sebagai cara menghindari tatapan Afin yang menurutnya sedikit nakal. Ia terus mencari area khusus daging. Jujur saja Safa bingung, sebab dia termasuk jarang belanja bahan-bahan segar di mall jadilah ia terus mondar-mandir bahkan sampai mendatangi area yang sama sebanyak tiga kali.


"Daging itu di sebelah sana!" Afin meraih pinggang Safa hingga gadis itu terhenyak kaget.


"Abang mau apa?" Gadis itu refleks menyentuh tangan Afin berusaha melepaskan diri, sementara kedua matanya menoleh ke kiri dan kanan. Takut saja jika ada orang yang melihat mereka.


"Kamu lama jalanya. Muter-muter nggak jelas, jadi mau ku masukin ke keranjang aja biar cepet," ledeknya sebelum tertawa saat mata Safa melotot padanya.


"Iiih, aku tuh cuma lagi bingung cari daging di sebelah mana. Emang Abang pikir aku barang?" Cicitnya sedikit sebal.


"Iya kamu barang. Barang berharga di hatiku..."


"Astaghfirullah al'azim..." Safa tersipu ia membuang muka sambil berjalan lebih dulu. Kemudian di susul Afin sambil mendorong troli mereka.


Jadi gini rasanya ngeledekin istri. Gemes-gemes gimana, gitu... Laki-laki itu masih tertawa tanpa suara sambil geleng-geleng kepala.


Karena waktu masih terbilang pagi, swalayan terlihat masih sepi hanya beberapa orang tua saja yang terlihat. Dan mereka sebagian besar tak begitu mengenali Afin. Keduanya masih sibuk mencari-cari bahan untuk di olah dan setelah selesai mereka langsung pulang.


***


Di dapur yang luas, Afin melepaskan topinya. Pria dengan kaos lengan panjang itu langsung menyingsing lengan bajunya. Ia berdiri di belakang Safa yang mulai mengeluarkan bahan-bahan belanjanya. Lalu turut mengeluarkan itu dengan posisi mengungkung tubuh mungil istrinya.


Safa menoleh kebelakang dengan sedikit mengangkat kepala mengimbangi wajah Afin. Sebab laki-laki itu yang iseng menyentuh tangannya, bukan bahan makanan yang ada di dalam plastik. Kedua pasang mata itu bertemu, kemudian sama-sama tertawa sebelum Afin mendaratkan kecupan di pipi.


Bibi yang biasa di dapur diam-diam mengintip kemesraan mereka. Tiga wanita berbeda-beda usia itu senyum-senyum sambil menutup mulut masing-masing.


"Ya Allah, Nyai! meni romantis pisan, eta Si Aden jeung Nengnya. Teu nahan abdi jadinya." Teteh berbaju setelan pendek terus menepuk-nepuk punggung wanita yang usianya sudah tak muda lagi di depannya, girang.


"Lu, jangan mukul terus napa, sih! Nonton mah nonton aja, tapi jangan mukul. Sakit punggung Nyai ini."


"Hampura, atuh, Nyai! Hahaha... gemes teh Abdi liatnya."


"Jangan pada berisik. Nanti kedengaran Den Afin kita kena tegor, loh," Sahut wanita lainnya agar mereka berhenti berbicara.


"Iya, Ceu maaf... Hihihi."

__ADS_1


Memang momen seperti ini belum pernah ketiganya lihat semenjak bos mereka menikah. Jadi wajar saja mereka terlihat sangat senang. Bahkan tiga bibi tadi merasa tidak menyangka, seorang Afin yang cenderung dingin bisa berlaku romantis dengan istrinya. Sungguh, kehangatan suami-isteri baru yang sesungguhnya, akhirnya bisa mereka saksikan secara langsung.


Sebuah protes kecil pun di gaungkan Safa beberapa kali, yang merasa suaminya banyak main-main bahkan cenderung mengganggunya. Bercampur dengan tawa lepas Afin yang merasa puas membuat wanita itu terlihat jengkel.


__ADS_2