
Selama sepuluh hari di Turki. Ada banyak pengalaman baru yang di alami Safa. Mulai dari berkunjung ke tempat Paman Emir. Menikmati masakan bibinya Afin. Merasakan dinginnya salju. Melakukan perjalanan ke Cappadocia, lantas berlanjut ke tempat-tempat lain yang kental akan sejarah Islam.
Semua bisa ia rasakan dengan rasa syukur bercampur tak percaya. Meski di empat hari terakhir mereka harus membatalkan kunjungan ke berbagai destinasi lainnya. Karena Safa sakit selama beberapa hari terakhir di Turki.
Wanita dengan hijab warna Nevy itu menghela nafas panjang. Memandangi langit yang di hiasi pendar cahaya dari lampu-lampu jalan dan toko yang berjajar di tepi jalan.
Akhirnya mereka berdua bisa kembali ke Jakarta. Setelah beberapa hari merasakan dingin hingga tubuhnya sulit mengeluarkan keringat. Sekarang, mengikuti suhu di jakarta yang menginjak angka 28°C. Tubuhnya bisa kembali berkeringat lagi.
Tangan Afin menyentuh kening istrinya. Ia bersyukur, Safa sudah tidak demam lagi seperti semalam. Kepala yang tertutup kain hijab itu bergerak, menoleh kearah suaminya.
"Kamu masih pusing, nggak?" tanya Afin lirih. Tatapannya mengarah khawatir.
"Enggak terlalu, Bang. Kan udah berobat juga."
"Maunya senang-senang, tapi malah jadi begini. Semua gara-gara aku," lirihnya.
"Kok, jadi menyalahkan diri sendiri?" Safa menggenggam tangan suaminya.
"Ya, karena aku cari tempat yang jauh-jauh sebagai destinasi wisata. Sampai-sampai pindah-pindah hotel. Kamu kan jadi sakit, Fa."
Bibir yang tak terlalu pucat itu mengulas senyum. "Kayanya bukan itu sih... lebih tepatnya, tubuhku belum terbiasa dengan suhu dingin. Aku emang, agak gampang sakit kalau di tempat bersuhu rendah."
"Tapi, tetep aja. Berhari-hari melakukan perjalanan udara dan darat itu berpengaruh juga atas kondisi kamu."
"Ya Allah– ya udah, toh yang penting aku udah mendingan. Malah justru aku yang nggak enak, kita jadi mempercepat kepulangan dan membatalkan rencana yang udah Abang susun jauh-jauh hari."
"Kalau itu aku nggak masalah, yang penting kamu harus kembali sehat. Setelah ini kamu juga harus banyak istirahat."
"Iya, Bang..." Safa menyandarkan kepalanya di bahu Afin. Matanya kembali terpejam, menikmati perjalanan dari Soekarno-Hatta menuju tempat tinggal mereka. Hanya membutuhkan waktu tak lebih dari satu jam. Itupun jika tidak bertemu kemacetan.
...
Mobil telah sampai di rumah. Afin meminta tolong pada para pekerjanya untuk menurunkan semua barang-barang.
"Assalamualaikum–" Safa mengucap salam saat memasuki pintu rumah mereka lebih dulu.
"Walaikumsalam warahmatullah..." Di sana sudah ada Bu Ayattul. Beliau rupanya sudah di rumah itu sejak sore tadi.
"MashaAllah, Bunda di sini?" Safa meraih tangan kanan ibu mertuanya, mengecup punggung tangan itu dengan takzim.
"Iya, Nak. Bunda tadi kesini dari jam lima sore. Bunda juga udah masakin makanan buat makan malam. Kalian belum makan, 'kan?" Tanyanya.
Safa sendiri membalas dengan gelengan kepala. Tak lama Afin masuk menyapa sang Bunda.
"Kamu kok, keliatan pucat?" Tanya Bunda yang kembali memperhatikan menantunya.
"Safa sakit, Bunda," jawab Afin.
"Sakit?" Menyentuh kening Safa, dan area pipinya. "Sakit apa, Nak? Ya ampun, Bunda baru ngeh kalau tubuhmu panas."
__ADS_1
"Cuma mengalami hipotermia dikit, Bun. Sama kelelahan... tapi aku nggak papa, kok," jawab Safa lirih.
"Ya udah, sana naik dan istirahat. Nanti kamu makan di kamar aja."
"Wallahi, nggak papa Bunda. Safa masih bisa makan di meja makan sama-sama. Tapi, Safa izin ganti pakaian dulu."
"Iya, Nak." Bu Ayattul mengusap lengan menantunya. Sebelum wanita itu berjalan menjauh. Bunda pun menoleh ke arah Afin yang masih berdiri di tempatnya. "Kenapa masih di sini, istrimu keliatan lemas loh. Sana anterin ke atas, kalau tiba-tiba pingsan gimana?"
"Iya, Bunda. Ini juga mau nyusul Safa. Tapi aku mau peluk Bunda dulu." Afin merentangkan kedua tangannya, yang di sambut senyum Ibunya sembari menepuk bahu anak itu.
"Kamu ini... tahu aja kalau Bundanya kangen?" Bu Ayattul langsung menyambut pelukan anaknya.
"Ya tau, lah. Arif itu anak Bunda yang sangat peka."
"Halah! Bisa aja, kamu itu..." terkekeh.
"Bunda sehat, 'kan?" Tanya Afin masih dalam posisi memeluk.
"Sehat, seperti yang kamu liat ini." Tangan sang ibu mengusap-usap punggung anaknya melepas rindu.
Sementara itu, Safa menoleh sejenak di tangga. Bibirnya tersenyum mengucap hamdalah saat menyaksikan kedekatan Bunda dan juga Suaminya.
Bang Arif itu memang sosok yang romantis dan manis sikapnya, kalau berada di sisi orang-orang yang ia sayangi. –Safa membatin.
"Sssssssttt..." Kembali wanita itu meringis, karena rasa tak nyaman pada tubuhnya. Rasanya, sudah sangat ingin menjatuhkan diri ke atas ranjang.
🌸🌸🌸
Sementara sang suami yang sudah berada di sana langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Kembali menyentuh area wajah.
"Kita ke rumah sakit lagi aja, ya?" Afin menawarkan.
"Nggak usah, Bang. Nanti juga sembuh."
"Tapi kamu bilang tubuh kamu dingin, dan sendi kamu linu. Kalau tipes gimana?"
"Itu wajar. 'Kan aku demam." Safa menjadikan telapak tangan Afin sebagai bantalan wajahnya. Karena wanita berambut panjang se bawah bahu itu tidur dalam posisi miring, meringkuk di bawah selimut.
"Kalau begitu, kamu di kamar aja. Biar makanannya aku yang bawa ke sini."
"Jangan, Bang. Aku nggak enak sama Bunda." Safa menahan lengan Afin yang hendak bangun.
"Ngapain nggak enak. Bunda kan paham kondisi kamu."
"Jangan–" Safa memaksakan diri untuk duduk. "Makan sama-sama aja di bawah."
"Tapi?"
"Nggak papa, Bang."
__ADS_1
"Ya udah. Pelan-pelan kita kebawah ya," pintanya yang di jawab dengan anggukan kepala.
...
Di bawah, Bunda sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Beliau lantas menyambut anak dan menantunya dengan hidangan yang Beliau masak bersama para asisten rumah tangga di sini.
"Ya ampun. Harusnya cukup di kamar aja. Bunda makan sendiri juga nggak masalah, Nak," kata Bunda sambil mengeluarkan kursi untuk Safa. Wanita dengan bergo warna grey itu pun mengucapkan terima kasih.
"Safa malah lebih enak kalau makan di ruang makan sama-sama, dari pada harus di kamar." Kedua matanya tertuju pada makanan di atas meja.
Seharusnya, semua menu cukup menggugah selera. Namun, mendadak ia sangat tidak menyukai makanan bersantan.
"Kamu mau makan yang mana?" Afin menawarkan setelah meletakkan nasi keatas piring Safa.
"Safa tiba-tiba nggak berselera," jawabnya lirih walau masih terdengar Bunda Ayattul. Wanita paruh baya itu pun menghentikan gerakan tangannya yang hendak menciduk kuah ikan kakap yang di masak santan.
"Kamu nggak berselera. Terus mau makan yang mana?"
"Emmm..." Safa terdiam sejenak mengamati lagi. Rasanya tidak enak hati jika menjawab jujur, kalau tidak ada satupun hidangan yang membuatnya berselera. "Safa makan nasi aja ya, Bun."
"Kok, cuma nasi? Nggak papa ngomong aja. Namanya lagi sakit emang hawanya malas makan. Tapi tetep harus di paksakan, Nak. Apa mau bunda pesankan Sop Ayam?"
Wanita di sebelah Afin langsung menggeleng. Ia tidak mau itu. Karena ada makanan lain yang sangat ingin ia makan sata ini.
"Terus kamu mau makan apa, Sayang?" Afin menggenggam tangan Safa yang berada di atas meja.
"Nggak papa ngomong aja–" Bunda menimpali karena menantunya nampak diam saja.
"Safa pengen makan tempe mendoan, sama sambal kecap, Bang," jawabnya kemudian setelah berpikir cukup lama.
"Tempe mendoan?" Tanya Afin, sang istri pula mengangguk.
"Yang Asli purwokerto."
Bunda Ayattul tiba-tiba tersenyum sambil meletakkan sendok dan garpu di tangannya.
"Belikan, Rif. Atau bila perlu ajak istri kamu cari makanan itu di luar." Bunda menyarankan. Afin pun kembali menoleh kearah sang istri.
"Serius mau makan tempe mendoan?" tanyanya sekali lagi yang di jawab anggukan. "Cari dimana ya, yang enak?" gumamnya kemudian.
"Besok juga nggak papa, Bang. Hari ini Safa makan nasi aja."
"Jangan, Nak." Bunda menggelengkan kepalanya. Lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Arifin. "Rif...! Cepet sana! Ajak istrimu keluar cari tempe mendoan."
"Tapi, Safa kan lagi sakit, Bun?"
"Oh, iya... kalau begitu. Kamu aja sana– cepetan!"
"Bunda, Maaf. Tapi biar Bang Arif makan dulu. Safa beneran nggak papa, kok. Di cari besok juga nggak papa."
__ADS_1
"Aiiiihhh! Nanti aja makanya, sama-sama kamu. Istrinya kan nunggu mendoan. Suaminya juga harus ngerasain lapar juga. Sana! Sana! Keluar. Cari tempe mendoan asli Purwokerto!" Bunda nampak bersemangat sekali sampai-sampai menarik lengan Afin untuk cepat bangkit dan keluar mencari makanan yang di inginkan Safa. Berbeda dengan Afin dan Safa yang justru kebingungan.