
Hiruk-pikuk ruang ganti di salah satu studio penyiaran tak mengusik ketenangan Afin yang memilih meja rias paling ujung di sudut ruangan. Seorang stylish pria tengah menata rambutnya, sesekali melirik Al Qur'an kecil di tangan laki-laki itu.
Pemandangan biasa yang akhir-akhir ini Afin tunjukkan. Demi menghindari interaksi tidak penting.
Ada sedikit rasa kagum, namun lebih dominan rasa segan tidak seperti sebelum-sebelumnya. Karena dulu, sikap Afin yang friendly acap kali membuatnya tak segan untuk iseng menggoda sebagai basa-basi. Sebab Afin Anka terkenal sebagai Influencer yang gemar bercanda ria dengan siapapun. Selalu semangat mengikuti pesta sana-sini. Bahkan sampai tidak pulang pun dijabanin. Asal dia bisa bersenang-senang dengan para teman-teman sekelasnya.
Sekarang, sosoknya benar-benar berubah 180°. Sebab, Afin yang sekarang justru seperti memberi benteng besar dalam dunianya. Yang sulit untuk di tembus siapapun. Satu perubahan mendadak yang membuat teman-temannya beranggapan bahwa pria itu fanatik. Perempuan-perempuan cantik pula tak lagi berani bergelayut manja pada Afin seperti dulu. Karena sudah pasti akan langsung di singkirkan dengan tatapan tidak suka.
Tak jarang pula orang-orang berbisik akan perubahan Afin yang jadi semakin alim bagi kalangan mereka. Hingga menimbulkan pemikiran-pemikiran negatif yang mengarah pada Isteri pria berdarah Turki itu.
Pasti semua paksaan istrinya. (Si A)
Istrinya posesif deh kayaknya. ( Si B)
Nggak enak banget punya isteri kaya gitu. Kak Afin pasti terkekang. (Si C)
Kalau gua mending cari yang baru. Dari pada batin tersiksa. (Si D)
Paling bentar lagi disuruh panjangin jenggot plus gamisan. Hihihi... (Si E)
Dan puluhan cibiran lainnya. Sementara laki-laki itu tidak peduli dengan pemikiran mereka. Yang jelas, prioritasnya saat ini adalah tentang bagaimana caranya istiqomah dalam hijrahnya. Terserah saja, mereka mau menganggap dia yang sekarang fanatik agama.
Karena, bukankah memang Islam itu asing sekarang di mata penganutnya yang menormalisasi budaya luar negeri? Dengan dalih Islam itu memudahkan. Padahal, memang mudah. Namun bukan berarti menggampangi urusan akhirat.
Lantunan ayat yang ia baca tanpa suara itu juga masih belum benar bacaannya. Tapi kata para ulama yang di sampaikan kembali oleh lisan istrinya.
"Jangan menunggu pandai dulu baru mau baca Qur'an. Karena ahli Qur'an bukan berarti dia yang hafal 30 juz. Melainkan dia yang mau membaca terus. Bahkan misalkan sampai terbata-bata, dan orang itu meninggal dalam keadaan sedang belajar Qur'an. Maka ia pantas di sebut sebagai ahli Qur'an."
Kata-kata itu selalu membuat Afin merasa tenang dan optimis. Dan sekarang targetnya harus hafal surat pendek minimal satu bulan sekali. Dan itu sedang di lakukan pria itu dengan semangat. Gini-gini, ia juga ingin membaca suratan yang lain-lain saat mengimami Safa Shalat.bTidak hanya Al Falaq dan An Nas sebagai surat andalannya.
"Tabbat yada..." Afin menutup mushaf-nya. Mencoba untuk menghafalkan surat Al lahab pelan-pelan. Walau masih terus membukanya sesekali sebab lupa. "Abi.. la.."
__ADS_1
"Kak Afin... Persiapan, ya..." Seorang crew memberikan informasi. Laki-laki yang sedang sibuk hafalan surat-surat pendek itu mengangguk. Ia kembali meletakkan Al Qur'an tadi. Kemudian bercermin, melihat riasannya yang sudah selesai.
"Gimana, Kak?"
"Okay! makasih, Juno."
"Sama-sama, Kak Afin–" pria yang sedikit gemulai itu membenahi alat tempurnya sebelum kembali mengerjakan talent lainnya.
🌸🌸🌸
Hari sudah kembali beranjak sore. Dimana langit senja berwarna merah saga sudah menyambutnya. Pria dengan kaos lengan panjang warna hitam, yang menutup sebagian wajahnya dengan topi dan masker itu berjalan sambil menelfon istrinya.
Dalam sambungan telepon itu, Afin lebih banyak mendengarkan ocehan istrinya. Sementara bibirnya mengulas senyum gemas.
"Maaf, ya, Bang. Bukan Safa tak menghargai pemberian Abang. Tapi bagi Safa, uang itu terlalu banyak."
"Itu hanya separuh dari hasil ku, Fa. Kemana lagi aku harus menitipkan jika bukan pada Istriku. Yang sekarang menjadi manager keuangan di rumah," tuturnya sambil membuka pintu mobil. Terdengar pula helaan nafas dari seberang. "Jangan diem aja, dong..."
"Mikir apa?" tanyanya sambil menutup pintu setelah masuk kedalam mobil. "Udah ya, Sayang. Itu hak kamu, mau kamu apain. Terserah!"
Pembicaraan masih berlanjut, Afin menekan tombol mesinnya setelah memasang seat belt. Namun, tepat di depan mobilnya. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti sambil menempelkan bemper depannya dengan bemper depan mobil Afin.
Laki-laki itu tertegun, menatap wajah yang ia kenal di dalam mobil tersebut.
"Fa, aku tutup dulu ya. Dan maaf, semisal nanti aku pulang telat."
"Iya, Bang. Yang penting hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Dengan tatapan masih tertuju pada laki-laki tambun di depannya. Afin mematikan sambungan telepon. Lantas membaca catatan besar di tablet yang ditunjukkan pria besar bertato di dalam mobil depan.
(KELUAR DAN MASUK KE MOBIL GUA. ATAU KITA ADU BANTENG DENGAN MOBIL MASING-MASING!)
__ADS_1
gerakan naik turun terlihat di bagian depan lehernya. Saat laki-laki itu menelan air liurnya sendiri. Setelah berpikir, Afin kembali mematikan mesin. Lantas melepas kembali seat belt sebelum membuka pintu dan keluar.
Kakinya berhenti di depan pintu mobil, di sambut suara kunci yang di buka bercampur senyum licik Brody. Laki-laki itu mempersilahkan Afin untuk masuk dengan gerakan kepalanya.
Namun belum juga masuk, ia sudah mendapati mobil lain yang tak jauh darinya di mana seseorang di dalam mengarahkan kamera padanya.
Kayanya, laki-laki ini ingin menjebak ku lagi. Afin bergeming, tak menyentuh sedikitpun benda yang terbuat dari besi itu. Mendapati Afin yang masih tak bergerak, Brody langsung membukakan pintu tersebut.
"Apa yang kamu tunggu. Ayo masuk!" pintanya pada dia yang masih membisu.
Sraaak... Kaki Afin bergerak, merubah posisinya ke lain arah. Kemudian berjalan mendekati sesuatu yang sudah ia curigai.
"Keparat!" Brody yang melihat perintahnya tak diindahkan. Langsung mengubah posisi tuas ke R. Mobil mulai bergerak mundur, setelahnya gerakan roda berbelok. Mengarah pada posisi Afin Anka. Laki-laki itu kembali memajukan mobilnya sedikit hingga pas dalam kondisi lurus.
Pria dengan tubuh penuh tato tersebut menggerakkan kepalanya untuk melakukan perenggangan.
"Lo yang minta jalanmu seperti ini. Sampai kapanpun, Gua nggak akan pernah sudi melepaskan Baby sugarku. Maka, wanita itu juga nggak boleh memiliki mainan ku!"
Semakin jauh Afin melangkah bahkan hampir sampai pada mobil milik orang yang di bayar Brody untuk merekam apapun yang akan terjadi di mobilnya. Laki-laki itu langsung menginjak pedal gas sekuat mungkin.
Brrrrmmmmm...
Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, berniat untuk menabrak tubuh Afin bahkan kalau bisa, menggencetnya ke tembok basemen. Lebih baik membuatnya mati saja. Setelah itu, mungkin ia sendiri juga akan bunuh diri.
Sementara itu kepala Afin menoleh kebelakang. Sorot lampu amat menyilaukan mengarah padanya yang membeku karena mobil sudah sangat dekat hingga membuatnya tak sempat untuk menghindari.
Ckiiiiiit.... Braaaaaaaaaak!!! Tubuh Afin tertabrak, bahkan sampai tubuhnya terpental kebelakang mobil.
Bruuuuuuk! Pria itu mengerang kesakitan saat mendarat dengan keras ke lantai. Belum puas dengan itu. Mobil yang sempat berhenti langsung kembali bergerak mundur dengan kecepatan tinggi. Berniat untuk melindasnya.
Allah...
__ADS_1
Kedua mata Afin kontan terpejam. Tubuh yang merasakan sakit teramat itu tidak mampu bergerak lagi selain pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.