
Suasana yang sedikit remang. Safa terjaga di waktu sepertiga malam. Gadis itu menguap, ia menoleh kearah Afin yang tak melepaskan tanganya memeluk Safa.
"Bang! Bang Arif..." Gadis itu menggerakan tubuh suaminya agar terjaga. Ia hanya ingin mengajaknya sholat malam. Sekalian, sebagai tanda syukur karena telah sampai pada titik ini.
Hawa dingin yang mencapai minus lima belas deraja celcius memang sedikit membuat Safa malas untuk terjaga. Namun, bukankah salah satu palaha tertinggi yaitu ketika kita mengambil air wudu pada keadaan yang tak biasa. Seperti saat musim dingin di sini.
"Bang—" Safa kembali menggerakan tubuh Arif yang amat sulit jika di bangunkan.
Dan benar saja pria itu bergerak hanya untuk merubah posisinya saja. Hembusan nafas terdengar di bibir mungil Safa. Ia tidak akan menyerah karena ini.
"Bang Arif ayo bangun. Kita mandi, kita sholat malam sama-sama ya. Sekali-kali.... Bang!"
"Dingin banget, Fa." Gumamnya yang semakin membenamkan wajahnya kedalam selimut yang tebal. Rupanya laki-laki itu sudah terjaga.
"Aku tahu, tapi justru bagus. Ayolah... Bang—"
Pria itu membuka matanya. Walau berat ia tetap berusaha untuk terjaga dalam posisi terlentang. Setelah itu menoleh ke arah Safa.
Pria itu tersenyum manis sambil menyentuh pipi Safa. "Lima menit lagi..." pintanya sebelum menutup kembali seluruh wajah dengan selimut.
"Astaghfirullah al'azim. Ayo bangun. Kamu yang bilang pengen sekali-kali sholat malam 'kan? Kita juga harus mandi sebelum subuh."
"Hava böyle soğukken duş almayı sevmiyorum." Gumamnya dengan suara berat sambil memeluk lingkar pinggang Safa. (Aku benci mandi saat cuaca dingin seperti ini.)
"Ngomong apa sih, Safa nggak ngerti." Gadis itu tertawa sambil mengacak-ngacak rambut Arifin yang turut tersenyum.
"Paginya kecepatan. Padahal mau lagi. Itu artinya–" jawabnya asal.
"Eh, Abang!" Safa menepuk lengan suaminya gemas. Karena perkataannya tadi, mengingatkan aktifitas mereka semalam.
"Nggak, nggak, bukan itu! Aku bercanda, Sayang." Afin bangkit hanya untuk mencium istrinya yang selalu senang saat mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut Arifin.
Pagi itu mereka benar-benar sedang merasakan di mabuk cinta. Bahkan untuk keluar dari ranjang saja sampai menghabiskan waktu beberapa menit. Itupun karena Safa yang sudah gemas dan akhirnya menyeret suaminya untuk behenti bermain-main.
....
"Assalamualikum warahmatullah..." pria itu kini sudah lancar membaca bacaan sholat. Bahkan hafalan surat pendek pun bertambah. Mereka mngucap salam setelah menjalankan sholat tahajud bersama. "Habis ini apa?" Tanyanya sambil merebahkan kepala di atas pangkuan Safa.
"Ngaji sambil nunggu adzan subuh."
"Subuh disini lama, Fa. Karena sampai fajar benar-benar akan terbit." Afin menciumi tangan Safa berkali-kali.
"Masa sih?"
__ADS_1
"Iya, mereka semua mayoritas bermazhab hanafi. Jadi sholat subuh di akhir waktu."
Safa manggut-manggut ia baru tahu tentang itu.
"Kalau begitu, kita tetap ikutin Mazhab kita. Ayo bangun jangan males-malesan."
"Sumpah, untuk menjadi taat segini capeknya."
Safa tersenyum. "Semangat, Bang. Ibadah itu emang harus di paksakan. Kalau udah terbiasa maka akan nyaman setelahnya."
Afin mengiyakan. Mereka kembali pada rutinitas selanjutnya. Kemudian melakukan sholat subuh dengan mengikuti waktu yang pas, sesuai tuntunan Mazhab mereka di Indonesia.
🍃🍃🍃
Langit di luar sudah mulai terang. Safa jadi bisa melihat putihnya salju di sepanjang trotoar jalan setelah turun dari taksi.
Ia menunggu Laki-laki dengan jaket musim dingin warna hitam yang tebal, beserta sweater warna krem di dalamnya sedang sibuk menghubungi seseorang dari seberang.
Sementara dirinya fokus pada yang lainnya. Daerah sini terbilang cukup sepi walau tetap ada beberapa orang berlalu-lalang dengan berjalan kaki. Tapi tak sepadat kawasan tempatnya menginap.
Hingga sebuah taksi berhenti di depannya juga. Dua orang pria dan wanita keluar dari dalam taksi tersebut. Setelahnya berbicara bercampur tawa dalam bahasa Turki. Wanita yang tak memakai jilbab itu merangkul lingkar leher pria yang bersamanya tadi.
Dan sebuah pemandangan tak terduga bagi wanita berjilbab abu-abu itu. Mereka berciuman tepat di depan mata Safa. Kontan gadis itu membeku di tempatnya. Hingga pria di sisinya langsung berpindah menghadap Safa di depan, seolah menjadi tameng, agar mata suci Safa tak melihat itu lebih lama.
"Kamu pasti kaget, tadi?"
"Iya, Bang. Ya Allah..., kok bisa ya mereka melakukan itu di tempat umum?"
"Itu hal biasa di sini. Dan nggak akan ada orang yang menegurnya."
"Mungkin mereka suami istri."
Afin terkekeh. "Mereka anak SMA. Seragamnya sudah menujukkan itu."
"Hah?!" Wanita itu menoleh sambil menghentikan langkahnya.
"Itu hal biasa. Kamu jangan kaget. Di sini memang mayoritas masyarakatnya penganut agama Islam. Bahkan 99 persen. Tapi mereka semua termasuk penganut paham Islam sekuler. Ada sih yang taat. Tapi nggak banyak. Coba deh, kamu tanya mereka kalau mereka muslim apakah tahu nama-nama sholat? Jawabnya sebagian besar nggak tahu, Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya."
Safa tercengang. Selama ini yang ia tahu Turki adalah negara yang kental dengan sejarah Islamnya. Terlebih kisah Muhammad Al Fatih yang sangat ia kagumi itu. Dan terkenal bagi orang-orang muslim di seluruh dunia. Ada apa dengan Turki yang sekarang?
Mungkinkah ini alasan Bang Afin tak mengenal Islam sebelum ini, walaupun agamanya muslim? –Safa bergumam dalam hati. Mengingat Afin kemarin bilang ia pernah tinggal satu tahun disini.
Sebuah klakson membuyarkan lamunan Safa. Laki-laki yang di sebelahnya pun tersenyum melambaikan tangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, itu pamanku. Yuk..." ajaknya sambil menggandeng tangan Safa.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil setelah bertegur sapa lebih dulu. Sengaja Paman Emir menjemput disini. Karena jarak ke makam Ayahnya Arifin berlainan arah jika harus menjemput mereka di hotel.
Sesampainya di sebuah makam yang lokasinya seperti perbukitan yang rimbun dengan pohon-pohon yang sebagian besar daun-daunannya sudah habis berguguran.
Gadis itu berdiri mengikuti Paman Emir yang juga berdiri sambil membacakan doa. Safa tak menemukan banyak perbedaan, hingga wanita itu masih bisa mengikuti. Laki-laki dengan peci bundarnya terus melantunkan ayat-ayat doa yang di tutup dengan Aamiin.
Selepasnya, Afin meletakkan bunga di atas makam Ayahnya. Sambil berbicara dengan bahasa Turki. Ia juga sempat merengkuh pundak Safa dan menyebut namanya. Terlihat Paman tersenyum melihat itu sambil sesekali menimpali.
Setelah acara ziarah selesai. Mereka langsung menyambangi rumah Paman Emir dan istrinya Zaenab. Wanita itu berhijab, seperti orang Arab jika di lihat sekilas.
"Kamu banyak diem?" Tanya Afin sambil menggenggam tangan Safa. Saat ini keduanya sedang berada di kebun mini di belakang rumah Paman Emir.
"Mau bagaimana lagi. Safa nggak ngerti bahasa kalian. Nggak bisa ngobrol juga jadinya," jawabnya sambil tertawa lirih.
"Iya juga sih."
"Tapi, tadi apa yang Abang omongin saat di makam Baba?"
"Emmm, cuma bilang aku datang sambil bawa istri. Namanya Safa," jawab Afin apa adanya.
Gadis itu tersenyum senang saat mendengar pengakuan Afin. Karena sepertinya dia jujur.
"Terus kata Amca Emir... aku membawa istri yang cantik beraura surga."
"MashaAllah..." gumamnya. "Abang nggak melebih-lebihkan, 'kan?"
"Untuk apa aku melebih-lebihkan. Faktanya begitu, Kok." Afin menarik pipi Safa yang memerah itu. "Aku beruntung kata Beliau, saat melihatmu. Kamu jangan salah, paman ku itu taat. Jadi dia bisa melihat air wajah seseorang. Apakah dia termasuk gadis yang sering menyiram wajahnya dengan air wudu atau bukan."
"MashaAllah..." Safa menunduk. Dengan pujian itu ia takut malah menjadi ujub.
"Paman juga masih punya garis keturunan dari ulama besar terdahulu, pada masa kejayaan Usmani."
"Wah... berarti Baba juga, termasuk kamu?" Tanyanya kagum.
Afin mengangguk, namun kemudian terdiam sejenak. "Sayangnya, aku tak setaat itu."
Safa tersenyum. "Nggak papa. Semoga kamu masih diberkahi, dengan hadirnya cahaya keimanan di hatimu. Karena Abang masih bernasab baik."
"Aamiin..."
Tak lama suara Paman memanggil meminta mereka untuk makan siang di dalam karena Bibi Zaenab sudah siap dengan hidangan khas Turki.
__ADS_1