
Hari ini, tugasnya sebagai pengajar selesai. Bersamaan dengan bel yang berdering, memicu riuh keceriaan anak-anak muridnya yang langsung berhamburan keluar kelas.
Sambil menata buku LKS, modul, dan catatannya. Gadis itu melamun. Setelah ini pulang, dan ia kembali menghabiskan waktunya dalam ruang hampa di dalam lubuk hatinya. Dan dari sisi kelemahannya itu tiba-tiba saja terlintas tiga wajah yang ia rindukan. Membentuk sketsa yang makin lama makin jelas. Ayah, Ibu, dan Qonni sedang apa mereka sekarang?
Sebuah rasa yang dikemas berbeda di tunjukkan untuk tiga orang terkasih itu. Walau setiap hari bertegur sapa lewat panggilan telepon. Tapi rasa rindu untuk bertatap muka langsung tentunya tak akan pernah cukup jika hanya diganti dengan panggilan video saja.
Secuil keinginan untuk memutar waktu, terkadang juga kerap muncul dengan halus. Keputusasaan yang kadangkala terbetik tanpa sadar manakala mengingat. Kehidupan pernikahannya yang tak begitu bahagia.
Safa menyadari itu setiap harinya. Yang membuat jiwa gadis itu terkurung dalam keputusannya sendiri. Tapi, menyesali sebuah pilihan bukanlah cara yang baik. Semua tetap harus ia jalani. Walau sakit dan bernanah, ia hanya menyerahkan segalanya pada Allah. Bahwa kehidupan tidaklah mungkin bersih dari yang namanya ujian hidup. Dan sampai kapannya, Safa tidak tahu. Yang jelas sebagai mahluk yang lemah. Ia hanya taat pada aturan-Nya.
Besok adalah hari Minggu, ia berniat untuk pulang ke rumah orang tuanya bersama Afin jika laki-laki itu sudah pulang. Atau mungkin seperti biasa, sendirian asal Afin sudah mengizinkannya. Memang sih, hal itu akan menimbulkan tanda tanya dari ibunya. Karena semenjak menikah, Afin belum pernah sekalipun datang atau menginap di sana.
Baru selesai Safa menata barangnya, yang di temani mereka dalam sketsa lamunannya. Qonni tiba-tiba menelfon. Panjang umur sekali anak itu, pikirnya sambil mengulas senyum.
Sambil menerima telfon dari Qonni di sebrang. Safa berjalan keluar kelas setelah semua tertata dalam pelukannya.
Seulas senyum semangat langsung terbit di bibirnya yang manis. Sang adik bilang akan datang sendirian kerumahnya, hitung-hitung mampir lah sebelum pulang ke rumah. Tentunya hal itu membuat Safa sangat antusias dan langsung buru-buru pulang.
Sesampainya di rumah, Qonni sudah datang, duduk di sofa mewah ruang tamu. Gadis itu sejak tadi terus berdecak kagum dengan hunian mewah yang ditempati kakak perempuannya sekarang.
"Assalamualaikum–" Safa menyapa adiknya dengan amat antusias. Gadis yang lebih muda darinya itu langsung bangkit.
"Walaikumsalam warahmatullah." Qonni menjawab.
"MashaAllah_" Safa langsung memeluknya, melepas rindu. "Udah dari tadi, Dek?"
__ADS_1
"Emmmmm, sekitar dua puluh menit lah," jawabnya semangat.
"Ya Allah, seneng banget deh pas tau kamu mau mampir ke rumah ini. Mbak langsung buru-buru pulang loh jadinya."
"Masa?" Goda Qonni sambil menempelkan keningnya di bahu Safa. Bergerak manja sambil berkelakar.
"Bener, Dek. Mbak kangen banget, nih mbak langsung beliin ini loh buat kamu."
"Wah, kebab!" Gadis itu berbinar merebut pelan plastik hitam di tangan Safa. "MashaAllah, rezeki anak Solehah. Setelah kesulitan sekarang dapat hadiah."
"Apa maksudnya?" Tanyanya sambil tersenyum.
Qonni menoleh kebelakang sebentar, sebelum berbisik. "Satpam dan Mbak-mbak di rumah ini kurang ramah."
"Apa?" Safa mengernyitkan dahi.
"Ya Allah, maaf ya, Dek. Ini salah Mbak sih nggak ngomong orang rumah dulu. Soalnya disini emang agak ketat. Kamu harus tahu, rumah ini sering di datengin fans Abang yang fanatik sampai ada loh yang suka maksa masuk."
"Aku mengerti, kok. Abang ku 'kan artis." Qonni nyengir. "Mbak, sumpah! aku nggak pernah berkhayal bisa masuk ke rumah orang kaya loh. Dan hari ini aku masuk ke rumah mewah, karena Mbak ku tinggal di sini. MashaAllah... gimana rasanya?"
Rasanya, tentu lebih enak tinggal di rumah Ayah, Dek. –Safa membatin dengan bibir tersenyum. Melihat Qonni yang tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Alhamdulillah. Masuk, yuk. Lanjut ngobrol di kamar aja."
"Nggak papa nih di kamar?"
__ADS_1
"Nggak papa, lah..." Ajaknya sambil merangkul sang adik.
Beberapa hari ini, Afin memang sedang berada di Singapura. Menjalankan proyek dengan brand skin care dari negeri tersebut. Dimana Afin sendirilah yang menjadi brand ambassador produknya. Tentu bukanlah masalah jika Safa membawa adiknya masuk ke dalam kamar.
***
Di tempat lain...
Afin termenung, memandang layar di ipadnya. Saat ini mulai ramai pemberitaan tentang pernikahan diam-diam Afin Anka. Dan gadis berhijab yang di sinyalir adalah istrinya merupakan seorang guru.
Kenapa publik cepet banget menemukan fakta dalam sebuah berita sih? –desisnya dalam hati. Belum selesai dengan masalah dirinya dan Safa.
Para pendukung Camelia juga terus saja memojokkan dirinya yang sudah berselingkuh dan menikah dengan wanita lain. Hidup ini benar-benar menyebalkan. Afin mengerang dalam hati. Merasa semuanya teramat rumit.
Sebuah pesan chat masuk dari nomor yang tak dikenal. Sebuah Video berhasil di download. Afin langsung melebarkan kedua matanya. Dan menghapus video dirinya yang sedang bercinta dengan sesama jenis itu.
Astaghfirullah al'azim! Aku yakin dia pasti Brody.
Buru-buru Afin menelfon nomor itu. Namun sulit, karena panggilan terus saja di alihkan.
"Ayolah, Lu maunya apa? Jangan teror gua kaya gini!" Afin mengetik sesuatu lalu mengirim pesan chat tersebut. Simbol centang satu masih terlihat dari di samping pesannya tadi. Pria itu pun menghela nafas, keringat dingin mengalir tiba-tiba di tengkuknya. Sebuah pesan suara pun masuk membalas pesannya yang baru saja di terima.
Afin menelan ludah. Ia menoleh ke segala arah sebelum mendengarkan dengan suara yang amat lirih sambil mendekatkan benda pipih itu ke telinga.
"Nggak ada yang bisa menggantikan posisi Lu, Fin. Dan sampai kapanpun, Lu nggak akan pernah lepas dari gua! Dan karena Lu udah melanggar apa yang gua perintah. Kini saatnya, gu membalas pengkhianatan Lu, dengan cara merubah segalanya menjadi Boomerang buat Lu, Afin Anka."
__ADS_1
Graataaaaakkk! Ponsel Afin terjatuh kelantai. Setelah merasakan tangan yang mendadak tremor. Sepertinya ancaman Brody kali ini tak main-main. Ia mulai di timpa kepanikan walau masih berusaha untuk tenang.