
Sudah pukul lima sore, Afin pun baru saja kembali dari segala rutinitas keartisannya. Sebelumnya ia sempat menghubungi Safa, menanyakan ingin di bawakan apa saat dirinya pulang. Namun, hingga kakinya menapaki serambi rumahnya. Wanita berusia tiga puluh tahun itu tak membalasnya.
Langsung saja Afin mencari sosok wanita penyejuk hatinya ke kamar. Dan dilihat kamar itu kosong. Pendingin udara pun tidak menyala. Ia berpikir, tidak ada siapapun yang masuk ke kamar ini sejak pagi sebelum dirinya berangkat. Pria itu gegas menuruni anak tangga mencari istrinya hingga ke dapur.
"Istri saya di mana, Nyai?" Tanya Afin pada salah satu asisten rumah tangganya saat melihat hanya ada satu orang di sana.
"Non Safa?" Wanita sepuh itu menoleh kearah lain sedang mengingat-ingat kalau dia sendiri belum melihat majikan perempuannya sejak pagi tadi. "Non Safa kayanya belum pulang, dah, Den. Nyai nggak liat dari tadi. Itu Si Ujang juga belum keluar buat jemput Non Safa."
"Belum pulang?" Tanyanya memastikan. Sementara wanita sepuh itu hanya mengangguk. "Apa Safa naik ojek lagi ke rumah Ayah, ya?" bergumam sendiri sambil balik badan.
Di luar ia menghampiri Ujang yang sedang minum kopi dengan Asep dan Komar. Supir pribadi Afin dan satpam di rumah itu.
"Pak Ujang, Bapak belum jemput isteri saya, ya?" Tanyanya. Kontan laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun itu langsung meletakkan kopinya dan bangkit.
"Belum, Den. Tadi Non Safa sempat pesan. Jangan dulu jemput kalau Non sendiri belum WA. Sekarang aja saya masih nunggu, belum ada pesan masuk."
Afin tak lagi bertanya ia langsung mengajaknya untuk mengantarkan dirinya ke sekolah tempat Safa mengajar.
🌲🌲🌲
Di sekolah...
Safa masih menunggu Thalita dan ibunya yang berjanji akan datang. Sementara langit sudah semakin berubah jingga. Sinar mentari juga perlahan semakin menghilang, berlalu menuju tempat peraduannya.
"Ustadzah?" Bu Inayah menghampirinya yang sejak satu jam tadi berdiri di ambang pintu utama gedung sekolah ini. Wanita dengan hijab segi empat jumbo itu menoleh sedikit.
"Iya, Bu? Bu Inayah mau pulang?" tanya Safa basa-basi saat melihat wanita paruh baya itu menggendong tasnya.
"Iya, tadinya saya pikir mau ikut nungguin Thalita dan ibunya. Tapi tak kunjung datang. Saya juga ada acara habis Maghrib nanti. Jadi maaf ya, Ust. Saya nggak bisa nemenin."
"Nggak papa, Bu. Saya juga niatnya mau nunggu sampai Magrib saja. Ibu pulang aja. Lagipula masih ada bapak-bapak security dan penjaga sekolah di sini. Saya nggak sendirian." Safa tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu. Semoga semua tetap baik-baik aja, ya. Dan kalau ada apa-apa, Ustadzah langsung hubungi saya."
"Iya, Bu. Terima kasih."
"Sama-sama– Mari, Ustadzah. Saya jalan duluan. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah. Hati-hati Bu Inayah." Safa melambaikan tangan pada wanita ramah yang sedang melangkah mendekati mobil suaminya yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah.
Wanita itu menghela nafas, mulai merasakan pegal di kakinya karena sejak tadi berdiri. Ponselnya pun bahkan mati sebab ia sendiri lupa tak membawa charger.
Berselang beberapa menit sebuah mobil Ayla memasuki kawasan sekolah. Dan keluar pula seorang laki-laki berperawakan tinggi besar. Dengan kulit sawo matang yang berwajah bengis.
"Mana anak saya?!" Hunusnya langsung tanpa mengucapkan salam atau kalimat apapun sebagai pembuka. Di susul isterinya yang juga ikut turun dari mobil.
"Mohon maaf, Pak. Ibu Indriani bilang akan mengantarnya jam tiga sore."
"Terus? Mana sekarang?"
"Itulah, saya sendiri nggak tahu, Pak. Mereka belum datang."
"Saya juga nggak bisa berbuat apa-apa, Pak. Saya sudah mengusahakan. Makanya saya masih menunggu hingga jam segini."
"Alaaaaah! Saya nggak mau tau. Telfon Dia untuk datang kesini bawa anak saya. CEPETAN!"
Safa memundurkan kakinya. Karena laki-laki itu berbicara keras dengan jarak yang cukup dekat. Bersamaan dengan itu, wanita berhijab yang mulai merasakan takut menoleh kearah pos scurity. Sayangnya, di saat genting seperti ini. Pos terlihat sepi. Apa mereka sedang di dalam gedung mengecek pintu-pintu kelas untuk menguncinya satu persatu.
Dan tukang kebun yang biasa membersihkan area sekolah pun tak nampak satupun batang hidungnya.
Bagaimana ini? Safa mulai ketar-ketir. Melihat wajah sangar pria berkumis tipis dihadapannya. Khawatir akan melakukan pemukulan dan sebagainya. Ia hanya masih trauma. Mengingat fans-fans Afin yang dulu pernah memukulinya dengan brutal.
BRAAAAAAAAAAK! Laki-laki itu menendang pintu yang terbuka lebar di sisi Safa. Hingga Safa terperanjat kaget sambil beristighfar.
__ADS_1
"Hubungi Dia! Kenapa malah diam aja... atau kasih saja sini nomor Indriani, sekarang!"
"Pak. Hp saya mati–"
"Anda ini banyak sekali alasan, ya." Hendaknya Pria itu memukul daun pintu yang ada di sebelah Safa hingga wanita itu spontan menutup mata.
Tiiiiin... Tiiiiin... Suara klakson motor menghentikan aksi Bapak arogan itu. Seorang wanita bertubuh kurus dengan hijab warna hitam yang tak terlalu besar itu memarkirkan motornya. Bersama dengannya seorang gadis remaja yang sama menggunakan hijab segi empat nampak membonceng di belakang dengan ekspresi takut.
"Setan alas! Akhirnya kamu datang juga..." Pria itu langsung melangkah mendekati mereka berdua. Dan tanpa aba-aba dia langsung menarik bagian hijab yang terdapat ikat rambut mantan istrinya.
"Mama!" Gadis remaja itu kontan histeris melihat ibunya dijambak dan di seret Ayahnya.
"Allahu Akbar –" Safa gegas berlari, berniat untuk menolong Ibu Indriani. Sementara isteri pria arogan itu langsung mendekat dan memegangi tangan Thalita. Menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Bapak, jangan seperti in. TOLONG! TOLONG SIAPA SAJA!!" Melihat wanita kurus itu di hajar pria besar yang tak lain adalah mantan suaminya. Safa kontan berteriak minta tolong, sementara tangannya terus menahan laki-laki itu walau mulai kewalahan.
"WANITA LAKNAT! NGGAK TAHU DIRI!!" tak puas dengan tangannya. Dia juga menendang mantan istrinya secara membabi-buta. Safa yang melihat itu semakin histeris berurai air mata.
"STOOOOP.....BAPAK, JANGAN! TOLOOOOOOONG!"
"Jangan ikut campur!" Pria itu mendorong kuat tubuh Safa. Yang saat itu pula di tahan oleh Arifin yang rupanya sudah datang.
Safa merasa terkejut sekaligus lega. Saat melihat suaminya. Walau kembali ia ketakutan saat Afin membalas memukul pria itu setelah menyeretnya dan mendorongnya kearah lain.
"Ini lagi mau ikut campur?!" Hendaknya Dia menghajar Arifin dengan bogem mentahnya. Namun terhenti saat dua security berlari sambil meneriakinya.
Dengan tangan menuding Indriani, wanita yang sudah tersungkur tak berdaya di tanah. Pria itu langsung buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Sayangnya, para security itu tak sempat menahan mobil yang sudah keburu jalan serta keluar dari area sekolah.
"Ya Allah, Ibu. Ya Allah..." Tubuh Safa benar-benar gemetaran melihat kejadian itu. Belum lagi tubuh lemas yang sudah tak sadarkan diri, masih terkulai di atas aspal sekolah.
__ADS_1
"Pak, bantu masukin ke mobil saya." Afin berseru, memerintahkan mereka yang ada di sana. Setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, dengan di temani Safa yang turut duduk di tengah. Memegangi kepala wanita kurus itu. Afin kembali menoleh kearah lain. Terlihat sebuah kamera pengawas, dia pun memikirkan sesuatu sebelum kembali tertuju pada sopirnya, kemudian Safa. "Fa, aku nanti nyusul ya. Kamu ke rumah sakit dulu aja."
"Iya, Bang. Hati-hati...," ucapannya yang di balas anggukan kepala sebelum menutup pintunya. Mobil berjenis Alphard itu pun langsung melaju. Menuju salah satu rumah sakit terdekat, demi mendapatkan pertolongan pertama pada Ibu Indriani.